Senin, 29 Januari 2024

Hal-hal Menarik Tentang Jokowi (2)

EMPAT. Saat Jokowi sekolah di SMPN 1 Surakarta, dia berjalan kaki atau bersepeda pulang-pergi bersama kawannya. Di perjalanannya setiap hari, dia melintasi sebuah studio musik milik Trecem, band rock terbesar di Solo.


Dari yang awalnya melintas dan mendengar, Jokowi dan temannya kemudian mencoba untuk singgah dan menikmati penampilan Trecem. Jokowi tertarik.

Salah satu personel Trecem yang terkenal dan menasional adalah Setiawan Djody. Dia adalah gitaris yang membentuk band Swami dan Kantata bersama Iwan Fals dan Sawung Jabo.

Dari situ, kesukaan Jokowi terhadap musik rock dimulai. Dia mulai menabung buat beli tape recorder dan kaset-kaset rock. Poster John Bonham, drummer Led Zeppelin, juga dibelinya untuk dipajang di kamarnya.

"Mendengarkan musik rock adalah membangkitkan motivasi dan spirit kehidupan," kata Jokowi.

Salah satu personel Trecem yang terkenal dan menasional adalah Setiawan Djody. Dia adalah gitaris yang membentuk band Swami dan Kantata bersama Iwan Fals dan Sawung Jabo.

LIMA. Jokowi adalah anak lelaki tunggal. Tiga adiknya perempuan semua: Iit Sriyantini, Ida Yati, dan Titik Relawati. Sebenarnya ada satu adik laki-laki, tapi wafat saat persalinan.

Saat adiknya ngumpul dengan teman-temannya, Jokowi jatuh hati pada satu teman adiknya. Namanya Iriana. Jokowi pun menaksir mahasiswi Unismuh Surakarta itu. Iriana pun menjadi teman hidup Jokowi sampai saat ini.

Hal-hal Menarik Tentang Jokowi (1)

SATU. Jokowi adalah ahli kayu. Sejak dari bayi, bapaknya sudah jadi pengrajin mebel. Begitu pula nenek dan pamannya. Masa kecil Jokowi pun tak jauh dari urusan perkayuan.

Saat kuliah, dia memilih jurusan Teknologi Perkayuan di UGM. Selesai kuliah, dia bekerja di PT Kertas Kraft di Aceh. Resign dari KKA, dia pulang ke Solo untuk membuka bisnis kayu sendiri. Bisnisnya diberi nama CV Rakabu.

Bisnisnya lancar. Mebel dari Solo diekspor sampai ke luar negeri. Hanya empat orang pengusaha Solo yang sanggup melalukannya. Salah satunya Jokowi dan CV Rakabu.

Untuk memperkuat usaha mebelnya, Jokowi dan teman-temannya kemudian mendirikan Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo). Jokowi menjadi Ketuanya.

Jadi kalau defenisi ahli adalah orang yang telah menekuni satu bidang selama 10.000 jam, maka Jokowi sudah bisa dikatakan ahli kayu.

*****

DUA. Bagi yang belum tahu, sosok yang pertama kali memanggil Joko Widodo dengan Jokowi adalah bule Prancis, pelanggan mebel.

Bule Prancis itu sering mengirim surat ke beberapa pengrajin mebelnya di Indonesia. Di Jepara, Solo, sampai Surabaya. Karena ada beberapa pengrajin yang bernama Joko, dia sering salah kirim surat.

Untuk membedakannya satu sama lain, maka perlu ada tambahan nama sebagai penanda. Untuk Pak Joko Widodo ditandai dengan nama Jokowi, Joko plus Wi.

Nama Jokowi pun kemudian terus melekat dan dipakai sehari-hari.

*****

Salah satu jembatan pertemuan antara Jokowi dan Luhut Binsar Panjaitan adalah kayu. Jokowi banyak mengambil bahan baku kayu dari perusahaan milik Luhut untuk diolah menjadi mebel.

Jokowi sering menyambangi kantor Toba Group, milik Luhut, di Wisma Bakrie, Jakarta. Jokowi sering ngopi bersama Luhut dan barisan pensiunan Jenderal yang menjadi pejabat di Toba Group.

Jokowi dan para pensiunan Jenderal itu kemudian berteman. Mereka semua saling bahu-membahu mendukung Jokowi sebelum dan selama menjadi Presiden. 

Maka jangan heran kalau peran Luhut dan beberapa pensiunan Jenderal sangat dominan di kabinet Kepresidenan Jokowi. Jangan pula heran kalau usaha Luhut cs lancar jaya selama masa kepresidenan Jokowi. Di Weda Bay maupun di Morowali.

Kamis, 25 Januari 2024

Kuadran Kebijakan Pemerintah


Harus diakui, Indonesia adalah negara yang jauh dari idealitas. Makanya, amat sulit menemukan kebijakan pemerintah yang betul-betul benar dengan konsekuensi yang sangat-sangat baik. 

Yah, realitasnya: terkadang kebijakan sudah dirancang dengan benar oleh pemerintah; rasionya sudah matang, tapi yang terjadi kemudian konsekuensinya malah buruk. Begitupula sebaliknya, kebijakan salah terkadang harus diambil pemerintah demi mewujudkan konsekuensi yang baik.

Benar dan baik disini ukurannya sederhana saja: enak bagi pemerintah dan enak pula bagi publik. Begitu pula ukuran salah dan buruk: tidak enak bagi pemerintah dan tidak enak bagi publik.

Sebenar-benarnya kebijakan pemerintah menaikkan gaji ASN, misalnya, konsekuensinya APBN terbebani. Kalau APBN terbebani, muncul lagi kebijakan pemerintah yang salah di mata publik: menaikkan pajak atau berutang.

Sesalah-salahnya kebijakan pemerintah mencabut subsidi BBM, konsekuensinya justru baik: alokasi subsidi pendidikan bisa lebih meningkat. Dalam bentuk SPP gratis atau beasiswa LPDP, misalnya. Itu jelas berpengaruh dalam meningkatkan kualitas pendidikan.

Yang perlu dihindari, dan ini harga mati, adalah kesengajaan pemerintah mengeluarkan kebijakan salah yang sebenarnya sudah bisa diukur keburukan konsekuensinya secara moral maupun materi. 

Pada masa orde baru, misalnya, Pak Harto pernah mengeluarkan kebijakan Operasi Petrus: menembaki diam-diam para preman di jalanan dan membiarkan tubuhnya tergeletak.

Pun Pak Harto berdalih bahwa kebijakan itu demi menurunkan tingkat kriminalitas, tapi banyak yang mengritisinya dan menganggapnya justru sebagai tindak kriminal juga. Pemerintah dianggap buang-buang tenaga dan peluru untuk sesuatu yang tidak bermoral. Sebagian korbannya bahkan diklaim salah sasaran.

Lantas, apakah betul-betul tidak ada sama sekali kebijakan pemerintah yang benar dan baik? Ada sih. Cuti bersama pada 8, 9, dan 10 Februari 2024 nanti, contohnya 😁. Itu betul-betul enak bagi semua.