Jumat, 27 Oktober 2023

JOKOWIsme (2)

Circa 2010, Walikota Solo Jokowi berjalan santai di lobby Wisma Bakrie. Dengan menggunakan jaket hitam casual, Jokowi hendak ke lantai 20 gedung perkantoran milik keluarga Bakrie itu. 

Di lantai 20 itu, Jokowi menemui para petinggi Toba Group. Jokowi disambut langsung oleh founder Toba Group: Luhut Panjaitan. Turut hadir pula jajaran petinggi lain Toba Group yang semuanya purnawirawan jenderal TNI: Fachrul Rozy, Subagyo HS, Suady Marasabessy, Agus Widjojo, dan Joni Lumintang. 

Pertemuan itu membahas bisnis. Jokowi punya usaha mebel; Toba Group punya bahan bakunya. Tidak hanya bisnis, mereka juga membahas politik. Ditemani paganan kopi dan cemilan.

Benar saja, para mantan Jenderal itulah yang kemudian menjadi pendukung utama Jokowi For Presiden pada 2014. Dan mereka berhasil.

Pertalian erat antara Jokowi dan para Jenderal itu terekam jelas. Selama masa kepresidenan Jokowi, bisnis-bisnis Toba Group mulus berjalan tanpa hambatan. Yang paling jelas tentu saja IMIP, kawasan industri di Morowali.

Peran Luhut dalam organisasi kepresidenan Jokowi juga sangat luar biasa. Mengurusi banyak hal dan menjabati banyak posisi. All item, multi talent. Ya kabusu', ya maneng.

Bagaimana Jokowi deal dan berhasil menjadikan para jenderal berdiri tegak di belakangnya, itu yang luar biasa. Kita sejut saja itu sebagai Jokowisme.

JOKOWIsme (1)

Ketika Pemerintahannya berjalan 10 tahun, Pak Harto -dengan kekuasaannya- bisa saja mengangkat Noto Suwito, adiknya, yang lurah di Kemusuk menjadi Gubernur Jawa Tengah. Siapa yang berani melarangnya? 

Tapi Pak Harto tidak mau. Dia Jawa tulen. Paham roso. Ngerti Tepo Seliro. Sangat menghargai hirarki. Dia mau adiknya berusaha dari bawah. Masih banyak orangtua yang hebat di atasnya.

Begitu pun terhadap anak-anaknya. Yang minat politik, silahkan belajar di Partai dulu. Lalu jadi legislator. Kalau siap, baru jadi eksekutor. 

Dalam perjalanan 32 tahun kekuasaannya, hanya Mbak Tutut yang diangkat Pak Harto jadi Menteri Sosial. Itu pun hanya bertahan dua bulan. Tidak lama setelah itu, Soeharto jatuh.

Ke-Jawa-an itu dipegang teguh juga oleh Pak Beye. Dua periode kepemimpinannya, dia tidak berani mengangkat anak-anaknya menjadi eksekutor. Dia suruh belajar di Partai dulu, lalu kemudian menjadi legislator. Agus dan Ibas paham betul itu. 

Dalam perjalanannya, dua-duanya menjadi pejabat di Partai Demokrat. Lalu Agus mencalonkan diri jadi Gubernur DKI tapi gagal; Ibas berhasil menjadi Legislator.

Hal sebaliknya terjadi sama Pak Jokowi. Tidak tanggung-tanggung, anaknya Gibran dan menantunya Bobby langsung disuruh menjadi eksekutor tertinggi di dua Kota: Solo dan Medan. Melangkahi banyak tokoh masyarakat. Melangkahi banyak tokoh partai. Padahal baru kemarin sore menjadi anggota partai.

Yang teranyar, tentu saja duo anak laki-lakinya. Si bungsu Kaesang berhasil menjadi Ketua Partai di saat baru dua hari bergabung dengan partai itu. Bahkan mungkin dengan Grace Natalie dan Isyana Bagus Oka pun belum terlalu akrab. 

Si Sulung Gibran lebih ajaib lagi: berhasil menjadi cawapres dengan modal pengalaman dua tahun menjadi Walikota Solo dan modal aturan baru dari pamannya yang Hakim MK. Anehnya, jadi cawapres Prabowo lagi, tokoh yang selalu dianggap warisan daripada orde baru.

Ya, mungkin jaman sudah berubah. Yang muda turut bergerak. Mungkin pula Pak Jokowi adalah seorang Jawa Progresif, bukan Jawa Konservatif kayak Pak Harto dan Pak Beye. Kita sebut saja itu sebagai Jokowisme.