Minggu, 07 Juni 2026

Prabowonomics (3): Pidato Ekonomi

Presiden Prabowo selalu berpidato tanpa teks. Itu menyiratkan: beliau menguasai apa yang beliau bahas. Durasinya: panjang dan lama. Bikin ngantuk. Bikin mulut menguap. Bikin dahi mengerut. Mungkin juga ada yang membatin: omong kosong! 

Tapi, yang menarik dari pidato Prabowo, biasanya ada boom di ujung pidato beliau. Nah, boom itulah yang sering ditunggu-tunggu. Semacam punchline-lah kalau dalam dunia stand-up comedy. 

Boom itulah yang bikin pendengar pidato beliau langsung melek. Bikin teman sebangku langsung saling melirik. Bikin Menteri Bahlil langsung baku kode mimik dengan teman di sampingnya. 

Boom itulah yang sering menjadi potongan story di medsos. Menjadi bahan kebanggaan bagi fansnya. Menjadi bahan bercandaan bagi hatersnya. 

Tapi bagi ekonom dan investor, boom itu adalah pertanda: ekonomi bisa tumbuh atau tidak? Nilai tukar rupiah melemah atau menguat? IHSG akan uptrade atau downtrade? Dan ujungnya: pemerintah Indonesia bisa dipercaya atau tidak? 

Para ekonom dan investor jelas punya analisa kelas A dalam menilai pidato Prabowo. Mereka tidak mudah takjub dengan kuantitas, tapi selalu melihat kualitas. Mereka tidak terpesona dengan persentase pertumbuhan, tapi melihat apa yang menopang pertumbuhan itu. 

Dan hasil dari puluhan pidato Prabowo sejak awal dilantik sampai sekarang: ekonomi Indonesia tumbuh tapi pondasinya rentan, rupiah melemah, IHSG downtrade di titik dimana saham elit seperti BBCA (yang jadi andalan investor) terkapar satu tahun. 

Yah, semoga Pemerintah segera mencari solusi dan semoga Prabowo sehat-sehat sampai solusinya ditemukan.

Prabowonomics (2): Ekonomi Komando

Ekonomi Komando. Begitu Tempo menyebut gaya ekonomi Presiden Prabowo. Saya sepakat. Itu terlihat dari kebijakan-kebijakan beliau. 

Contoh: Januari 2026, Menteri Bahlil bilang akan membatasi distribusi gas melon di eceran. Biar subsidinya tepat sasaran. Berlaku di awal Februari. 

Kebijakan Bahlil itu punya data valid: audit BPK menemukan bahwa 1,11 milliar unit tabung gas melon tersalur kepada keluarga yang mampu. Pertamina masih lemah mengawasi distribusinya. 

Tapi, di awal Februari, kebijakan itu justru dicekal Prabowo. Distribusi gas melon dikembalikan seperti semula. Itu untuk mencegah kekacauan di masyarakat akibat kelangkaan gas melon. 

Kita bisa menebak: kebijakan Bahlil jelas di luar komando Prabowo. 

*****

Yang terbaru, Presiden lagi-lagi menunjukkan gaya komandonya. Evaluasi 1,5 tahun berujung pada pencopotan jajaran pejabat BGN. 

Bukan cuma dicopot dari jabatannya, mereka juga dipidana korupsi sehari kemudian. Sekarang sedang diproses oleh Kejagung. 

Ini jelas mengagetkan. Dan menimbulkan tanya: apakah pejabat BGN "sekoboi" itu sampai-sampai dipattasaki semuanya? Kita tunggu saja kejelasannya. 

Yang jelas, kita bisa menebak: para "koboi" BGN itu jelas di luar komando Prabowo.

Rabu, 27 Mei 2026

Prabowonomics (1): Cepat dan Seragam

Presiden Prabowo itu dulunya Jenderal di TNI. Yah, yang namanya Jenderal, segala kebijakannya harus berjalan cepat dan seragam. Kayak orang baris-berbaris. Siappp... Gasss!!!

Itulah mungkin yang menjadi dasar pemikiran kenapa MBG -selama setahun lebih- langsung berjalan serentak di seluruh Indonesia. Catatan BGN terakhir: sudah ada 10.681 unit SPPG di seluruh Indonesia yang melibatkan 73.207 SDM. 

Masing-masing SPPG memproduksi circa 2.500 nasi box tiap harinya. Artinya: ada 26.702.500 nasi box yang tersebar tiap harinya di sekolah-sekolah. 

Ajaibnya, tidak ada yang menolak MBG. Yang mengkritisi banyak, tapi yang menolak -boleh dikata- tidak ada. Bisa jadi karena dampak ekonominya ke bawah sangat terasa. Bagi pengusaha maupun pekerja. 

Jelas MBG tidak memberi keuntungan apa-apa bagi pemerintah. Hanya dana APBN yang berubah jadi nasi box lalu jadi tahi. Tetapi terkadang ekonomi itu begitu: tidak mengapa kurang tambah-tambahnya; yang penting bagus bagi-baginya. 

Gaya cepat dan seragam kembali diterapkan Prabowo di program Koperasi Merah Putih. Tidak main-main, Pemerintah telah meresmikan 80.081 KMP secara administratif; 1.061 di antaranya telah diresmikan secara fisik. 

Kalau melihat rencana program KMP, jelas akan terjadi pengadaan barang secara besar-besaran dan perekrutan SDM secara masif. 

Target Prabowo jelas: KMP diharapkan dapat memperkuat ekonomi dan ketahanan pangan di desa-desa. Dulu Presiden Soeharto pernah bikin KUD, tapi gagal. Apakah KMP akan berhasil? Kita tunggu aksinya. 

Tidak berhenti di MBG dan KMP, Prabowo juga menyerentakkan program Sekolah Rakyat. Sudah 166 SR yang telah diresmikan dari 500 yang ditergetkan. Tentu SR butuh juga pengadaan barang dan perekrutan SDM yang besar dan masif. 

SR punya tujuan sangat mulia: menyekolahkan murid dari keluarga miskin di seluruh Indonesia agar nantinya mereka punya masa depan cerah yang mampu memutus rantai kemiskinan. 

Apakah SR akan berjalan sesuai target Pemerintah? Kita tunggu. Penjaringan siswa baru akan berlangsung tahun ini di awal ajaran baru. 

Kalau melihat beban fiskal yang muncul karena MBG, KMP, dan SR, idealnya ketiga program itu dilakukan dulu secara bertahap. Dicoba dulu di daerah tertentu. Kalau sudah berjalan baik dan mapan, sistemnya tinggal di-copypaste ke daerah lain. 

Tapi kembali lagi, Prabowo dulunya Jenderal TNI. Kebijakannya harus cepat dan seragam. Titik.

Selasa, 12 Mei 2026

SALAH JURI

Sebagai orang yang pernah menjadi wasit persepakbolaan di tingkat SMA, saya bisa memahami: juri itu bisa salah dalam menilai. Kok juri yang dibahas? Juri, wasit, sama sajalah. Mumpung lagi viral. 

Kesalahan itu jelas bersifat situasional. Salah lihat, salah dengar, salah baca, miskomunikasi, dll. Yang dilarang itu memang satu: pengaturan atau settingan. 

Kalau kesalahannya bersifat situasional, yah minta maaf menjadi solusinya. Dan jaminan: ke depan akan ada perbaikan untuk meminimalisir kesalahan situasional itu. Dari sinilah muncul teknologi VAR dan Goal Line di sepakbola; challenge di Basket, Tennis, bulutangkis, dan Volley. 

Tapi kalau kesalahannya settingan, ini jelas mesti ada tindakan dan hukuman. Dan ini menjadi urusan masing-masing organisasi yang menaungi dan mengelolanya. 

*****

Saya jadi ingat satu momen epic kesalahan MC. Kok dari juri/wasit ke MC. Yah tidak apa-apalah. Mumpung MC-nya juga ikut-ikutan viral. 

Waktu itu pemilihan Miss Universe 2015. MC Steve Harvey salah baca pemenang. Awalnya dia menyebut Ariadna Gutierrez (Kolombia) sebagai pemenangnya. 

Miss Kolombia itupun maju ke depan dengan penuh haru. Kepalanya diberikan mahkota, lawannya sudah memberikan selamat, dan dia pun sudah menyapa penonton dengan dadah-dadah. Steve sudah ke belakang panggung. 

Tidak lama kemudian, Steve kembali lagi ke panggung dan menjelaskan kesalahannya. Dia menyampaikan bahwa pemenang sebenarnya adalah Pia Alonzo (Filipina). Mahkota pun dialihkan dari Ariadna ke Pia. Pun momennya jelas menjadi sangat kikuk. 

*****

Jadi, kesalahan itu biasalah dalam dunia penilaian. Yang penting kesalahannya situasional, bukan settingan. Juri, wasit, peserta, semua manusia biasa. Dan kalau pun setelahnya ada hinaan, ya itu memang sudah risikonya.

Selasa, 28 April 2026

Wahabi dan Salafi

Kalau kita membaca sejarahnya: Arab Saudi dari dulu memang membagi dua urusannya. Urusan politik, ekonomi, dan sosial diurus sama kerajaan; agama diurus sama ulama.

Salah satu ulama awal yang disuruh memegang urusan agama: Muhammad bin Abdul Wahab. Dalam pengurusannya, dia banyak melakukan gerakan-gerakan. Gerakan yang kemudian disebut orang-orang sebagai Wahabi atau wahabisme.

Apakah gerakan itu buruk? Dalam perspektif agama, jelas tidak. Karena Wahabi mengembalikan tauhid sebagai pondasi agama.

Contoh: dalam urusan kuburan. Sebelum Wahabi ada, banyak kuburan di Arab Saudi yang dikeramatkan. Mulai dari kuburan Nabi Muhammad, istrinya Aisyah, sampai para sahabat Nabi: Abu Bakar, Umar, dll. Bahkan kuburan-kuburan itu lebih ramai daripada Masjidil Haram.

Wahabi tidak menyukai itu. Apalagi, sejak dulu, Nabi Muhammad sendiri sudah mewanti-wanti: ratakan kuburan! Jangan buat bangunan di atas kuburan! Jangan jadikan kuburanku sebagai berhala!

Wahabi pun mulai bergerak membereskan kuburan-kuburan keramat. Mereka menghancurkan bangunan di atasnya dan meratakannya dengan tanah. Mereka juga menyosialisasikan kepada warga agar tidak menyucikan dan menyembah kuburan.
Kecuali kuburan Nabi Muhammad, Wahabi tidak berhasil mengganggunya. Sebab ada ancaman dari Kekhilafahan Turki Utsmani: kalau bangunan di atas kuburan Nabi Muhammad dihancurkan, Arab Saudi akan diserang habis-habisan.

Tapi Wahabi tidak kehabisan akal. Dia mendesain agar makam Nabi Muhammad tidak mencolok dan kelihatan, sehingga warga bingung mencarinya. Wahabi bahkan menempatkan satpam untuk menjaganya.

Dr. Nurcholis Madjid rahimahullah memuji gerakan Wahabi dalam urusan kuburan itu. Kalau tidak, katanya, sekarang Arab Saudi sudah dipenuhi kuburan keramat.

Yang menarik, Cak Nur sampai bilang: "Kalau diukur dari segi kuburan, orang Protestan itu lebih tauhid daripada orang Islam, sebab orang Protestan tidak terpikir untuk menyembah kuburan. Sebaliknya, orang Islam itu senangnya ke kuburan. Mau jadi pejabat, misalnya, mesti ke kuburan dulu."

*****

Contoh lain: dalam urusan pendidikan agama Islam. Wahabi berusaha agar orang-orang sekarang memahami Al Qur'an dan Hadits sebagaimana pemahaman ulama-ulama terdahulu: ulama mahdzab, ulama hadits sampai ulama pengkaji. Usaha inilah yang dijuluki oleh orang-orang sekarang dengan nama Salafi. 

Mereka mewujudkan itu dalam kurikulum dan menyebarkannya melalui sekolah-sekolah mereka. Dalam perjalanannya, kurikulum itu tidak cuma diwujudkan di Arab Saudi, tapi disebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Dalam penyebaran inilah pro-kontra muncul. Ada yang suka dan ada yang tidak. Itu hal yang biasa. Apalagi kalau ulama salafi sudah bicara tentang syirik dan bid'ah, ribut sudah.

*****

Ber-Islamlah sesuai Al Qur'an dan Hadits. Tidak usah ikuti kelompok atau organisasi tertentu. Pun sudah ikut organisasi tertentu, tetaplah berpegang pada Al Qur'an dan hadits. Organisasi hanyalah wadah untuk berdakwah secara lebih solid.

Nahdlatul Ulama, misalnya, sangatlah berbeda jika kita lihat NU di Sulawesi Selatan sama NU di Jawa Timur. Kenapa? NU di Sulsel banyak dipegang sama alumni-alumni Mesir yang jelas sangat berbeda dengan alumni-alumni Tebu Ireng. Tapi mereka tetap jalan dengan wadah NU.

Senin, 06 April 2026

Kebenaran Baru

Harus diakui, sejak media sosial mengemuka, muncul kebenaran baru di atas kebenaran.

Apa bedanya? Kebenaran itu berbasis fakta, logika, dan data valid yang terverifikasi (ada metode untuk membuktikannya). Kebenaran itu sifatnya universal: diterima oleh semua orang. Tanpa kecuali. Pun ada yang malu-malu menerimanya atau lama baru mengakuinya.

Adapun kebenaran baru: berbasis persepsi, dipoles dengan framming, dan disebarkan oleh buzzer. Terpola karena pesanan, bisa pula karena egoisme dan fanatisme, bisa jadi juga karena kebencian yang memunculkan ketidaknetralan.

*****

Konflik antar dua pihak, misalnya. Kalau mau cari kebenaran, itu harus betul-betul dikulik faktanya. Apakah ada salah paham antar kedua belah pihak atau memang ada unsur kezaliman (zalim dan dizalimi) di dalamnya. 

Kalau cuma salah paham, bisa ditengahi. Tapi kalau sudah ada kezaliman, yang zalim harus dikritisi dan yang dizalimi harus dibela. 

Tapi kalau yang mau dicari kebenaran baru, persepsi juaranya dibandingkan fakta. Akan muncul para pendukung kezaliman karena fanatisme. Akan timbul para pencela yang terzalimi karena kebencian. 

Dampaknya: informasi perihal kebenaran menjadi tabola-bale. Kebenaran barulah yang muncul.

Minggu, 25 Januari 2026

Tentang AI

Ketika sistem informasi teknologi berkembang di awal 2000-an, para pakar langsung mengungkap satu kelemahan besarnya: GIGO, garbage in garbage out. Sehebat dan secepat apapun sistemnya, tapi kalau yang di-input sampah, output-nya sampah juga. 

Nah, AI (artificial intelligence) ternyata tidak. Beberapa aplikasi AI mampu mengolah sampah menjadi emas: apa yang di-input bisa dikoreksi, direferensi, bahkan sampai dibuatkan output-nya. Ini keren sih! Tinggal dinikmati dan dimanfaatkan saja dengan sebaik-baiknya. 

Pun harus diakui, AI belum bisa menggantikan beberapa hal terpenting dari otak manusia: analisa atau intuisi, misalnya. AI mungkin bisa mengolah data keuangan, tapi AI belum mampu menganalisa perilaku manusia di balik data itu: korupsi, kolusi, dll. 

AI mungkin mampu mengolah sajak jadi lagu dengan struktur intro, reffrain, melodi sampai ending, tapi AI sepertinya belum bisa bikin lagu serupa Bohemian Rhapsody atau Seven Days yang strukturnya lompat-lompat. Hanya intuisi seorang Freddy Mercury dan Sting yang mampu melakukannya. 


Jumat, 23 Januari 2026

TENTANG BROKEN STRINGS

Dulu, Yudishtira Masardi (Bapaknya Iga Masardi) pernah memperdatakan Ahmad Dhani karena memakai Arjuna Mencari Cinta sebagai judul lagunya. Yudhistira mengklaim itu judul Novelnya yang sudah dipatenkan. Tidak boleh lagi dipakai oleh orang lain.

Padahal, kalau dipikir-pikir, karya mereka berbeda: satu lagu, satu novel. Harusnya yang dipatenkan Yudhistira karya novelnya, bukan kata atau kalimat. Kan dunia sastra jadi ribet kalau pembuat KBBI mematenkan seluruh kata di kamusnya dan mengharuskan royalti bagi setiap yang memakainya.

Dan kalau didalami lagi, Arjuna Mencari Cinta jelas bukan pemikiran original Yudhistira. Kalimat itu sudah lebih dahulu terkenal di mahakarya epic Mahabarata. Apakah Yudhistira sudah minta izin kepada penulis Mahabarata untuk memakai nama Arjuna? Entahlah.

Makanya, ketika Dhani memendekkan judul lagunya menjadi Arjuna saja, semua aman-aman saja. Yudhistira jelas berat mengklaim diri sebagai penemu nama Arjuna.

Dalam perjalanannya, kejadian: sama judul beda karya, jelas sering terjadi. Kasih Tak Sampai, misalnya, ada lagunya Padi, ada novelnya Marah Roesli. Yang paling baru: Broken Strings. Ada lagunya James Morrison, ada bukunya Aurelie Moeremans. Semua aman-aman saja.

*****

Broken Strings-nya Aurelie sedang menjadi perbincangan hangat awal Januari ini. Sebabnya: Aurelie banyak mengungkit kejadian tidak mengenakkan di masa lalu yang melibatkan orang lain. Secara tersurat dan tersirat, dia juga menyinggung orang lain itu. 

Yah, namanya juga menulis kejadian masa lalu, Aurelie pasti mengandalkan ingatannya. Bisa jadi ingat, bisa jadi tidak. Bisa jadi salah, bisa jadi benar. Bisa jadi pas, bisa jadi kurang atau lebih. Subyektifitasnya jelas tinggi. 

Pun Aurelie punya catatan dalam bentuk diary atau apapun, subyektifitasnya tetap tinggi. Karena pasti dia memandang kejadian dari sudut pandangnya kala itu. Bisa jadi salah paham, bisa jadi tidak. Bisa jadi miskonsepsi, bisa jadi tidak. Tetap subyektif.

Makanya, kita yang membaca buku itu sekarang, tidak bisa langsung menilai kejadian secara lurus-lurus saja. Apalagi langsung menyerang pihak-pihak yang dilibatkan. Butuh informasi pembanding biar adil. Dalam istilah jurnalisme, ini disebut cover both sides. Buku itu harus dibaca secara rasional, jangan emosional.

Minggu, 11 Januari 2026

ESTETIKA DAN ETIKA

Setiap orang punya nilai estetikanya masing-masing. Mulai soal keindahan, kenyamanan, keamanan, hobi, passion, selera, talenta, kegemaran, sampai soal asmara. 

Estetika itu nilai yang sifatnya sangat subjektif. Indah bagi Saya, belum tentu indah bagi orang lain. Nyaman bagi dia, belum tentu nyaman bagi mereka.

Ada yang suka bersepeda; ada yang suka lari. Ada penggemar Real Madrid; ada penggemar Barcelona. Ada yang introvert; ada ekstrovert. Ada yang hobi mancing ikan; ada yang gemar mancing keributan. Macam-macam. 

Selain bersifat subjektif, setiap orang juga punya indepensensi dalam menjalankan estetikanya. 

Terserah orang mau bilang apa, bagi Saya: AC Milan adalah klub sepakbola terbaik. Terserah orang mau bilang talekang atau pamer, bagi dia: lari lalu memposting hasil stravanya di instagram adalah sebuah keharusan. 

Cuma yang menjadi masalah dari estetika adalah sikap egois dan egosentris. Merasa lebih baik dari orang lain dan ingin menjadi pusat perhatian. Parahnya lagi kalau sikap itu sudah mengarah ke mengganggu orang lain. 

Seorang teman, contohnya, dia pernah nongkrong santai di cafe. Lagi asyik-asyiknya, tiba-tiba klub hexom datang ramai-ramai. Mereka duduk, menggabungkan beberapa meja, lalu mengisap hexom bersamaan. Asapnya mengepul dan mengganggu pengunjung lain. Teman yang juga terganggu akhirnya pergi meninggalkan cafe. 

Contoh lain: klub motor yang menerobos lampu merah saat touring. Jelas itu tindakan egois; bahkan sudah egosentris. Betul mereka mengantongi izin touring dari polisi, tapi -yakinlah- mereka tidak punya izin menerobos lampu merah. 

Dan masih banyak contoh lain: pelari dan pesepeda yang mengambil setengah badan jalan padahal tidak sedang event, penggemar musik yang putar lagu keras-keras sampai mengganggu tetangga, pedagang yang jualan di trotoar tempat pejalan kaki. Masih banyak lagi lainnya. 

*****

Nah, karena masih banyak orang yang bablas dalam menjalankan nilai estetikanya, maka beberapa orang perlu berkumpul untuk berdiskusi guna membuat kesepakatan demi kebaikan. Dari hasil diskusi itu, muncullah nilai baru: etika. 

Di Indonesia, sudah banyak dibuat etika: mulai dari yang tidak tertulis sampai tertulis. Mulai dari aturan rumah tangga, kompleks hunian, sekolah, kampus, instansi, sampai negara. Lengkap. 

Mulai dari urusan kencing sembarangan, buang sampah, ugal-ugalan di jalanan, jam masuk kerja, upah kerja, kriminal kelas teri, sampai urusan kriminal kerah putih. Sangat lengkap. 

Cuma yang menjadi masalah dari etika itu satu: keadilan. Apakah bisa diterapkan secara egaliter? Apakah bisa tajam ke atas, bukan cuma ke bawah? Apakah pihak-pihak yang menerapkannya bisa berlaku adil? Itu semua, kalau dijawab, bisa menjadi jawaban atas kebaikan kita di masa depan.

Senin, 05 Januari 2026

ROASTING ALA PANDJI

Roasting -secara etika- memang menjadi teknik stand-up comedian yang paling dark grey. Hitam, gelap, tapi masih ada abu-abunya. Jadi, masih sering dipakai sama kebanyakan komika. 

Supaya tidak bermasalah, biasanya ditempuh jalan tengah: sebelum manggung, komika minta izin dulu sama orang yang mau di-roasting. Atau sekalian, orang yang di-roasting dihadirkan ke atas panggung. 

Yang masalah memang roasting tanpa izin. Terlebih yang di-roasting fisik. Karena reaksi orang yang di-roasting juga abu-abu: bisa menerima, bisa tidak. Mungkin menerima, tapi dipendam sambil menunggu momen balas dendam. Bisa juga seketika marah dan langsung menyerang balik. 

Saya jadi ingat momen saat Will Smith menampar komedian Chris Rock di atas panggung Oscar 2022 karena me-roasting rambut Jada Smith yang plontos akibat alopecia. Aktor utama Pursuit of Happiness itu marah besar karena istrinya dijadikan bahan bercandaan. 

Yang paling dekat: Pandji Pragiwaksono me-roasting fisik mata dari Wapres Gibran Rakabuming. Roasting-an yang mendapat banyak komentar negatif dari netizen dan kritikan tajam dari pakar oplas dan psikologi. Pun masih ada juga netizen yang pro Pandji. 

Saya rasa, Pandji sudah menerima semua komentar dan kritikan itu dengan lapang dada dan mengajinya. Ke depan, semoga komika tetap bisa berkarya dengan lebih memperhatikan etika tanpa mengurangi estetika dan tanpa menciderai logika.

*****

Saya juga termasuk penggemar Pandji sebagai komika. Meskipun briging-nya lama sampai ke punchline. Sebagai podcaster, saya tidak terlalu suka Pandji karena porsi bicaranya lebih banyak dari narasumbernya. 

Saya juga suka sama lagu Masih Hujan yang dinyanyikan Gamila Arif dan nangkring di spotify. Pun lagu itu underrated dan pendengarnya cuma ratusan ribu, tapi kualitasnya tidak kalah sama lagu-lagu dari penyanyi hits. Bagi yang belum ngeh: Gamila itu istrinya Pandji 😁.

Jumat, 02 Januari 2026

Sumur Bor

Setahu saya, mengebor air tanah itu -idealnya- ndak sampai 100 mtr. Karena kalau pas 100 mtr atau lebih, musti ada Amdalnya. Demi mencegah megabencana Lumpur Lapindo terulang kembali.

Biayanya juga murah. Untuk satu titik: jasa tukang bor Rp 10-20 juta itu sudah mewahlah. Plus tambah sedikit biaya instalasi sampai ke tandon dan kran. 

Jadi kalau Presiden Prabowo bertanya kepada BNPB: berapa biaya pengeboran untuk satu titik? Terus dijawab: Rp 150 jt, itu butuh jawaban yang lebih detail. Bisa jadi BNPB salah jawab. Atau bisa jadi setiap mengebor, BNPB beli dulu mesin bornya. 

Tapi kalau semuanya berjalan ideal, Rp 150 jt itu -harus diakui- memang kemahalan dari harga normal. Mahalnya luar biasa: antara langit dengan sumur bor!

Selasa, 02 Desember 2025

Tambang

Kita semua ini aneh. Anti tambang emas, tapi kita bahagia saat beli cincin, gelang, kalung, atau -yang lagi tren- emas batangan. 

Anti tambang nikel, tapi kita bahagia saat beli iphone, tablet huawei, atau -yang lagi hits- mostrik byd. Termasuk tumbler juga. 

Kita semua berlomba-lomba renovasi rumah. Sadar atau tidak sadar, saat kita bangun rumah, kita sudah melibatkan dua tambang sekaligus: pasir dan kapur. Karena rumah kita butuh pasir dan semen buat coran. 

Coran tidak sampai di situ. Dia juga butuh kayu buat bekisting. Kayu-kayu itu jelas diambil dari passomel kelas teri yang tersebar di pasaran. Yang nangkring di toko-toko bangunan. 

Kalau rumah kita butuh banyak ornamen kayu, jelas yang kita butuh bukan lagi passomel kelas teri, tapi passomel kelas kakap yang punya kayu kelas satu. Kayu-kayu yang diambil dari pohon-pohon pa'kamba di tengah hutan.

Sabtu, 20 September 2025

Kebijakan Koboi ala Menteri Purbaya

Negara, melalui Menteri Purbaya, bikin kebijakan: hambur dana Rp 200 T ke Himbara. Apa yang akan terjadi? 

Secara cepat, Negara akan memperoleh pendapatan di luar pajak. Ada bunga 4% dari Rp 200 T itu. Fix! Kasarnya kalau flat, Himbara harus setor sekira Rp 8 T setahun. Belum setoran pokoknya. 

Maka tidak salah kalau kebijakan Menteri Purbaya itu diikuti kebijakan lain untuk menyenangkan rakyat: penghapusan pajak bagi yang bergaji di bawah Rp 10 jt. Toh sudah ada Rp 8 T sebagai penggantinya. 

*****

Secara cepat pula, sektor rill (jasa, dagang, dan manufaktur) akan memperoleh oksigen segar. Ada banyak uang di Himbara sana yang bisa dipake berinvestasi. 

Himbara juga tidak perlu ragu memilih. Banyak kelompok usaha besar yang telah lama menjadi mitra mereka sedang menggarap proyek besar. 

Ada yang lagi ngebor emas di gunung, ada yang lagi garuk-garuk pulau berisi nikel, ada yang lagi bikin dapur besar, macam-macam. Ada juga proyek-proyek Pemerintah yang butuh dana besar. 

Semua proyek itu padat modal (butuh dana besar) dan padat karya (menyerap tenaga kerja banyak). Himbara sisa kenakan bunga kredit 6℅ up plus main di payroll. Selesai. 

*****

Kalau semua berjalan mulus-mulus saja, maka kebijakan ini akan baik-baik saja. Kalau sebaliknya, rasa-rasanya, Menteri Purbaya yang khatam di LPS sudah bisa menganalisa tren kredit macet di bank-bank dan sudah tahu kemampuan institusi penjamin kredit menalanginya. 

Cuma memang, yang menjadi masalah selama ini: sektor rill adalah tata surya korupsi. Kalau pengawasan kurang dan aturan tidak konsisten, bisa terjadi korupsi berjamaah setahun ke depan. 

Contoh kecil saja: sudah menjadi rahasia umum, kalau dana BOS cair, Kepala Sekolah biasanya menghilang beberapa hari. Ditanya kenapa? Untuk menghindari wartawan dan LSM. Ini baru dana BOS. 

Bagaimana kalau dana proyek? Bukan cuma wartawan dan LSM yang ketuk pintu, bubur kacang hijau dan cokelat manis pun turut tersaji di ruang tamu. 

*****

Saya selamanya percaya: ekonomi bukan matematika. Faktor sosialnya besar. Apalagi politik. Hukum. Psikologi. Macam-macam.

Makanya, dalam ekonomi, satu tambah satu belum tentu dua. Bisa jadi seratus. Bisa jadi seribu. Bisa jadi minus. Minus sampai sejuta pun, bisa jadi. 

Tapi mudah-mudahan kebijakan Negara kali ini bisa plus sejuta. Mudah-mudahan, yah. Plus 10 pun lumayan lah.

Sabtu, 30 Agustus 2025

Kebijakan Kontras Berujung Anak Negeri Tewas

Ada beberapa kebijakan pemerintah yang sangat kontras. Padahal sedari awal sudah dikobarkan pondasinya: efisiensi. 

Pada akhir pemerintahan Jokowi periode pertama, misalnya, ada kebijakan: semua instansi dilarang membangun gedung baru. 

Jangankan membangun, merenovasi pun dilarang. Demi efisiensi. Setiap instansi diharapkan memanfaatkan saja gedung-gedung yang sudah ada dan tersedia. 

Itu bagus. Faktanya memang masih banyak gedung-gedung instansi yang tidak fungsional.

Kontrasnya, di Pemerintahan Jokowi periode dua: IKN dibangun. Gedung baru, luas, anggarannya wow ladde! Sampai trilliunan. Bahkan sampai sekarang belum fungsional. 

Sebagian masyarakat protes waktu itu. Cuma ndak sampai turun massif ke jalan. Apalagi Pemerintah berhasil mengcounternya dengan menggerakkan buzzer dan tokoh masyarakat Dayak. 

*****

Pada Pemerintahan Prabowo periode pertama, kembali muncul kebijakan kontras yang pondasinya efisiensi: anggaran daerah dikurangi. 

Pengurangannya sangat ekstrim, coy. Daerah yang biasanya dapat jatah tandon 1.300 liter, dikurangi jadi tandon 500 liter. Jauh! Sri Mulyani berkoar: daerah musti kreatif mencari uang. 

Beberapa daerah merespon kebijakan ekstrim itu juga dengan ekstrim: manaikkan tarif PBB ratusan persen. Akhirnya, rusuhlah Pati dan Bone. 

Kontrasnya, Pemerintah malah memberi kado istimewa kepada legislator DPR: kenaikan tunjangan. Kado yang disambut joget-joget Ge Mu Fa Mi Re oleh banyak legislator. Joget-joget yang bahkan berlanjut sampai ke story medsos milik personal legislator. 

Kali ini bukan sebagian masyarakat yang protes. Tapi masif: buruh, mahasiswa, ojol, anak SMA, dll. Mereka serentak turun ke jalan. Skalanya nasional. 

Meskipun anggaran IKN antara langit dengan sumur bor dibandingkan anggaran kenaikan tunjangan legislstor, tapi yang terakhir itulah yang justru menyentuh hati masyarakat. Mereka bergerak. 

Dan sampailah kita di titik ini. Beberapa anak negeri mati.

Jumat, 29 Agustus 2025

Kasus Noel

Yang mengernyitkan dahi dari kasus Noel adalah nilai sertifikasi yang cuma ratusan ribu. Padahal, sepengetahuan saya, sertifikasi itu selalu di range jutaan. 

Personal yang ambil sertifikasi K3 saja musti bayar jutaan. Apalagi perusahaan yang urus sertifikasi SMK3: musti rogoh kocek sampai puluhan juta. 

Jadi, kalau saya lihat-lihat, Noel dicokok KPK bukan murni karena rupiahnya. Kalau sebabnya karena rupiah, KPK juga musti sikat pejabat Kemenaker sebelum-sebelumnya. 

Terus karena apa? Mungkin karena Noel terlalu banyak gaya dan tidak bisa diatur. 

Makanya, selalulah ingat tulisan di rumah sakit saat covid kemarin:

CUCI TANGANLAH SELALU! 

ITU AKAN MENYELAMATKAN ANDA.

Kamis, 31 Juli 2025

Laptop Nadiem

Waktu Pak Luhut menjadi Menko Mari Invest, blio pernah menjelaskan: Indonesia telah memproduksi laptop lokal merk Dikti Edu. 

Dengan investasi bertahap senilai Rp 17 trilliun, Dikti Edu diproduksi oleh konsorsium Industri TIK bekerja sama dengan tiga kampus ternama: ITB, ITS, dan UGM. 

Produk Dikti Edu secara tegas menyasar ragam kampus dan sekolah di seluruh Indonesia yang dibawahi Kemendikbud Ristek. Pak Luhut kemudian mendorong Menteri Nadiem Makariem untuk mewujudkannya. 

Sekarang, Nadiem Makariem dan jajarannya telah disibuki kasus korupsi pengadaan laptop di Kementeriannya dulu. 

Apakah yang terjadi sekarang punya hubungan dengan awalan di atas? Kita tunggu saja kabarnya!

PSG

PSG bukanlah tim kemarin sore. Sejak awal 1990-an, mereka sudah berbicara di Eropa. Pada gelaran UCL 1995, mereka bahkan sudah sampai ke semi final lewat kecemerlangan bintang Afrika mereka: George Weah. Sayangnya, langkah mereka dihentikan oleh AC Milan. 

Di tahun itu, wajar saja Weah meraih Ballon d'Or. Dan di tahun itu pula, AC Milan merekrut Weah dan memperkenalkannya kepada seluruh dunia. Ketenaran yang membuatnya menjadi Presiden Liberia saat ini. 

Tahun 1996, PSG berhasil meraih gelar Eropa pertama mereka setelah memenangkan Winners Cup. Meskipun kehilangan Weah, mereka tetap mampu berprestasi. 

*****

Awal 2000-an, PSG mencoba kembali berbicara di Eropa. Mereka merekrut bintang muda Brazil: Ronaldinho. Sayangnya, meskipun Ronaldinho tampil cemerlang, PSG tetap tak mampu berbuat banyak. 

Kecemerlangan Ronaldinho membuat PSG melegonya ke Barcelona seharga 32 jt euro. Ronaldinho menjadi pemain termahal kedua saat itu dibawah David Beckham yang diboyong Real Madrid dari Manchester United. 

Di Barca, Ronaldinho meraih segalanya: gelar domestik, trofi UCL dan Ballon d'Or. 

*****

Pada 2012, investasi timur tengah mendarat di PSG. Sejak saat itu, PSG bukan hanya dipoles menjadi tim kuat, tapi juga menjadi tim elit: tempat berlabuhnya pemain-pemain hebat. 

Silih berganti pemain hebat datang dan pergi: Zlatan Ibrahimovic, Edinson Cavani, Neymar, Kylian Mbappe, Leo Messi, dan Osmane Dembele. Bukan hanya pemain hebat, tapi juga pelatih ternama. Mulai dari Carlo Ancelotti sampai Luis Enrique. 

Akhirnya, penantian PSG berakhir pada 2025. Mereka berhasil meraih trofi UCL pertama mereka sepanjang sejarah klub. Mereka menyingkirkan semua tim elit Inggris di babak gugur dan menang meyakinkan 5-0 atas jawara Italia. 

Selamat, PSG!



TORAJA

Pertama kali ke Toraja: tahun 90-an awal. Lupa waktu tepatnya. Kala itu masih SD. Dalam rangka liburan. Kebetulan paman yang Kacab Bank Sulsel (dulu Bank BPD) punya rumah dinas di sana. 

Makale masih sangat sepi dan dingin. Saking dinginnya, hasil kondensasi udara serupa asap putih keluar dari mulut.

Sekarang, seiring pembangunan kota, Toraja tak lagi dingin. Udara yang terhirup tak lagi berkondensasi, tapi berpolusi. Bersyukur masih banyak pemandangan indah.




CR7

Saya menyukai Ronaldo. Bukan karena dia yang terbaik. Bukan pula karena banyak prestasi. Tapi karena Saya mengikuti proses beliau berkarir di sepakbola sejak awal. 

Yang seangkatan Saya pasti menyaksikan betul: bagaimana Ronaldo menangis saat Portugal kalah dari Yunani di Final Euro 2004. Bagaimana Ronaldo kegirangan mencetak gol sundulan yang membuat dia meraih gelar FA Cup pertamanya bersama MU. 

Dan selanjutnya, Anda bisa baca statistiknya: melesat. Pun sampai usia 40.

Kunci pemain yang dijuluki CR7 itu dalam berproses sederhana saja: konsisten! CR7 bukanlah tipikal Maradona, Messi atau pemain-pemain Brazil yang sedari lahir sudah punya talenta. Semua yang dimiliki CR7 adalah hasil latihan. Tentunya latihan secara konsisten. 

Bagaimana dia berlari cepat, bagaimana dia melompat dan menyundul, bagaimana dia menendang keras, semua dilatihnya secara konsisten. Tentu kita tidak heran melihat bagaimana CR7 masih bertahan sampai saat ini. Dan tetap kompetitif.



GOAT Sepakbola

Perdebatan siapa GOAT sepakbola masih menyasar nama-nama hebat: Pele, Maradona, R9, Messi, dan CR7. 

Tapi bagi Saya, mereka bukanlah GOAT sejati. Dalam indikator Saya, GOAT sepakbola adalah dia yang hebat ketika menjadi pemain dan juga hebat sebagai pengatur strategi. 

Bagi Saya, sosok seperti itulah yang sangat mengerti sepakbola seutuhnya. Dalam maupun luar lapangan. 

Berikut adalah nama-nama pilihan Saya yang terkemas dalam formasi 3-6-1 dari kiper sampai striker plus cadangan:

Kiper: Dino Zoff

Bek: Franz Beckenbauer, Frank Rijkaard, Ronald Koeman. 

Gelandang: Pep Guardiola, Luis Enrique, Carlo Ancelotti, Didier Deschamps, Zinedine Zidane, Antonio Conte. 

Striker: Johan Cruyff. 

Cadangan: Jupp Heynckes, Vincent Company, Xabi Alonzo, Xavi Hernandez, Rudi Voller, Juergen Klinsmann, Simone Inzaghi, Ruud Gullit, Pippo Inzaghi, Giovanni Van Bronchost, ......