Kamis, 19 Juli 2018

Bagaimana Geng Makassar Jadi Penguasa di Kalijodo?

Daeng Azis & Haji Usman berdamai (dok. Kepolisian)
Pada 1965, orang-orang dari Sulawesi Selatan berbondong-bondong datang ke daerah Kalijodo, area pinggir kali di Jakarta. Mereka kebanyakan bersuku Bugis dan Makassar, sebagian kecil Mandar. Untuk hidup, mereka bekerja sebagai buruh pabrik dan kuli di pelabuhan.

Karena suasana ramai, tapi kurang hiburan, seorang Mandar bernama Kamelong merintis usaha judi pada 1968. Karena disukai orang-orang Cina, usahanya berkembang. Sampai-sampai -untuk mengembangkan usahanya- dia banyak memanggil teman sesukunya datang ke Kalijodo guna membantu usahanya.

Dalam perjalanannya, karena faktor sosial dan ekonomi, terjadi gesekan antarsuku yang menyebabkan pertikaian, terkhusus pertikaian antara geng Mandar dan Makassar. “Mereka sama-sama keras, tak mau kalah kalau sudah saling ledek. Buntutnya ya saling tusuk dengan badik,” tutur Kunarso Suro Hadi Wijoyo, purnawirawan ABRI yang lama menetap di Kalijodo.

Pada 1992, Kamelong wafat dan mewariskan usaha judinya pada keponakannya yang bernama Haji Usman Nur. Yang menarik, pergerakan Haji Usman sebagai bos judi ‘tak diketahui keluarga dan tetangganya. Dia mampu menjaga imejnya. Dia hanya dikenal sebagai pengusaha.

Geng Makassar ‘tak mau ketinggalan. Pada 1994, pentolannya Abdul Azis Emba atau yang dikenal sebagai Daeng Azis juga membuka tempat judi. Dia pun menjadi pesaing utama Haji Usman. Tapi Daeng Azis lebih unggul karena memiliki jaringan kuat ke tokoh-tokoh Makassar di Jakarta, politikus partai, sampai pejabat Kepolisian. Jaringan itu membuat Daeng Azis kuat.

Pertikaian Geng Makassar dan Mandar akhirnya berujung tawuran massal pada awal tahun 2002. Tawuran itu diliput media massa lokal secara intens. Akhirnya, kedua geng didamaikan oleh kepolisian. Haji Usman dan Daeng Azis menandatangani surat perjanjian damai.

Selepas kejadian itu, identitas Haji Usman diketahui oleh keluarga dan tetangganya. Karena malu, dia pun mundur dari kawasan Kalijodo, pulang ke kampung halamannya di Mandar. Praktis, setelahnya, Daeng Azis dan Geng Makassar menjadi satu-satunya penguasa di Kalijodo.

Misteri Kematian Aldi di Rumah Ria Irawan


Kasus kematian Raden Mas Rivaldi Soekarno Putro alias Aldi di rumah artis Ria Irawan pada 1993 masih menjadi misteri sampai sekarang. Tidak ada tersangka yang ditetapkan dalam kasus yang superheboh tersebut. Kepolisian bahkan telah menerbitkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) atas kasus tersebut. Pengecualian: Kepolisian akan melanjutkan proses hukum kasus tersebut apabila ditemukan bukti-bukti baru.

Kronologi Kejadian
Malam itu Ria pulang ke rumahnya di Lebak Bulus, Jakarta, bersama kekasihnya Rizal Mantovani. Di dalam rumah ternyata sudah ada Aldi bertamu. Aldi adalah kenalan Ria. Aldi bertamu malam itu karena ingin cari tempat pelarian dan curhat atas masalah pribadi yang menimpanya. Karena tidak enak dan ada perasaan risih, Ria pun menyuruh Rizal tinggal dan nginap menemani Aldi.

Untuk menghangatkan suasana, Ria membuat pisang goreng yang ditaburi bubuk putih gula dan menyajikannya. Aldi pun mulai bercerita sampai semuanya merasa lelah dan kantuk. Ria masuk ke kamarnya untuk tidur, Aldi dan Rizal juga tidur.

Rizal bangun pagi-pagi sekali; bergegas ke kantornya. Dia sempat melihat Aldi seperti orang teler. Sementara itu, Ria juga bangun pagi-pagi untuk persiapan shooting. Lalu kemudian, saat hendak melangkah keluar rumah, alangkah kagetnyaRia melihat tubuh Aldi tergeletak dengan mulut berbusa.

Ria yang panik kemudian memanggil ibunya Ade Irawan dan menelepon kekasinya Rizal. ‘Tak lama, polisi dan dokter datang ke rumah Ria memeriksa kejadian tewasnya Aldi. Penyidikan atas kematian Aldi pun bergulir. Ria dan Rizal harus bolak-balik ke Kepolisian Metro Cilandak untuk pemeriksaan. Para jurnalis juga mencari-cari mereka untuk meminta keterangan.

Akhirnya, kesimpulan atas kematian Aldi ditetapkan karena overdosis narkoba. ‘Tak ada tersangka, disimpulkan Aldi tewas karena kesalahannya sendiri dalam pemakaian narkoba. Rizal kembali bekerja seperti biasa, sementara Ria -atas kesepakatan dengan Kejaksaan- disuruh meninggalkan Indonesia beberapa tahun demi menenangkan suasana. Karir artis cantik pemeran Juminten dalam sinetron Lika Liku Laki-Laki itu pun sedikit-banyak terganggu. Pun dia pulang dua tahun kemudian dan kembali berartis.

Narkoba dan Kematian Aldi        
Bagaimana narkoba membunuh Aldi? Sering para pengguna narkoba tidak mengetahui dosis narkoba yang digunakannya. Sering pula dia tidak tahu kualitas narkoba yang dikonsumsinya, apakah telah di-oplos oleh pengedar dengan bahan-bahan lain atau tidak. Para pengguna langsung saja memakainya dengan cara disuntik, dihisap pakai hidung (sniffing), dihisap bersama rokok (ack-ack) dan dibakar lalu dihisap uapnya (chasing the dragon).

Ketidaktahuan tersebut bisa menyebabkan kematian. Kenapa? Ahli forensik, Dr. Mun’im Idris rahimahullah, menjelaskan bahwa narkoba (berdosis tinggi dan/atau oplosan) yang dikonsumsi, terutama dengan cara dihisap, bisa mengganggu pernapasan; bahkan sampai menyebabkan pembengkakan paruparu. Hal tersebut bisa dicegah dengan memberikan obat naloxone kepada pengguna, namun itu menjadi sia-sia apabila ada zat lain yang bersama narkoba, misalnya alkohol atau bahan-bahan hasil oplosan.

Mengingat Ryan, Lelaki Romantis Berperilaku Sadis

Ryan di balik jeruji (dok. Liputan 6)
“…Suamiku, kuatkan dan bantu aku dalam menghadapi persoalan ini. Suamiku, sakit hatiku kau tinggalkan aku. Suamiku, aku sendiri di sini, semua orang takut padaku dan tidak ada yang menjengukku. Suamiku, aku sangat mencintaimu dan tidak akan mengkhianatimu…,” tulis Verry Idham Henyansyah alias Ryan (30) dalam surat cintanya kepada Noval Andreas (20-an), pasangan gay-nya. Ryan menyuratkan romantismenya dari balik penjara. Dia ditangkap pada 2008 karena kasus pembunuhan berantai terhadap 11 orang.

Cinta Berujung Perilaku Sadis
Cinta Ryan kepada Noval bukanlah cinta biasa. Itu terbukti saat Ryan marah kepada Heri Santoso (40), pengusaha dan juga seorang gay, yang menawarkan uang kepadanya demi bisa tidur dengan Noval. Kemarahan Ryan berujung sadis: dia membunuh Heri, memutilasi tubuhnya, memasukkannya ke dalam tas, dan membuangnya di dekat Kebun Binatang Ragunan, Jakarta Selatan.

Polisi yang memeriksa potongan tubuh itu mengidentifikasinya sebagai Heri. Keterkaitan dengan Ryan berhasil ditelusuri lewat transaksi kartu kredit milik Heri. Ryan ternyata memakai kartu kredit Heri untuk berfoya-foya. Ryan pun ditangkap dan dia mengakui perbuatannya.

Setelah berita Ryan sampai ke kampungnya di Jombang, beberapa laporan warga muncul. Mereka melaporkan kehilangan anggota keluarganya setelah diketahui terakhir bersama Ryan. Polisi bergerak melacaknya. Dan terungkaplah fakta mencengangkan: Ryan ternyata telah membunuh 10 orang di kampungnya dalam rentang waktu 2007 hingga 2008.

Ke-10 orang itu dibunuh Ryan di rumahnya sendiri saat kedua orangtuanya keluar rumah. Ryan yang luwes dan pintar bergaul mengajak korbannya jalan-jalan ke kebun belakang rumahnya. Dia dan korban lalu bercerita tentang apa saja seperti dua orang yang akrab. Saat korban lengah, Ryan memukulnya pakai benda keras. Tubuh korban yang tergeletak langsung dikubur di tempat.

Ke-10 orang itu adalah Vincent Yudi Priyono (31), Ariel Somba (34), Grady Gland Alam Tumbuan (30-an), Guruh Setyo Pramono (27), Agustinus Fitri Setiawan (28), Nanik Hidayati (31), Sylvia Ramadani Putri (3, anak Nanik), Muhammad Aksoni (29), Zainal Abidin (21), dan Muhammad “Aldo” Asrori (20-an). Motifnya? Kuat dugaan ketersinggungan sebagaimana motif Ryan saat menghabisi Heri.

Cerdas Tapi Bersikap Labil
Ryan lahir di desa Jatiwates, Jombang, 1 Februari 1978. Seorang janda bernama Kasiyatun telah mengandung Ryan empat bulan saat Akhmad Maskur, satpam perusahaan gula, menikahinya. Ryan memiliki kakak dari pernikahan ibunya terdahulu bernama Mulyo Wasis.

Saat bersekolah di SDN 2 Jatiwates, Ryan diakui oleh guru-gurunya memiliki kecerdasan di atas rata-rata dan berprestasi. Namun perilaku Ryan berubah saat bersekolah di SMPN 1 Tambelang. Ryan menjadi lebih feminin, memilih bergaul dengan perempuan, dan hobi menari. Sempat masuk SMAN 1 Jombang, Ryan akhirnya berpindah-pindah SMA karena sikapnya yang labil. Hingga takdir pun membawanya ke Jakarta.

Di Jakarta, Ryan ngekost. Untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari, Ryan bekerja di Marcella Gymnastic. Ryan akhirnya dipecat karena kedapatan mencuri ponsel milik anggota gym. Entah bagaimana jalannya, Ryan pun bergaul dengan komunitas gay dan memiliki Noval Andreas sebagai kekasihnya.

Kini, pada 2018, Ryan murung di balik jeruji. Peninjauan Kembali yang diajukannya ditolak. Di usianya yang ke-40, dia pun menanti vonis matinya. Kematian itu memang pasti, tapi jelas berbeda bagi orang yang telah mengetahuinya. Dan kita hanya bisa berempati dan berdoa: semoga di sisa kehidupannya, Ryan lebih bermanfaat bagi dirinya dan orang lain!

Mengenang Freddy Budiman, Sang Bandar Narkoba

Freddy Budiman dan anggota BNN (dok. Tempo)
Ketika Freddy Budiman ditangkap Polda Metro Jaya pada 2009 karena Sabu 200 kilogram, masyarakat belum terpana dengannya. Padahal, turut ditangkap bersamanya dua aparat: Aibda Sugito dan Bripka Bahri. Ketiganya dibui sembilan tahun. Freddy ditempatkan di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang.

Ketika pada 2012 Freddy diketahui menjadi salah satu dalang penyelundupan 1,4 juta butir ekstasi asal Cina ke Indonesia, mata masyarakat dan sorotan jurnalis mulai tertuju kepadanya. Terlebih, pria asal Surabaya itu mengendalikan penyelundupan dari balik jeruji melalui telepon, meskipun larangan komunikasi masuk dalam salah satu larangan Freddy selama dalam Lapas.

Atas penyelundupan itu, Freddy divonis mati Pengadilan. Enam teman yang membantunya sebagian divonis mati; sebagian lain divonis seumur hidup. Satu aparat yang terlibat, Serma Supriadi, divonis tujuh tahun penjara plus pemecatan.

Yang paling mencengangkan, pada 2013, Freddy terciduk memiliki pabrik sabu di dalam Lapas. Freddy bahkan bebas didatangi teman perempuannya; bahkan sampai ngeseks. Wakil Kepala Lapas Cipinang, Gunawan Wibisono, yang terbukti membantunya divonis delapan tahun penjara.

Terakhir, pada 2015, Freddy diketahui juga menjadi dedengkot impor sabu dari Belanda. Empat peluncurnya dihukum seumur hidup dan 20 tahun penjara, termasuk Johni Suhendra, adik kandung Freddy. Johni diketahui menjadi pengendali pabrik sabu Freddy di Cengkareng, Jakarta Barat.

Pada Jumat, 29 Juli 2016, eksistensi Freddy akhirnya berakhir. Dia dieksekusi mati. Ada hal yang menarik: Polisi mencatat nilai transaksi narkoba Freddy selama menjadi bandar mencapai puluhan milliar rupiah. PPATK bahkan menemukan transaksi ratusan milliar yang diduga berafiliasi dengan Freddy. Namun, fakta-fakta tersebut ‘tak pernah terungkap. Tenggelam seiring wafatnya Freddy.

Padahal, sebelum wafat, Freddy sempat bilang kepada Haris Azhar (Koordinator Kontras) yang kemudian diposting di dinding Facebook Kontras, “Kalau saya ingin menyelundupkan narkoba, saya tentu acarain (atur) itu. Saya telpon Polisi, BNN, Bea Cukai. Dan orang-orang yang saya telpon itu semuanya nitip (menitip harga).”