Minggu, 07 Juni 2026

Prabowonomics (3): Pidato Ekonomi

Presiden Prabowo selalu berpidato tanpa teks. Itu menyiratkan: beliau menguasai apa yang beliau bahas. Durasinya: panjang dan lama. Bikin ngantuk. Bikin mulut menguap. Bikin dahi mengerut. Mungkin juga ada yang membatin: omong kosong! 

Tapi, yang menarik dari pidato Prabowo, biasanya ada boom di ujung pidato beliau. Nah, boom itulah yang sering ditunggu-tunggu. Semacam punchline-lah kalau dalam dunia stand-up comedy. 

Boom itulah yang bikin pendengar pidato beliau langsung melek. Bikin teman sebangku langsung saling melirik. Bikin Menteri Bahlil langsung baku kode mimik dengan teman di sampingnya. 

Boom itulah yang sering menjadi potongan story di medsos. Menjadi bahan kebanggaan bagi fansnya. Menjadi bahan bercandaan bagi hatersnya. 

Tapi bagi ekonom dan investor, boom itu adalah pertanda: ekonomi bisa tumbuh atau tidak? Nilai tukar rupiah melemah atau menguat? IHSG akan uptrade atau downtrade? Dan ujungnya: pemerintah Indonesia bisa dipercaya atau tidak? 

Para ekonom dan investor jelas punya analisa kelas A dalam menilai pidato Prabowo. Mereka tidak mudah takjub dengan kuantitas, tapi selalu melihat kualitas. Mereka tidak terpesona dengan persentase pertumbuhan, tapi melihat apa yang menopang pertumbuhan itu. 

Dan hasil dari puluhan pidato Prabowo sejak awal dilantik sampai sekarang: ekonomi Indonesia tumbuh tapi pondasinya rentan, rupiah melemah, IHSG downtrade di titik dimana saham elit seperti BBCA (yang jadi andalan investor) terkapar satu tahun. 

Yah, semoga Pemerintah segera mencari solusi dan semoga Prabowo sehat-sehat sampai solusinya ditemukan.

Prabowonomics (2): Ekonomi Komando

Ekonomi Komando. Begitu Tempo menyebut gaya ekonomi Presiden Prabowo. Saya sepakat. Itu terlihat dari kebijakan-kebijakan beliau. 

Contoh: Januari 2026, Menteri Bahlil bilang akan membatasi distribusi gas melon di eceran. Biar subsidinya tepat sasaran. Berlaku di awal Februari. 

Kebijakan Bahlil itu punya data valid: audit BPK menemukan bahwa 1,11 milliar unit tabung gas melon tersalur kepada keluarga yang mampu. Pertamina masih lemah mengawasi distribusinya. 

Tapi, di awal Februari, kebijakan itu justru dicekal Prabowo. Distribusi gas melon dikembalikan seperti semula. Itu untuk mencegah kekacauan di masyarakat akibat kelangkaan gas melon. 

Kita bisa menebak: kebijakan Bahlil jelas di luar komando Prabowo. 

*****

Yang terbaru, Presiden lagi-lagi menunjukkan gaya komandonya. Evaluasi 1,5 tahun berujung pada pencopotan jajaran pejabat BGN. 

Bukan cuma dicopot dari jabatannya, mereka juga dipidana korupsi sehari kemudian. Sekarang sedang diproses oleh Kejagung. 

Ini jelas mengagetkan. Dan menimbulkan tanya: apakah pejabat BGN "sekoboi" itu sampai-sampai dipattasaki semuanya? Kita tunggu saja kejelasannya. 

Yang jelas, kita bisa menebak: para "koboi" BGN itu jelas di luar komando Prabowo.