Selasa, 06 Juli 2021

Mobil Dinas

Awal orde lama, sekira 1950-an, adalah waktu-waktu dimana integritas begitu luar biasa. Saking luar biasanya, pejabat kala itu pakai mobil dinas betul-betul untuk kerja, bukan pribadi. Ada Menteri Kehakiman, contohnya, yang dibawa ke pengadilan hanya gegara istrinya pakai mobil dinas ke pasar. 

Sampai krisis ekonomi terjadi di akhir 1960-an, barang-barang kantor tidak bisa dibedakan lagi dengan barang-barang pribadi. Termasuk mobil dinas. Ada bahkan pejabat yang nyambi jadi taksi liar sepulang kerja. Demi memenuhi kebutuhan hidup di tengah krisis.

*****

Standar mobil dinas Indonesia dari dulu selalu mewah. Soekarno yang memang sangat laki dan suka keindahan sampai punya tujuh mobil dinas: buick 8, Cadillac 75, Mercedes Benz 600, GAZ 13, Zil 111, limosin cabrio, dan chrysler Imperial. Ada yang beli; ada yang hadiah.

Chrysler, misalnya, itu dihadiahkan Raja Arab Saudi. Mobil itu sangat bersejarah karena di atas mobil itulah Soekarno nyaris tewas digranat dalam peristiwa Cikini 1957.

*****

Berbeda dengan Soekarno, Soeharto sepertinya tidak terlalu ribet dengan urusan mobil dinas. Sempat pakai limosin Cadillac 75, beliau akhirnya memutuskan pakai Mercedes Benz G-class sampai akhir jabatannya. Mercy kemudian menjadi standar mobil dinas Indonesia.

Penggunaan Mercy ini jelas sangat mewah. Bandingkan dengan India kala itu yang lebih memilih pakai Fiat atau Mazda. Kedua negara ini sama-sama baru mau berkembang.

Ada cerita menarik pasca reformasi. Kala itu, pejabat Indonesia mengejar-ngejar IMF sampai ke Paris. Mereka sudah menyiapkan pertemuan dengan segala jamuan, termasuk mercy-mercyan. Apa yang terjadi? IMF yang mau kasih uang Indonesia malah datang ke jamuan pakai bus berombongan.

Sabtu, 05 Juni 2021

Pancasila

 Bicara Pancasila, saya jadi ingat berita dua atau tiga tahun lalu. Beritanya sangat positif: Mas Boy, Kadiv Humas Polri, berhasil meraih gelar Doktor Ilmu Komunikasi dari Universitas Padjajaran. Disertasi beliau diuji langsung sama Kapolri Tito.

Apa hubungannya dengan Pancasila? Di disertasinya itu, Mas Boy menyoroti kondisi Indonesia kekinian yang condong menerapkan demokrasi liberal, bukan demokrasi pancasila. Mas Boy kemudian mencontohkan sistem pemilu langsung, satu orang satu suara, yang menurutnya sangat liberal. 

Saya kemudian berpikir: liberalnya pemilu di mana? Oh iya, betul. Masa suara Professor setara dengan suara mahasiswa. Mungkin di situlah letak liberalnya. 

*****

Apa bedanya demokrasi pancasila dengan demokrasi liberal? Demokrasi pancasila membuka ruang diskusi sebelum mengambil kebijakan. Yang berdiskusi tentu saja orang-orang terpilih yang memiliki kompetensi ilmu. Batasan moral diskusi pastinya pasal dan butir pancasila.

Minuman keras, misalnya, tidak akan menemukan ruang yang renggang kalau demokrasi pancasila diterapkan. Kenapa? Karena akan terbentur dengan Pasal satu Pancasila. Siswa jadul 90-an yang pernah ikut penataran P4 pasti ingat: Pasal satu Pancasila adalah pondasi dari empat pasal lainnya. Jadi, sangat tidak bisa diabaikan.

Beda kalau demokrasi liberal yang diterapkan. Semua kemungkinan bisa terjadi, sebab titik beratnya adalah kebebasan individu, bukan ketuhanan, boro-boro keadilan. Cenderung sekuler.

*****

Pertanyaan wawasan kebangsaannya: apakah Indonesia menerapkan demokrasi pancasila atau demokrasi liberal?

Kalau menerapkan demokrasi pancasila, kenapa pancasila dibentur-benturkan dengan agama?

Apakah pembenturan itu terjadi karena pancasila di Indonesia dikendalikan oleh orang-orang liberal?

Ada liberalis, saya lupa namanya, pernah bilang begini: "tugas kita sebagai warga negara Indonesia adalah menjaga pancasila, bukan mempraktikkannya!"

Jadi kalau ada yang berpendapat Pancasila sekarang dijadikan alat, bukan tujuan, itu pendapat yang tidak salah. Cenderung terbukti, malah.

Senin, 31 Mei 2021

Laa Ilaaha Illallah

APAKAH ISLAM AGAMA INTOLERAN? Tergantung apa yang dibahas. Kalau yang dibahas keimanan, ketuhanan, Islam sangat intoleran. Tidak ada tenggang rasa sama sekali. Tidak ada basa-basi khas orang Indonesia yang selalu meneriaki tetangga yang lewat depan rumahnya, "Singgahki!"

Pondasi dasarnya adalah kalimat Laa ilaaha illallah. Ketika seorang muslim teguh mengucapkannya, maka dia harus minimal memaknai: tidak ada Tuhan selain Allah. Ada pula yang memaknai: tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah. Dr. Nurcholis Madjid rahimahullah bahkan memaknai lebih tegas: semua Tuhan harus dihapus, harus dihilangkan, kecuali yang betul-betul Tuhan.

Maka tidak salah kalau seorang muslim menolak mengucapkan selamat atas hari raya agama lain, apalagi hari rayanya berhubungan dengan ketuhanan. Itu adalah salah satu upayanya ber-Laa ilaaha illallah. Bahasa pancasilanya: upaya untuk meng-Esakan Tuhan.

Tidak salah pula ketika seorang muslim menolak konsep pluralisme yang diusung para liberalis. Konsep yang sebenarnya pernah dinegosiasikan orang Quraysi kepada Nabi Muhammad. Tapi kemudian Nabi menolaknya karena menerima wahyu surah Al Kafirun dari Allah.

BAGAIMANA KALAU KONSEP KETUHANANNYA SUDAH DIHILANGKAN DAN YANG TERSISA HANYALAH SIMBOL BELAKA? Ini yang jadi perdebatan sampai sekarang. Dr. Nurcholis Madjid rahimahullah kasih contoh: "Kenapa kita sekarang dengan rileks memasang gambar Garuda di kantor-kantor kita, padahal itu kan kendaraannya Dewa Wisnu? Apakah kita tidak takut musyrik? Tidak, karena Garuda itu sudah kita bunuh begitu rupa, sehingga sekarang fungsinya tinggal dekorasi atau ornamen. Sebagai orang Islam kita harus memang begitu."

"Contoh lain adalah lambangnya Kampus ITB di Bandung, yaitu Patung Ganesha. Itu lebih gawat lagi, karena Ganesha itu Dewa Ilmu. Apakah para mahasiswa ITB ngalap berkah dari logo Ganesha itu? Jelas tidak. Mereka memakai jaket dengan gambar Ganesha tetapi sholat di masjid Salman. Mengapa? Karena Ganesha sebagai Dewa sudah "dibunuh" atau sudah terkena Laa ilaaha illallah itu. Proses ini penting. Dan itu sebenarnya yang secara sosiologis disebut sekularisasi, devaluasi, atau kadang-kadang juga disebut demitologisasi."

Begitu pula kalau ada muslim Indonesia yang namanya Wisnu, Ganesha atau Fortuna. Apakah mereka berharap berkah dari para Dewa-Dewa itu? Itu sudah harus dihilangkan. Harus didemitologisasi. Harus "dibunuh" dengan Laa ilaaha illallah.

Konsep demitologisasi inilah yang menjadi dasar Buya Haji Abdul Malik Karim Amrullah alias HAMKA untuk menghalalkan patung. Dulu patung disembah; diberhalakan. Sekarang, patung hanya sekadar karya seni, dekorasi, ornamen. Pun banyak ulama lain yang berpendapat sebaliknya.

DI MANA TOLERANSI ISLAM? Toleransi Islam ada dalam hal kemanusiaan. Nabi Muhammad sendiri mencontohkan bagaimana beliau secara rutin memberi makan kepada tetangga tuna netranya yang Yahudi. Padahal Yahudi itu sering mengkritisi kiprah dakwah Nabi.

Maka sangat tepatlah Nahdhatul Ulama (NU) memasang kalimat mutiara di lobi kantornya: "Mereka yang Bukan Saudaramu Dalam Keimanan adalah Saudaramu Dalam Kemanusiaan." Kalimat itu sangat tepat menggambarkan aplikasi toleransi dalam Islam.

Contoh lain: seorang pegawai di kantor. Karena alasan keimanan, dia menolak memberi ucapan selamat Natal kepada karyawan yang Kristen. Sebaliknya, karena alasan kemanusiaan, dia membela karyawan Kristen yang tidak menerima THR sesuai haknya.

Begitulah ketuhanan dan kemanusiaan itu. Biarlah berjalan di relnya masing-masing. Tidak perlu dibentur-benturkan. Toh di Pancasila pun keduanya punya pasal masing-masing.

Selasa, 18 Mei 2021

Kuburan

Ketika Muhammad bin Abdul Wahhab dipercaya membangun warga Arab Saudi dari sisi agama, dia banyak melakukan reformasi. Reformasi yang kemudian diistilahkan orang-orang sekarang sebagai wahabi.

Salah satu reformasinya adalah dalam urusan kuburan. Sebelum Wahabi ada, banyak kuburan di Arab Saudi yang dikeramatkan. Mulai dari kuburan Nabi Muhammad, istrinya Aisyah, sampai para sahabat Nabi: Abu Bakar, Umar, dll. Bahkan kuburan-kuburan itu lebih ramai daripada Masjidil Haram.

Wahabi tidak menyukai itu. Apalagi, sejak dulu, Nabi Muhammad sendiri sudah mewanti-wanti: ratakan kuburan! Jangan buat bangunan di atas kuburan! Jangan jadikan kuburanku sebagai berhala!

Wahabi pun mulai bergerak membereskan kuburan-kuburan keramat. Mereka menghancurkan bangunan di atasnya dan meratakannya dengan tanah. Mereka juga menyosialisasikan kepada warga agar tidak menyucikan dan menyembah kuburan.

Kecuali kuburan Nabi Muhammad, Wahabi tidak berhasil mengganggunya. Sebab ada ancaman dari Kekhilafahan Turki Utsmani: kalau bangunan di atas kuburan Nabi Muhammad dihancurkan, Arab Saudi akan diserang habis-habisan.

Tapi Wahabi tidak kehabisan akal. Dia mendesain agar makam Nabi Muhammad tidak mencolok dan kelihatan, sehingga warga bingung mencarinya. Wahabi bahkan menempatkan satpam untuk menjaganya.

Dr. Nurcholis Madjid memuji gerakan Wahabi dalam urusan kuburan itu. Kalau tidak, katanya, sekarang Arab Saudi sudah dipenuhi kuburan keramat. Yang menarik, Cak Nur sampai bilang: 

"Kalau diukur dari segi kuburan, orang Protestan itu lebih tauhid daripada orang Islam, sebab orang Protestan tidak terpikir untuk menyembah kuburan. Sebaliknya, orang Islam itu senangnya ke kuburan. Mau jadi pejabat, misalnya, mesti ke kuburan dulu. 

Sabtu, 15 Mei 2021

Kuda Troya di KPK

Sedari awal, hal paling dikhawatirkan terjadi di KPK adalah kuda troya: mafia korupsi manyusupkan orangnya ke dalam KPK, baik di level pimpinan, administrasi, maupun lapangan. Orang dalam itulah yang kemudian melindungi kepentingan mafia.

Isunya, di instansi hukum lain kuda troya lazim terjadi. Bahkan si calon orang dalam sudah disiapkan sejak masih pendidikan. Sekolahnya dibiayai; karirnya di-setting.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, di level pimpinan KPK diterapkan sistem kolektif kolegial dalam pengambilan keputusan. Maksudnya: keputusan baru diambil kalau lima pimpinan KPK semuanya setuju dan sehati.

Siasatnya, kalau orang dalam cuma satu, bisa baku tahan ilmu sama yang empat. Begitu pula kalau cuma dua, masih ada tiga. Yang masalah memang kalau orang dalamnya sampai tiga. Apalagi kalau semuanya, selesai sudah.

Adapun di level bawah: administrasi dan lapangan, ini yang rumit diantisipasi. Makanya, cara-cara konservatif masih efektif diterapkan: setiap orang harus saling curiga. Dari sikap saling curiga memunculkan sikap saling menjaga. Yang menjadi masalah besar kemudian kalau ujungnya bukan sikap saling menjaga yang tercipta, tapi saling menjatuhkan. 

Kita doakan saja: mudah-mudahan KPK tetap eksis ke depannya. Kita juga berdoa: mudah-mudahan visi nomor 6 dan 8 Jokowi-Ma'ruf 2019-2024 segera terwujud.

6. Penegakan sistem hukum yang bebas korupsi, bermartabat, dan terpercaya.

8. Pengelolaan pemerintahan yang bersih, efektif, dan terpercaya.

Jumat, 14 Mei 2021

Penyidik Polisi di KPK

Waktu mau dibentuk, KPK kesulitan mencari penyidik bagus di Kepolisian. Cara ninja pun dilakukan: minta tolong kepada Irjen Pol Farouq Muhammad, Gubernur Pendidikan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), menyeleksi mahasiswanya.

Farouq pun menunjuk beberapa mahasiswanya yang mau selesai pendidikan. Yang menarik, oleh Farouq, para mahasiswa yang polisi itu disuruh meneliti pola korupsi di Kepolisian. Pas libur, mereka disuruh pulang ke kampung masing-masing guna mencari bahan.

Hasilnya nano-nano. Pola korupsi di Kepolisian ramai rasanya: penerimaan harus menyogok, naik pangkat harus menyogok, dan lain-lain. 

Sayangnya, cara ninja ini bocor. Internal Kepolisian ramai dan ricuh. Kapolri Jend. Da'i Bachtiar marah besar. Para mahasiswa itu pun statusnya digantung, tidak dilantik-lantik. 

Sebagai bentuk tanggungjawab, Farouq mendorong semua mahasiswa itu masuk KPK. Jadilah mereka angkatan pertama polisi yang mengabdi di KPK sebagai penyidik.

Rabu, 12 Mei 2021

Cicak Vs Buaya

Ada frasa menarik yang mengatakan bahwa warga negara Indonesia itu terbagi dua: sipil dan militer. Kalau sipil bermasalah, militer menindaki. Tapi kalau militer bermasalah, ya biarlah mereka urus diri sendiri.

KPK sejak awal didirikan Presiden Megawati pada 2002, pun personilnya dihuni beberapa polisi, selalu dianggap sebagai instansi sipil. Oleh karena itu, kerja mereka ya menindaki orang-orang sipil yang korupsi: mulai dari pejabat sipil sampai pengusaha.

Lalu kemudian hal berbeda terjadi pada 2009. KPK mulai menyenggol instansi militer: kepolisian. Sasarannya Kabareskrim Komjenpol Susno Duadji yang diduga terlibat kasus korupsi. 

Susno jelas marah. Sampai-sampai kepada Majalah Tempo dia bilang: cicak kok mau lawan buaya. Cicak dianalogikan sebagai KPK dan buaya adalah polisi. Pernyataan yang kemudian memunculkan jargon: cicak vs buaya.

Ujungnya: Susno diproses hukum oleh Kepolisian dan divonis tiga tahun penjara. Dia sempat melawan dengan mengatakan banyak makelar kasus di internal kepolisian, tapi tuduhan itu berhasil diredam. Susno pun berhenti jadi polisi dan memilih jadi petani.

Pada 2012, KPK kembali menghantam internal kepolisian. Kali ini sasarannya Kakorlantas Irjenpol Djoko Susilo. Objek kasusnya: korupsi pengadaan simulator SIM. Kantor Djoko digeledah dan disegel sama KPK.

Pun ada perlawanan dari internal kepolisian, itu bisa diredam melalui lobi sengit antara Ketua KPK Abraham Samad dengan Kabareskim Komjenpol Sutarman. Akhirnya, KPK berhasil mengadili Djoko. Melalui berkas dakwaan setinggi satu meter lebih, Djoko divonis penjara 15 tahun.

Pada 2019 kemarin, Cicak Vs Buaya mengalami babak baru. KPK diketuai langsung polisi aktif: Komjenpol Firli Bahuri. Banyak yang bilang: KPK sudah tidak independen lagi. Posisinya sama kayak BNN sama BNPT, sama-sama dibawahi kepolisian.

Yang paling rame tentu saja kejadian di bulan Ramadhan 2021 ini. Sebanyak 75 karyawan KPK dinonaktifkan karena tidak lolos tes wawasan kebangsaan untuk menjadi ASN.

Bagaimana kiprah New KPK ke depan? Apakah mereka berani melawan buaya lagi? Kita lihat saja kiprah mereka.

Selasa, 11 Mei 2021

Sjamsul dan New KPK

Sjamsul Nursalim empat kali bikin heboh Pemerintah Indonesia. Pertama pascareformasi silam, pengusaha asal Lampung itu kasih menguap dana BLBI. 

Diutangi negara Rp 47 T buat menyehatkan Bank Dagang miliknya, dia malah bertindak wanprestasi: melakukan transaksi yang cuma menguntungkan dirinya dan menyembunyikan aset bermasalahnya. Ujungnya: Sjamsul dianggap cacat; banknya ditutup.

Ajaibnya pada 2004, Sjamsul dapat Surat Keterangan Lunas dari Pemerintah. Ditandatangani Presiden pula. Berhubung Presiden Megawati merasa tidak tahu-menahu perihal surat itu, maka yang terseret adalah Sjafruddin Temanggung, Ketua BPPN. Sjafruddin dibui 15 tahun. Adapun Sjamsul, tetap lolos. Ajaib, bukan?

Kedua pada 2019, 15 tahun setelah skandal BLBI, KPK menyebutkan nama Sjamsul dalam daftar buronan. KPK, dalam konferensi persnya, mengaku punya dua bukti cukup atas keterkaitan Sjamsul dalam kasus BLBI. 

KPK sudah melayangkan surat pemanggilan kepada Sjamsul. Sayangnya, Sjamsul menghilang. Ada yang bilang sembunyi di Singapura; ada yang bilang lari ke Cina. Entahlah. Yang jelas: hilang.

Ketiga pada 2020, Sjamsul masuk dalam daftar 50 orang terkaya Indonesia versi Majalah Forbes. Kekayaannya sekira Rp 12 T. 

Apa usaha Sjamsul selain Bank Dagang? Dia adalah bos PT Gajah Tunggal, produsen ban GT. Dia juga punya perusahaan ritel yang memegang merek Sogo, Starbucks, Pull & Bear, dll. Dia juga punya saham di beberapa perusahaan di Singapura dan Cina.

Keempat pada 2021, KPK meng-SP3-kan alias menghentikan kasus Sjamsul. Padahal dia masih hidup dan masih banyak potensi asetnya yang bisa disita oleh negara. Tapi begitulah keadaannya. Mau di apa lagi?

Baru kita mau memuji gebrakan Pak Firli yang berani mengorek Sjamsul dan skandal BLBI, eh ternyata berujung antiklimaks. Kalau begini caranya, rasa-rasanya kasus korupsi yang melibatkan kasir kampanye Jokowi-Ma'ruf 2019 bakalan aman-aman saja di Kalimantan sana. 

Kita lihat saja kiprah New KPK yang kini 100 persen dihuni personil berwawasan kebangsaan.

Senin, 10 Mei 2021

Tes Wawasan Kebangsaan

Komedian Arie Kriting bilang: di pelajaran Pendidikan Moral Pancasila dulu, sering digambarkan bahwa salah satu tindakan anak baik adalah membantu nenek-nenek menyeberang jalan.

Arie pun menjadi minder. Seumur hidupnya, dia tidak pernah sekali pun membantu nenek-nenek menyeberang jalan. Dan Arie yakin, banyak anak muda lain yang serupa dengan dia.

Dia kemudian penasaran mengetahui apa penyebabnya. Arie sampai pada kesimpulan: jumlah nenek-nenek lebih banyak dibandingkan jumlah anak baik di Indonesia.

Dan Arie sudah punya rencana di masa depan. Dia mau menguji kesimpulannya itu. Kalau tua nanti, dia mau sering-sering nongkrong di pinggir jalan. Dia mau lihat: stok anak baik masih ada atau tidak?

Jadi, pertanyaan Tes Wawasan Kebangsaannya:

1. Seumur hidup Anda, apakah Anda pernah membantu nenek-nenek menyeberang Jalan?

2. Apakah Anda bersedia membantu nenek-nenek menyeberang jalan?

Bid'ah

Ketika sebuah karya cipta dirilis (tulis, lukis, puisi, lagu, dll.), lalu ada yang mengkritisinya sebagai hasil plagiat, bagaimana reaksi kita? Biasanya kita akan penasaran mencari karya itu, coba menelitinya, dan lalu mencari tahu: mananya yang plagiat?

Itu reaksi yang sangat ideal, bukan? Tentu saja, karena akan membuka ruang diskusi, menciptakan perdebatan yang elok, dan tentu saja banyak pengetahuan yang bisa didapat dari situ. Kalau memang karya itu plagiat sesuai kriteria, kita harus fair mengakuinya.

Sangat tidak ideal kalau kita kemudian bereaksi menyerang si pengkritik. Mengatainya: kau ini sedikit-sedikit plagiat, sedikit-sedikit plagiat. 

*****

Begitu pula soal amalan (ibadah). Kalau ada yang mengkritisi amalan kita bid'ah, reaksi ideal kita: meninjau kembali amalan kita itu, apakah betul bid'ah atau tidak? Apakah tidak ada memang dalilnya atau ada?

Sangat tidak ideal kalau kita kemudian bereaksi menyerang si pengkritik: kau ini sedikit-sedikit bid'ah, sedikit-sedikit bid'ah. Apalagi sampai mengatainya ekstrimis atau radikalis. Atau berafiliasi dengan teroris. Sangat tidak ideal.

Kenapa? Kalau amalan kita bagus, benar, berdasarkan dalil, itu untuk kita, bukan untuk siapa-siapa.

Tauhid

Ketika, dalam sebuah kotak, kita hanya menaruh cincin saja, tidak ada yang lain, itu berarti -secara tindakan- kita telah mentauhidkan cincin itu di dalam kotak. Menjadikannya satu-satunya saja. Tidak ada yang lain.

Kalau kemudian kita taruh yang lain. Gelang, misalnya. Itu berarti kita telah berbuat syirik terhadap cincin itu di dalam kotak. Kita telah menduakannya dengan yang lain.

Sesederhana itu tauhid dan syirik itu.

Kalau kita meyakini rejeki itu dari Allah, kita berusaha dan bekerja saja dengan tenang. Tidak perlu pakai jimat-jimat. Tidak perlu taburi pasir di depan toko saingan. Tidak perlu yang lain-lain.

Rabu, 07 April 2021

Bunuh Diri

Lukman Laksmana pernah mencoba bunuh diri. Vokalis band Superglad itu berada di titik terendah dalam hidupnya. Dia meneguk setengah gelas Baygon dan 16 butir Antimo. 

Gegaranya klasik saja: dia pinjam uang di bank buat bisnis. Sayangnya, bisnisnya bangkrut, kreditnya pun macet. Dia akhirnya depresi berat.

Setelah minum Baygon dan makan Antimo, badannya panas perlahan. Mulai dari kaki sampai ke seluruh badan. Ujungnya, pria yang akrab disapa Buluk itu blackout. Bangun-bangun, dia sudah di kasur rumah sakit. Dia cepat ketahuan dan ditolong keluarganya.

Setelah episode kelam itu, Buluk menata hidupnya kembali. Utang bank dilunasinya setahap demi setahap. Karir bermusik dibangunnya kembali perlahan-lahan.

*****

Lukman yang lain sebaliknya. Dia berhasil bunuh diri. Dengan membawa istrinya, pria Maros itu meledakkan diri di depan Gereja Katedral Makassar. Empat belas orang di sekelilingnya luka berat.

Polisi mengidentifikasi pria 25 tahun dan istrinya itu sebagai teroris. Surat wasiatnya ditemukan. Organisasi tertentu dilekatkan kepada dirinya. Mulai dari yang dekat: JAD, sampai yang jauh: ISIS.

Penyebab bom bunuh dirinya jelas masih misteri. Kalau dia salah tafsir ayat, buku tafsir apa yang dibaca? Kalau dia anggota organisasi tertentu, apa buktinya? Kalau dia terpapar cuci otak ustad, di mana pengajiannya? Kalau dia terpapar video kekerasan di internet, video di situs apa? Penasaran menelusurinya.

Apapun itu, bunuh diri hukumnya haram dalam Islam. Tanpa kecuali. Tanpa alasan.

Kamis, 25 Maret 2021

Digitalisasi itu Biasa Saja

Jaman sekolah dulu, kita selalu ditakut-takuti sama globalisasi. Di masa depan -katanya- bahasa Inggris sangat penting. Kita akan bersaing dengan orang asing. Yang tidak jago, tidak laku. Maka muncullah banyak tempat kursus bahasa Inggris: LIA, PIA, SIA, apalagi? CIA juga mungkin ada. Dari yang regular buka kelas sampai yang privat, berdua saja seruangan. Kayak tukang pijat.

Apa yang terjadi sekarang? Biasa saja. Bahasa Indonesia tetap bahasa kita. Meskipun adalah terlihat wujud dari globalisasi itu: wc pria-wc wanita berubah jadi men's-women's, supir jadi driver, karyawan jadi officer, direktur bla bla bla jadi chief bla bla bla officer. Atau yang biasa presentase akan menyelipkan kata which is, let's say, dan next.

Apakah bahasa Inggris tidak penting? Penting bagi yang membutuhkan. Jadi, fungsional saja. Bagi yang mau ke luar negeri, silahkan belajar dulu. Bagi yang cuma mau buka kafe, cukup tahulah dengan beberapa kalimat: order here, menu, sama beberapa pepatah Inggris buat hiasan di dinding.

*****

Jaman sekarang, kita ditakut-takuti lagi sama yang namanya digitalisasi. Bagi yang tidak mau berubah -katanya- akan binasa. Hal itu kemudian dikait-kaitkan dengan kematian Yahoo, stasiun televisi, dan koran. Bahkan ada yang bilang: di perusahaan yang full digital, cuma butuh satu akuntan. Bank-bank sudah tidak butuh teller. Wow, begitukah?

Menurut saya, biasa saja. Digitalisasi harus dikembalikan lagi: fungsional atau tidak? Dalam perusahaan bisnis, misalnya, digitalisasi harus jelas: apakah meningkatkan penjualan? Mengurangi biaya? Melindungi aset? Atau cuma gaya-gayaan. Kalau fungsinya tidak jelas, buat apa?

Mochtar Riady, nenek moyang Lippo Group, pernah marah-marah waktu mataharimall.com gagal total. Dia bilang: kita terlalu fokus ke digitalisasi. Rekrut ratusan teknisi bergaji mahal. Kita lupa jualan kita itu tetap fisik. Seharusnya kita fokus ke situ.

Selasa, 23 Maret 2021

Mattoanging

Namanya Yusuf. Alumni STM 1 Makassar. Kemampuan teknisnya sangat baik: listrik, kayu, semua bisa dikerjakan. Terakhir, dia ternyata bisa membuat layang-layang berbentuk balok dan kubus. Dia menerbangkannya di area kompleks. Anak-anak senang melihatnya.

Ada satu episode kehidupan Yusuf yang menarik. Lelaki kelahiran 1969 itu menjadi salah satu dari puluhan orang yang memasang rumput di stadion Mattoanging. Entah untuk apa waktu itu, dia sudah lupa. Dugaan saya: untuk persiapan PSM bertanding di Liga Champions Asia. Entahlah.

Di Mattoanging, Yusuf punya privilege. Dia bisa masuk-keluar secara gratis. Kalau PSM main, Yusuf berjalan kaki ke Mattoanging dari rumahnya di Monginsidi. Di dalam stadion, dia jualan minuman. 

Kini, Yusuf sudah punya kehidupannya sendiri. Jauh dari hingar-bingar Mattoanging. Apakah stadion yang berumur 64 tahun itu akan dihilangkan atau tidak, dia tidak peduli. Walikota Danny bersikeras mengubahnya menjadi ruang terbuka hijau dan merelokasinya ke tempat lain.

Di kota London sana, tim sekelas Arsenal pernah mengalami hal demikian. Stadion Highbury yang telah dipakainya 93 tahun dialihfungsikan menjadi apartemen dan taman. Tidak ada yang protes. Tidak ada yang bicara sejarah. Sebagai gantinya, Arsenal dapat Emirates Stadium.

📸 Stadion Highbury (wowturkey.com)





Minggu, 21 Maret 2021

Sawit

Di Sumatera dan Kalimantan, beberapa kebun sawit dikelola asing. Pemiliknya itu -biasanya- orang-orang Tamil: India, Srilanka, dll.

Sejarahnya begini: waktu Inggris menjajah Malaysia, mereka membuka kebun sawit. Karena pekerja-pekerja Melayu malas, Inggris pun mengimpor pekerja-pekerja Tamil dari negara jajahannya yang lain: India, Srilanka, dll.

Dalam perjalanannya, karena sudah menguasai proses bisnis sawit, beberapa orang Tamil menjadi pengusaha. Mereka menginisiasi kebun-kebun sawit di Asia Tenggara, termasuk di Indonesia.

*****

Kebun sawit di Indonesia sudah mulai dikembangkan sejak jaman Belanda, sekutu Inggris. Polanya sama kayak Inggris di Malaysia: pakai pekerja-pekerja Tamil.

Pengembangan kebun sawit dimulai dari daerah Deli di Sumatera, lalu terus berkembang ke daerah-daerah lainnya: Aceh, Jambi, sampai menyeberang ke Kalimantan.

Maka 'tak heran, jejak orang Tamil dengan mudah kita dapatkan di Sumatera. Mereka telah melebur dengan orang Melayu lewat pernikahan. Sebagian orang Tamil juga hijrah ke pulau Jawa untuk berdagang.

Tokoh-tokoh Tamil di Indonesia banyak yang telah memberikan sumbangsih kepada bangsa. Sebut saja politikus H. S. Dillon, pengusaha kakak-adik Marimutu Sinivasan dan Marimutu Manimaren, artis Azhari bersaudara, dan yang paling familiar: keluarga Punjabi. 

Keluarga Punjabi adalah penguasa industri film di Indonesia. Sejak jaman film Warkop DKI sampai sekarang. Sampai-sampai jaman dulu ada peribahasa terkenal: 'tak ada rotan, Ram Punjabi.

*****

Pada 1950-an, Presiden Soekarno menasionalisasi semua perusahaan sawit. Maka terbukalah kesempatan bagi pengusaha lokal untuk mengelola sawit.

Sekarang, beberapa perusahaan lokal telah menjadi raksasa bisnis sawit: Astra, Sinar Mas, Sampoerna, dll. Mereka tidak kalah gesit dibandingkan pengusaha-pengusaha Tamil.

Jadi, secara nasionalisme, Indonesia tidak menjadi babu di bisnis sawit. Indonesia menjadi tuan. Meskipun secara lingkungan, konsekwensi besar harus diterima akibat deforestasi.

Bisnis sawit, dengan segala plus-minusnya- telah menjadi pondasi ekonomi negara ini. Melalui produk-produk yang yang dihasilkannya: sabun, shampo, mentega, minyak goreng, hand body, pomade, dll.

Sabtu, 13 Maret 2021

Orang Indonesia dan Sampahnya

Waktu Ridwan Kamil jalan-jalan ke French, dia melihat ada tempat sampah cantik di pinggir jalan kota di sana. Bentuknya sederhana. Plastik tinggal dicantol sebagai tempat sampahnya. Setelah full, plastiknya diganti dengan yang baru.

RK mau menerapkan itu di Bandung. Maka dia buatlah beberapa, lalu sebar ke beberapa titik. Hasilnya, tempat sampah itu ternyata tidak efektif dan tentu saja tidak bertahan lama. Banyak faktor: plastiknya hilang dicabut, plastiknya ditusuk-tusuk, tempat cantolannya miring karena ditendang, macam-macam.

Danny Pomanto juga sempat menerapkan itu di Makassar. Tempat sampah gendang, sebagian orang menyebutnya. Dan hasilnya: samalah kayak di Bandung.

Untuk orang Indonesia dan sampahnya, yang paling efektif memang seperti apa yang terlihat di gambar: langsung disiapkan kontainer sampah. Lebih efektif dalam segala aspeknya. Para pembuang sampah yang mau coba skill three point shoot-nya juga tidak bakalan meleset.



Sabtu, 06 Maret 2021

Koneksi dan Korupsi (2)

Makassar New Port (MNP) itu Proyek Strategis Nasional. Pemilik proyeknya PT Pelindo IV. Nilai proyeknya sekira Rp 2,3 T. Dibiayai APBN milik Kementerian Perhubungan.

Ada beberapa paket dalam proyek MNP:

Paket A: dermaga (mainkontraktor: PP)

Paket B: crossway dan container Yield (mainkon: PP dan Bumi Karsa)

Paket C: pemecah ombak, breakwater (mainkon: PP dan Bumi Karsa) 

Paket 1B dan 1C: tambahan crossway, container yield, dan breakwwter (mainkon: PP)

Paket D: gedung perkantoran dan fasilitas (mainkon: Adhi Karya)

Untuk membangun crossway dan container Yield, dibutuhkan proses reklamasi. Pemenang tender sebagai subkontraktornya adalah Royal Boskalis asal Belanda. Mereka punya manpower, tools, dan equipment yang mumpuni: kapal pengeruk, exca, dll. 

Sampai di sini, proyek masih aman. Tidak ada masalah. Kenapa? Karena skema B to B masih jalan, business to business. Perusahaan dengan perusahaan. Profesionalisme dengan profesionalisme.

Masalah muncul tatkala Royal Boskalis butuh pasir dengan spesifikasi khusus untuk proses reklamasi. Pasir itu cuma ada di daerah Takalar sana dan beberapa Pulau di pinggiran Makassar. Tentunya, Royal Boskalis tidak bisa langsung menambang pasir di daerah itu. 

Maka muncullah perantara: perusahaan-perusahaan lokal. Merekalah yang menguasai daerah itu, mengurus izin tambang (IUP) dan Amdalnya di Pemrov Sulsel. Setelah keluar, merekalah yang memfasilitasi Royal Boskalis melakukan pengerukan pasir lewat skema jual-beli. Di sinilah masalahnya: muncul skema B to G (Bussiness to Government) di perizinanya.

Ujungnya, bukan cuma masalah B to G, muncul pula masalah B to P ( Bussiness to People) karena warga menolak aktifitas tambang dan pengerukan di daerah mereka. Kemudian G to P juga muncul karena warga mulai mempertanyakan kebijakan Pemrov Sulsel yang mengizinkan aktifitas tambang dan keruk itu. Sampai-sampai organisasi lingkungan turun tangan membela warga.

Demikianlah yang terjadi. Setahu saya, sampai sekarang masalah B to P dan G to P belum menemukan titik temu. Ujungnya: Gubernur Sulsel ditangkap KPK. Dan masalah ini pun menjadi panas.

Rabu, 03 Maret 2021

Haram Bukan Cuma Miras

Dalam jual-beli, semua boleh dilakukan, kecuali yang dilarang! Yang dilarang bukan melulu soal riba, babi, judi atau miras, hal-hal lain pun banyak. Dan ingat, levelnya sama: haram.

Mengurangi takaran, misalnya, itu dilarang. Lazim terjadi pada penjual beras dan buah. Saking lazimnya, sampai-sampai penjual buah pasang papan bicara: Timbangan Jujur!

Jual barang KW pun itu dilarang, meskipun penjualnya jujur mengatakan. Kenapa? Karena menggunakan merek orang lain tanpa izin. Jahit celana di Maros, terus dikasih logo Nike, lalu dijual. Penjual seperti inilah yang jaman dulu dijuluki: Pakapala' Tallang.

Banyaklah hal-hal lain dengan ragam istilahnya: melanggar hak cipta, plagiat, dll. Sebagaimana miras, inipun perlu dibahas serius. Karena, sekali lagi, levelnya sama: haram!

Senin, 01 Maret 2021

Koneksi dan Korupsi

Koneksi Bussiness to Government (B to G) memang selalu menjadi celah korupsi di daerah. Mau itu proyek pemerintah daerah atau bukan, selama koneksi B to G terbentuk, potensi korupsi selalu ada: besar atau kecil. 

Mulai dari urus tetek-bengek perizinan sampai urus tagihan, semua tidak gratis. Tidak cukup dengan ucapan terima kasih. Sebagaimana kalimat dari mulut seorang karyawan instansi: "...terima kasih itu tidak dimakan, Pak!"

Pakde Joko sudah coba meminimalisasi potensi korupsi lewat perizinan. Omnibus Law yang didemo (plus tiktokan) Mahasiswa se-Indonesia tahun lalu salah satu isinya berintikan: perizinan dipusatkan. Meskipun belakangan ada pendapat: perizinan tetap dijalankan di daerah oleh Pemda, tapi mengikuti standar pusat.

Kalau fee proyek pemerintah, apa solusinya? Yang paling aman, ubah B to G jadi B to B. Proyek daerah mainkontraktornya harus BUMN. Nanti BUMN yang berhubungan dengan vendor dan kontraktor daerah. Jadi mereka tidak berhubungan langsung lagi dengan Pemda. Tidak ada lagi istilah kontraktor kepercayaan atau vendor kesayangan. 

Kalau semua serba BUMN, terus swasta dapat apa? Kuenya jadi kecil? Seingat saya, HIPMI sudah diskusikan itu dengan Pemerintah. Eh, Ketua HIPMI malah diangkat jadi Ketua BKPM. Ya sudahlah. Biarlah mereka baku atur. Toh Menteri BUMN dulunya juga orang HIPMI.

Minggu, 28 Februari 2021

Demokrasi dan Korupsi

Lord Acton bilang: idealnya, demokrasi dan korupsi itu bertolak belakang. Demokrasi itu untuk rakyat; korupsi itu untuk syahwat. Tapi yang terjadi di Indonesia sebaliknya: demokrasi dan korupsi itu linier. 

Apa sebab? Demokrasi itu biayanya mahal. Politisi dan partainya butuh dibiayai. Demi kekuasaan. Yang biayai tentu saja para cukong. Imbalannya: proyek, perizinan lancar, dll.

Najwa Shihab bilang: melalui prosedur-prosedur demokrasi, seperti partai, pemiliu, dan parlemen, seseorang berkesempatan mengakses anggaran demi kepentingan sendiri dan demi memenangi proses demokrasi itu.

Kasarnya: politisi menjalankan demokrasi, para cukong membiayai demokrasi. Demokrasi dan korupsi akhirnya saling membutuhkan dan saling menopang.

Dulu, kita bisa lihat dengan jelas hubungan spesial antara Presiden Soeharto dengan Pengusaha Sudono Salim. Satu ingin berkuasa; satunya ingin uang. Tiga dekade lamanya mereka bersahabat.

Dan hubungan antara Gubernur Nurdin dan Pengusaha Agung Sucipto adalah contoh yang baru. Demi proyek, Pengusaha Agung harus membiayai aktifitas demokrasi Gubernur Nurdin.

Atau begini saja, bagaimana kalau biaya-biaya seperti itu kita sebut saja sebagai biaya demokrasi, bukan biaya suap. Deal! Demi mewujudkan Indonesia yang berdemokrasi.

Kamis, 18 Februari 2021

Wanci

 Viral berita perihal warga kampung yang ramai-ramai beli mobil, Saya jadi ingat Pulau Wanci (Wangiwangi) di Sulawesi Tenggara sana. 

Wa pada singkatan Wakatobi itu luasnya cuma seperempat Pulau Selayar. Tapi warga Wanci banyak juga yang beli mobil.

Dulu, warga Wanci biasanya beli mobil di Baubau. Mobil lalu dikasih menyeberang pakai kapal kayu. Entahlah sekarang, apakah masih begitu.

Mobil itu kemudian dipakailah sama warga Wanci untuk menyusuri jalan poros keramaian yang cuma sepanjang circa 10 km. Pulang-balek. Ke sana ke mari. 

Bahkan jalan poros yang mengelilingi Pulau Wanci full itu hanya sepanjang circa 40 km. Panjang yang bagi orang Kenya cuma dipakai buat lari-lari.

Yah, begitulah benda di kehidupan. Ada yang fungsional; ada yang emosional. Akar keinginan yang kemudian melahirkan materialisme. Aaapakahhh?

Senin, 08 Februari 2021

Vertigo

Saya pernah vertigo. Pada posisi tertentu, kepala saya pusing. Lingkungan sekitar terbalik dan berputar. Setelahnya, perut saya mual berujung muntah. Semua isi perut keluar. Tubuh keringat dingin dan lemas. Itu berlangsung seharian.

Kata teman yang dokter: itu vertigo karena posisi. Penyebabnya: kurangnya aliran darah dari jantung ke otak. Jadi tidak salah kalau ada yang bilang itu salah satu gejala penyakit jantung.

Bagi yang sudah vertigo dan punya cukup uang, periksa jantung Anda. Pasang memang cincin, kalau perlu. Bagi yang tidak, maksimalkan saja istirahat, terutama tidur. Biar jantung dan otak bisa istirahat banyak. 

Dan tentu saja banyak berdoa demi mempertebal keimanan. Sebagaimana lirik lagu Nike Ardilla: ...hanya iman di dada yang membuatku mampu selalu tabah menjalani...

https://news.detik.com/berita/d-5363698/rektor-paramadina-prof-firmanzah-diduga-meninggal-karena-vertigo?utm_content=detikcom&utm_term=echobox&utm_campaign=detikcomsocmed&utm_medium=oa&utm_source=Facebook#Echobox=1612586141

Rabu, 20 Januari 2021

Deforestasi Hutan Kalimantan

 Ada frasa yang sering disampaikan Rahman Arge: kalau ada asap mengepul di hutan Kalimantan, itu pasti orang Bugis.

Itu benar. Sejarah La Maddukelleng salah satu manuskripnya. Mungkin bisa dianggap sebagai sejarah awal deforestasi.

Terdesak karena kalah perang, lelaki Wajo itu merantau ke Kalimantan bersama orang-orangnya. Modalnya tiga ujung: ujung lidah, ujung kemaluan, dan ujung badik.

Dengan modal itu, La Maddukelleng berperang, menang, dapat istri, dan bahkan dapat tanah.

Tanah itu dikembangkannya. Lewat perkebunan dan peternakan. Lama-lama, tanah itu tumbuh menjadi komunitas. Lalu menjadi perkampungan. 

Dan sekarang, tanah itu sudah menjadi sebuah kota bernama Samarinda.

*****

Pada era order baru, aktifitas perkebunan dan peternakan di hutan Kalimantan semakin menjadi-jadi. Deforestasi semakin tidak dapat dihindari.

Program transmigrasi yang digalakkan Pemerintah membuat orang-orang Jawa ramai pindah ke Kalimantan. Mereka berkebun dan beternak. 

Salah satu keluarga yang ikut program transmigrasi adalah suami-istri Mohammad Iskan dan Lisnah. Mereka membawa serta anak-anaknya. Satu yang kita kenal adalah Dahlan Iskan.

*****

Puncak deforestasi Kalimantan tentu saja saat mulai maraknya kegiatan pertambangan batubara dan perkebunan kelapa sawit. Pengusaha lokal dan nasional turut serta. Besar maupun kecil. Diberi izin legal dari Pemerintah.

Dan kalau Kalimantan hari ini banjir, tidak perlu ditanya siapa yang salah. Jawabannya universal saja: manusia! Sebagaimana sebuah petuah: binatang yang paling hebat dalam memangsa adalah manusia.

Senin, 18 Januari 2021

Di Balik Musibah

Jatuhnya Pesawat

28 September 2018 silam, banyak yang bersyukur. Batik Air yang mereka tumpangi menghidarkan mereka dari gempa. Selisihnya hanya dalam hitungan detik.
 
Capt. Fella merekam betul kejadian itu di memorinya. Saat akan lepas landas dari Bandara Mutiara Palu, dia merasakan tanah bergoyang. Pesawat bergerak ke kanan dan ke kiri. 
 
Saat sudah mengangkasa, dia mengirim pesan kepada petugas di Menara Air Traffic Controller. Tidak ada jawaban. Menara ATC sudah roboh karena gempa. Sebagian kota Palu luluh lantak. Ribuan orang meninggal dunia.
 
*****
 
Kejadian sebaliknya terjadi 9 Januari 2021 kemarin. Sriwijaya Air yang dikemudikan Capt. Afwan justru membawa 59 awak dan penumpangnya meninggalkan dunia. Mereka yang tak jadi terbang, langsung sujud syukur.
 
Empat menit setelah lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta, Menara ATC kehilangan komunikasi dengan Capt. Afwan. Sriwijaya Air jatuh di laut lepas dekat Pulau Seribu.
 
*****
 
Begitulah kematian. Sangat misterius. Bisa menerpa kita di darat, di laut, di udara, bahkan saat sedang tertidur. Ada juga yang saat sedang duduk-duduk ngopi. 
 
Apapun itu, kita semua akan meninggalkan dunia dengan cara dan keadaan masing-masing. Cepat atau lambat. Tanpa bisa menghindar.
 
Allah sudah mengingatkan dalam Al Qur'an: "Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.…” (An Nisaa: 78)
 
Virus

Serupa pengetahuan tentang Tuhan, surga, dan neraka-Nya, pengetahuan tentang virus itu metafisik. Bukan fisik. Artinya apa: kita tidak bisa menjangkaunya dengan pancaindera.
 
Karena metafisik, indikator yang kita pakai adalah yakin-tidak yakin; percaya-tidak percaya, bukan benar-salah; ngefek-tidak ngefek. 
 
Vaksin, misalnya, katanya bisa menjaga kita dari virus itu. Yakin saja. Percaya saja. Apakah benar? Apakah ngefek? Itu belakangan.
 
Sama kayak sholat. Itu adalah jembatan kita mengabdi kepada Tuhan. Yang kemudian diganjar Tuhan dengan surga-Nya. Yakin saja. Percaya saja. Apakah Tuhan benar ada? Apakah surga dan neraka berwujud? Itu belakangan.
 
Nah, yang menjadi tantangan sekarang: apakah penerapan pengetahuan bersifat mandatory atau voluntary? Memaksa atau sukarela?
 
Agama sendiri yang membahas Tuhan, surga, dan neraka-Nya, meskipun doktrinnya keras dan tegas, tapi tidak pernah memaksa. Itu tertulis dalam Al Qur'an surah Al Baqarah ayat 256.
 
Bagaimana dengan virus Itu? Apakah vaksinasi harus dipaksa atau sukarela saja? Entahlah. Yang jelas, konsep darurat belum bisa dipakai. Darurat itu dipakai kalau pilihannya memang cuma hidup atau mati.
 
Sukarelawan 
 
Terkesan mudah bagi kita menuntut kerja cepat mereka. Tapi di lapangan sesungguhnya tidak semudah itu. Butuh keikhlasan, kekuatan, kesabaran, dan ketabahan.
 
Ketika ada korban yang berhasil diselamatkan, itu adalah momen yang tidak terlukiskan. Ketika ada yang ditemukan 'tak bernyawa, lebih tidak terlukiskan lagi.
 
Saya jadi teringat kisah operator excavator di lokasi bencana gempa-tsunami Palu. Saat melakukan evakuasi di Petobo, di kuku bucket-nya menggelantung tiga-empat mayat sekaligus. Terangkat ke atas.
 
Apa yang terjadi setelahnya? Operator itu mematikan mesin, turun dari exca, lalu pergi tanpa pernah kembali lagi.
 
Apresiasi kepada seluruh kru TNI, Kepolisian, Yayasan-Yayasan, Badan Amal, dan warga yang bersedia menjadi sukarelawan bencana. Berkah dan pahala dari Allah untuk kalian!

Gempa
 
Rasulullah ï·º bersabda: “Mati syahid ada tujuh macam selain berperang di jalan Allah Azza wa Jalla; Orang yang meninggal karena penyakit tha’un (wabah pes) adalah syahid, orang yang meninggal karena sakit perut adalah syahid, orang yang meninggal tenggelam adalah syahid, orang yang meninggal tertimpa benda keras adalah syahid, orang yang meninggal karena penyakit pleuritis adalah syahid, orang yang mati terbakar adalah syahid dan seorang wanita yang mati karena hamil adalah syahid.” (HR An-Nasa`i)
 
📸 Ucapan belasungkawa atas wafatnya dr. Hj. Adriani Kadir, M. Kes. (YIMN FKUH)
📸 Reuntuhan rumah dr. Adriani (dok. Yayasan Amal Redena)
📸 Rumah dr. Adriani sebelum gempa
 



Rabu, 13 Januari 2021

Bijak dalam Bermedsos

Beberapa tahun lalu, kita bersedih. Sebabnya, sebuah berita: seorang lelaki dibakar hidup-hidup karena dituduh maling. 

Padahal belum jelas, apakah betul lelaki itu malingnya. Tapi orang-orang terlanjur mencap dan kemudian terjadilah tindakan bar-bar yang membuat kita bersedih itu. 

Di media sosial, Saya beberapa kali membaca sebuah artikel opini. Penulisnya secara meyakinkan menuduh orang tertentu sebagai maling. 

Setelah Saya baca artikelnya sampai habis, tidak jelas juga apa yang dicuri. Terus, tidak ada alasan atau bukti kuat juga yang mengarahkan bahwa orang tertentu itu malingnya. 

Yang menarik, artikel itu banyak yang like. Bahkan love. Terus ada juga yang mencap dan menghardik orang yang dituduh maling di kolom komentar. 

Sederhananya: terjadi pembunuhan karakter secara berjamaah. 

Mungkin orang bisa bilang: bedalah antara membakar hidup-hidup dengan membunuh karakter. Tapi orang harus ingat, sebabnya sama: menuduh orang.

Mengenal Danny-Fatma, Pemimpin Makassar



Mohammad Ramdhan Pomanto itu Makassar sekali, meskipun bapaknya asli Gorontalo. Bayangkan, lelaki yang akrab disapa Danny itu lahir di Makassar. Besar di Makassar. Sekolah di Makassar. Kerja di Makassar. Menikah dan punya anak di Makassar.

Saking Makassarnya, tiga kali Danny ikut Pilkada di Gorontalo, mulai pemilihan Bupati sampai Walikota, dia tidak pernah menang. Semuanya gagal. Giliran ikut Pilwalkot Makassar pada 2014, dia justru menang.
 
Dan sekarang, Danny kembali berhasil memimpin Makassar. Jejak kerja nyatanya masih terlihat sampai sekarang: Tangkasaki, Lorong Garden, Mobil Dottoro', dll.
 
Danny lahir 30 Januari 1964. Di Rumah Sakit Sentosa Makassar pada bulan Ramadhan. Dia keluar dari rahim seorang ibu bernama Aisyah Abdul Razak, guru di SMPN 5 Makassar.
 
Ayahnya Buluku Pomanto adalah PNS di Dinas Pertanian. Menariknya, saat jadi Kepala Dinas Pertanian Maros, Buluku pernah ditahan karena dianggap pembangkang. Karena dianggap makar. Dia pun sempat dipenjara.
 
Pun kehidupan orang tuanya penuh dinamika, Danny tak pernah kekurangan sesuatu pun. Hidupnya normal-normal saja seperti anak Makassar lain. Bersekolah di SDN Lanto Dg. Pasewang, lalu SMPN 5, kemudian SMAN 1. 
 
Setamat SMA pada 1982, Danny masuk ke Fakultas Teknik Unhas Jurusan Arsitektur. Prestasi cemerlang di arsitektur membuat Unhas mengangkatnya sebagai Dosen. 
 
Selain menjadi akademisi arsitektur, Danny juga menjadi praktisi. Dari ruang kerjanya di Cafe Enak-enak jalan Lanto Dg. Pasewang, dia melahirkan beberapa desain bangunan ternama di Makassar: Anjungan Pantai Losari, Masjid Terapung, Popsa, dll.
 
Sibuk kerja, Danny yang juga aktif sebagai atlet softball itu cukup telat menikah. Dia baru menikah pada 1996 di usia 32 tahun. Dia menikahi perempuan 24 tahun bernama Indira Jusuf Ismail. Keduanya kemudian dikaruniai 3 putri: Aura, Amirra, dan Arayya.
 
Pada 2010, Danny memutuskan terjun total di dunia politik. Untuk itu, dia rela mundur sebagai Dosen Unhas pada 2011 dan mengurangi -meskipun tidak meninggalkan- aktifitasnya sebagai professional arsitek.
 
Dan prestasi politik Danny sampailah pada titik sekarang ini. Kembali menjadi Pemimpin Makassar.
 
*****
 
Ketika suaminya Rusdi Masse terpilih menjadi Bupati Sidrap pada 2008, usia Fatmawati baru 28 tahun. Di usia semuda itu, ibu tiga anak itu sudah harus bergaul dan bertindak sesuai birokrasi.
 
Tentu itu bertentangan dengan basic keluarganya yang pengusaha. Keluarganya dikenal punya banyak usaha. Salah satunya adalah ekspedisi perkapalan dimana Fatma duduk sebagai Direksi. Fatma bahkan aktif di asosiasi perusahaan perkapalan dan ekspedisi.
 
Ikatan Fatma dengan politik dan birokrasi ternyata tidak setengah-setengah. Selepas mendampingi suami memimpin Sidrap, jebolan Universitas Jayabaya Bogor itu coba menjadi legislator di DPR RI periode 2014-2019. Dia berhasil. 
 
Sebuah loncatan yang hebat, bukan? Dari mengurusi ibu-ibu Dharma Wanita dan PKK, loncat mengurusi Undang-undang. Sayangnya, kecemerlangan Fatma di DPR RI tak berlanjut di periode 2019-2024. Menyusul kegagalannya juga pada Pilkada Sidrap 2018.
 
Dan Pilwalkot 2020 Makassar sekarang adalah percobaannya yang keempat. Dan dia berhasil.

Etika Politik Jokowi

Gibran dan Bobby (dok. Kristianto Purnomo, KOMPAS)

Ketika Pemerintahannya berjalan 10 tahun, Pak Harto -dengan kekuasaannya- bisa saja mengangkat Noto Suwito, adiknya, yang lurah di Kemusuk menjadi Gubernur Jawa Tengah. Siapa yang berani melarangnya? Tapi Pak Harto tidak mau. Dia Jawa tulen. Paham roso. Ngerti Tepo Seliro. Sangat menghargai hirarki. Dia mau adiknya berusaha dari bawah. Masih banyak orangtua yang hebat di atasnya.

Begitu pun terhadap anak-anaknya. Yang minat politik, silahkan belajar di Partai dulu. Lalu jadi legislator. Kalau siap, baru jadi eksekutor. Dalam perjalanan 32 tahun kekuasaannya, hanya Mbak Tutut yang diangkat Pak Harto jadi Menteri Sosial. Itu pun hanya bertahan dua bulan. Tidak lama setelah itu, Soeharto jatuh.
 
Ke-Jawa-an itu dipegang teguh juga oleh Pak Beye. Dua periode kepemimpinannya, dia tidak berani mengangkat anak-anaknya menjadi eksekutor. Dia suruh belajar di Partai dulu, lalu kemudian menjadi legislator. Agus dan Ibas paham betul itu. Dalam perjalanannya, dua-duanya menjadi pejabat di Partai Demokrat. Lalu Agus mencalonkan diri jadi Gubernur DKI tapi gagal; Ibas berhasil menjadi Legislator.
 
Hal sebaliknya terjadi sama Pak Jokowi. Tidak tanggung-tanggung, anak dan menantunya langsung disuruh menjadi calon eksekutor tertinggi di dua Kota. Satu di Solo dan satu di Medan. Melangkahi banyak tokoh masyarakat. Melangkahi banyak tokoh partai. Menariknya, dua-duanya berhasil. Dia usia sangat muda. Di saat baru kemarin sore gabung partai.
 
Mungkin jaman sudah berubah. Yang muda turut bergerak. Mungkin pula Pak Jokowi adalah seorang Jawa Progresif. Bukan lagi Jawa Konservatif kayak Pak Harto dan Pak Beye. Atau mungkin pula karena latar keilmuan yang berbeda. Pak Harto dan Pak Beye adalah tentara; Pak Jokowi adalah pebisnis. Atau mungkin karena desakan Partai. Banyak kemugkinan.

Amaly


Andi Muchtar Ali Yusuf. Pria kelahiran Tanete 58 tahun lalu itu adalah calon Bupati terkaya keempat pada pemilihan 2020. Kekayaannya, sesuai rilisan KPK, senilai Rp 287 milliar. Maklum saja, alumni Smansa Makassar 82 itu adalah pemilik grup usaha Amaly (sesuai singkatan namanya).

 
Lelaki yang tidak pernah kuliah itu besar di Pelabuhan. Dari kerasnya kehidupan di pelabuhan itulah beliau mengembangkan usahanya hingga sekarang menjadi yang terbesar di Sulawesi dalam bisnis ekspedisi laut dan darat; sewa dan jual-beli alat berat.
 
Ke depannya, di tahun 2021, Andi Utta -sapaan akrabnya- akan menjalani tantangan baru: menjadi Bupati di tanah kelahirannya Bulukumba. Akankah beliau berhasil memimpin Bulukumba dengan baik? Kita lihat saja upaya beliau.

Selasa, 12 Januari 2021

Pesawat, Hidup dan Mati

 

Proses evakuasi korban Sriwijaya Air (dok. grid.id)

28 September 2018 silam, banyak yang bersyukur. Batik Air yang mereka tumpangi menghidarkan mereka dari gempa. Selisihnya hanya dalam hitungan detik.

Capt. Fella merekam betul kejadian itu di memorinya. Saat akan lepas landas dari Bandara Mutiara Palu, dia merasakan tanah bergoyang. Pesawat bergerak ke kanan dan ke kiri. 

Saat sudah mengangkasa, dia mengirim pesan kepada petugas di Menara Air Traffic Controller. Tidak ada jawaban. Menara ATC sudah roboh karena gempa. Sebagian kota Palu luluh lantak. Ribuan orang meninggal dunia.

*****

Kejadian sebaliknya terjadi 9 Januari 2021 kemarin. Sriwijaya Air yang dikemudikan Capt. Afwan justru membawa 59 awak dan penumpangnya meninggalkan dunia. Mereka yang tak jadi terbang, langsung sujud syukur.

Empat menit setelah lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta, Menara ATC kehilangan komunikasi dengan Capt. Afwan. Sriwijaya Air jatuh di laut lepas dekat Pulau Seribu.

*****

Begitulah kematian. Sangat misterius. Bisa menerpa kita di darat, di laut, di udara, bahkan saat sedang tertidur. Ada juga yang saat sedang duduk-duduk ngopi. 

Apapun itu, kita semua akan meninggalkan dunia dengan cara dan keadaan masing-masing. Cepat atau lambat. Tanpa bisa menghindar.

Allah sudah mengingatkan dalam Al Qur'an: "Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.…” (An Nisaa: 78)