Jumat, 23 Januari 2026

TENTANG BROKEN STRINGS

Dulu, Yudishtira Masardi (Bapaknya Iga Masardi) pernah memperdatakan Ahmad Dhani karena memakai Arjuna Mencari Cinta sebagai judul lagunya. Yudhistira mengklaim itu judul Novelnya yang sudah dipatenkan. Tidak boleh lagi dipakai oleh orang lain.

Padahal, kalau dipikir-pikir, karya mereka berbeda: satu lagu, satu novel. Harusnya yang dipatenkan Yudhistira karya novelnya, bukan kata atau kalimat. Kan dunia sastra jadi ribet kalau pembuat KBBI mematenkan seluruh kata di kamusnya dan mengharuskan royalti bagi setiap yang memakainya.

Dan kalau didalami lagi, Arjuna Mencari Cinta jelas bukan pemikiran original Yudhistira. Kalimat itu sudah lebih dahulu terkenal di mahakarya epic Mahabarata. Apakah Yudhistira sudah minta izin kepada penulis Mahabarata untuk memakai nama Arjuna? Entahlah.

Makanya, ketika Dhani memendekkan judul lagunya menjadi Arjuna saja, semua aman-aman saja. Yudhistira jelas berat mengklaim diri sebagai penemu nama Arjuna.

Dalam perjalanannya, kejadian: sama judul beda karya, jelas sering terjadi. Kasih Tak Sampai, misalnya, ada lagunya Padi, ada novelnya Marah Roesli. Yang paling baru: Broken Strings. Ada lagunya James Morrison, ada bukunya Aurelie Moeremans. Semua aman-aman saja.

*****

Broken Strings-nya Aurelie sedang menjadi perbincangan hangat awal Januari ini. Sebabnya: Aurelie banyak mengungkit kejadian tidak mengenakkan di masa lalu yang melibatkan orang lain. Secara tersurat dan tersirat, dia juga menyinggung orang lain itu. 

Yah, namanya juga menulis kejadian masa lalu, Aurelie pasti mengandalkan ingatannya. Bisa jadi ingat, bisa jadi tidak. Bisa jadi salah, bisa jadi benar. Bisa jadi pas, bisa jadi kurang atau lebih. Subyektifitasnya jelas tinggi. 

Pun Aurelie punya catatan dalam bentuk diary atau apapun, subyektifitasnya tetap tinggi. Karena pasti dia memandang kejadian dari sudut pandangnya kala itu. Bisa jadi salah paham, bisa jadi tidak. Bisa jadi miskonsepsi, bisa jadi tidak. Tetap subyektif.

Makanya, kita yang membaca buku itu sekarang, tidak bisa langsung menilai kejadian secara lurus-lurus saja. Apalagi langsung menyerang pihak-pihak yang dilibatkan. Butuh informasi pembanding biar adil. Dalam istilah jurnalisme, ini disebut cover both sides. Buku itu harus dibaca secara rasional, jangan emosional.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar