Kamis, 17 September 2020

Andy

Dia lahir dan besar di Papua. Ayahnya tukang servis mesin 'tik; ibunya urus rumah tangga.

Karena orderan ayahnya tidak menentu, dia dan saudara-saudarinya pun hidup miskin.

Karena alasan miskin pula, dia dimasukkan ayahnya ke STM. Harapannya sederhana saja: selesai sekolah, langsung kerja. Tidak neko-neko.

Maka bersekolahlah dia di STM. Jurusan Teknik Mesin. Anehnya, meskipun punya ilmu permesinan, dia dilarang membantu pekerjaan ayahnya.

Ayahnya punya prinsip: anaknya harus lebih baik dari ayahnya. Kalau dia bantu-bantu pekerjaan ayahnya, takutnya dia malah mewarisinya.

*****

Mungkin inilah yang disebut talenta. Meskipun berstatus sebagai anak STM, dia ternyata punya bakat menulis. Itu terbukti karena setiap pelajaran mengarang (Bahasa Indonesia), dia selalu mampu melakukannya dengan baik.

Hasil karangannya bahkan pernah dibawa oleh gurunya untuk diperlombakan. Hasilnya: tulisannya tidak juara. Bukan karena jelek. Juri ternyata tidak percaya bahwa  itu tulisan karya anak STM. 

Meskipun gagal juara, gurunya tetap bangga. Gurunya itu bahkan berpesan: kamu punya bakat menjadi wartawan. Pesan itu terpatri di kepalanya.

*****

Setamat STM, dia ikut kakaknya merantau ke Jakarta. Di ibukota Indonesia itu, dia pun mencari cara untuk menjadi wartawan. Dia memulainya dengan berkuliah di sekolahnya wartawan: Sekolah Tinggi Publisistik.

Di STP, kemampuan jurnalistiknya meningkat. Dan itu membawanya berlabuh ke media-media terbaik: Tempo, Matra, Bisnis Indonesia, dan, terakhir, Media Indonesia.

Dalam perjalanannya, Media Indonesia mau bikin televisi berita. Dia pun didapuk sebagai organisatorisnya. 

Dia memulainya dengan baik. MetroTV menjadi televisi berita bonafit di awal 2000-an. Perlahan, televisi itu menyingkirkan dominasi Seputar Indonesia ya RCTI dan Liputan 6-nya SCTV. Bahkan kemudian menenggelamkan keduanya.

Saking berhasilnya di MetroTV, dia bahkan dibuatkan acara khusus dimana dia sendiri yang menjadi host-nya. Nama acaranya Kick Andy.

Ya, dialah Andy Flores Noya.

Pricillia

 Bersama ayah-ibu dan dua adiknya, dia mengungsi. Dari Cina, dia sekeluarga naik perahu ke Amerika. 

Setiba di Amerika, dia dan keluarganya harus kuat dan rela tinggal berdesakan di lokasi pengungsian.

Dalam perjalanannya, usaha keras membuat keluarganya berhasil memiliki restoran Cina. Siang-malam pun dihabiskannya menjaga restorannya.

Sejak usia 13 tahun, dia sadar memiliki kepintaran. Dia pun mempersiapkan diri untuk tes masuk jurusan kedokteran Universitas Harvard. 

Dia akhirnya berhasil. Usaha 'tak membohongi hasil.

Di Harvard, perempuan yang 'tak pernah make up ini bertemu seorang pria cupu yang cuma suka komputer. 

Keduanya pun saling menyukai. Cinta mereka berujung ke pernikahan.

Kini, dia bersama suaminya menjadi orang kaya paling berpengaruh di dunia  versi Majalah Time. 

Ya, dia adalah Pricilia, istri dari Mark Zuckerberg, founder Facebook.

Rabu, 16 September 2020

Uus

Dia lahir dari keluarga ideal: ayahnya pegawai Telkom; ibunya urus rumah tangga. Dia pun menjalani kehidupan umum sebagaimana kebanyakan anak-anak lainnya: bermain dan bersekolah.

Hingga dia berkuliah di Fakultas Sastra Universitas Padjajaran, kehidupan keluarganya berubah 180 derajat. Uang pensiun ayahnya 'tak terkelola dengan baik hingga habis sekejap. Beban nafkah keluarga pun ditumpukan kepadanya sebagai anak sulung.

Untuk menafkahi keluarga dan membiayai kuliah, dia nyambi menjadi atlet basket bayaran: dibayar per turnamen. Prestasinya cukup lumayan hingga klub NBL Bandung tertarik merekrutnya. 

Sialnya, di musim pertama main di NBL, dia mengalami cidera parah: uratnya tertarik dari leher sampai ke betis. Dia 'tak mampu membungkuk; karir basketnya tamat seketika.

Gara-gara cidera itu, dia stress berat dan memutuskan menjadi atheis. 

Namun, dia kembali sadar akan adanya Tuhan tatkala dia merasa Tuhan memberikan anugerah lain kepada dirinya di saat yang tepat: dia diterima menjadi penyiar radio terkenal Bandung, Ardan FM. Hal yang diimpikannya semasa kecil. Nafkah keluarganya pun berlanjut semenjak itu. 

Dua tahun menjadi penyiar, dia akhirnya berhenti setelah bertengkar hebat dengan bosnya yang menilainya secara sepihak. 'Tak hanya dipecat, radio se-Bandung memboikotnya sebagai penyiar. Dia menganggur lagi.

'Tak putus asa, setelah itu, dia mencoba peruntungan dengan mengikuti ajang Stand Up Comedy season 1. Dari situ, pintu rezeki terbuka bagi dia untuk menjadi penampil di televisi. Dia kemudian menjadi host dan komedian terkenal.

Meskipun sempat diboikot tampil di televisi karena ujaran kebencian yang dilontarkannya kepada Hijabers fans K-Pop dan HaBib Rizieq, itu 'tak menghalanginya untuk eksis di dunia hiburan.

Ya, dia adalah Firdaus Wicaksana atau yang akrab disapa Uus.

Senin, 14 September 2020

Kikuo Ibe

Ketika sedang berjalan kaki di trotoar, dia bertabrakan dengan seorang pejalan kaki lainnya. Seketika, jam tangannya terlepas, terhempas ke lantai trotoar, dan hancur. 

Jam tangan itu pemberian ayahnya. Maka sekejap, dia pun merasakan sedih yang mendalam. Seolah-olah waktu telah berhenti untuknya. 

Sejak kejadian itu, dia berpikir: bagaimana caranya menciptakan jam tangan yang kuat dan tahan lama? 

Pada suatu momen, dia duduk-duduk di taman. Dia melihat anak kecil memantul-mantulkan bola karet ke tanah. 

Di otaknya, tiba-tiba muncul sebuah pemikiran kecil yang kelak diubahnya menjadi sesuatu yang besar. Pemikiran yang mengaitkan karet dengan jam tangan impiannya.

Dalam perjalanannya, dia bersama timnya berhasil mewujudkan pemikirannya itu dengan membuat jam tangan. 

Bukan jam tangan biasa, tapi jam tangan dengan kekuatan yang tidak main-main: kuat ketika terjatuh dari ketinggian 10 meter, tahan menyelam sedalam 100 meter, 'tak rusak saat diinjak mobil, dan hal-hal lain di luar pikiran orang.

Ya, dia adalah Kikuo Ibe, founder Casio G-Shock.

Kampung Nelayan Untia

Pagi ini Saya gowes ke Kampung Nelayan Untia. Di ujung jalan Salodong, Makassar. Terakhir ke sini -kalau tidak salah- lima tahun silam.

Sudah banyak perubahan. Jalanan Kampung sudah dipaving rapi. Kanal yang membelah Kampung juga sudah dibeton sisi kanan-kirinya. 

Taman bermain anak-anak juga dibangun di samping kanal. Dengan sentuhan cat terang, Kampung tampak sangat berwarna dan menawan.

Kampung ini memang dijadikan proyek contoh pengelolaan Kampung nelayan yang baik. Diawasi langsung oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Makassar. Didanai oleh International Fund for Agriculture Development (IFAD).

Tugas warga sederhana saja: melanjutkan profesinya sebagai nelayan dan menjaga hutan mangroove yang tumbuh di pesisir laut. Selebihnya, biar Pemerintah Kota Makassar yang mengatur.

Jumat, 11 September 2020

Saya dan Unhas

Jadikan kami Pegawai Negeri

Ijinkan kami kerja di sini

Almamater Universitas Hasanuddin

Karunia Ilahi


Jujur, Unhas itu pilihan kedua. Pilihan pertama Saya UGM. Tapi apa daya, pertemuan puluhan kelas dan biaya hampir sejuta di Gama College hanya mampu membawa Saya berlabuh di Tamalanrea, bukan di Bulaksumur. 'Tak mengapa. Itu takdir.

Maka Saya pun berkuliah di Unhas. Tepatnya di Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi. Dari Sungguminasa, Saya Naik Petepete merah ke ujung Pettarani lalu sambung naik Petepete Kampus 07 ke Tamalanrea. Kala itu, Petepete masih jaya: kalau malas ke tujuan, tinggal kasih turun penumpang lalu balik arah. Kalau marah dan ada yang mau dituntut, tinggal mogok jalan. Sekarang, paccei lurang!

*****

Saya masuk Unhas tahun 2002; keluar 2008. Enam tahun. Nyaris tujuh tahun, bahkan. Makanya, saya malas ikut wisuda. Sudah tidak ada yang dikenal. Ikut Yudisium pun kebetulan. Maksud hati ke kampus bawa buku buat disumbangkan ke Perpustakaan, eh ternyata ada Yudisium. 

Saya ingat betul itu Yudisium. Nur FadLi Djoko Ruwin tampil ke podium berbicara sebagai mahasiswa berprestasi. Bicaranya serupa orasi Soekarno: panjang dan berapi-api. Terpaksa Saya bilang ke Keken Muhammad: suruh mi cepat-cepat pidato itu Fadli supaya cepat dibagi nasi kotak!

*****

Unhas itu, di awal 2000-an, adalah kampus yang banyak sekali lapangan bolanya. Hampir setiap Fakultas ada. Ramsis saja ada lapangannya. Makanya dulu, even bola rutin diadakan. Setiap Fakultas bahkan punya evennya sendiri. Even besar biasanya diadakan di lapangan UKM.

Sekarang, lapangan bola tinggal sedikit. Berganti pepohonan rindang dan gasebo tempat nongkrong. Seiring kebijakan Rektorat melakukan -sebut saja- hutanisasi. Seingat Saya, hutanisasi dimulai dari lapangan samping kiri Fakultas Hukum. Kemudian berlanjut ke semua Fakultas. 

Puncaknya di 2010-an sampai sekarang, Unhas betul-betul sudah masuk kategori hutan. Setidaknya kalau kita baca defenisi hutan di UU No. 41 tahun 1999, Unhas masuklah.

*****

Kebijakan Rektorat lain yang cukup terkenal di 2000-an adalah penggusuran pedagang kaki lima (PKL) di jalan masuk Pintu 2 Unhas. Kejadiannya berlangsung sekira tahun 2005.

Kalau Anda jalan-jalan ke Pintu 2 Unhas sekarang, Anda pasti tidak membayangkan, dulu di kanan-kiri jalan masuk itu berdiri sekira 40-an lapak PKL. Mereka bukan cuma berdagang, sebagian menetap juga di lapaknya itu.

Makanya, setelah dibongkar, sebagian lapak kelihatan memiliki WC, lengkap dengan jamban tempat buang air besar. Tentu saja tahi dari jamban itu lari ke got. Tidak mungkin lapak berbagi septic tank dengan RS Wahidin.

Penggusuran paksa -seingat saya- berlangsung keras. Satpam Unhas dibantu polisi baku lempar batu dengan PKL yang dibantu mahasiswa. Ujungnya, Unhas berhasil membuat PKL tergusur.

*****

Unhas adalah pertemuan alumni SMA Negeri 1 (Smansa) -minimal- sepulau Sulawesi. Mulai dari Smansa pusat, cabang, bahkan Smansa ranting pun ada. Smansa pusat nassami. Satuji: Smansa Makassar. Sekolah andalang gue.

Untuk cabang sampai ranting, macam-macam. Mulai dari Smansa Watanpone sampai Smansa Ajangale. Smansa Sungguminasa (Salis) sampai Smansa Bontonompo. Smansa Bangkala sampai Smansa Binamu. Smansa Watansoppeng sampai Smansa Donridonri. Smansa Mamuju sampai Smansa Tapalang. Lengkap. 

Nah, ada kejadian lucu. Waktu ospek, ada senior yang teriak-teriak cari alumni Smansa pusat. Ngana pe fren, namanya Akmal Rahma Patrianta Sabastin, dia mengaku-aku. Setelah didesak, dia akhirnya bilang: alumni SMA 1 Lusin. Alias SMA 12 Makassar.

*****

Saya bukan penghuni Asrama Mahasiswa (Ramsis) Unhas. Tapi saya cukup bergaul di situ. Sering makan-minum di situ. Kadang juga mandi di situ. Cuma menginap saja yang tidak pernah. Kenapa? Karena menginap di masjid kampus lebih enak dibandingkan Ramsis. WC-nya lebih bagus. Airnya lebih lancar. Sisi religinya juga lebih terpenuhi. Meskipun dari sisi kuliner tidak.

Karena sering kongkow-kongkow di Ramsis, Saya jadi tahu beberapa kejadian penting di situ. Suka maupun duka. Berikut beberapanya:

SATU, kamar Bang Caco (Sospol) diserang sama Gajahmada Harding (Sastra). Saya tidak tahu alasannya. Yang jelas, kamar Bang Caco menghitam seperti habis terbakar. Anak-anak bilang: dilempari bom botol. Entahlah.

Syukurnya, masalah tersebut tidak panjang dan melebar. Dan Saya berharap keduanya sudah berdamai dengan masa lalu. Bang Caco dan Gajahmada bahkan sempat bekerja di gedung yang sama: Rektorat Unhas. 

Kabar terkini, Bang Caco melanjutkan karir di Bapenda Kota Makassar. Adapun Gajahmada, dia masih di Rektorat, tapi sekarang lagi pemulihan akibat stroke yang dialaminya.

DUA, teman seangkatan Saya yang penghuni Ramsis, sebut saja namanya AmnarJaya, pernah mengajak warga untuk membersihkan WC yang tersumbat. Karena tidak ada yang mau, dia akhirnya mengerjakannya sendiri. Dan berhasil.

Setelah itu, pintu WC yang telah diperbaikinya dibelikan gembok. Tidak ada yang boleh mandi di situ, kecuali dia dan teman-temannya. Termasuk Saya. Sungguh kreatifitas yang arogan. Hehehe...

TIGA, suasana haru penyambutan jenazah Awy (anak Geologi) yang wafat bersama temannya Iccang saat mendaki Gunung Bawakaraeng. Beberapa temannya tak mampu membendung air matanya. Kejadian itu -seingat Saya- diabadikan dengan baik oleh Identitas, koran kampus. File edisinya mungkin masih ada.

EMPAT, di Ramsis itu ada tempat makan enak milik Pak Abidin. Awalnya, lapaknya ada di dalam Ramsis, lalu kemudian pindah ke area parkir pas depan Fakultas Kedokteran. 

Yang khas dari menu Pak Abidin adalah tempenya. Enak dan pas di lidah. Tak jarang pelanggan harus antri hanya karena menunggu tempe selesai digoreng.

Pak Abidin punya dua anak laki-laki. Namanya Abdi sama Agung. Cukup mudah diingat karena kebetulan serupa dengan nama tempat Fotocopy di dekat pintu 1 Unhas. Kedua anak itu kini sudah besar. Sama-sama berkuliah di Fakultas Hukum Unhas. Mungkin sudah selesai.

Kamis, 10 September 2020

Jacoeb Oetama (1932-2020)

Jacoeb Oetama bukanlah sosok idealis. Dia kompromis. Maka ketika Tempo dan Sinar Harapan dibredel, Kompas aman-aman saja. Sebab Jacoeb bukanlah Goenawan Moehamad. Bukan pula HG Rorimpandey.

Alasan Jacoeb sederhana saja: karyawan dan wartawannya harus tetap makan dan hidup.

Anehnya, meskipun kompromis, Kompas tetap mampu menghasilkan karya jurnalistik berkelas. Elegan. Tidak menyerang, tapi tetap tajam. Tidak menarik secara tema, tapi tetap mau dibaca.

Itulah Kompas. Dan itulah warisan Jacoeb Oetama.

Jacoeb Oetama (dok. Kompas)


Sillaturahim

 Sillaturahim itu hubungan (sillah) kasih sayang (rahim). Tujuannya lebih penting daripada caranya. Mau ketemuan, mau telpon-telponan, mau chatting via WA, mau saling menyapa di fesbuk dan IG, terserah. Yang penting terhubung kasih sayang. Bahkan, mendoakan dari jauh dan tidak menceritakan kejelekan itu juga termasuk.

Sayangnya, sillaturahim di Indonesia selalu dikaitkan dengan ketemuan atau pertemuan. Reuni, nongkrong, ngopi-ngopi, dll. Tidak masalah. Yang penting tujuan tetap tercapai. 

Yang masalah kalau sebaliknya. Pertemuan dijadikan ajang pamer, ajang melontarkan pertanyaan tajam, ajang ghibah, dan lainnya. Istilah anak jaman sekarang: pertemuan unfaedah.

Ibarat penyakit gula yang rajin sekali ketemu-ketemu. Kadang ketemu jantung, kadang ketemu ginjal, kadang ketemu lambung. Saking rajinnya ketemu, dokter pun capek menjelaskannya dan cukup menyingkatnya dengan satu kata: komplikasi.

Rabu, 09 September 2020

LGBT

Prinsipnya sederhana: jika kita ingin melihat akar dari suatu masalah, lihatlah solusi yang diberikan. Biasanya, akar masalah itu linier dengan solusinya.

Ketika terjadi perdebatan antara liberalis dengan agamis, misalnya, perihal LGBT. Liberalis bilang: Kaum Luth itu dihukum karena pemerkosaan, bukan homoseksual. Agamis bilang: karena homoseksual. 

Siapa yang benar? Untuk menentukan siapa yang benar, prinsip tersebut di atas bisa digunakan. Dikaitkan dengan surah Hud ayat 77-83. 

Pada surah tersebut dikisahkan bahwa Nabi Luth kedatangan tamu beberapa pria berparas tampan (jelmaan Malaikat). Menyambut tamunya itu, Nabi Luth justru menjadi khawatir. Dadanya terasa sempit. Sampai-sampai Nabi Luth berkata: Ini hari yang sangat sulit. 

Nabi Luth merasa khawatir akan reaksi negatif dari kaumnya jika mengetahui keberadaan tamunya. Dan benar saja, kaumnya segera datang ke rumahnya. 

Menghadapi kaumnya, Luth memberikan solusi, "Wahai kaumku! Inilah putri-putriku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku dihadapan tamuku ini. Tidak adakah di antaramu orang yang pandai?"

Kaumnya menjawab: "Sesungguhnya engkau pasti tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan (syahwat) terhadap putri-putrimu; dan engkau tentu mengetahui apa yang (sebenarnya) kami kehendaki."

Nabi Luth pun berkata: "Sekiranya aku mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau aku dapat berlindung kepada Allah Yang Mahakuat (tentu aku lakukan)."

Para tamu menenangkan Nabi Luth: "Wahai Luth! Sesungguhnya kami adalah para utusan (malaikat) Tuhanmu, mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah bersama keluargamu pada akhir malam dan jangan ada seorang pun di antara kamu yang menoleh ke belakang, kecuali istrimu. Sesungguhnya dia (juga) akan ditimpa (siksaan) yang menimpa mereka. Sesungguhnya saat terjadinya siksaan bagi mereka itu pada waktu subuh. Bukankah subuh itu sudah dekat?"

Maka Kaum Luth pun ditimpa musibah. Bumi tempatnya berpijak dijungkirbalikkan oleh Allah. Mereka dihujani batu-batu dari tanah yang terbakar.