Kamis, 31 Desember 2020

Player of the Century

Desember 2000 silam, FIFA melakukan pemungutan suara untuk memilih Player of the Century. Kurun waktunya: sejak awal sepakbola profesional dimainkan sampai tahun 2000. Dua kali FIFA melakukannya. Hasilnya, dua nama terpilih: Diego Maradona dan Pele. 

Hasil yang wajar bila melihat kontribusi keduanya di level negara dan klub. Maradona adalah agama di Argentina dan Tuhan di Napoli. Adapun Pele: striker terbaik Brazil sepanjang masa. Di Santos, dia menjadi topskor untuk satu klub, yaitu 504 gol, sejak 1974. Rekor itu baru dilewati Lionel Messi 46 tahun kemudian di Barcelona.


*****

Desember 2020 barusan, Global Soccer World kembali melakukan pemungutan suara untuk memilih Player of the Century. Kali ini kurun waktunya 2001 sampai 2020. Hasilnya: Cristiano Ronaldo nomor satu. Mengalahkan Messi, Mohamed Salah, Ronaldinho, Robert Lewandowski, Xavi, dll.

Sebenarnya, kalau hitungannya 2001 sampai 2015, Messi mungkin menjadi yang terbaik. Dia punya lima gelar Ballon d'or (Ronaldo baru tiga), empat kali juara Liga Champions (Ronaldo baru dua kali), dan bersama Argentina meraih gelar Piala Dunia U-20 dan Olympiade Beijing 2008 (Ronaldo belum sekalipun bersama Portugal).

Tapi sejak 2016, Ronaldo langsung melejit cepat. Real Madrid dibawanya hattrick juara Liga Champions. Portugal dibawanya juara Piala Eropa dan UEFA Nation League. Dua Ballon d'or pun direngkuhnya. 

Adapun Messi, sejak 2016, mengalami keterpurukan yang mengejutkan. Di final Copa Amerika, kalah adu pinalti lawan Chile dimana dia gagal eksekusi. Di Liga Champions, Barcelona gugur dua kali lawan AS Roma dan Liverpool melalui skema epic comeback. Terakhir, gugur dicukur Bayern Muenchen 2-8.

Di beberapa momen itulah Messi terlihat begitu terpuruk. Tidak ada aura bintang dan leadership pada dirinya. Sangat berbeda dengan Ronaldo yang begitu berenergi dan motivator. Saya rasa dunia tidak salah memilih.

Minggu, 29 November 2020

Pabrik Kertas Gowa

Gowa pernah bangga punya pabrik kertas. Buku produksinya, meskipun tipis, cukup menghiasi keseharian saya yang kala itu masih SD. Gambar artis di sampulnya saya coret-coreti. Kasih kumis, janggut, kacamata dll. Kalau ketiaknya kelihatan, saya kasih bulu ketiak. Macam-macam.

Hingga tahun 1995, Pabrik Kertas Gowa (PKG) dinyatakan pailit. Aset perusahaan milik Keluarga Soeharto itu pun disita negara karena utang yang menumpuk. Tanahnya yang luas disegel.

Sejak saat itu, buku produksi PKG sudah tidak ada di pasaran. Saya pun beralih ke merek lain: Kiky dan Sidu. Kertasnya lebih tebal dan bagus. Gambar-gambarnya lebih variatif. Mulai dari gambar pemain bola sampai gambar boyband yang cukup hits kala itu: New Kids On The Block.

Sepuluh tahun kemudian, sekira tahun 2005, tanah eks PKG itu diserahkan Pemerintah kepada Universitas Hasanuddin. Adalah Jusuf Kalla, Wakil Presiden kala itu, yang memprakarsainya. Di atas tanah itu akan dibangun Institut Teknologi sebagai pengganti Fakultas Teknik Unhas. Sekarang, kampusnya sudah jadi. Megah.



Stadion Mattoanging

Saya pertama kali ke Stadion Mattoanging tahun 1997. Kala itu, PSM menjamu Persipura dalam laga perdana Babak 8 Besar Liga Indonesia. Saya lupa perusahaan rokok apa sponsor Liganya. Dunhill, kalau tidak salah.

Saya masuk lewat jalan samping kantor TVRI dengan lenggang. Beli tiket tribun terbuka dari calo. Dan kemudian berdesak-desakan di gerbang masuk. Dua-tiga polisi terlihat sibuk memukuli supporter yang coba memanjati dinding Stadion pakai sabuk.

Keadaan sudah sangat ramai di dalam Stadion. Pedagang kaki lima juga sudah keliling menjajakan barangnya. Sore itu full. Sebagian penonton bahkan sampai ke luar pagar pembatas. Laga lawan Persipura memang selalu disambut antusias.

Penonton jaman dulu tidak seatraktif sekarang. Dulu yang heboh, berseragam, dan banyak selebrasi hanya Supporter Mappanyukki. Supporter lain cuma pakai baju biasa, duduk, diam, dan nanti berteriak kalau sudah gol. 

Seperti biasa, sebelum pertandingan berlangsung, penonton selalu dihibur oleh aksi Rano melakukan ritualnya. Dia berdoa, mencium tiang gawang, dan memanjati tiang tinggi buat pasang bendera supporter. Beliau masih eksis sampai sekarang. Cuma mungkin tidak sehebat dulu. Faktor usia.

Selain selebrasi Rano, pertandingan persahabatan antarpejabat juga digelar. Salah satu pejabat yang saya kenal adalah Agum Gumelar, Pangdam VII Wirabuana kala itu. Bagi yang belum tahu, Pak Agum juga adalah mertua dari pebulutangkis Taufik Hidayat.

Laga bergengsi itu akhirnya dimenangkan PSM Makassar dengan skor 2-1 lewat gol Luciano Leandro dan Isaac Fatari.

*****

Musim berikutnya, saya kembali menginjakkan kaki ke Stadion Mattoanging untuk kedua kalinya. Kali ini Saya penasaran melihat aksi Jaime Rojas, pengganti Luciano Leandro yang hijrah ke Persija Jakarta.

Dan saya tidak kecewa. Gojekan playmaker Cile itu sungguh menghibur. Tendangan bebasnya juga berhasil menjebol jala Persma Manado malam itu. 

Jaime cuma semusim di PSM. Selanjutnya dia pindah ke PSMS Medan dan kemudian menjadi terkenal se-Indonesia gara-gara hubungannya dengan artis seksi Sarah Azhari.



Floyd

Tinju bukan cuma persoalan menyerang, tapi juga bertahan. Di titik inilah Saya kemudian mengagumi Floyd Mayweather Jr.

51 kali lelaki Amerika itu bertinju, dari usia remaja sampai 41 tahun, 51 kali pula dia menang. Sempurna. Luar biasa.

Nama-nama hebat tidak mampu menaklukkan pertahanannya. Mulai dari Oscar De La Hoya, Shane Mosley, Juan Marquez, Carlos Maidana, sampai Manny Pacquiao.

Yang lucu: dua partai pamungkasnya sebelum pensiun. Dua atlit mixed martial art (MMA) coba menantangnya bertinju: Connor MacGregor dan Tenshin Nasukawa. Dua-duanya 'tak berdaya. Padahal dua-duanya jauh lebih muda. 

Inilah mungkin yang dibilang seni dalam bertarung: ketika kamu mampu mengendalikan dirimu, fisikmu, teknikmu, bahkan usiamu.

*****

Sebenarnya Floyd pernah kalah sekali. Waktu lawan Carlos Maidana, Mei 2014. Agresifitas Maidana mampu membuat Floyd kerepotan. Bahkan sempat tersungkur.

Sayangnya, wasit berkata lain: Floyd dinyatakan menang angka. Kubu Maidana 'tak terima dan menuntut tarung ulang.

Empat bulan kemudian, tarung ulang diadakan. Di momen ini, Floyd betul-betul menunjukkan kelasnya sebagai petinju cerdas. Dia mampu meredam Maidana.

*****

Waktu lawan Manny Pacquiao lain lagi. Banyak yang kecewa karena pertarungan 'tak berjalan agresif. Salah satunya Mike Tyson. Dia kecewa berat.


Tapi begitulah Floyd. Dia konsisten dengan gaya bertahannya. Dan harus diakui: Pacquiao lebih sering meninju angin dibandingkan muka Floyd.

Dan, sekali lagi, harus diakui: Floyd adalah petinju terhebat selama berkarir dari 1996 sampai 2018. Unbeatable.

Floyd
Floyd (Foto: Sean M. Haffey, Getty)


Daeng Oktav

Dalam urusan keyakinan, rocker termasuk yang suka mengaku-aku. Ada yang mengaku pemuja iblis, atheis, agnostik, macam-macam.

Tapi rocker yang satu ini beda. Dia mengaku tercerahkan. Di selendang bass-nya ada tulisan tauhid dalam bahasa Arab. Ya, Dia mengakui ke-Esa-an Allah. Dia taat menjalankan agamanya.

Dialah Daeng Oktav.

Alumni STM Kachak Makassar itu sempat kehilangan arah masa depan. Dia anak STM, tapi dia lebih suka main gitar. Sampai-sampai mamaknya bertanya-tanya: "Ini anakku mau jadi apa kodong?"

Dan pada suatu momen, dia hijrah ke Jakarta. Di kehidupan ibukota yang keras, dia menafkahi diri dengan menjadi office boy di sebuah tempat kursus musik. Dia berpikir: sambil kerja, bisa curi-curi waktu belajar alat musik.

Dalam perjalanannya, karena sudah bertalenta, kemampuan bermain musiknya meningkat. Terkhusus di alat musik gitar dan bass. Boleh dikata, kemampuannya di atas rata-rata.

Kemampuannya bermain bass akhirnya sampai ke telinga Eet Sjahranie. Kebetulan bassis Edane, Iwan Savarius, baru saja mundur. 

Singkat cerita, Eet tertarik dengan permainan Daeng Oktav. Bak durian runtuh, dia pun didaulat menjadi bassis Edane. Sampai sekarang.

Hari-hari selanjutnya pun dijalaninya dengan penuh kesyukuran: menyembah Allah, menghajikan orangtua, menyayangi anak-istri.



📸 IG: DaengOktav





415 Tahun Selayar

Dulu sekali Selayar terkenal dengan kopranya. Eka Tjipta rajin ke sana. Mengambil kopra, membeli, dan membawanya ke Makassar.

Sayangnya, perang antara TNI dan Pasukan Qahar Mudzakkar menghancurkan bisnis kopra di Sulawesi, termasuk Selayar. 

Eka Tjipta pun pindah ke Surabaya dan mendirikan Sinar Mas di sana. Adapun tukang kebun di Selayar banyak yang menderita.

Karena penderitaan, rerata orangtua mengupayakan anaknya bersekolah di Makassar. Biar bisa jadi guru, biar bisa jadi PNS, biar tidak jadi tukang kebun. 

Pola ini berhasil. Maka banyaklah didapati orang-orang Selayar bekerja di instansi. Salah satu yang terkenal adalah Akib Patta, mantan Dirut Bank Sulsel yang kemudian menjadi Bupati Selayar.

Kini, di usianya yang ke-415, Selayar tidak bisa lagi kembali berjaya dengan kopranya. Kelapa sawit lebih menggiurkan dibandingkan kelapa biasa. Jeruk Selayar juga tidak sebagus dulu.

Satu-satunya harapan adalah pariwisata. Semoga Pemerintah dan warga Selayar, serta investor bisa mengelolanya dengan baik. Biar Selayar serupa tetangganya: Bali dan Labuan Bajo.



Kamis, 17 September 2020

Andy

Dia lahir dan besar di Papua. Ayahnya tukang servis mesin 'tik; ibunya urus rumah tangga.

Karena orderan ayahnya tidak menentu, dia dan saudara-saudarinya pun hidup miskin.

Karena alasan miskin pula, dia dimasukkan ayahnya ke STM. Harapannya sederhana saja: selesai sekolah, langsung kerja. Tidak neko-neko.

Maka bersekolahlah dia di STM. Jurusan Teknik Mesin. Anehnya, meskipun punya ilmu permesinan, dia dilarang membantu pekerjaan ayahnya.

Ayahnya punya prinsip: anaknya harus lebih baik dari ayahnya. Kalau dia bantu-bantu pekerjaan ayahnya, takutnya dia malah mewarisinya.

*****

Mungkin inilah yang disebut talenta. Meskipun berstatus sebagai anak STM, dia ternyata punya bakat menulis. Itu terbukti karena setiap pelajaran mengarang (Bahasa Indonesia), dia selalu mampu melakukannya dengan baik.

Hasil karangannya bahkan pernah dibawa oleh gurunya untuk diperlombakan. Hasilnya: tulisannya tidak juara. Bukan karena jelek. Juri ternyata tidak percaya bahwa  itu tulisan karya anak STM. 

Meskipun gagal juara, gurunya tetap bangga. Gurunya itu bahkan berpesan: kamu punya bakat menjadi wartawan. Pesan itu terpatri di kepalanya.

*****

Setamat STM, dia ikut kakaknya merantau ke Jakarta. Di ibukota Indonesia itu, dia pun mencari cara untuk menjadi wartawan. Dia memulainya dengan berkuliah di sekolahnya wartawan: Sekolah Tinggi Publisistik.

Di STP, kemampuan jurnalistiknya meningkat. Dan itu membawanya berlabuh ke media-media terbaik: Tempo, Matra, Bisnis Indonesia, dan, terakhir, Media Indonesia.

Dalam perjalanannya, Media Indonesia mau bikin televisi berita. Dia pun didapuk sebagai organisatorisnya. 

Dia memulainya dengan baik. MetroTV menjadi televisi berita bonafit di awal 2000-an. Perlahan, televisi itu menyingkirkan dominasi Seputar Indonesia ya RCTI dan Liputan 6-nya SCTV. Bahkan kemudian menenggelamkan keduanya.

Saking berhasilnya di MetroTV, dia bahkan dibuatkan acara khusus dimana dia sendiri yang menjadi host-nya. Nama acaranya Kick Andy.

Ya, dialah Andy Flores Noya.

Pricillia

 Bersama ayah-ibu dan dua adiknya, dia mengungsi. Dari Cina, dia sekeluarga naik perahu ke Amerika. 

Setiba di Amerika, dia dan keluarganya harus kuat dan rela tinggal berdesakan di lokasi pengungsian.

Dalam perjalanannya, usaha keras membuat keluarganya berhasil memiliki restoran Cina. Siang-malam pun dihabiskannya menjaga restorannya.

Sejak usia 13 tahun, dia sadar memiliki kepintaran. Dia pun mempersiapkan diri untuk tes masuk jurusan kedokteran Universitas Harvard. 

Dia akhirnya berhasil. Usaha 'tak membohongi hasil.

Di Harvard, perempuan yang 'tak pernah make up ini bertemu seorang pria cupu yang cuma suka komputer. 

Keduanya pun saling menyukai. Cinta mereka berujung ke pernikahan.

Kini, dia bersama suaminya menjadi orang kaya paling berpengaruh di dunia  versi Majalah Time. 

Ya, dia adalah Pricilia, istri dari Mark Zuckerberg, founder Facebook.

Rabu, 16 September 2020

Uus

Dia lahir dari keluarga ideal: ayahnya pegawai Telkom; ibunya urus rumah tangga. Dia pun menjalani kehidupan umum sebagaimana kebanyakan anak-anak lainnya: bermain dan bersekolah.

Hingga dia berkuliah di Fakultas Sastra Universitas Padjajaran, kehidupan keluarganya berubah 180 derajat. Uang pensiun ayahnya 'tak terkelola dengan baik hingga habis sekejap. Beban nafkah keluarga pun ditumpukan kepadanya sebagai anak sulung.

Untuk menafkahi keluarga dan membiayai kuliah, dia nyambi menjadi atlet basket bayaran: dibayar per turnamen. Prestasinya cukup lumayan hingga klub NBL Bandung tertarik merekrutnya. 

Sialnya, di musim pertama main di NBL, dia mengalami cidera parah: uratnya tertarik dari leher sampai ke betis. Dia 'tak mampu membungkuk; karir basketnya tamat seketika.

Gara-gara cidera itu, dia stress berat dan memutuskan menjadi atheis. 

Namun, dia kembali sadar akan adanya Tuhan tatkala dia merasa Tuhan memberikan anugerah lain kepada dirinya di saat yang tepat: dia diterima menjadi penyiar radio terkenal Bandung, Ardan FM. Hal yang diimpikannya semasa kecil. Nafkah keluarganya pun berlanjut semenjak itu. 

Dua tahun menjadi penyiar, dia akhirnya berhenti setelah bertengkar hebat dengan bosnya yang menilainya secara sepihak. 'Tak hanya dipecat, radio se-Bandung memboikotnya sebagai penyiar. Dia menganggur lagi.

'Tak putus asa, setelah itu, dia mencoba peruntungan dengan mengikuti ajang Stand Up Comedy season 1. Dari situ, pintu rezeki terbuka bagi dia untuk menjadi penampil di televisi. Dia kemudian menjadi host dan komedian terkenal.

Meskipun sempat diboikot tampil di televisi karena ujaran kebencian yang dilontarkannya kepada Hijabers fans K-Pop dan HaBib Rizieq, itu 'tak menghalanginya untuk eksis di dunia hiburan.

Ya, dia adalah Firdaus Wicaksana atau yang akrab disapa Uus.

Senin, 14 September 2020

Kikuo Ibe

Ketika sedang berjalan kaki di trotoar, dia bertabrakan dengan seorang pejalan kaki lainnya. Seketika, jam tangannya terlepas, terhempas ke lantai trotoar, dan hancur. 

Jam tangan itu pemberian ayahnya. Maka sekejap, dia pun merasakan sedih yang mendalam. Seolah-olah waktu telah berhenti untuknya. 

Sejak kejadian itu, dia berpikir: bagaimana caranya menciptakan jam tangan yang kuat dan tahan lama? 

Pada suatu momen, dia duduk-duduk di taman. Dia melihat anak kecil memantul-mantulkan bola karet ke tanah. 

Di otaknya, tiba-tiba muncul sebuah pemikiran kecil yang kelak diubahnya menjadi sesuatu yang besar. Pemikiran yang mengaitkan karet dengan jam tangan impiannya.

Dalam perjalanannya, dia bersama timnya berhasil mewujudkan pemikirannya itu dengan membuat jam tangan. 

Bukan jam tangan biasa, tapi jam tangan dengan kekuatan yang tidak main-main: kuat ketika terjatuh dari ketinggian 10 meter, tahan menyelam sedalam 100 meter, 'tak rusak saat diinjak mobil, dan hal-hal lain di luar pikiran orang.

Ya, dia adalah Kikuo Ibe, founder Casio G-Shock.

Kampung Nelayan Untia

Pagi ini Saya gowes ke Kampung Nelayan Untia. Di ujung jalan Salodong, Makassar. Terakhir ke sini -kalau tidak salah- lima tahun silam.

Sudah banyak perubahan. Jalanan Kampung sudah dipaving rapi. Kanal yang membelah Kampung juga sudah dibeton sisi kanan-kirinya. 

Taman bermain anak-anak juga dibangun di samping kanal. Dengan sentuhan cat terang, Kampung tampak sangat berwarna dan menawan.

Kampung ini memang dijadikan proyek contoh pengelolaan Kampung nelayan yang baik. Diawasi langsung oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Makassar. Didanai oleh International Fund for Agriculture Development (IFAD).

Tugas warga sederhana saja: melanjutkan profesinya sebagai nelayan dan menjaga hutan mangroove yang tumbuh di pesisir laut. Selebihnya, biar Pemerintah Kota Makassar yang mengatur.

Jumat, 11 September 2020

Saya dan Unhas

Jadikan kami Pegawai Negeri

Ijinkan kami kerja di sini

Almamater Universitas Hasanuddin

Karunia Ilahi


Jujur, Unhas itu pilihan kedua. Pilihan pertama Saya UGM. Tapi apa daya, pertemuan puluhan kelas dan biaya hampir sejuta di Gama College hanya mampu membawa Saya berlabuh di Tamalanrea, bukan di Bulaksumur. 'Tak mengapa. Itu takdir.

Maka Saya pun berkuliah di Unhas. Tepatnya di Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi. Dari Sungguminasa, Saya Naik Petepete merah ke ujung Pettarani lalu sambung naik Petepete Kampus 07 ke Tamalanrea. Kala itu, Petepete masih jaya: kalau malas ke tujuan, tinggal kasih turun penumpang lalu balik arah. Kalau marah dan ada yang mau dituntut, tinggal mogok jalan. Sekarang, paccei lurang!

*****

Saya masuk Unhas tahun 2002; keluar 2008. Enam tahun. Nyaris tujuh tahun, bahkan. Makanya, saya malas ikut wisuda. Sudah tidak ada yang dikenal. Ikut Yudisium pun kebetulan. Maksud hati ke kampus bawa buku buat disumbangkan ke Perpustakaan, eh ternyata ada Yudisium. 

Saya ingat betul itu Yudisium. Nur FadLi Djoko Ruwin tampil ke podium berbicara sebagai mahasiswa berprestasi. Bicaranya serupa orasi Soekarno: panjang dan berapi-api. Terpaksa Saya bilang ke Keken Muhammad: suruh mi cepat-cepat pidato itu Fadli supaya cepat dibagi nasi kotak!

*****

Unhas itu, di awal 2000-an, adalah kampus yang banyak sekali lapangan bolanya. Hampir setiap Fakultas ada. Ramsis saja ada lapangannya. Makanya dulu, even bola rutin diadakan. Setiap Fakultas bahkan punya evennya sendiri. Even besar biasanya diadakan di lapangan UKM.

Sekarang, lapangan bola tinggal sedikit. Berganti pepohonan rindang dan gasebo tempat nongkrong. Seiring kebijakan Rektorat melakukan -sebut saja- hutanisasi. Seingat Saya, hutanisasi dimulai dari lapangan samping kiri Fakultas Hukum. Kemudian berlanjut ke semua Fakultas. 

Puncaknya di 2010-an sampai sekarang, Unhas betul-betul sudah masuk kategori hutan. Setidaknya kalau kita baca defenisi hutan di UU No. 41 tahun 1999, Unhas masuklah.

*****

Kebijakan Rektorat lain yang cukup terkenal di 2000-an adalah penggusuran pedagang kaki lima (PKL) di jalan masuk Pintu 2 Unhas. Kejadiannya berlangsung sekira tahun 2005.

Kalau Anda jalan-jalan ke Pintu 2 Unhas sekarang, Anda pasti tidak membayangkan, dulu di kanan-kiri jalan masuk itu berdiri sekira 40-an lapak PKL. Mereka bukan cuma berdagang, sebagian menetap juga di lapaknya itu.

Makanya, setelah dibongkar, sebagian lapak kelihatan memiliki WC, lengkap dengan jamban tempat buang air besar. Tentu saja tahi dari jamban itu lari ke got. Tidak mungkin lapak berbagi septic tank dengan RS Wahidin.

Penggusuran paksa -seingat saya- berlangsung keras. Satpam Unhas dibantu polisi baku lempar batu dengan PKL yang dibantu mahasiswa. Ujungnya, Unhas berhasil membuat PKL tergusur.

*****

Unhas adalah pertemuan alumni SMA Negeri 1 (Smansa) -minimal- sepulau Sulawesi. Mulai dari Smansa pusat, cabang, bahkan Smansa ranting pun ada. Smansa pusat nassami. Satuji: Smansa Makassar. Sekolah andalang gue.

Untuk cabang sampai ranting, macam-macam. Mulai dari Smansa Watanpone sampai Smansa Ajangale. Smansa Sungguminasa (Salis) sampai Smansa Bontonompo. Smansa Bangkala sampai Smansa Binamu. Smansa Watansoppeng sampai Smansa Donridonri. Smansa Mamuju sampai Smansa Tapalang. Lengkap. 

Nah, ada kejadian lucu. Waktu ospek, ada senior yang teriak-teriak cari alumni Smansa pusat. Ngana pe fren, namanya Akmal Rahma Patrianta Sabastin, dia mengaku-aku. Setelah didesak, dia akhirnya bilang: alumni SMA 1 Lusin. Alias SMA 12 Makassar.

*****

Saya bukan penghuni Asrama Mahasiswa (Ramsis) Unhas. Tapi saya cukup bergaul di situ. Sering makan-minum di situ. Kadang juga mandi di situ. Cuma menginap saja yang tidak pernah. Kenapa? Karena menginap di masjid kampus lebih enak dibandingkan Ramsis. WC-nya lebih bagus. Airnya lebih lancar. Sisi religinya juga lebih terpenuhi. Meskipun dari sisi kuliner tidak.

Karena sering kongkow-kongkow di Ramsis, Saya jadi tahu beberapa kejadian penting di situ. Suka maupun duka. Berikut beberapanya:

SATU, kamar Bang Caco (Sospol) diserang sama Gajahmada Harding (Sastra). Saya tidak tahu alasannya. Yang jelas, kamar Bang Caco menghitam seperti habis terbakar. Anak-anak bilang: dilempari bom botol. Entahlah.

Syukurnya, masalah tersebut tidak panjang dan melebar. Dan Saya berharap keduanya sudah berdamai dengan masa lalu. Bang Caco dan Gajahmada bahkan sempat bekerja di gedung yang sama: Rektorat Unhas. 

Kabar terkini, Bang Caco melanjutkan karir di Bapenda Kota Makassar. Adapun Gajahmada, dia masih di Rektorat, tapi sekarang lagi pemulihan akibat stroke yang dialaminya.

DUA, teman seangkatan Saya yang penghuni Ramsis, sebut saja namanya AmnarJaya, pernah mengajak warga untuk membersihkan WC yang tersumbat. Karena tidak ada yang mau, dia akhirnya mengerjakannya sendiri. Dan berhasil.

Setelah itu, pintu WC yang telah diperbaikinya dibelikan gembok. Tidak ada yang boleh mandi di situ, kecuali dia dan teman-temannya. Termasuk Saya. Sungguh kreatifitas yang arogan. Hehehe...

TIGA, suasana haru penyambutan jenazah Awy (anak Geologi) yang wafat bersama temannya Iccang saat mendaki Gunung Bawakaraeng. Beberapa temannya tak mampu membendung air matanya. Kejadian itu -seingat Saya- diabadikan dengan baik oleh Identitas, koran kampus. File edisinya mungkin masih ada.

EMPAT, di Ramsis itu ada tempat makan enak milik Pak Abidin. Awalnya, lapaknya ada di dalam Ramsis, lalu kemudian pindah ke area parkir pas depan Fakultas Kedokteran. 

Yang khas dari menu Pak Abidin adalah tempenya. Enak dan pas di lidah. Tak jarang pelanggan harus antri hanya karena menunggu tempe selesai digoreng.

Pak Abidin punya dua anak laki-laki. Namanya Abdi sama Agung. Cukup mudah diingat karena kebetulan serupa dengan nama tempat Fotocopy di dekat pintu 1 Unhas. Kedua anak itu kini sudah besar. Sama-sama berkuliah di Fakultas Hukum Unhas. Mungkin sudah selesai.

Kamis, 10 September 2020

Jacoeb Oetama (1932-2020)

Jacoeb Oetama bukanlah sosok idealis. Dia kompromis. Maka ketika Tempo dan Sinar Harapan dibredel, Kompas aman-aman saja. Sebab Jacoeb bukanlah Goenawan Moehamad. Bukan pula HG Rorimpandey.

Alasan Jacoeb sederhana saja: karyawan dan wartawannya harus tetap makan dan hidup.

Anehnya, meskipun kompromis, Kompas tetap mampu menghasilkan karya jurnalistik berkelas. Elegan. Tidak menyerang, tapi tetap tajam. Tidak menarik secara tema, tapi tetap mau dibaca.

Itulah Kompas. Dan itulah warisan Jacoeb Oetama.

Jacoeb Oetama (dok. Kompas)


Sillaturahim

 Sillaturahim itu hubungan (sillah) kasih sayang (rahim). Tujuannya lebih penting daripada caranya. Mau ketemuan, mau telpon-telponan, mau chatting via WA, mau saling menyapa di fesbuk dan IG, terserah. Yang penting terhubung kasih sayang. Bahkan, mendoakan dari jauh dan tidak menceritakan kejelekan itu juga termasuk.

Sayangnya, sillaturahim di Indonesia selalu dikaitkan dengan ketemuan atau pertemuan. Reuni, nongkrong, ngopi-ngopi, dll. Tidak masalah. Yang penting tujuan tetap tercapai. 

Yang masalah kalau sebaliknya. Pertemuan dijadikan ajang pamer, ajang melontarkan pertanyaan tajam, ajang ghibah, dan lainnya. Istilah anak jaman sekarang: pertemuan unfaedah.

Ibarat penyakit gula yang rajin sekali ketemu-ketemu. Kadang ketemu jantung, kadang ketemu ginjal, kadang ketemu lambung. Saking rajinnya ketemu, dokter pun capek menjelaskannya dan cukup menyingkatnya dengan satu kata: komplikasi.

Rabu, 09 September 2020

LGBT

Prinsipnya sederhana: jika kita ingin melihat akar dari suatu masalah, lihatlah solusi yang diberikan. Biasanya, akar masalah itu linier dengan solusinya.

Ketika terjadi perdebatan antara liberalis dengan agamis, misalnya, perihal LGBT. Liberalis bilang: Kaum Luth itu dihukum karena pemerkosaan, bukan homoseksual. Agamis bilang: karena homoseksual. 

Siapa yang benar? Untuk menentukan siapa yang benar, prinsip tersebut di atas bisa digunakan. Dikaitkan dengan surah Hud ayat 77-83. 

Pada surah tersebut dikisahkan bahwa Nabi Luth kedatangan tamu beberapa pria berparas tampan (jelmaan Malaikat). Menyambut tamunya itu, Nabi Luth justru menjadi khawatir. Dadanya terasa sempit. Sampai-sampai Nabi Luth berkata: Ini hari yang sangat sulit. 

Nabi Luth merasa khawatir akan reaksi negatif dari kaumnya jika mengetahui keberadaan tamunya. Dan benar saja, kaumnya segera datang ke rumahnya. 

Menghadapi kaumnya, Luth memberikan solusi, "Wahai kaumku! Inilah putri-putriku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku dihadapan tamuku ini. Tidak adakah di antaramu orang yang pandai?"

Kaumnya menjawab: "Sesungguhnya engkau pasti tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan (syahwat) terhadap putri-putrimu; dan engkau tentu mengetahui apa yang (sebenarnya) kami kehendaki."

Nabi Luth pun berkata: "Sekiranya aku mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau aku dapat berlindung kepada Allah Yang Mahakuat (tentu aku lakukan)."

Para tamu menenangkan Nabi Luth: "Wahai Luth! Sesungguhnya kami adalah para utusan (malaikat) Tuhanmu, mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah bersama keluargamu pada akhir malam dan jangan ada seorang pun di antara kamu yang menoleh ke belakang, kecuali istrimu. Sesungguhnya dia (juga) akan ditimpa (siksaan) yang menimpa mereka. Sesungguhnya saat terjadinya siksaan bagi mereka itu pada waktu subuh. Bukankah subuh itu sudah dekat?"

Maka Kaum Luth pun ditimpa musibah. Bumi tempatnya berpijak dijungkirbalikkan oleh Allah. Mereka dihujani batu-batu dari tanah yang terbakar.

Jumat, 28 Agustus 2020

Soeharto dan Liem Sioe Liong

Soeharto & Liem (dok. Antony Salim)
Soeharto dan Liem Sioe Liong (dok. Antony Salim)

Film Janur Kuning (1979) adalah kisah kepahlawanan. Yang kita tahu dari film itu adalah perjuangan tentara Indonesia pimpinan Soeharto melawan tentara Belanda dan sekutunya yang ingin mengganggu kemerdekaan Indonesia. Perang terjadi di Jogjakarta pada 1949. Dikenal juga dengan sebutan Serangan Umum 1 Maret.

 
Tidak banyak yang tahu, di momen itulah Soeharto bersua dengan Liem Sioe Liong. Liem, pengusaha asal Semarang, kala itu bertugas memasok logistik ke markas tentara Indonesia di pebukitan Jawa Tengah. 
 
*****
 
Empat belas tahun kemudian, keduanya kembali bersua di level paling tinggi. Soeharto yang baru saja jadi Presiden butuh pengusaha yang bisa membantunya membangun bangsa. Liem menawarkan diri.
Keduanya laku klop dari sisi sifat dan sikap. Soeharto menginginkan kekuasaan, Liem menginginkan uang. Keduanya pun saling menyangga satu sama lain. Tanpa neko-neko. Soeharto melindungi bisnis Liem. Sebaliknya, Liem mendanai segala kebutuhan Soeharto, keluarganya, kroni-kroni, dan pemerintahannya. Kerja sama keduanya bertahan hingga tiga dekade.
 
Liem dan Soeharto sudah seperti saudara. Saat Liem mengubah namanya menjadi nama Indonesia, Soehartolah yang memberinya nama: Soedono Salim. Diambil dari kata Soe yang berarti baik dan Dono yang berarti uang atau dana. 
 
*****
 
Kini, keduanya mungkin sudah bertemu di dunia lain. Tapi warisannya masih terlihat. Bisnis-bisnis Liem masih berdiri megah dengan nama Salim Group. Sementara anak-anak Soeharto masih eksis dengan gayanya masing-masing.

Senin, 17 Agustus 2020

Mati dan Hidup Itu Ujian

 Hari ini saya sungguh sibuk di jalanan. Pagi-pagi sudah berangkat dari Sudiang menuju Toddopuli VI. Melayati Muhammad Nur Fajrin yang wafat tiba-tiba. Sepupu yang juga dosen olahraga UNM itu tadi malam tersungkur saat lagi bermasyarakat di pos ronda dekat rumahnya.

Keluarga, tetangga, dan teman-temannya tentu saja kaget. Usia beliau baru 38. Tidak pernah terdengar sakit sebelumnya. Tapi begitulah. Mati itu ujian memang. Hidup pun juga ujian. Allah sudah menjelaskannya dalam surah Al Mulk ayat 1 dan 2.

Saya melayati beliau sampai dikubur di Pa'gentungan Gowa. Itu adalah salah satu hak seorang Muslim. Sebagaimana hadits pertama dalam Kitabul Jami' karya Ibnu Hajar Al Asqalani. 

Selain karena hak beliau, saya juga ikut ke kubur supaya bisa mengawal GMPM, Geng Motor Pengantar Mayat. Siapa tahu mereka bikin masalah sama pengendara lain. Kalau betul mereka bikin masalah, saya jalan terus. Besarmi semua toh. Nah, GMPM ini termasuk ujian hidup.

Foto: dokumentasi Tenri Esa Andi Arief


Kamis, 13 Agustus 2020

Miskin

Sebelumnya, Pemerintah mengubah nama beras miskin (raskin) menjadi beras sejahterah (rasta, uuyeee...). Mungkin niatnya ingin menumbuhkan harapan pada nama itu. Entahlah. Padahal yang dikeluhkan sobat miskin selama ini bukan namanya, tapi rasanya. Kok yang diganti namanya, bukan berasnya?

Lalu sekarang, harapan coba ditingkatkan levelnya. Sobat miskin disuruh merencanakan pernikahannya. Salah satunya: menikahi orang kaya. Biar terjadi subsidi silang. Padahal nikah tidak semudah itu. Apa Pak Menteri Muhadjir Effendy trada paham?

Kasus Anji

Terkait kasus Erdian Aji Prihartanto alias Anji, Andy Flores Noya pun pernah mengalaminya. Kala itu, acaranya Kick Andy mengundang tamu seorang pemuda penyandang disabilitas.

 
Titik poinnya: pemuda itu mengaku sebagai pembuat musik soundtrack di ragam kartun anime Jepang. Andy tertarik, merasa bangga dengan itu, dan coba menyebarkannya ke seluruh Indonesia biar menjadi inspirasi.
 
Tak dinyana, selepas episode itu tayang, banyak yang mempertanyakannya. Bahkan ada yang berhasil mengkonfirmasinya langsung kepada produsen anime Jepang. Hasilnya: nol. Pemuda itu terbukti hoax.
Setelah dikonfrontasi, pemuda itu akhirnya minta maaf. Ditemani ibunya, dia mengakui kesalahannya.
Kick Andy yang punya organisasi lengkap pun bisa terkecoh dengan profil narasumber. Apalagi Anji yang cuma berbekal sedikit tim kreatif.
 
*****
 
Hal serupa tapi 'tak sama juga pernah terjadi di koran kota terkenal Makassar. Kala itu, wartawannya lewat di sebuah jalan protokol besar. Wartawan itu melihat sebuah kecelakaan. Ada darah di jalanan dan kondisi kendaraan yang cukup parah. Korban sudah dilarikan ke rumah sakit. 
 
Setelah mengumpulkan bukti lapangan, wartawan itu berkesimpulan: korban tewas. Dia pun menulisnya. Tanpa sekali pun mengonfirmasi keadaan korban di rumah sakit.

Beberapa hari kemudian, si korban dan keluarganya mendatangi Koran itu. Mereka bertemu Pemimpin Redaksi dan tentu saja protes. Sang Pemimpin Redaksi memanggil si wartawan dan bilang, "Ada mayat cariko di luar."

Minggu, 02 Agustus 2020

Federal

Sederhana saja: Pak Harto gusar melihat para petani jalan kaki dari rumah ke sawahnya. Dia pun punya niat: mengadakan transportasi murah bagi para petani. Pilihannya jatuh pada sepeda.

Secara khusus, Pak Harto memanggil Pak Willy. Kepada bos besar Astra itu, Pak Harto menyampaikan niatnya. Pak Willy menangkap dengan baik niat itu. Astra pun mulai bikin sepeda. Merknya Federal.

Sampai akhir 80-an, Federal menguasai pasar. Hingga akhirnya di-sliding tackle sama BMX dan Wim Cycle. Termasuk Mustang.

Awal 90-an memang eranya anak-anak BMX. Dengan pernak-perniknya berlabel Vans.

Anehnya, sekarang merk Vans naik lagi. BMX dan Federal dicari lagi. Yah, begitulah dinamika fashion dan passion.

Gambar: Soleh Solihun.

Jumat, 31 Juli 2020

Ajip Rosidi (1938-2020)

Suatu ketika, saking susahnya, Pramoedya Ananta Toer pergi ke rumah kontrakan Ajip Rosidi di Kramatpulo. 

Pram mengetuk pintu. Setelah Ajip membuka pintu, Pram berkata dengan suara yang sangat dalam, "Kau ada nasi tidak? Aku sudah beberapa hari tidak makan!" 

Pram kemudian memakan nasi dingin bercampur mentega yang disajikan Ajip.

Ajip Rosidi



Minggu, 19 Juli 2020

Bisnis Keluarga Kalla

Jusuf Kalla itu orang hebat. Saya setuju itu. Dia mampu menyatukan saudara-saudarinya (kandung dan tiri), istrinya, ipar-iparnya, sepupu-sepupunya, dan sahabat-sahabatnya ke dalam bisnis keluarga. Tanpa ribut-ribut. Tanpa sengketa. Riak-riak kecil pasti ada, tapi bisa disolusikan dengan baik.

Sekarang, perlahan tenang, bisnis telah diwariskan kepada anak-anak, ponakan-ponakan, dan menantu-menantu. Sekali lagi, tanpa ribut-ribut. Tanpa sengketa.

*****

Secara umum, bisnis keluarga Kalla itu ada dua: satu, Kalla Group yang berbasis di Makassar dengan perusahaan intinya bernama PT Hadji Kalla. Kedua, Bukaka Group yang berbasis di Jakarta dengan perusahaan intinya bernama PT Bukaka Teknik Utama.

Kalla Group adalah pondasi dasar bisnis keluarga Kalla. Didirikan H. Kalla dan istrinya Hj. Athirah pada 1952. Bisnis awalnya adalah jualan tekstil (sarung, kain sutra, dll.), jualan hasil bumi (beras, cengkeh, dll.), dan jasa angkutan antarkota trayek Makassar-Bone.

Di tengah perkembangannya, bisnis itu mengalami krisis akibat peristiwa politik 1965. Sampai-sampai Hj. Athirah harus menjual tabungan emasnya demi membayar gaji karyawan. Bisnis itu pun segera diwariskan kepada Jusuf Kalla, anak lelaki pertama, yang baru saja menikah dengan Mufidah.

Oleh Jusuf, Kalla Group dikembangkan dengan memasuki segala sektor bisnis: otomotif, konstruksi, beton, pendidikan, media, dll. Prinsip Jusuf jelas: dia membangun bisnis yang sesuai kemampuan orang-orang dekatnya dan yang sejalan dengan kebutuhan masyarakat.

Jusuf, misalnya, melihat sahabatnya Aksa Mahmud adalah mantan mahasiswa teknik sipil Unhas yang punya banyak teman jago teknik di Unhas. Jusuf pun mendirikan PT Bumi Karsa dan mem-plot Aksa sebagai bosnya.

Dalam perjalanannya, Aksa yang juga suami Ramlah (adik Jusuf), memilih mundur dari PT Bumi Karsa. Dibantu Jusuf, dia kemudian mendirikan bisnis sendiri yang sekarang terkenal dengan nama Bosowa Group. Sama seperti Kalla Group, Bosowa Group juga bergerak di segala sektor bisnis. Bosowa Group kini telah dikelola oleh anak-anak Aksa yang juga ponakan Jusuf: Erwin, Sadikin, Subhan, dan Melinda.

Contoh lain, Jusuf melihat sahabatnya Alwi Hamu punya hobi di bidang pers. Alwi memang waktu mahasiswa aktif di Pers Unhas. Jusuf pun membantu Alwi membangun koran Fajar.

Beberapa tahun tidak berkembang, Jusuf dan Alwi sepakat menggabungkan Fajar ke Grup Jawa Pos milik Dahlan Iskan. Kebetulan Dahlan lagi ingin membangun koran di Indonesia Timur.

Bersama Jawa Pos, Fajar mampu menjadi grup media terbesar di Makassar dan Indonesia Timur. Meruntuhkan dominasi Pedoman Rakyat.

Terkadang juga Jusuf membangun bisnis karena melihat sesuatu yang menarik di ibukota Jakarta lalu ingin mengadakannya di Makassar. Dia, misalnya, pernah melihat usaha cukur yang bersih dan ber-AC di jalan M.H. Thamrin, Jakarta. Dia mau membangun itu di Makassar.

Maka dibangunlah usaha cukur itu. Bekerjasama dengan beberapa tukang cukur Madura. Sayangnya, usaha itu tidak bertahan lama. Bukan karena jelek atau kemahalan, tapi karena orang tiba-tiba punya kebiasaan gondrong ala personil The Beatles. Yang biasanya cukur sekali dua bulan, jadi sekali enam bulan.

Begitulah perjalanan Kalla Group. Dalam membangunnya, Jusuf melibatkan adik-adik dan sepupunya: Saman, Halim, Natsir, Faridah, Fatimah, Adnan, Afifuddin, Suhaemi, Sam'un, dll. Sekarang, bisnis telah dikelola oleh anak dan ponakannya: Solihin, Imelda, Disa, dan Rani.

*****

Bukaka Group didirikan Jusuf pada 1979 karena melihat potensi insinyur-insinyur muda alumni ITB yang sangat mumpuni, seperti Achmad (adik Jusuf), Fadel Muhammad (Presdir Bukaka sampai 1997), dll.

Selain itu, Bukaka juga dibangun untuk membendung kebiasaan impor barang-barang teknik oleh Pemerintahan Soeharto, padahal -dalam keyakinan Jusuf- barang-barang teknik itu bisa dibuat insinyur-insinyur Indonesia.

Pada 1980, misalnya, Pemerintah butuh banyak mobil pemadam kebakaran. Pemerintah sudah mau mengimpornya, tapi Jusuf melakukan lobi dan meyakinkan Pemerintahan Soeharto: Bukaka bisa membuatnya.

Di sebuah bengkel kecil di daerah Cileungsi, Bukaka pun mulai membuat mobil pemadam kebakaran. Itu menjadi produk pertama Bukaka. Dan sampai sekarang produk Mobil berdesain khusus menjadi andalan Bukaka. Terakhir, mereka berhasil membuat mobil Satgas Covid-19 yang mampu memobilisasi Tim dan menyemprotkan disinfektan.

Contoh lain, pada 1989, setelah Bandara Soekarno Terminal 2 dibangun, dibutuhkan jembatan jalan bagi penumpang ke pesawat. Pemerintah sudah mau mengimpornya, tapi Jusuf lagi-lagi berhasil melobi: Bukaka bisa membuatnya.

Dan ternyata Bukaka berhasil membuat produk itu. Presiden Soeharto sendiri yang langsung memberinya nama: garbarata. Produk garbarata kini menjadi produk andalan Bukaka. Bahkan sudah diekspor ke luar negeri.

Dalam mengelola Bukaka, Jusuf dibantu adik dan sepupunya: Achmad, Suhaeli, Hanif, Anwar, dll. Kini, Bukaka telah dikelola full oleh profesional di bidang teknik. Keluarga hanya menempatkan Afifuddin (anak Suhaeli) di jajaran direksi dan Solihin (anak Jusuf) di jajaran Komisaris.

Achmad dan Suhaeli kini sibuk membangun pembangkit listrik di Sulawesi dan Sumatera. Pun masih menggunakan bendera Bukaka.
Keluarga Kalla (dok. Keluarga)

Minggu, 12 Juli 2020

Wanandi Bersaudara

Tidak seperti Tanoto Bersaudara yang bisnisnya pisah-pisah, Wanandi Bersaudara justru menggabungkan bisnis enam bersaudara dalam satu holding: Gemala Group.

*****

Yang menarik, Jusuf Wanandi dan Sofjan Wanandi justru memulai karir di bidang politik. Keduanya adalah aktifis 66 yang menggulingkan Orde Lama. Keduanya lalu aktif di Golkar dan menjadi anggota parlemen.

Keduanya juga menginisiasi berdirinya CSIS, Centre for Strategic and International Studies. Fungsinya: melakukan kajian dan penelitian politik, ekonomi dan sosial, yang kemudian hasilnya diusulkan kepada Presiden Soeharto.

*****

Pada 1974, setelah peristiwa Malari, Sofjan merasa terzalimi akibat peristiwa itu. Dia pun memutuskan keluar dari politik dan mulai berbisnis. Adapun Jusuf, dia tetap berpolitik.

Sofjan berbisnis cukup cekatan. Dia membangun ragam usaha di segala sektor dengan manfaatkan jaringan politiknya dan pergaulannya yang memang luas.

Pada 1980-an, Sofjan menggabungkan bisnisnya dan bisnis saudara-saudaranya dalam satu holding: Gemala Group.

Sejak 1974 hingga kini, Gemala Group melalui banyak anak perusahaannya telah menciptakan produk-produk. Beberapa yang ternama: Aki Yuasa, Korek Gas Tokai, Asuransi Wahana Tata, koran The Jakarta Post, Mandala Airways, maindealer Volkswagen, obat ampisilin dan penisilin, dll. Ada yang masih bertahan, ada yang sudah tenggelam.

Sempat juga terhantam krisis moneter 1997, Gemala Group mampu bertahan sampai sekarang.

*****

Di hari tuanya, Sofjan dan saudara-saudaranya mendirikan Yayasan Prasetya Mulya yang bergerak di bidang pendidikan. Mereka bahkan mendirikan sekolah sendiri: Prasetya Mulya Bussiness School.

Keluarga Wanandi (dok. Sofjan)

Bisnis

BISNIS itu dinamis, tidak statis. Ketika kita melakukan satu tambah satu, hasilnya belum tentu dua. Bisa tiga, bisa 10, bisa 100, bahkan bisa nol. Minus juga bisa.

Kenapa bisa demikian? Karena bisnis itu dipengaruhi banyak faktor: modal, teknologi, sosial, politik, agama, kepemimpinan, dan lainnya. Macam-macam.

Faktor mistik juga ada. Maka jangan heran, ada pengusaha yang selain punya penasehat keuangan juga punya penasehat spiritual. Ada juga yang namanya faktor rejeki; yang dalam istilahnya orang Cina disebut faktor hoki.

Pokoknya, faktornya banyak!

*****

Kalla Group, misalnya, hoki-nya ternyata di dagang. Beberapa kali mereka coba masuk ke agrobisnis, semuanya gagal. Terakhir, usaha cokelat mereka tutup di Kendari. Bukan rejeki memang.

Sektor keuangan juga coba mereka masuki dengan membuat perusahaan leasing. Ternyata kembali gagal. Padahal, potensi pendapatannya sangat luar biasa karena leasing itu di-set buat back up perdagangan mobil mereka. Itulah, faktor satu kelihatan ideal, tapi faktor lainnya tidak pas.

Contoh lain: Salim Group. Banyak yang bilang: ketika Soeharto jatuh, Salim Group juga akan jatuh. Apalagi kejatuhan Soeharto bersamaan dengan krisis moneter. Soedono Salim, bos Salim Group, memang dikenal sebagai pengusaha kesayangan Soeharto.

Benar. Salim Group memang kesusahan waktu krismon itu. Waktu Soeharto jatuh itu. Utang mereka bahkan menggunung. Tapi mereka berhasil bangkit. Itu pertanda, politik hanya satu faktor yang mengusik di bisnis mereka, faktor lain tetap stabil.

Kini, Salim Group tetap stabil dengan ragam bisnis mereka. Di makanan, mereka cekatan memproduksi terigu (bogasari) dan mengolahnya menjadi mie instan (indomie) dan roti (sari roti). Mereka juga tetap jualan Suzuki (indomobil). Bank mereka BCA juga tetap menjadi swasta terbaik nasional.

Tanoto Bersaudara

 "Kitabersaudara memang, tapi harta kita tidak."

Prinsip itu sepertinya berlaku bagi Tanoto Bersaudara. Mereka tujuh bersaudara, tapi bisnis mereka terpisah-pisah. Tempat tinggal mereka juga jauh-jauh. Ada yang di Medan, Surabaya, Singapura, dll.

Hanya Sukanto Tanoto dan Polar Yanto Tanoto yang sepakat membuat bisnis bersama pada 1972 di Sumatera: industri perkayuan.

Tapi ketika Polar wafat akibat kecelakaan pesawat pada 1997, Sukanto mengambil kendali penuh. Bahkan menjauhkan perusahaan dari keluarga Polar. Sebuah pemisahan yang menimbulkan sengketa hingga kini.

Sukanto kini menguasai penuh bisnis-bisnis besar hasil rintisannya bersama Polar: Asian Agri, Toba Pulp Lestari, Riau Andalan Pulp and Paper, dll. Semua bisnis itu tergabung dalam satu holding: Royal Golden Eagle.

Di hari tuanya, Sukanto mendirikan Tanoto Foundation yang konsen di bidang pendidikan.

Kini, bisnis dan yayasannya telah dikelola oleh anak-anaknya: Anderson, Belinda, Andre, dan Imelda.

Polar dan Sunanto (dok. keluarga)

Senin, 22 Juni 2020

Premanisme di Indonesia

Kamis, 23 Februari 2012, puluhan orang bersenjata tajam menyerang Rumah Sakit Gatot Subroto, Jakarta Pusat.

Puluhan orang itu datang dengan menggunakan lima mobil pribadi dan tiga taksi. Mereka kemudian menyerang orang-orang yang sedang melayat Bobby Sahusilawane, pria yang meninggal dunia karena kanker di rumah sakit itu.

Akibat serangan senjata tajam itu, empat pelayat luka-luka dan dua tewas. Sembilan penyerang diamankan polisi.

Penyerangan itu diduga akibat konflik dalam jaringan bisnis narkoba.

*****

Sebelumnya pada Selasa, 14 Februari 2012, bos PT Sanex Steel, Tan Hari Tantono alias Ayung, ditemukan 'tak bernyawa di kamar 2701 Swissbell Hotel, Jakarta Pusat.

CCTV hotel merekam keberadaan John Kei dan beberapa temannya. Tiga hari kemudian, polisi pun menangkap John Kei karena diduga sebagai dalang pembunuhan itu.

Masalah utang-piutang disinyalir menjadi penyebab terjadinya pembunuhan. Memang dalam kesehariannya, kelompok John Kei menjalankan bisnis jasa keamanan dan penagihan (debt collector).

*****

Kelompok John Kei yang merupakan kumpulan orang yang berasal dari Kepulauan Kei, Maluku, terkenal pertama kali 2004 silam. Saat itu, mereka bentrok dengan kelompok Makassar pimpinan Basri Sangaji yang menewaskan tiga orang, termasuk Basri.

Pada April 2010, kelompok John Kei juga bentrok dengan kelompok Thalib Makarim dari Ende, Flores, di klub malam Blowfish. Saat kasus bentrok itu disidangkan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, kedua kelompok kembali saling bentrok di jalanan depan pengadilan. Tiga orang tewas. Adik John Kei, Tito Kei, terluka akibat tembakan.

Kelompok John Kei juga mengalami konflik dengan kelompok Timor yang dipimpin Hercules Rosario Marshal atau yang akrab disapa Hercules.

*****

'Tak jauh beda dengan kelompok John Kei, kelompok Hercules juga menjalani kesehariannya dengan menawarkan jasa keamanan dan penagihan. 'Tak jarang, saat melaksanakan pekerjaan, kelompok Hercules bentrok dengan kelompok preman lain.

Dalam sejarahnya, kelompok Hercules pernah menyerang kantor koran harian Indopos gara-gara merasa dirugikan oleh pemberitaan koran itu.

Dalam sebuah dialog di Metro TV bertema konflik kelompok Hercules dengan kelompok John Kei, Hercules marah-marah sambil memukul meja dan membentak presenter Kania Sutisnawinata. Hercules geram karena dibatasi berbicara.

*****

Banyak harapan kepada John Kei setelah dia keluar dari Penjara Nusakambangan dan menunjukkan sikap pertobatan. Tapi masalah kembali menyelimutinya.

Semalam dia ditangkap lagi oleh Polisi. Itu terkait peristiwa pembacokan di daerah Cengkareng yang melibatkan kelompoknya.

*****

Itulah gambaran premanisme di Indonesia. Di daerah lain selain Jakarta juga terdapat praktik-praktik seperti itu: preman disewa untuk tujuan-tujuan tertentu.

Anton Medan, mantan preman, mengatakan bahwa preman akan tetap ada untuk memenuhi kebutuhan pengusaha. Bahkan kelompok preman tidak menyetor (uang) langsung ke polisi. Pengusaha yang memakai jasa premanlah yang mengurus semuanya ke polisi.

Bank sekelas BCA pun tidak ragu menyewa preman demi menjaga tingkat kredit macetnya. Dan hal tersebut diamini banyak ekonom. Itu hal penting demi menjaga ekonomi bangsa. Terkhusus di sektor keuangan.

Kalau pengusaha, preman, dan polisi main mata, premanisme akan tetap merajalela di Indonesia.

Minggu, 21 Juni 2020

Guerillo Heroico


Pada 5 Maret 1960, Fidel Castro, Raul Castro, Che Guevara, dan puluhan revolusioner Kuba mengadakan parade di kota Havana, Kuba, untuk mengenang meninggalnya 100 orang Kuba dalam sebuah ledakan sehari sebelumnya.

Alberto Korda ada di situ sebagai fotografer. Korda kala itu memang menjabat sebagai fotografer resmi yang secara khusus mengikuti aktifitas pemimpin baru Kuba, Fidel Castro.

Semua orang berjalan beriringan. Dan pada suatu momen, Che berhenti berjalan lalu berbalik ke belakang. Di saat berbalik itulah Korda berhasil memotret Che.

Korda memotret penuh wajah tampan Che yang kala itu berumur 31 tahun. Wajah yang alami, diam, tapi penuh amarah.

Foto itu kemudian dinamai Guerillo Heroico, pahlawan gerilya.


Sabtu, 20 Juni 2020

Jalan Panjang Sekularisme

Abad 14 hingga 17, Eropa mengalami pencerahan jaman (Renaissance). Pada jaman itu, akal manusia mengalami pembebasan. Kitab suci agama samawi terbelenggu. Singkat kata, Renaissance telah melahirkan manusia-manusia yang tercerahkan. Manusia-manusia yang -dicirikan Immanuel Kant- berkitab sendiri.

Karena manusia bebas, budaya masyarakat pun berkembang. Salah satu hasilnya adalah sekulerisme: pemisahan agama dari kehidupan sehari-hari manusia. Sekulerisme mengfungsikan agama hanya dalam bentuk vertikal saja (manusia dengan Tuhan), tidak lagi horisontal (manusia dengan lingkungannya).

Max Weber, dalam teori perubahan masyarakatnya, bilang: rasionalitas kian membentuk cara manusia melihat hidup dan mengambil keputusan. Mereka ‘tak lagi bersandar pada ajaran agama. Kata Weber tersebut sejalan dengan tesis Kant sendiri: dalam diri manusia ada potensi untuk menyelesaikan masalah etis, tanpa bantuan segala kitab suci di dunia.

Beberapa pemikir yang hidup setelah Weber dan Kant menyimpulkan: agama dan kitab sucinya perlahan-lahan akan mati. Augusto Comte, misalnya, menuliskan teorinya: masyarakat akan meninggalkan keadaan teologis dan akhirnya masuk ke keadaan ilmiah dan positif. Karl Marx dan Engels, dua tokoh sosialis, lebih keras lagi. Keduanya sepakat bahwa revolusi sosial akan menghapus agama. 

*****

Apakah agama mati? Ternyata tidak. Sekularisme telah gagal menyingkirkan agama. Meskipun harus diakui, sekularisme berhasil menciptakan liberalisme: paham yang menempatkan manusia sebagai obyek yang bebas, tanpa bisa diatur oleh agama.

Apakah sekularisme berhenti? Ternyata tidak juga. Dalam sebuah esai terbitan 1980, From Secularity to World Religions, Peter Berger memperkenalkan dinamika sekularisme baru yang bernama pluralisme. Berbeda dengan liberalisme yang menempatkan manusia sebagai obyek yang bebas tanpa bisa diatur oleh agama, pluralisme justru menempatkan manusia dan agama sama-sama sebagai obyek yang bebas.

Penganut pluralisme memandang agama dalam perspektif liberal. Mereka menafsirkan kitab suci sesuai perkembangan jaman. Para penganut pluralisme yang ekstrim bahkan sampai pada sebuah pemikiran: semua agama sama; surga dan neraka pun ‘tak bisa dikapling oleh penganut agama tertentu.

Di Indonesia, pluralisme berkembang pesat belakangan. Diusung sejak lama oleh tokoh-tokoh nasionalis yang belajar agama di Eropa. ‘Tak sedikit mereka bahkan bergerak di bawah payung Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama, dua organisasi besar Islam di Indonesia.

Mengenang Koran Sinar Harapan

Pada awal masa orde baru, koran-koran pro-PKI ditutup. Hanya koran milik tentara, nasionalis, agama, dan kelompok independen yang diizinkan terbit. Satu diantara koran yang diizinkan terbit itu adalah koran yang dianggap mewakili agama Kristen: Sinar Harapan dan Kompas.

Pada akhir 2015, koran yang melahirkan jurnalis Panda Nababan dan penulis Soe Hok Gie itu akhirnya tutup. Artikel perpisahan pun ditulis Daud Sinjal, Pemimpin Umum sekaligus Ketua Dewan Redaksi Sinar Harapan. Berikut penggalannya:

"...Kepada para narasumber yang setia, kami menyampaikan pamit seraya meminta maaf karena Sinar Harapan sudah tidak terbit lagi pada 2016. Kami berterima kasih dan bersyukur mempunyai teman-teman yang telah bersama hadir di Sinar Harapan sejak penerbitan pertamanya dan berlanjut pada penerbitan keduanya.

Kami berterima kasih sekaligus memohon maaf kepada penyumbang tulisan dan gambar, serta kelompok pemerhati dan pemikir yang kreatif yang secara sukarela mengasuh rubrik-rubrik khusus. Mohon maaf dan terima kasih kami sampaikan pula kepada para mitra kerja sama, para pengiklan, dan penyalur Sinar Harapan. Tentunya pula terima kasih dan mohon maaf kepada segenap pembaca setia Sinar Harapan. Kiranya segala yang terbaik berlangsung pada 2016."

*****

Koran Sinar Harapan terbit pertama kali pada 27 April 1961 di sore hari. Bermodal 26 karyawan, koran itu berhasil meraup oplah 7.500 eksemplar pertama kali terbitnya.

Selanjutnya, Sinar Harapan tumbuh menjadi koran besar di atas Kompas. Dikelola dengan manajemen yang baik di bawah kepemimpinan H.G. Rorimpandey, koran Sinar Harapan menjadi koran teratas dengan berita-berita hebat dan fasilitas mewah untuk wartawannya: rumah, mobil, liburan ke puncak, dan fasilitas kesehatan.

Beberapa berita hebat yang dihasilkan Sinar Harapan di antaranya: wawancara khusus bersama Pramoedya Ananta Toer di Pulau Buru, bocoran RAPBN 1973-1974 (Sinar Harapan mendapatkan teguran keras dari pemerintah), korupsi di Pertamina, dan kebijakan devaluasi pemerintah.

Terkait berita kebijakan devaluasi pemerintah, Sinar Harapan akhirnya dibredel pada 1986 saat oplahnya telah mencapai 250.000 eksemplar dan jumlah karyawannya 451 orang. Berbeda dengan Jacoeb Oetama, pemimpin Kompas, yang memilih kompromi dengan pemerintah, Rorimpandey 'tak mau kompromi. "Kalau dibredel, itu sudah risiko," katanya.

*****

Pada 2001, saat ruh reformasi bertiup ke tubuh Indonesia, pembredelan Sinar Harapan dicabut. Koran sore itu pun kembali menggeliat setelah 15 tahun mati suri. Mereka hadir dengan nama baru: Suara Pembaruan, sebelum kembali memakai nama Sinar Harapan.

Jurnalis, distributor koran, agen iklan, dan pihak-pihak dalam industri koran menyambut baik hidupnya kembali Sinar Harapan. Koran itu pun berkembang mengikuti era yang ada. Edisi digital juga diterbitkan: sinarharapan.co.   

Namun apa daya, di akhir tahun 2015, manajemen dan investor memilih kebijakan untuk mundur dari industri koran. Sinar Harapan tutup. Tidak menguntungkan menjadi alasan utama.

Senin, 15 Juni 2020

Bangsawan yang Anti Bangsawan

Dia lahir dengan nama Sutan Ibrahim Bergelar Datuk Sutan Malaka. Bapaknya yang karyawan di Kantor Pertanian adalah bangsawan terpandang di daerah Pandam Gadang, Gunuang Omeh, Sumatera Barat.

Dalam perjalanannya, dia menyingkat namanya menjadi Tan Malaka saja. Su pada Sutan dihilangkannya, entah kenapa. Kuat dugaan: dia tidak mau menonjolkan kebangsawanannya.

Hal serupa dilakukan Pramoedya Ananta Toer. Nama asli Pramoedyo diubahnya menjadi Pramoedya. Nama bapaknya Mastoer disingkat hanya Toer saja. Alasannya: namanya terlalu ke-Jawa-an. Dia mau menjadi orang Indonesia saja.

Mastoer, ayah Pramoedya, adalah tokoh terpandang di kampungnya di Blora. Bekerja sebagai guru di sekolah Boedi Oetoemo dan aktif sebagai anggota Partai Sarikat Islam. Mastoer juga dikenang karena kebaikan menampung banyak anak di rumahnya dan menyekolahkannya.

Minggu, 14 Juni 2020

Romusha, Neraka Ala Soekarno

Soekarno Romusha (dok. Arsip Nasional)
Pada 1942, Jepang menguasai Indonesia. Mereka berhasil mengambil alih kendali dari tangan Belanda. Begitu pula di beberapa negara asia tenggara lainnya, Jepang juga berhasil menguasai dan mengendalikannya.

Demi mempertahankan daerah-daerah kekuasaannya tersebut, Jepang merencanakan pembangunan rel kereta api guna mempercepat pengangkutan logistik dan tentara. Jepang juga merencanakan untuk menambang sumber daya alam Indonesia (emas, batu bara dan lainnya).

Untuk mengerjakan semuanya, Jepang membutuhkan banyak pekerja paksa atau dalam bahasa Jepang disebut romusha: pahlawan kerja.

Di Indonesia, romusha dihimpun langsung oleh Presiden Soekarno. Konsekuensi langsung dari kebijakan politik terkait kesepakatan dengan Kaisar Jepang, Tenno Heika, untuk mempercepat dan mendukung proses kemerdekaan Indonesia.

Para pemuda dan orang dewasa -Belanda dan pribumi- dibujuk, ditangkap paksa dan diangkut dengan truk. Mereka kemudian dikirim ke pelbagai lokasi kerja, di Indonesia maupun di negara lain.

Jumlah yang terhimpun sekira 4-10 juta orang. Banyak dari mereka yang mati mengenaskan: kelaparan, kedinginan, sakit, disiksa, dibunuh dan sebagian menjadi santapan binatang buas.

Romusha bekerja (dok. Arsip Nasional)
Terkait romusha, presiden Soekarno melontarkan beberapa pernyataan:

"Sesungguhnya akulah yang mengirim mereka untuk kerja paksa. Ya, akulah orangnya. Aku menyuruh mereka berlayar menuju kematian. Ya, ya, ya, akulah orangnya. Aku membuat pernyataan untuk menyokong pengerahan romusha. Aku bergambar dekat Bogor dengan topi di kepala dan cangkul di tangan untuk menunjukkan betapa mudah dan enaknya menjadi seorang romusha..."

"...Aku melakukan perjalanan ke Banten untuk menyaksikan tulang-tulang kerangka hidup yang menimbulkan belas, membudak di garis belakang, jauh di dalam tambang batu bara dan emas. Mengerikan. Ini membuat hati di dalam seperti diremuk-remuk."

"Ada dua jalan untuk bekerja. Pertama dengan tindakan revolusioner, kita belum siap. Kedua adalah bekerja sama dengan Jepang sambil mengonsolidasikan kekuatan dan menantikan sampai tiba saatnya ia jatuh. Saya mengikuti jalan kedua."

"Dalam setiap perang ada korban. Tugas dari seorang panglima adalah memenangkan perang, sekalipun akan mengalami beberapa kekalahan dalam pertempuran di jalan. Andaikata saya terpaksa mengorbankan ribuan jiwa demimenyelamatkan jutaan orang, saya akan lakukan. Kita berada dalam suatu perjuangan untuk hidup..."

Soekarno di kuburan romusha (dok. Arsip Nasional)

Sabtu, 13 Juni 2020

Teror Subuh

Tiba-tiba saya teringat Pak Daud, kru Intelkam Polda Sulsel yang meninggal dunia saat berjalan kaki dari rumahnya di jalan Pallantikang, Sungguminasa, menuju masjid untuk sholat Subuh. Dia ditembak dua kali di sekitaran dada. Tubuhnya tersungkur. Pelakunya kabur.

Siangnya, Pak Daud dikuburkan. Keluarga, tetangga, dan teman turut mengantarkan dan mengikhlaskan. Meskipun dalam hati mereka tentu penuh pertanyaan.

Kepada publik, Polda Sulsel bilang: akan membentuk tim khusus yang mengusut kasus meninggal dunia krunya itu. Namun, sampai hari ini, kasus itu belum terungkap. Setidaknya kepada publik. Setidaknya kepada saya.

*****

Siapa kira-kira orang yang sanggup mengintai Pak Daud, menunggunya sampai Subuh, lalu menembaknya dengan tepat dua kali di daerah mematikan? Tentu saja bukan berandalan jalanan yang kalau mau makan masih pulang ke rumah atau kalau mau uang masih minta sama mamaknya.

Orang yang sanggup begitu adalah orang yang bermental penyerang dan pembunuh. Menurut analisa gembel (anabel) saya, kemungkinannya cuma dua: satu, pembunuh bayaran profesional yang dibayar mahal; kedua, orang yang berlatar belakang militer. Ya, kalau bukan polisi tentu saja tentara.

Tapi, kembali lagi, itu cuma anabel saya. Yang tahu pelaku sebenarnya tentu saja hanya Allah, pelakunya, dan orang yang menyuruh pelakunya (kalau memang ada).

*****

Tapi jangan salah, anabel itu kemudian saya pakai di kasus penyerangan Novel Baswedan, kru KPK. Dan benar saja, Polri menemukan dua pelakunya: dua-duanya polisi. Dan tentu Anda bisa mengikuti sendiri kelanjutan kasus itu sekarang.

Saya pribadi lebih tertarik dengan alasan di balik kejadian dibandingkan penghukuman terhadap pelakunya. Pak Daud ditembak, apa alasannya? Novel diserang, apa alasannya? Dua-duanya masih samar bagi saya.

Bahkan, menurut saya, alasan di balik kematian Baharuddin Lopa dan Munir pun masih samar sampai sekarang. Pun tentu kita tetap harus menghargai hasil temuan yang ada.

Minggu, 07 Juni 2020

Ratu

Indonesia ini negara berbentuk republik, tapi tidak henti-hentinya memproduksi "Ratu". Sejak digelar pertama kali 1992 silam, ajang Putri Indonesia telah melahirkan 24 ratu kecantikan. Indikatornya tiga: brain, beauty, behaviour. Yang menilai tentu juri kompeten, bukan masyarakat. Penilaiannya memakai sistem meritokrasi, bukan demokrasi.

Beberapa di antara 24 ratu itu yang terkenal: Venna Melinda, Alya Rohali, Artika Sari Devi, Angelina Sondakh, Nadine Chandrawinata, Maria Selena, dll. Saya 'tak perlu menjelaskan siapa nama-nama tersebut. Jejak mereka cukup terekam di dunia maya. Anda tinggal menelusurinya. Sekalian bisa menilai: mana yang betul-betul ratu; mana yang tidak.

*****

Presiden Soekarno punya banyak Istri. Tapi gelar Ratu sangat pantas kita sematkan ke satu nama: Fatmawati. Alasannya: satu, beliau mendampingi Soekarno di masa-masa perjuangan kemerdekaan, di detik-detik Proklamasi kemerdekaan, dan di masa-masa awal orde lama. Beliau juga yang menjahit bendera merah-putih untuk dikibarkan pada peristiwa Proklamasi Kemerdekaan 1945.

Kedua, beliaulah ibunda dari anak-anak Soekarno yang cukup berpengaruh bagi negeri ini: Guntur, Mega, Rahma, Sukma, dan Guruh. Sentuhan keibuan beliau tentu hadir dalam pribadi kelima anaknya tersebut.

Apalagi nama kedua: Mega. Siapa yang tidak kenal nama itu saat ini. Dia menjadi Ratu di partai PDIP. Perempuan yang berani menunjuk-nunjuki Presiden Jokowi dan menyebutnya petugas partai. Siapa yang berani melakukan itu, kecuali Ratu.

*****

Di era Orde Baru, sosok Ratu sangat pantas kita sematkan kepada Raden Ayu Siti Hartinah alias Ibu Tien, Istri Presiden Soeharto. Perempuan itu 31 tahun mendampingi Soeharto sebagai Presiden. Dia juga membesarkan enam anak-anak emas Soeharto: Tutut, Sigit, Bambang, Titiek, Tommy, dan Mamiek.

Kira-kira apa rahasianya sampai-sampai Soeharto dengan segala kekuasaannya tidak mau menduakan Ibu Tien? Itu hanya mereka berdua yang tahu. Yang jelas, Soeharto sendiri menegaskan: "Hanya ada satu Nyonya Soeharto dan 'tak ada lagi yang lainnya."

Bukan hanya melarang Soeharto berpoligami. Ibu Tien juga berpengaruh dalam pelarangan poligami bagi pejabat di Indonesia. Beliau mendesak perlunya larangan poligami yang akhirnya keluar dalam wujud Peraturan Pemerintah Nomor 10 tahun 1983 yang tegas melarang PNS untuk berpoligami dan juga UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

*****

Setelah orde baru jatuh, wajah Indonesia berubah total. Demokrasi yang direformasi menyebabkan kekuasaan tidak lagi berpusat di Jakarta, tapi melebar ke daerah-daerah. Itu menyebabkan munculnya Raja-raja kecil di pelbagai daerah. Dan tentu saja: Ratu!

Ratu Atut Chosiyah adalah salah satu contohnya. Dia adalah Gubernur perempuan pertama di Indonesia. Menjabat Gubernur selama dua periode sejak 2007 hingga 2014.

Jabatan Gubernur Ratu Atut akhirnya goyah pada 2014 tatkala KPK menetapkan beliau sebagai tersangka kasus korupsi pengadaan alat kesehatan di RSUD Banten dan sengketa Pilkada Lebak. Dia ditangkap, divonis bersalah, dan dipenjara 5 tahun.

Saat disidang di Pengadilan, Ratu Atut menunjukkan betul bahwa dia Ratu. Pendukungnya datang dari Banten naik tiga bus besar. Saat hendak masuk ke dalam toilet Pengadilan, satu-dua pembantu perempuannya masuk duluan: ada yang membersihkan closet, melap westafel, dan mengamankan kondisi.

Jumat, 05 Juni 2020

Manusia dan Pengetahuan

Ketika manusia tumbuh, dia dibekali akal dan panca indera. Bekal itulah yang digunakan manusia buat berpikir, berpengalaman, dan berpengetahuan.

Manusia kemudian menjadi tahu: ternyata kulit itu kalau dicubit sakit, ternyata pohon itu meneduhkan, ternyata alam itu indah, ternyata manusia lain marah jika disakiti, ternyata sesuatu yang di atas itu akan jatuh kalau tidak ada penyangganya, dan hal-hal lainnya.

Pengetahuan tersebut diistilahkan sebagai pengetahuan alamiah. Pengetahuan yang terjadi karena interaksi manusia dengan lingkungan di sekitarnya. Kadang pengetahuan itu muncul secara kebetulan, coba-coba, dan bahkan hasil akal-akalan.

*****

Manusia lalu bersekolah. Di sekolah, manusia dituntut untuk mengkaji. Pengetahuan yang diperolehnya secara alamiah harus dikaji lebih dalam lagi. Diteliti secara lebih ketat, sistematis, terkontrol, dan konsisten.

Secara alamiah, kita tahu bahwa benda yang di atas akan jatuh kalau tidak ada penyangganya. Tapi setelah dikaji, ternyata benda itu bisa tidak jatuh. Syaratnya: harus ada mesin yang menjalankan dan menerbangkannya. Harus pula didesain bodinya agar simetris dan seimbang.

Pengetahuan dari hasil pengkajian tersebut diistilahkan sebagai pengetahuan ilmiah. Ujung  dari pengetahuan ilmiah adalah terciptanya teori: penjelasan dalil-dalil dari hasil kajian yang telah dilakukan.

*****

Pengetahuan akan rugi jika hanya berhenti di teori. Teori harus diubah menjadi sesuatu yang berguna bagi manusia itu sendiri. Ukuran berguna sederhana saja: memudahkan hidup manusia.

Upaya manusia untuk mengubah teori menjadi sesuatu yang berguna diistilahkan sebagai pengetahuan teknik/terapan. Ujung dari pengetahuan teknik/terapan adalah karya, penemuan. "We need result. Applicable result!" Kata seorang Professor Matematika di hadapan para mahasiswa baru Harvard University.

Kembali kepada contoh di atas: pengetahuan alamiah menemukan bahwa benda yang di atas akan jatuh ketika tidak ada penyangganya. Tapi kemudian, pengetahuan ilmiah menemukan sebuah teori yang menjelaskan benda bisa terbang tanpa penyangga. Dan lalu, pengetahuan teknik/terapan mewujudkannya dalam sebuah karya: pesawat. Berawal dari perjuangan Wright Bersaudara dan berujung pada persaingan antara Boeing dan Airbus.

*****

Pengetahuan alamiah, ilmiah, dan teknik/terapan adalah pengetahuan yang bisa dilihat proses dan hasilnya, dari awal sampai akhir. Ketiga pengetahuan ini kita rangkum saja dengan satu istilah: pengetahuan empiris.

Empiris arti sederhananya: bisa dijangkau akal dan panca indera. Indikator pengetahuan empiris juga sangat sederhana: masuk akal; tidak masuk akal.

Dalam kehidupan manusia, ternyata ada juga pengetahuan yang tidak bisa dijangkau akal dan panca indera. Kita istilahkan sebagai pengetahuan nonempiris. Indikator pengetahuan nonempiris sederhana saja: yakin; tidak yakin. Percaya; tidak percaya.

Agama adalah salah satu contoh dari pengetahuan nonempiris. Berawal dari wahyu; berujung pada dunia lain yang disebut akhirat. Ditengah-tengahnya ada Nabi dan ajarannya yang bersifat doktrinal.

Budaya adalah contoh lainnya. Ketika orangtua kita bilang begini dan begitu, kita ikut saja. Tanpa bertanya; apalagi mengkaji. Kata andalan yang terkadang keluar: itu warisan dari nenek-nenek kita.

Tapi yang menarik dari agama dan budaya adalah meskipun prosesnya nonempiris, tapi sangat fungsional bagi manusia. Apalagi jika dikaitkan dengan perilaku manusia. Itulah mengapa keduanya bertahan sampai berabad-abad lamanya.

*****

Terakhir yang perlu diketahui tentang pengetahuan adalah: satu, penggunaan kata logos, logy, atau logi. Penggunaan kata itu menjadi penanda kematangan kajian sebuah pengetahuan.

Pengetahuan yang telah dikaji secara matang dan mapan biasanya ada kata logi di belakangnya: biologi, arkeologi, sosiologi, epidemologi, antropologi, dll.

Dua, ada juga pengetahuan yang tugasnya mengkaji perkembangan pengetahuan itu sendiri. Namanya epistemologi. Sebuah teori tentang bagaimana berpengetahuan.

Kamis, 04 Juni 2020

Perasaan

Walaupun laut-laut itu dalam
Lebih dalam lagi perasaan

Lirik lagu Koes Plus di atas ada benarnya. Perasaan itu sangatlah dalam. Dalamnya 'tak ternilai. 'Tak terbayangkan, bahkan. Lebih-lebih tergambarkan.

Makanya, perasaan itu sangat sulit dinilai, sulit diterka, sulit diukur. Apalagi kalau cuma mau dinilai seketika, situasional. Pasti penilaiannya sangat dangkal, tidak dalam.

Tapi yang menarik, rasa itu bisa diciptakan. Setelah tercipta, rasa itu akan diuji oleh kehidupan. Dan ketika rasa sudah diuji kehidupan, yang kita bisa lakukan cuma satu: rawatlah rasa itu!

*****

Rasa cinta, misalnya. Anda sah-sah saja menilai bahwa Dude Herlino cinta mati sama istrinya Alisya Soebandono. Tapi itu penilaian seketika. Berkaca pada situasi sekarang.

Apakah 10 tahun ke depan Dude tetap cinta kepada Alisya? Belum tentu. Selama Dude masih hidup, rasa cintanya akan terus diuji oleh kehidupan itu sendiri.

Itulah yang terjadi pada Koes Hendratmo, presenter kuis Berpacu Dalam Melodi. Siapa sangka ayah dari penyanyi Anda dan Bonita itu tiba-tiba menceraikan istri yang telah dinikahinya 20-an tahun. Tapi itulah yang terjadi. "Sudah tidak ada rasa," kata Koes Hendratmo di tv.

*****

Rasa toleransi pun demikian. Tidak bisa dinilai seketika: saya toleran, kamu intoleran! Tapi harus diciptakan dan dirawat. Bukan "digoreng-goreng".

Makanya, ketika Setara Institute mengklaim Sumatera Barat sebagai kota intoleran, saya agak heran. Semudah itukah menilai?

Karena gambaran saya tentang Sumbar cukup baik. Orang Cina imigran hidup enak di daerah itu sejak 1900-an. Berbaur dengan warga melayu, batak, dan lainnya.

Tidak percaya, Petrus Kanisius Ojong menjadi saksi atas hal itu di buku biografinya. Pendiri Kompas Group itu besar di Padang. Begitu pula Sofjan Wanandi dan Joeseof Wanandi. Dua bersaudara pemilik Prasetya Moelya Group dan The Jakarta Post itu juga besar di Sumbar.

Pahlawan nasional Indonesia pertama bahkan orang Agam: Abdoel Moeis. Agam juga melahirkan tokoh perempuan hebat bernama Hj. Rasoena Said. Semuanya asli Sumbar.

*****

Demikianlah perasaan itu. Bisa diciptakan, bisa pula tercipta sendiri. Dan kalau sudah tercipta, rawatlah rasa itu sebab hidup akan mengujinya.

Selama Anda hidup, jangan pernah berbangga-bangga dengan rasamu. Apalagi sampai menjatuhkan orang lain.

Yang bisa bangga dengan rasanya hanyalah mereka yang sudah mati. Rasa cinta Habibie-Ainun adalah salah satu contohnya. Kalau rasa cinta Dude-Alisya, biarlah hidup mengujinya. Mereka tinggal berusaha merawatnya.

"Ka'bah" di Yaman


Ka'bah di Yaman
Gubernur Sana'a, Abrahah, selalu bertanya-tanya penuh rasa heran: bagaimana mungkin bangunan sejelek ka'bah di Mekkah bisa didatangi ribuan orang setiap tahunnya untuk berhaji?

Tanya yang berubah menjadi rasa geram, lalu berujung sebuah tindakan: membangun ka'bah tandingan di Sana'a yang modelnya lebih bagus, kuat, berlumur emas. Ka'bah tandingan itu dinamai Al Qulais.

Setelah jadi, Abrahah mengumumkannya kepada khalayak. Tujuannya: Abrahah mau orang-orang Arab mengalihkan hajinya ke Al Qulais. Bukan lagi ke Ka'bah.

Pengumuman itu sampailah kepada orang-orang Arab Quraysi di Mekkah. Mereka marah atas tindakan Abrahah. Salah seorang dari mereka bahkan meluapkan rasa amarahnya dengan mendatangi Al Qulais lalu berak di dalamnya.

Mendengar ada orang Arab berak di dalam Al Qulais, Abrahah marah besar. Dia pun menyusun rencana untuk menyerang Mekkah dan menghancurkan Ka'bah.

*****

Tibalah pada hari penyerangan. Pasukan Abrahah berjalan menuju Mekkah. Terdiri dari ratusan manusia dan beberapa ekor gajah.

Dalam perjalanan, pasukan Abrahah dicegat Abdul Muthallib. Pimpinan salah satu klan suku Quraysi itu hendak menawarkan harta berlimpah kepada Abrahah sebagai kompensasi untuk tidak menghancurkan Ka'bah.

Abrahah menolaknya. Dia kembali heran: bisa-bisanya Abdul Muthallib mengorbankan hartanya demi bangunan sejelek ka'bah?

Abdul Muthallib kemudian kembali ke Mekkah dan menyuruh penduduk naik ke bukit-bukit mencari perlindungan. Abdul Muthallib juga 'tak lupa berdoa kepada Allah agar melindungi Ka'bah, Baitullah (rumah Allah).

*****

Doa Abdul Muthallib didengar oleh Allah. Pasukan Abrahah ditimpa kesulitan dalam perjalanannya. Pasukan gajahnya tiba-tiba terduduk, 'tak mau bergerak. Abrahah berusaha memukul-mukulnya agar mau berjalan.

'Tak lama setelah itu, Allah mengirimkan kawanan burung ababil untuk menyerang pasukan Abrahah. Burung-burung ababil itu membawa batu-batu berapi yang ditembakkan ke pasukan Abrahah.

Seketika, pasukan Abrahah luluh lantak. Hancur lebur. Mereka tewas ditimpa batu panas hasil tembakan kawanan burung ababil. Batu-batu itu menembusi badan-badan mereka.

Rencana Abrahah dan pasukannya untuk menghancurkan Ka'bah pun gagal total. Kejadian ini abadi dalam Al Qur'an  surah Al Fill.

*****

Tahun terjadinya peristiwa tersebut di atas kemudian dikenang orang Arab dengan julukan tahun gajah. Di tahun itu pula, lahirlah Muhammad bin Abdullah yang kelak menjadi Nabi umat Islam.

Senin, 25 Mei 2020

Ilmuwan Rendah Hati Di Tengah Sengketa Teknologi


Tim Berners lee (dok. Wikipedia)
Di tengah sengketa teknologi yang marak terjadi: Google versus Apple, Apple versus Amazon, Apple versus Samsung, dan sebagainya, ada seorang ilmuwan teknologi yang tetap rendah hati. Ilmuwan itu bernama Tim Berners Lee.

Siapa dia? Lee adalah ilmuwan 64 tahun kelahiran London, Inggris, yang menemukan teknologi world wide web (www). Teknologi www tidak dipungkiri adalah pondasi dasar dari berkembangnya internet.

Sistem www berbasis hipertext memungkinkan data-data dan informasi saling terhubung melalui link dengan sekali klik. Sehebat apapun Facebook dan Google, keduanya tidak mungkin ada tanpa teknologi www.

Yang menarik, Lee ‘tak cari pamor. Dia bahkan ‘tak butuh hak paten dan ‘tak meminta royalti atas temuannya itu. Padahal kalau dia mau, entah berapa triliun dollar uang yang akan diraupnya. Atas jasanya tersebut, Lee diberi gelar Sir oleh Kerajaan Inggris melalui Ratu Elizabeth II.