Minggu, 29 November 2020

Pabrik Kertas Gowa

Gowa pernah bangga punya pabrik kertas. Buku produksinya, meskipun tipis, cukup menghiasi keseharian saya yang kala itu masih SD. Gambar artis di sampulnya saya coret-coreti. Kasih kumis, janggut, kacamata dll. Kalau ketiaknya kelihatan, saya kasih bulu ketiak. Macam-macam.

Hingga tahun 1995, Pabrik Kertas Gowa (PKG) dinyatakan pailit. Aset perusahaan milik Keluarga Soeharto itu pun disita negara karena utang yang menumpuk. Tanahnya yang luas disegel.

Sejak saat itu, buku produksi PKG sudah tidak ada di pasaran. Saya pun beralih ke merek lain: Kiky dan Sidu. Kertasnya lebih tebal dan bagus. Gambar-gambarnya lebih variatif. Mulai dari gambar pemain bola sampai gambar boyband yang cukup hits kala itu: New Kids On The Block.

Sepuluh tahun kemudian, sekira tahun 2005, tanah eks PKG itu diserahkan Pemerintah kepada Universitas Hasanuddin. Adalah Jusuf Kalla, Wakil Presiden kala itu, yang memprakarsainya. Di atas tanah itu akan dibangun Institut Teknologi sebagai pengganti Fakultas Teknik Unhas. Sekarang, kampusnya sudah jadi. Megah.



Stadion Mattoanging

Saya pertama kali ke Stadion Mattoanging tahun 1997. Kala itu, PSM menjamu Persipura dalam laga perdana Babak 8 Besar Liga Indonesia. Saya lupa perusahaan rokok apa sponsor Liganya. Dunhill, kalau tidak salah.

Saya masuk lewat jalan samping kantor TVRI dengan lenggang. Beli tiket tribun terbuka dari calo. Dan kemudian berdesak-desakan di gerbang masuk. Dua-tiga polisi terlihat sibuk memukuli supporter yang coba memanjati dinding Stadion pakai sabuk.

Keadaan sudah sangat ramai di dalam Stadion. Pedagang kaki lima juga sudah keliling menjajakan barangnya. Sore itu full. Sebagian penonton bahkan sampai ke luar pagar pembatas. Laga lawan Persipura memang selalu disambut antusias.

Penonton jaman dulu tidak seatraktif sekarang. Dulu yang heboh, berseragam, dan banyak selebrasi hanya Supporter Mappanyukki. Supporter lain cuma pakai baju biasa, duduk, diam, dan nanti berteriak kalau sudah gol. 

Seperti biasa, sebelum pertandingan berlangsung, penonton selalu dihibur oleh aksi Rano melakukan ritualnya. Dia berdoa, mencium tiang gawang, dan memanjati tiang tinggi buat pasang bendera supporter. Beliau masih eksis sampai sekarang. Cuma mungkin tidak sehebat dulu. Faktor usia.

Selain selebrasi Rano, pertandingan persahabatan antarpejabat juga digelar. Salah satu pejabat yang saya kenal adalah Agum Gumelar, Pangdam VII Wirabuana kala itu. Bagi yang belum tahu, Pak Agum juga adalah mertua dari pebulutangkis Taufik Hidayat.

Laga bergengsi itu akhirnya dimenangkan PSM Makassar dengan skor 2-1 lewat gol Luciano Leandro dan Isaac Fatari.

*****

Musim berikutnya, saya kembali menginjakkan kaki ke Stadion Mattoanging untuk kedua kalinya. Kali ini Saya penasaran melihat aksi Jaime Rojas, pengganti Luciano Leandro yang hijrah ke Persija Jakarta.

Dan saya tidak kecewa. Gojekan playmaker Cile itu sungguh menghibur. Tendangan bebasnya juga berhasil menjebol jala Persma Manado malam itu. 

Jaime cuma semusim di PSM. Selanjutnya dia pindah ke PSMS Medan dan kemudian menjadi terkenal se-Indonesia gara-gara hubungannya dengan artis seksi Sarah Azhari.



Floyd

Tinju bukan cuma persoalan menyerang, tapi juga bertahan. Di titik inilah Saya kemudian mengagumi Floyd Mayweather Jr.

51 kali lelaki Amerika itu bertinju, dari usia remaja sampai 41 tahun, 51 kali pula dia menang. Sempurna. Luar biasa.

Nama-nama hebat tidak mampu menaklukkan pertahanannya. Mulai dari Oscar De La Hoya, Shane Mosley, Juan Marquez, Carlos Maidana, sampai Manny Pacquiao.

Yang lucu: dua partai pamungkasnya sebelum pensiun. Dua atlit mixed martial art (MMA) coba menantangnya bertinju: Connor MacGregor dan Tenshin Nasukawa. Dua-duanya 'tak berdaya. Padahal dua-duanya jauh lebih muda. 

Inilah mungkin yang dibilang seni dalam bertarung: ketika kamu mampu mengendalikan dirimu, fisikmu, teknikmu, bahkan usiamu.

*****

Sebenarnya Floyd pernah kalah sekali. Waktu lawan Carlos Maidana, Mei 2014. Agresifitas Maidana mampu membuat Floyd kerepotan. Bahkan sempat tersungkur.

Sayangnya, wasit berkata lain: Floyd dinyatakan menang angka. Kubu Maidana 'tak terima dan menuntut tarung ulang.

Empat bulan kemudian, tarung ulang diadakan. Di momen ini, Floyd betul-betul menunjukkan kelasnya sebagai petinju cerdas. Dia mampu meredam Maidana.

*****

Waktu lawan Manny Pacquiao lain lagi. Banyak yang kecewa karena pertarungan 'tak berjalan agresif. Salah satunya Mike Tyson. Dia kecewa berat.


Tapi begitulah Floyd. Dia konsisten dengan gaya bertahannya. Dan harus diakui: Pacquiao lebih sering meninju angin dibandingkan muka Floyd.

Dan, sekali lagi, harus diakui: Floyd adalah petinju terhebat selama berkarir dari 1996 sampai 2018. Unbeatable.

Floyd
Floyd (Foto: Sean M. Haffey, Getty)


Daeng Oktav

Dalam urusan keyakinan, rocker termasuk yang suka mengaku-aku. Ada yang mengaku pemuja iblis, atheis, agnostik, macam-macam.

Tapi rocker yang satu ini beda. Dia mengaku tercerahkan. Di selendang bass-nya ada tulisan tauhid dalam bahasa Arab. Ya, Dia mengakui ke-Esa-an Allah. Dia taat menjalankan agamanya.

Dialah Daeng Oktav.

Alumni STM Kachak Makassar itu sempat kehilangan arah masa depan. Dia anak STM, tapi dia lebih suka main gitar. Sampai-sampai mamaknya bertanya-tanya: "Ini anakku mau jadi apa kodong?"

Dan pada suatu momen, dia hijrah ke Jakarta. Di kehidupan ibukota yang keras, dia menafkahi diri dengan menjadi office boy di sebuah tempat kursus musik. Dia berpikir: sambil kerja, bisa curi-curi waktu belajar alat musik.

Dalam perjalanannya, karena sudah bertalenta, kemampuan bermain musiknya meningkat. Terkhusus di alat musik gitar dan bass. Boleh dikata, kemampuannya di atas rata-rata.

Kemampuannya bermain bass akhirnya sampai ke telinga Eet Sjahranie. Kebetulan bassis Edane, Iwan Savarius, baru saja mundur. 

Singkat cerita, Eet tertarik dengan permainan Daeng Oktav. Bak durian runtuh, dia pun didaulat menjadi bassis Edane. Sampai sekarang.

Hari-hari selanjutnya pun dijalaninya dengan penuh kesyukuran: menyembah Allah, menghajikan orangtua, menyayangi anak-istri.



📸 IG: DaengOktav





415 Tahun Selayar

Dulu sekali Selayar terkenal dengan kopranya. Eka Tjipta rajin ke sana. Mengambil kopra, membeli, dan membawanya ke Makassar.

Sayangnya, perang antara TNI dan Pasukan Qahar Mudzakkar menghancurkan bisnis kopra di Sulawesi, termasuk Selayar. 

Eka Tjipta pun pindah ke Surabaya dan mendirikan Sinar Mas di sana. Adapun tukang kebun di Selayar banyak yang menderita.

Karena penderitaan, rerata orangtua mengupayakan anaknya bersekolah di Makassar. Biar bisa jadi guru, biar bisa jadi PNS, biar tidak jadi tukang kebun. 

Pola ini berhasil. Maka banyaklah didapati orang-orang Selayar bekerja di instansi. Salah satu yang terkenal adalah Akib Patta, mantan Dirut Bank Sulsel yang kemudian menjadi Bupati Selayar.

Kini, di usianya yang ke-415, Selayar tidak bisa lagi kembali berjaya dengan kopranya. Kelapa sawit lebih menggiurkan dibandingkan kelapa biasa. Jeruk Selayar juga tidak sebagus dulu.

Satu-satunya harapan adalah pariwisata. Semoga Pemerintah dan warga Selayar, serta investor bisa mengelolanya dengan baik. Biar Selayar serupa tetangganya: Bali dan Labuan Bajo.