Senin, 25 Mei 2020

Ilmuwan Rendah Hati Di Tengah Sengketa Teknologi


Tim Berners lee (dok. Wikipedia)
Di tengah sengketa teknologi yang marak terjadi: Google versus Apple, Apple versus Amazon, Apple versus Samsung, dan sebagainya, ada seorang ilmuwan teknologi yang tetap rendah hati. Ilmuwan itu bernama Tim Berners Lee.

Siapa dia? Lee adalah ilmuwan 64 tahun kelahiran London, Inggris, yang menemukan teknologi world wide web (www). Teknologi www tidak dipungkiri adalah pondasi dasar dari berkembangnya internet.

Sistem www berbasis hipertext memungkinkan data-data dan informasi saling terhubung melalui link dengan sekali klik. Sehebat apapun Facebook dan Google, keduanya tidak mungkin ada tanpa teknologi www.

Yang menarik, Lee ‘tak cari pamor. Dia bahkan ‘tak butuh hak paten dan ‘tak meminta royalti atas temuannya itu. Padahal kalau dia mau, entah berapa triliun dollar uang yang akan diraupnya. Atas jasanya tersebut, Lee diberi gelar Sir oleh Kerajaan Inggris melalui Ratu Elizabeth II.

Asia Carrera, Dulu dan Kini

Asia Carrera dan dua anaknya (dok. Asia Carrera Official)
Pada 6 Agustus 1973, seorang wanita lahir ke dunia dengan nama Jessica Steinhauser. Dia lahir di New York City, Amerika Serikat (AS), dari ayah berkebangsaan Jepang dan ibu asli Jerman.

Jessica kemudian tumbuh dan besar di Little Silver, New Jersey, AS. Dia menghabiskan masa kecilnya di daerah itu hingga berumur 15 tahun. Kegemaran Jessica saat kecil adalah bermain piano. Dia bahkan pernah tampil di sebuah pertunjukan besar.

Pada akhir 1980-an, Jessica dan kedua orangtuanya menetap di Jepang. Di kampung halaman ayahnya itu, Jessica dididik secara keras dan disiplin untuk bersekolah. Jessica diharapkan oleh kedua orangtuanya melanjutkan sekolah di Harvard University.

Tekanan orangtua membuat Jessica tidak tahan. Dia terus disuruh belajar sementara dia lebih suka bermain piano dan jalan-jalan bersama teman-temannya. Jessica pun melarikan diri kembali ke New Jersey.

Di New Jersey, Jessica hidup sendiri. Dia bergaul bersama teman-temannya yang bergaya hidup rock n’ roll. Namun itu ‘tak membuatnya lupa akan sekolah. Dia bahkan berhasil mendapatkan beasiswa penuh untuk bersekolah di Rutgers University.

Untuk menunjang biaya hidupnya sehari-hari, Jessica bekerja sebagai penari di bar. Pada 1993, di usia 20 tahun, Jessica kemudian menjadi model majalah dewasa. Momen itulah yang membuka pintu baginya untuk menjadi pemain film dewasa dengan nama alias Asia Carrera.

Saat berkarir sebagai bintang film dewasa, Asia Carrera bertemu dengan Bud Lee (sutradara film dewasa) yang kemudian menjadi suaminya. Keduanya menikah pada 1995.

Selama kurun waktu 10 tahun, Asia Carrera menjalani karirnya sebagai pemain film dewasa. Sekira ratusan film dibintanginya dan dinonton oleh jutaan orang di dunia, termasuk di Indonesia.

Pada 2003, di usia 30 tahun, Asia Carrera pensiun dari dunia film dewasa seiring perceraiannya dengan Bud Lee. Selanjutnya, dia bertemu dengan Don Lemmon (fotografer dan ahli gizi) yang kemudian menjadi suaminya.

Bersama Don Lemmon, Asia Carrera hidup bahagia dengan dua anak, Catalina dan Devin, di Saint George, Utah, AS. Namun, tragedi kecelakaan menewaskan suaminya pada 2006. Kini, Asia Carrera pun harus berjuang hidup sebagai single mother.

Referensi: Why I Do Porn Even Though I’m Very Bright And Could Have Done Anything I Wanted, oleh Asia Carrera; The Most Anoyying Questions, oleh Asia Carrera.

Sabtu, 23 Mei 2020

Mubadzir Versus Manfaat

Mubadzir, secara sederhana, defenisinya: bertindak tanpa manfaat; berbuat tiada guna. Bahasa sekarangnya: unfaedah.

Saya tidak mau memberi contoh. Sebab saya yakin masing-masing orang bisa menilai tindakan dan perbuatannya masing-masing, mubadzir atau tidak.

Dan biasanya, setiap orang, pernah mengalami sebuah momen dimana dia merenung di pojokan dan bertanya-tanya di pikirannya: umur saya sudah sebegini, kok aktifitas saya cuma ini yah? Tidak ada manfaat.

Makanya, kata mubadzir itu sangat pas diantonimkan dengan kata manfaat, guna, atau faedah.

*****

Apakah buang-buang makanan itu mubadzir? Sama sekali tidak.

Buang makanan itu justru besar manfaatnya. Tidak percaya, tanya sama kucing dan anjing jalanan. Andai mereka bisa bicara.

Makanya, pada 2006 silam, saya dan beberapa teman di Masjid Kampus Unhas pernah mengambil sebuah kebijakan internal: mengevakuasi kucing-kucing ke RS Wahidin. Alasannya sederhana: tempat sampah RS Wahidin sangat sejahtera.

Apakah tidak menghabiskan makanan di piring itu mubadzir?

Orang yang tidak menghabiskan makanannya karena kekenyangan itu orang yang masih waras. Sebab jika dia lanjut makan, aduh tuangale, ko gila kah?

Tubuh yang banyak makan akan mengalami hal-hal yang tidak bermanfaat. Bahasa Nabi: berlebih-berlebihan. Makanya memang harus diatur porsinya saat mengambil makanan. Ditakar sesuai kemampuan. Ojo ngoa!

*****

Selamat menemukan manfaat Anda masing-masing! Belum ada kata terlambat. Apalagi yang bernama Gunawan (lelaki berguna), harus lebih berguna.

Kamis, 21 Mei 2020

Penguasa Versus Oposisi

Sedari awal Pak JK sudah bilang: dia kecewa dengan komposisi Pemerintahan 2019-2024 dimana porsi penguasa lebih besar dibandingkan oposisi. Di eksekutif maupun legislatif.

"Itu menyebabkan proses demokrasi tidak berimbang," kata Pak JK.

Dan yang paling ditakuti, tentunya, bisa terjadi penyalahgunaan kekuasaan secara legal. Sebagaimana terjadi pada era orde baru.

Makanya, tidak heran, sesekali Pak JK turun gunung mengritik kebijakan pemerintah. Yang kemudian disambut negatif oleh buzzer dan pendukung Pak Jokowi. Padahal, Pak JK sudah berusaha menempatkan diri sebagai kritikus, bukan oposisi.

*****

Nah, karena oposisi lemah, partisipasi masyarakat sebagai kritikus maupun oposisi sangat diharapkan. Terkhusus aktifis. Berbasis apapun.

Apakah efektif? Amin Mudzakkir, Peneliti LIPI, memberi contoh, "Penundaan UU Cipta Kerja adalah bukti bahwa Presiden Jokowi mau mendengar, tapi beliau menunggu protes dulu dari masyarakat. Kalau masyarakat tidak protes, bablas sudah."

Dan pada 2020 ini kita sudah melihat beberapa hal yang kebablasan: Satu, KPK versus Harun Masiku. Dua, krisis administratif dalam penanganan covid-19 (kasus staf khusus, data berbeda, kebijakan yang membingungkan, dll.). Tiga, TKA ilegal (data kemenaker versus pernyataan Menteri Luhut).

Yang paling anyar, tentu saja, naiknya tarif BPJS Kesehatan dimana Pemerintah mengabaikan keputusan Mahkamah Agung. Kalau sampai 1 Juli tidak ada yang protes, naik sudah.

*****

Teriring doa, semoga Pemerintahan Pak Jokowi mampu berkinerja baik sampai 2024 nanti. Aamiinn!

Senin, 18 Mei 2020

Berdamai dengan corona

Covid-19 memang sudah harus diselesaikan dengan lintas ilmu. Bukan cuma ilmu kesehatan saja, tapi juga ilmu ekonomi. Hasilnya jalan tengah: jalankan perekonomian, tapi tetap terapkan protokol kesehatan.

APBN perlu diselamatkan. Duitnya pasti defisit gara-gara banyak dilarikan ke penanganan covid-19, bayar kartu Prakerja, bagi-bagi BLT, dan yang paling anyar: bayar THR ASN. Penerimaan kurang, pengeluaran melimpah.

Sektor rill (barang dan jasa) perlu segera digerakkan. Biar mereka kembali dapat laba, kembali bayar gaji, kembali belanja barang. Ujungnya: kembali setor pajak ke negara. PPN dan PPh. Demi keseimbangan APBN juga.

Dan ingat, bukan cuma ilmu kesehatan dan ekonomi yang diperlukan, butuh juga ilmu tentang takdir baik dan takdir buruk. Tahu-tahu akibat aktifitas ekonomi yang kembali menggeliat, ada keluarga kita yang terinfeksi covid-19 lalu wafat.

Dengan ilmu tentang takdir, insya Allah kesabaran dan keikhlasan menyertai kita tanpa ada penyesalan dan tuntutan berlebihan kepada Pemerintah. Jangan cari ilmu itu di situs prakerja.go.id. Pasti tidak dapat. Carilah dia di perenunganmu, di kesendirianmu saat menghamba kepada Allah di sepertiga malam.

Teriring doa, semoga kita tabah menjalani semua ini.

Semoga pula new normal betul-betul terwujud, bukan abnormal.

Minggu, 17 Mei 2020

Bagaimana Imam Bukhari Mengumpulkan Haditsnya?

Shahih Bukhari (dok. Wikipedia)
Ketika kita mendapatkan sebuah informasi, ada tiga hal yang bisa kita lakukan untuk menguatkan informasi itu:

Pertama, datangi sumber informasi. Misal kita dapat info: Pantai Losari kotor. Kita datangi langsung pantainya. Lihat, dengar, dan rasakan! Hehe, kayak lagu.

Kedua, kalau kita tidak bisa mendatangi sumber informasi, kita bisa cek kualitas penyebar informasinya, terpercaya atau tidak. Misal kita dapat info itu dari Aco. Setelah dicek, Aco itu ternyata tukang parkir di dekat Pantai Losari, tinggal di jalan Rajawali dekat pantai, sehari-hari selalu nongkrong di pantai. Sangat bisa dipercaya.

Ketiga, kalau kita tidak bisa datangi sumber informasi; tidak bisa pula cek kualitas penyebar informasinya, kita bisa tanyakan info itu ke banyak orang.

Rumusnya sederhana: semakin banyak orang yang membenarkan info yang kita tanyakan itu, semakin besar pula kemungkinan info itu valid. Apalagi kalau kita tanyakan kepada orang-orang yang berwenang. Petugas kebersihan atau wartawan, misalnya.

*****

Tahun 810, sekira 200 tahunan setelah Nabi Muhammad wafat, seorang anak terlahir ke dunia dengan nama Muhammad bin Ismail. Dia lahir di Bukhara, sebuah daerah yang kini menjadi bagian Uzbekistan.

Dalam perjalanannya, Muhammad bin Ismail Al Bukhara yang kemudian dikenal sebagai Imam Bukhari ternyata punya keterkaitan dengan ilmu agama Islam, terkhusus ilmu hadits. Namun hatinya diliputi keraguan: banyak hadits yang beredar, didengar, dan dihapalnya, tapi tidak jelas apakah hadits itu asli dari Nabi Muhammad atau tidak.

Maka Imam Bukhari pun bertekad mengumpulkan hadits-hadits kemudian menyeleksi keasliannya. Secara tidak langsung, dalam proses pengumpulan hadits, dia memakai tiga metode di atas secara bersamaan.

Pertama, Imam Bukhari melakukan perjalanan jauh mendatangi langsung sumber hadits. Dia pergi ke negeri hejaz (Mekkah dan Madinah), ke Persia (Baghdad, Teheran, dll.), ke Mesir, ke Yaman, dan lain-lainnya. Dia melakukan perjalanan selama 16 tahun.

Kedua, Imam Bukhari megecek sejarah para periwayat hadits. Siapa, apa, dan bagaimana bisa sampai ke Nabi Muhammad (sanad). Secara detil. Jumlah periwayat yang ditelitinya tidak main-main: sekira 80 ribu orang.

Ketiga, Imam Bukhari menanyakan hadits-hadits kepada bukan cuma satu-dua guru yang dijumpainya dalam perjalanan, tapi sampai 1.000 guru lebih. Sejarah mencatat: ada 1.080 guru.

Dari hasil perburuannya, Imam Bukhari berhasil mengumpulkan jutaan hadits. Dia kemudian menyeleksinya secara ketat. Hasilnya: tersisa 9.806 hadits yang disusunnya dalam kitab yang diberi judul Al Jami' Al Musnad As Sahih Al Mukhtasar min Umur Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam wa Sunanihi wa Ayamihi. Kitab itu kemudian dikenal sebagai Shahih Bukhari.