Jumat, 31 Juli 2020

Ajip Rosidi (1938-2020)

Suatu ketika, saking susahnya, Pramoedya Ananta Toer pergi ke rumah kontrakan Ajip Rosidi di Kramatpulo. 

Pram mengetuk pintu. Setelah Ajip membuka pintu, Pram berkata dengan suara yang sangat dalam, "Kau ada nasi tidak? Aku sudah beberapa hari tidak makan!" 

Pram kemudian memakan nasi dingin bercampur mentega yang disajikan Ajip.

Ajip Rosidi



Minggu, 19 Juli 2020

Bisnis Keluarga Kalla

Jusuf Kalla itu orang hebat. Saya setuju itu. Dia mampu menyatukan saudara-saudarinya (kandung dan tiri), istrinya, ipar-iparnya, sepupu-sepupunya, dan sahabat-sahabatnya ke dalam bisnis keluarga. Tanpa ribut-ribut. Tanpa sengketa. Riak-riak kecil pasti ada, tapi bisa disolusikan dengan baik.

Sekarang, perlahan tenang, bisnis telah diwariskan kepada anak-anak, ponakan-ponakan, dan menantu-menantu. Sekali lagi, tanpa ribut-ribut. Tanpa sengketa.

*****

Secara umum, bisnis keluarga Kalla itu ada dua: satu, Kalla Group yang berbasis di Makassar dengan perusahaan intinya bernama PT Hadji Kalla. Kedua, Bukaka Group yang berbasis di Jakarta dengan perusahaan intinya bernama PT Bukaka Teknik Utama.

Kalla Group adalah pondasi dasar bisnis keluarga Kalla. Didirikan H. Kalla dan istrinya Hj. Athirah pada 1952. Bisnis awalnya adalah jualan tekstil (sarung, kain sutra, dll.), jualan hasil bumi (beras, cengkeh, dll.), dan jasa angkutan antarkota trayek Makassar-Bone.

Di tengah perkembangannya, bisnis itu mengalami krisis akibat peristiwa politik 1965. Sampai-sampai Hj. Athirah harus menjual tabungan emasnya demi membayar gaji karyawan. Bisnis itu pun segera diwariskan kepada Jusuf Kalla, anak lelaki pertama, yang baru saja menikah dengan Mufidah.

Oleh Jusuf, Kalla Group dikembangkan dengan memasuki segala sektor bisnis: otomotif, konstruksi, beton, pendidikan, media, dll. Prinsip Jusuf jelas: dia membangun bisnis yang sesuai kemampuan orang-orang dekatnya dan yang sejalan dengan kebutuhan masyarakat.

Jusuf, misalnya, melihat sahabatnya Aksa Mahmud adalah mantan mahasiswa teknik sipil Unhas yang punya banyak teman jago teknik di Unhas. Jusuf pun mendirikan PT Bumi Karsa dan mem-plot Aksa sebagai bosnya.

Dalam perjalanannya, Aksa yang juga suami Ramlah (adik Jusuf), memilih mundur dari PT Bumi Karsa. Dibantu Jusuf, dia kemudian mendirikan bisnis sendiri yang sekarang terkenal dengan nama Bosowa Group. Sama seperti Kalla Group, Bosowa Group juga bergerak di segala sektor bisnis. Bosowa Group kini telah dikelola oleh anak-anak Aksa yang juga ponakan Jusuf: Erwin, Sadikin, Subhan, dan Melinda.

Contoh lain, Jusuf melihat sahabatnya Alwi Hamu punya hobi di bidang pers. Alwi memang waktu mahasiswa aktif di Pers Unhas. Jusuf pun membantu Alwi membangun koran Fajar.

Beberapa tahun tidak berkembang, Jusuf dan Alwi sepakat menggabungkan Fajar ke Grup Jawa Pos milik Dahlan Iskan. Kebetulan Dahlan lagi ingin membangun koran di Indonesia Timur.

Bersama Jawa Pos, Fajar mampu menjadi grup media terbesar di Makassar dan Indonesia Timur. Meruntuhkan dominasi Pedoman Rakyat.

Terkadang juga Jusuf membangun bisnis karena melihat sesuatu yang menarik di ibukota Jakarta lalu ingin mengadakannya di Makassar. Dia, misalnya, pernah melihat usaha cukur yang bersih dan ber-AC di jalan M.H. Thamrin, Jakarta. Dia mau membangun itu di Makassar.

Maka dibangunlah usaha cukur itu. Bekerjasama dengan beberapa tukang cukur Madura. Sayangnya, usaha itu tidak bertahan lama. Bukan karena jelek atau kemahalan, tapi karena orang tiba-tiba punya kebiasaan gondrong ala personil The Beatles. Yang biasanya cukur sekali dua bulan, jadi sekali enam bulan.

Begitulah perjalanan Kalla Group. Dalam membangunnya, Jusuf melibatkan adik-adik dan sepupunya: Saman, Halim, Natsir, Faridah, Fatimah, Adnan, Afifuddin, Suhaemi, Sam'un, dll. Sekarang, bisnis telah dikelola oleh anak dan ponakannya: Solihin, Imelda, Disa, dan Rani.

*****

Bukaka Group didirikan Jusuf pada 1979 karena melihat potensi insinyur-insinyur muda alumni ITB yang sangat mumpuni, seperti Achmad (adik Jusuf), Fadel Muhammad (Presdir Bukaka sampai 1997), dll.

Selain itu, Bukaka juga dibangun untuk membendung kebiasaan impor barang-barang teknik oleh Pemerintahan Soeharto, padahal -dalam keyakinan Jusuf- barang-barang teknik itu bisa dibuat insinyur-insinyur Indonesia.

Pada 1980, misalnya, Pemerintah butuh banyak mobil pemadam kebakaran. Pemerintah sudah mau mengimpornya, tapi Jusuf melakukan lobi dan meyakinkan Pemerintahan Soeharto: Bukaka bisa membuatnya.

Di sebuah bengkel kecil di daerah Cileungsi, Bukaka pun mulai membuat mobil pemadam kebakaran. Itu menjadi produk pertama Bukaka. Dan sampai sekarang produk Mobil berdesain khusus menjadi andalan Bukaka. Terakhir, mereka berhasil membuat mobil Satgas Covid-19 yang mampu memobilisasi Tim dan menyemprotkan disinfektan.

Contoh lain, pada 1989, setelah Bandara Soekarno Terminal 2 dibangun, dibutuhkan jembatan jalan bagi penumpang ke pesawat. Pemerintah sudah mau mengimpornya, tapi Jusuf lagi-lagi berhasil melobi: Bukaka bisa membuatnya.

Dan ternyata Bukaka berhasil membuat produk itu. Presiden Soeharto sendiri yang langsung memberinya nama: garbarata. Produk garbarata kini menjadi produk andalan Bukaka. Bahkan sudah diekspor ke luar negeri.

Dalam mengelola Bukaka, Jusuf dibantu adik dan sepupunya: Achmad, Suhaeli, Hanif, Anwar, dll. Kini, Bukaka telah dikelola full oleh profesional di bidang teknik. Keluarga hanya menempatkan Afifuddin (anak Suhaeli) di jajaran direksi dan Solihin (anak Jusuf) di jajaran Komisaris.

Achmad dan Suhaeli kini sibuk membangun pembangkit listrik di Sulawesi dan Sumatera. Pun masih menggunakan bendera Bukaka.
Keluarga Kalla (dok. Keluarga)

Minggu, 12 Juli 2020

Wanandi Bersaudara

Tidak seperti Tanoto Bersaudara yang bisnisnya pisah-pisah, Wanandi Bersaudara justru menggabungkan bisnis enam bersaudara dalam satu holding: Gemala Group.

*****

Yang menarik, Jusuf Wanandi dan Sofjan Wanandi justru memulai karir di bidang politik. Keduanya adalah aktifis 66 yang menggulingkan Orde Lama. Keduanya lalu aktif di Golkar dan menjadi anggota parlemen.

Keduanya juga menginisiasi berdirinya CSIS, Centre for Strategic and International Studies. Fungsinya: melakukan kajian dan penelitian politik, ekonomi dan sosial, yang kemudian hasilnya diusulkan kepada Presiden Soeharto.

*****

Pada 1974, setelah peristiwa Malari, Sofjan merasa terzalimi akibat peristiwa itu. Dia pun memutuskan keluar dari politik dan mulai berbisnis. Adapun Jusuf, dia tetap berpolitik.

Sofjan berbisnis cukup cekatan. Dia membangun ragam usaha di segala sektor dengan manfaatkan jaringan politiknya dan pergaulannya yang memang luas.

Pada 1980-an, Sofjan menggabungkan bisnisnya dan bisnis saudara-saudaranya dalam satu holding: Gemala Group.

Sejak 1974 hingga kini, Gemala Group melalui banyak anak perusahaannya telah menciptakan produk-produk. Beberapa yang ternama: Aki Yuasa, Korek Gas Tokai, Asuransi Wahana Tata, koran The Jakarta Post, Mandala Airways, maindealer Volkswagen, obat ampisilin dan penisilin, dll. Ada yang masih bertahan, ada yang sudah tenggelam.

Sempat juga terhantam krisis moneter 1997, Gemala Group mampu bertahan sampai sekarang.

*****

Di hari tuanya, Sofjan dan saudara-saudaranya mendirikan Yayasan Prasetya Mulya yang bergerak di bidang pendidikan. Mereka bahkan mendirikan sekolah sendiri: Prasetya Mulya Bussiness School.

Keluarga Wanandi (dok. Sofjan)

Bisnis

BISNIS itu dinamis, tidak statis. Ketika kita melakukan satu tambah satu, hasilnya belum tentu dua. Bisa tiga, bisa 10, bisa 100, bahkan bisa nol. Minus juga bisa.

Kenapa bisa demikian? Karena bisnis itu dipengaruhi banyak faktor: modal, teknologi, sosial, politik, agama, kepemimpinan, dan lainnya. Macam-macam.

Faktor mistik juga ada. Maka jangan heran, ada pengusaha yang selain punya penasehat keuangan juga punya penasehat spiritual. Ada juga yang namanya faktor rejeki; yang dalam istilahnya orang Cina disebut faktor hoki.

Pokoknya, faktornya banyak!

*****

Kalla Group, misalnya, hoki-nya ternyata di dagang. Beberapa kali mereka coba masuk ke agrobisnis, semuanya gagal. Terakhir, usaha cokelat mereka tutup di Kendari. Bukan rejeki memang.

Sektor keuangan juga coba mereka masuki dengan membuat perusahaan leasing. Ternyata kembali gagal. Padahal, potensi pendapatannya sangat luar biasa karena leasing itu di-set buat back up perdagangan mobil mereka. Itulah, faktor satu kelihatan ideal, tapi faktor lainnya tidak pas.

Contoh lain: Salim Group. Banyak yang bilang: ketika Soeharto jatuh, Salim Group juga akan jatuh. Apalagi kejatuhan Soeharto bersamaan dengan krisis moneter. Soedono Salim, bos Salim Group, memang dikenal sebagai pengusaha kesayangan Soeharto.

Benar. Salim Group memang kesusahan waktu krismon itu. Waktu Soeharto jatuh itu. Utang mereka bahkan menggunung. Tapi mereka berhasil bangkit. Itu pertanda, politik hanya satu faktor yang mengusik di bisnis mereka, faktor lain tetap stabil.

Kini, Salim Group tetap stabil dengan ragam bisnis mereka. Di makanan, mereka cekatan memproduksi terigu (bogasari) dan mengolahnya menjadi mie instan (indomie) dan roti (sari roti). Mereka juga tetap jualan Suzuki (indomobil). Bank mereka BCA juga tetap menjadi swasta terbaik nasional.

Tanoto Bersaudara

 "Kitabersaudara memang, tapi harta kita tidak."

Prinsip itu sepertinya berlaku bagi Tanoto Bersaudara. Mereka tujuh bersaudara, tapi bisnis mereka terpisah-pisah. Tempat tinggal mereka juga jauh-jauh. Ada yang di Medan, Surabaya, Singapura, dll.

Hanya Sukanto Tanoto dan Polar Yanto Tanoto yang sepakat membuat bisnis bersama pada 1972 di Sumatera: industri perkayuan.

Tapi ketika Polar wafat akibat kecelakaan pesawat pada 1997, Sukanto mengambil kendali penuh. Bahkan menjauhkan perusahaan dari keluarga Polar. Sebuah pemisahan yang menimbulkan sengketa hingga kini.

Sukanto kini menguasai penuh bisnis-bisnis besar hasil rintisannya bersama Polar: Asian Agri, Toba Pulp Lestari, Riau Andalan Pulp and Paper, dll. Semua bisnis itu tergabung dalam satu holding: Royal Golden Eagle.

Di hari tuanya, Sukanto mendirikan Tanoto Foundation yang konsen di bidang pendidikan.

Kini, bisnis dan yayasannya telah dikelola oleh anak-anaknya: Anderson, Belinda, Andre, dan Imelda.

Polar dan Sunanto (dok. keluarga)