Sabtu, 20 September 2025

Kebijakan Koboi ala Menteri Purbaya

Negara, melalui Menteri Purbaya, bikin kebijakan: hambur dana Rp 200 T ke Himbara. Apa yang akan terjadi? 

Secara cepat, Negara akan memperoleh pendapatan di luar pajak. Ada bunga 4% dari Rp 200 T itu. Fix! Kasarnya kalau flat, Himbara harus setor sekira Rp 8 T setahun. Belum setoran pokoknya. 

Maka tidak salah kalau kebijakan Menteri Purbaya itu diikuti kebijakan lain untuk menyenangkan rakyat: penghapusan pajak bagi yang bergaji di bawah Rp 10 jt. Toh sudah ada Rp 8 T sebagai penggantinya. 

*****

Secara cepat pula, sektor rill (jasa, dagang, dan manufaktur) akan memperoleh oksigen segar. Ada banyak uang di Himbara sana yang bisa dipake berinvestasi. 

Himbara juga tidak perlu ragu memilih. Banyak kelompok usaha besar yang telah lama menjadi mitra mereka sedang menggarap proyek besar. 

Ada yang lagi ngebor emas di gunung, ada yang lagi garuk-garuk pulau berisi nikel, ada yang lagi bikin dapur besar, macam-macam. Ada juga proyek-proyek Pemerintah yang butuh dana besar. 

Semua proyek itu padat modal (butuh dana besar) dan padat karya (menyerap tenaga kerja banyak). Himbara sisa kenakan bunga kredit 6℅ up plus main di payroll. Selesai. 

*****

Kalau semua berjalan mulus-mulus saja, maka kebijakan ini akan baik-baik saja. Kalau sebaliknya, rasa-rasanya, Menteri Purbaya yang khatam di LPS sudah bisa menganalisa tren kredit macet di bank-bank dan sudah tahu kemampuan institusi penjamin kredit menalanginya. 

Cuma memang, yang menjadi masalah selama ini: sektor rill adalah tata surya korupsi. Kalau pengawasan kurang dan aturan tidak konsisten, bisa terjadi korupsi berjamaah setahun ke depan. 

Contoh kecil saja: sudah menjadi rahasia umum, kalau dana BOS cair, Kepala Sekolah biasanya menghilang beberapa hari. Ditanya kenapa? Untuk menghindari wartawan dan LSM. Ini baru dana BOS. 

Bagaimana kalau dana proyek? Bukan cuma wartawan dan LSM yang ketuk pintu, bubur kacang hijau dan cokelat manis pun turut tersaji di ruang tamu. 

*****

Saya selamanya percaya: ekonomi bukan matematika. Faktor sosialnya besar. Apalagi politik. Hukum. Psikologi. Macam-macam.

Makanya, dalam ekonomi, satu tambah satu belum tentu dua. Bisa jadi seratus. Bisa jadi seribu. Bisa jadi minus. Minus sampai sejuta pun, bisa jadi. 

Tapi mudah-mudahan kebijakan Negara kali ini bisa plus sejuta. Mudah-mudahan, yah. Plus 10 pun lumayan lah.

Sabtu, 30 Agustus 2025

Kebijakan Kontras Berujung Anak Negeri Tewas

Ada beberapa kebijakan pemerintah yang sangat kontras. Padahal sedari awal sudah dikobarkan pondasinya: efisiensi. 

Pada akhir pemerintahan Jokowi periode pertama, misalnya, ada kebijakan: semua instansi dilarang membangun gedung baru. 

Jangankan membangun, merenovasi pun dilarang. Demi efisiensi. Setiap instansi diharapkan memanfaatkan saja gedung-gedung yang sudah ada dan tersedia. 

Itu bagus. Faktanya memang masih banyak gedung-gedung instansi yang tidak fungsional.

Kontrasnya, di Pemerintahan Jokowi periode dua: IKN dibangun. Gedung baru, luas, anggarannya wow ladde! Sampai trilliunan. Bahkan sampai sekarang belum fungsional. 

Sebagian masyarakat protes waktu itu. Cuma ndak sampai turun massif ke jalan. Apalagi Pemerintah berhasil mengcounternya dengan menggerakkan buzzer dan tokoh masyarakat Dayak. 

*****

Pada Pemerintahan Prabowo periode pertama, kembali muncul kebijakan kontras yang pondasinya efisiensi: anggaran daerah dikurangi. 

Pengurangannya sangat ekstrim, coy. Daerah yang biasanya dapat jatah tandon 1.300 liter, dikurangi jadi tandon 500 liter. Jauh! Sri Mulyani berkoar: daerah musti kreatif mencari uang. 

Beberapa daerah merespon kebijakan ekstrim itu juga dengan ekstrim: manaikkan tarif PBB ratusan persen. Akhirnya, rusuhlah Pati dan Bone. 

Kontrasnya, Pemerintah malah memberi kado istimewa kepada legislator DPR: kenaikan tunjangan. Kado yang disambut joget-joget Ge Mu Fa Mi Re oleh banyak legislator. Joget-joget yang bahkan berlanjut sampai ke story medsos milik personal legislator. 

Kali ini bukan sebagian masyarakat yang protes. Tapi masif: buruh, mahasiswa, ojol, anak SMA, dll. Mereka serentak turun ke jalan. Skalanya nasional. 

Meskipun anggaran IKN antara langit dengan sumur bor dibandingkan anggaran kenaikan tunjangan legislstor, tapi yang terakhir itulah yang justru menyentuh hati masyarakat. Mereka bergerak. 

Dan sampailah kita di titik ini. Beberapa anak negeri mati.

Jumat, 29 Agustus 2025

Kasus Noel

Yang mengernyitkan dahi dari kasus Noel adalah nilai sertifikasi yang cuma ratusan ribu. Padahal, sepengetahuan saya, sertifikasi itu selalu di range jutaan. 

Personal yang ambil sertifikasi K3 saja musti bayar jutaan. Apalagi perusahaan yang urus sertifikasi SMK3: musti rogoh kocek sampai puluhan juta. 

Jadi, kalau saya lihat-lihat, Noel dicokok KPK bukan murni karena rupiahnya. Kalau sebabnya karena rupiah, KPK juga musti sikat pejabat Kemenaker sebelum-sebelumnya. 

Terus karena apa? Mungkin karena Noel terlalu banyak gaya dan tidak bisa diatur. 

Makanya, selalulah ingat tulisan di rumah sakit saat covid kemarin:

CUCI TANGANLAH SELALU! 

ITU AKAN MENYELAMATKAN ANDA.

Kamis, 31 Juli 2025

Laptop Nadiem

Waktu Pak Luhut menjadi Menko Mari Invest, blio pernah menjelaskan: Indonesia telah memproduksi laptop lokal merk Dikti Edu. 

Dengan investasi bertahap senilai Rp 17 trilliun, Dikti Edu diproduksi oleh konsorsium Industri TIK bekerja sama dengan tiga kampus ternama: ITB, ITS, dan UGM. 

Produk Dikti Edu secara tegas menyasar ragam kampus dan sekolah di seluruh Indonesia yang dibawahi Kemendikbud Ristek. Pak Luhut kemudian mendorong Menteri Nadiem Makariem untuk mewujudkannya. 

Sekarang, Nadiem Makariem dan jajarannya telah disibuki kasus korupsi pengadaan laptop di Kementeriannya dulu. 

Apakah yang terjadi sekarang punya hubungan dengan awalan di atas? Kita tunggu saja kabarnya!

PSG

PSG bukanlah tim kemarin sore. Sejak awal 1990-an, mereka sudah berbicara di Eropa. Pada gelaran UCL 1995, mereka bahkan sudah sampai ke semi final lewat kecemerlangan bintang Afrika mereka: George Weah. Sayangnya, langkah mereka dihentikan oleh AC Milan. 

Di tahun itu, wajar saja Weah meraih Ballon d'Or. Dan di tahun itu pula, AC Milan merekrut Weah dan memperkenalkannya kepada seluruh dunia. Ketenaran yang membuatnya menjadi Presiden Liberia saat ini. 

Tahun 1996, PSG berhasil meraih gelar Eropa pertama mereka setelah memenangkan Winners Cup. Meskipun kehilangan Weah, mereka tetap mampu berprestasi. 

*****

Awal 2000-an, PSG mencoba kembali berbicara di Eropa. Mereka merekrut bintang muda Brazil: Ronaldinho. Sayangnya, meskipun Ronaldinho tampil cemerlang, PSG tetap tak mampu berbuat banyak. 

Kecemerlangan Ronaldinho membuat PSG melegonya ke Barcelona seharga 32 jt euro. Ronaldinho menjadi pemain termahal kedua saat itu dibawah David Beckham yang diboyong Real Madrid dari Manchester United. 

Di Barca, Ronaldinho meraih segalanya: gelar domestik, trofi UCL dan Ballon d'Or. 

*****

Pada 2012, investasi timur tengah mendarat di PSG. Sejak saat itu, PSG bukan hanya dipoles menjadi tim kuat, tapi juga menjadi tim elit: tempat berlabuhnya pemain-pemain hebat. 

Silih berganti pemain hebat datang dan pergi: Zlatan Ibrahimovic, Edinson Cavani, Neymar, Kylian Mbappe, Leo Messi, dan Osmane Dembele. Bukan hanya pemain hebat, tapi juga pelatih ternama. Mulai dari Carlo Ancelotti sampai Luis Enrique. 

Akhirnya, penantian PSG berakhir pada 2025. Mereka berhasil meraih trofi UCL pertama mereka sepanjang sejarah klub. Mereka menyingkirkan semua tim elit Inggris di babak gugur dan menang meyakinkan 5-0 atas jawara Italia. 

Selamat, PSG!



TORAJA

Pertama kali ke Toraja: tahun 90-an awal. Lupa waktu tepatnya. Kala itu masih SD. Dalam rangka liburan. Kebetulan paman yang Kacab Bank Sulsel (dulu Bank BPD) punya rumah dinas di sana. 

Makale masih sangat sepi dan dingin. Saking dinginnya, hasil kondensasi udara serupa asap putih keluar dari mulut.

Sekarang, seiring pembangunan kota, Toraja tak lagi dingin. Udara yang terhirup tak lagi berkondensasi, tapi berpolusi. Bersyukur masih banyak pemandangan indah.




CR7

Saya menyukai Ronaldo. Bukan karena dia yang terbaik. Bukan pula karena banyak prestasi. Tapi karena Saya mengikuti proses beliau berkarir di sepakbola sejak awal. 

Yang seangkatan Saya pasti menyaksikan betul: bagaimana Ronaldo menangis saat Portugal kalah dari Yunani di Final Euro 2004. Bagaimana Ronaldo kegirangan mencetak gol sundulan yang membuat dia meraih gelar FA Cup pertamanya bersama MU. 

Dan selanjutnya, Anda bisa baca statistiknya: melesat. Pun sampai usia 40.

Kunci pemain yang dijuluki CR7 itu dalam berproses sederhana saja: konsisten! CR7 bukanlah tipikal Maradona, Messi atau pemain-pemain Brazil yang sedari lahir sudah punya talenta. Semua yang dimiliki CR7 adalah hasil latihan. Tentunya latihan secara konsisten. 

Bagaimana dia berlari cepat, bagaimana dia melompat dan menyundul, bagaimana dia menendang keras, semua dilatihnya secara konsisten. Tentu kita tidak heran melihat bagaimana CR7 masih bertahan sampai saat ini. Dan tetap kompetitif.