Selasa, 12 Mei 2026

SALAH JURI

Sebagai orang yang pernah menjadi wasit persepakbolaan di tingkat SMA, saya bisa memahami: juri itu bisa salah dalam menilai. Kok juri yang dibahas? Juri, wasit, sama sajalah. Mumpung lagi viral. 

Kesalahan itu jelas bersifat situasional. Salah lihat, salah dengar, salah baca, miskomunikasi, dll. Yang dilarang itu memang satu: pengaturan atau settingan. 

Kalau kesalahannya bersifat situasional, yah minta maaf menjadi solusinya. Dan jaminan: ke depan akan ada perbaikan untuk meminimalisir kesalahan situasional itu. Dari sinilah muncul teknologi VAR dan Goal Line di sepakbola; challenge di Basket, Tennis, bulutangkis, dan Volley. 

Tapi kalau kesalahannya settingan, ini jelas mesti ada tindakan dan hukuman. Dan ini menjadi urusan masing-masing organisasi yang menaungi dan mengelolanya. 

*****

Saya jadi ingat satu momen epic kesalahan MC. Kok dari juri/wasit ke MC. Yah tidak apa-apalah. Mumpung MC-nya juga ikut-ikutan viral. 

Waktu itu pemilihan Miss Universe 2015. MC Steve Harvey salah baca pemenang. Awalnya dia menyebut Ariadna Gutierrez (Kolombia) sebagai pemenangnya. 

Miss Kolombia itupun maju ke depan dengan penuh haru. Kepalanya diberikan mahkota, lawannya sudah memberikan selamat, dan dia pun sudah menyapa penonton dengan dadah-dadah. Steve sudah ke belakang panggung. 

Tidak lama kemudian, Steve kembali lagi ke panggung dan menjelaskan kesalahannya. Dia menyampaikan bahwa pemenang sebenarnya adalah Pia Alonzo (Filipina). Mahkota pun dialihkan dari Ariadna ke Pia. Pun momennya jelas menjadi sangat kikuk. 

*****

Jadi, kesalahan itu biasalah dalam dunia penilaian. Yang penting kesalahannya situasional, bukan settingan. Juri, wasit, peserta, semua manusia biasa. Dan kalau pun setelahnya ada hinaan, ya itu memang sudah risikonya.