Selasa, 24 September 2019

Piala Dunia 1950-an: Lahirnya Puskas, Adidas, Puma, dan Pele

Setelah Piala Dunia 1938 dihelat, FIFA batal menggelar PD 1942 dan 1948 karena Perang Dunia II. PD kembali digelar pada 1950. Makanya, PD yang dilaksanakan di Brazil ini terbilang spesial karena mengobati penantian fans selama 12 tahun.

Logo PD 1950 (dok. FIFA)
Pun demikian, PD ini tampak timpang karena tim-tim eropa tidak full. Jerman dilarang tampil karena terlibat perang. Juara bertahan Italia banyak kehilangan pemainnya yang bermain di Torino akibat tragedi Superga: pesawat klub Torino menabrak bukit Superga di Lisbon. Makanya, meskipun tetap bermain, Italia tampil defensif yang kemudian melahirkan istilah catenacio.

Hal menarik lainnya: India batal jadi peserta karena tidak boleh bertanding tanpa mengenakan sepatu, nomor punggung untuk pertama kalinya dikenakan di baju pemain, dan sistem knockout dihilangkan dan diganti dengan sistem grup.

Dalam sistem grup, peserta dibagi empat grup. Juara masing-masing grup dibuatkan lagi grup dimana juara grup inilah yang menjadi juara PD. Dan dalam penentuan juara grup, tuan rumah Brazil bertemu Uruguay. Tak disangka, Brazil yang diunggulkan kalah 1-2. Uruguay juara.

Ketua FIFA, Jules Rimet, tak bisa berkata apa-apa dalam sambutannya karena yang dia siapkan adalah pidato kemenangan Brazil. Fans Brazil juga banyak yang depresi sampai-sampai pemerintah Brazil menyebar psikolog.

Brazil Vs Uruguay (dok. FIFA)
*****

Piala Dunia 1954 dilaksanakan di Swiss, markas FIFA. Hungaria menjadi tim favorit karena memiliki Ferenc Puskas, striker terbaik Eropa yang membawa Real Madrid juara Piala Champions tiga kali beruntun.

Logo PD Swiss 1954 (dok. FIFA)
Benar saja, Hungaria tampil trengginas sepanjang turnamen. Jerman Barat digilas 8-3 di babak grup; Brazil dan Uruguay dihabisi di babak gugur. Hungaria ke final dengan 25 gol dan hanya kebobolan 7 gol.

Di final, Hungaria kembali bertemu Jerman Barat, tim yang mereka gilas di penyisihan. Hungaria unggul cepat 2-0, tapi entah kenapa, Jerman Barat mampu membalikkan skor menjadi 2-3 dan juara.

Ferenc Puskas (dok. FIFA)
Banyak yang bertanya-tanya, apa rahasia kemenangan Jerman Barat? Salah satu rahasianya adalah sepatu modern yang disiapkan bagian perlengkapan tim, Adi Dasler. Sepatu itu dapat menyesuaikan dengan kondisi hujan saat laga final berlangsung.

Ferenc Puskas menjadi sejarah sebagai striker berkelas. Namanya diabadikan FIFA dalam ajang gol terbaik, Puskas Award. Sementara Adi Dasler, dalam perjalanannya, membuat perusahaan produsen alat olahraga berlabel AdiDas, singkatan dari namanya. Adiknya Rudolf Dasler juga mendirikan perusahaan yang sama berlabel Puma.

Adi & Rudolf Dasler (dok. adidassler.org)
*****

Piala Dunia 1958 awalnya menjadi tidak menarik karena tim kuat Hungaria banyak kehilangan pemainnya akibat revolusi di negaranya. Fans bola tak bisa lagi menonton aksi Ferenc Puskas.
Logo PD Swedia 1958 (dok. FIFA)
Namun, mata fans bola akhirnya tertuju pada sosok pemain muda berusia 17 tahun, Pele. Skillnya yang menari-nari membawa Brasil menjadi juara dengan mengalahkan tuan rumah Swedia 5-2. Julukan tim samba pun muncul untuk Brasil.

Pele mencetak rekor: pemain muda pertama yang mencetak gol dan hattrick di Piala Dunia, yaitu pada usia 17 tahun 29 hari. Sebaliknya, kapten Swedia Nils Liedholm menjadi pencetak gol tertua, yaitu pada usia 35 tahun 263 hari.
Pele (dok. FIFA)
Just Fontaine, striker Prancis, juga mencetak rekor. Bahkan belum terpecahkan sampai sekarang. Dia menjadi top skor dengan 13 gol.

Safawi

Safawi (dok. BolaSport.com)
Nama Muhammad Safawi Rasid mendadak terkenal. Permainannya yang elegan kala membawa Malaysia membungkam Indonesia 3-2 di Gelora Bung Karno menuai pujian.

Tapi tahukah Anda: ternyata bakat Safawi diasah oleh Rahmad Darmawan, pelatih asal Indonesia.

Itu terjadi pada tahun 2015, saat Rahmad dipercaya menjadi pelatih Trengganu Team (T-Team), tim yang bermain di Malaysian Premiere League (MPL), kasta kedua di bawah Malaysian Super League (MSL). Safawi yang kala itu berusia 16 tahun dan bermain di T-Team junior dipercaya Rahmad masuk skuat T-Team senior berkat skill-nya yang mumpuni.

Hasilnya luar biasa: untuk pertama kalinya T-Team finish di posisi tiga klasemen MPL dan naik kasta ke MSL. T-Team bersama Safawi pun menjadi pujaan supporter. Menggusur kepopuleran Trengganu FC sebagai Tim utama Kota Trengganu.

Rahmad dan Safawi akhirnya berpisah pada 2017. Rahmad 'tak mampu menahan keinginan Safawi bergabung dengan Johor Darul Takzim, Tim terbaik MSL. Rahmad sendiri memilih tidak memperpanjang kontrak di T-Team. Dia memilih kembali ke Indonesia menukangi Sriwijaya FC.

Bahlil Lahadalia

Bahlil Lahadalia (dok: Kemendikbud)
Lahir di Fakfak. Ayah tukang batu. Ibu pembantu. Bersaudara delapan orang. Kemiskinan jelas menjadi temannya. Pasti itu.

Tapi dia tidak menyerah. Dia berjuang. Dia bersyukur: berhasil lulus S1 di Sekolah Ekonomi di Jayapura sana.

Ijazah S1 itulah yang membawanya duduk di kursi kantor bank memelototi dokumen-dokumen transaksi.

Tapi dia bosan. Dia merasa menjadi pegawai bukan jiwanya. Akhirnya dia keluar dan memberanikan diri menjadi pengusaha.

Dia berpikir: menjadi pengusahalah yang akan membebaskan keluarganya dari kemiskinan.

Akhirnya dia berhasil! Usahanya berkembang di segala sektor. Diakui di kalangan pengusaha. Pengakuan yang membawanya menjadi pengusaha level nasional.

Ya, dialah Bahlil Lahadalia, Ketua PB Hipmi.