Rabu, 27 Mei 2026

Prabowonomics (1): Cepat dan Seragam

Presiden Prabowo itu dulunya Jenderal di TNI. Yah, yang namanya Jenderal, segala kebijakannya harus berjalan cepat dan seragam. Kayak orang baris-berbaris. Siappp... Gasss!!!

Itulah mungkin yang menjadi dasar pemikiran kenapa MBG -selama setahun lebih- langsung berjalan serentak di seluruh Indonesia. Catatan BGN terakhir: sudah ada 10.681 unit SPPG di seluruh Indonesia yang melibatkan 73.207 SDM. 

Masing-masing SPPG memproduksi circa 2.500 nasi box tiap harinya. Artinya: ada 26.702.500 nasi box yang tersebar tiap harinya di sekolah-sekolah. 

Ajaibnya, tidak ada yang menolak MBG. Yang mengkritisi banyak, tapi yang menolak -boleh dikata- tidak ada. Bisa jadi karena dampak ekonominya ke bawah sangat terasa. Bagi pengusaha maupun pekerja. 

Jelas MBG tidak memberi keuntungan apa-apa bagi pemerintah. Hanya dana APBN yang berubah jadi nasi box lalu jadi tahi. Tetapi terkadang ekonomi itu begitu: tidak mengapa kurang tambah-tambahnya; yang penting bagus bagi-baginya. 

Gaya cepat dan seragam kembali diterapkan Prabowo di program Koperasi Merah Putih. Tidak main-main, Pemerintah telah meresmikan 80.081 KMP secara administratif; 1.061 di antaranya telah diresmikan secara fisik. 

Kalau melihat rencana program KMP, jelas akan terjadi pengadaan barang secara besar-besaran dan perekrutan SDM secara masif. 

Target Prabowo jelas: KMP diharapkan dapat memperkuat ekonomi dan ketahanan pangan di desa-desa. Dulu Presiden Soeharto pernah bikin KUD, tapi gagal. Apakah KMP akan berhasil? Kita tunggu aksinya. 

Tidak berhenti di MBG dan KMP, Prabowo juga menyerentakkan program Sekolah Rakyat. Sudah 166 SR yang telah diresmikan dari 500 yang ditergetkan. Tentu SR butuh juga pengadaan barang dan perekrutan SDM yang besar dan masif. 

SR punya tujuan sangat mulia: menyekolahkan murid dari keluarga miskin di seluruh Indonesia agar nantinya mereka punya masa depan cerah yang mampu memutus rantai kemiskinan. 

Apakah SR akan berjalan sesuai target Pemerintah? Kita tunggu. Penjaringan siswa baru akan berlangsung tahun ini di awal ajaran baru. 

Kalau melihat beban fiskal yang muncul karena MBG, KMP, dan SR, idealnya ketiga program itu dilakukan dulu secara bertahap. Dicoba dulu di daerah tertentu. Kalau sudah berjalan baik dan mapan, sistemnya tinggal di-copypaste ke daerah lain. 

Tapi kembali lagi, Prabowo dulunya Jenderal TNI. Kebijakannya harus cepat dan seragam. Titik.

Selasa, 12 Mei 2026

SALAH JURI

Sebagai orang yang pernah menjadi wasit persepakbolaan di tingkat SMA, saya bisa memahami: juri itu bisa salah dalam menilai. Kok juri yang dibahas? Juri, wasit, sama sajalah. Mumpung lagi viral. 

Kesalahan itu jelas bersifat situasional. Salah lihat, salah dengar, salah baca, miskomunikasi, dll. Yang dilarang itu memang satu: pengaturan atau settingan. 

Kalau kesalahannya bersifat situasional, yah minta maaf menjadi solusinya. Dan jaminan: ke depan akan ada perbaikan untuk meminimalisir kesalahan situasional itu. Dari sinilah muncul teknologi VAR dan Goal Line di sepakbola; challenge di Basket, Tennis, bulutangkis, dan Volley. 

Tapi kalau kesalahannya settingan, ini jelas mesti ada tindakan dan hukuman. Dan ini menjadi urusan masing-masing organisasi yang menaungi dan mengelolanya. 

*****

Saya jadi ingat satu momen epic kesalahan MC. Kok dari juri/wasit ke MC. Yah tidak apa-apalah. Mumpung MC-nya juga ikut-ikutan viral. 

Waktu itu pemilihan Miss Universe 2015. MC Steve Harvey salah baca pemenang. Awalnya dia menyebut Ariadna Gutierrez (Kolombia) sebagai pemenangnya. 

Miss Kolombia itupun maju ke depan dengan penuh haru. Kepalanya diberikan mahkota, lawannya sudah memberikan selamat, dan dia pun sudah menyapa penonton dengan dadah-dadah. Steve sudah ke belakang panggung. 

Tidak lama kemudian, Steve kembali lagi ke panggung dan menjelaskan kesalahannya. Dia menyampaikan bahwa pemenang sebenarnya adalah Pia Alonzo (Filipina). Mahkota pun dialihkan dari Ariadna ke Pia. Pun momennya jelas menjadi sangat kikuk. 

*****

Jadi, kesalahan itu biasalah dalam dunia penilaian. Yang penting kesalahannya situasional, bukan settingan. Juri, wasit, peserta, semua manusia biasa. Dan kalau pun setelahnya ada hinaan, ya itu memang sudah risikonya.

Selasa, 28 April 2026

Wahabi dan Salafi

Kalau kita membaca sejarahnya: Arab Saudi dari dulu memang membagi dua urusannya. Urusan politik, ekonomi, dan sosial diurus sama kerajaan; agama diurus sama ulama.

Salah satu ulama awal yang disuruh memegang urusan agama: Muhammad bin Abdul Wahab. Dalam pengurusannya, dia banyak melakukan gerakan-gerakan. Gerakan yang kemudian disebut orang-orang sebagai Wahabi atau wahabisme.

Apakah gerakan itu buruk? Dalam perspektif agama, jelas tidak. Karena Wahabi mengembalikan tauhid sebagai pondasi agama.

Contoh: dalam urusan kuburan. Sebelum Wahabi ada, banyak kuburan di Arab Saudi yang dikeramatkan. Mulai dari kuburan Nabi Muhammad, istrinya Aisyah, sampai para sahabat Nabi: Abu Bakar, Umar, dll. Bahkan kuburan-kuburan itu lebih ramai daripada Masjidil Haram.

Wahabi tidak menyukai itu. Apalagi, sejak dulu, Nabi Muhammad sendiri sudah mewanti-wanti: ratakan kuburan! Jangan buat bangunan di atas kuburan! Jangan jadikan kuburanku sebagai berhala!

Wahabi pun mulai bergerak membereskan kuburan-kuburan keramat. Mereka menghancurkan bangunan di atasnya dan meratakannya dengan tanah. Mereka juga menyosialisasikan kepada warga agar tidak menyucikan dan menyembah kuburan.
Kecuali kuburan Nabi Muhammad, Wahabi tidak berhasil mengganggunya. Sebab ada ancaman dari Kekhilafahan Turki Utsmani: kalau bangunan di atas kuburan Nabi Muhammad dihancurkan, Arab Saudi akan diserang habis-habisan.

Tapi Wahabi tidak kehabisan akal. Dia mendesain agar makam Nabi Muhammad tidak mencolok dan kelihatan, sehingga warga bingung mencarinya. Wahabi bahkan menempatkan satpam untuk menjaganya.

Dr. Nurcholis Madjid rahimahullah memuji gerakan Wahabi dalam urusan kuburan itu. Kalau tidak, katanya, sekarang Arab Saudi sudah dipenuhi kuburan keramat.

Yang menarik, Cak Nur sampai bilang: "Kalau diukur dari segi kuburan, orang Protestan itu lebih tauhid daripada orang Islam, sebab orang Protestan tidak terpikir untuk menyembah kuburan. Sebaliknya, orang Islam itu senangnya ke kuburan. Mau jadi pejabat, misalnya, mesti ke kuburan dulu."

*****

Contoh lain: dalam urusan pendidikan agama Islam. Wahabi berusaha agar orang-orang sekarang memahami Al Qur'an dan Hadits sebagaimana pemahaman ulama-ulama terdahulu: ulama mahdzab, ulama hadits sampai ulama pengkaji. Usaha inilah yang dijuluki oleh orang-orang sekarang dengan nama Salafi. 

Mereka mewujudkan itu dalam kurikulum dan menyebarkannya melalui sekolah-sekolah mereka. Dalam perjalanannya, kurikulum itu tidak cuma diwujudkan di Arab Saudi, tapi disebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Dalam penyebaran inilah pro-kontra muncul. Ada yang suka dan ada yang tidak. Itu hal yang biasa. Apalagi kalau ulama salafi sudah bicara tentang syirik dan bid'ah, ribut sudah.

*****

Ber-Islamlah sesuai Al Qur'an dan Hadits. Tidak usah ikuti kelompok atau organisasi tertentu. Pun sudah ikut organisasi tertentu, tetaplah berpegang pada Al Qur'an dan hadits. Organisasi hanyalah wadah untuk berdakwah secara lebih solid.

Nahdlatul Ulama, misalnya, sangatlah berbeda jika kita lihat NU di Sulawesi Selatan sama NU di Jawa Timur. Kenapa? NU di Sulsel banyak dipegang sama alumni-alumni Mesir yang jelas sangat berbeda dengan alumni-alumni Tebu Ireng. Tapi mereka tetap jalan dengan wadah NU.

Senin, 06 April 2026

Kebenaran Baru

Harus diakui, sejak media sosial mengemuka, muncul kebenaran baru di atas kebenaran.

Apa bedanya? Kebenaran itu berbasis fakta, logika, dan data valid yang terverifikasi (ada metode untuk membuktikannya). Kebenaran itu sifatnya universal: diterima oleh semua orang. Tanpa kecuali. Pun ada yang malu-malu menerimanya atau lama baru mengakuinya.

Adapun kebenaran baru: berbasis persepsi, dipoles dengan framming, dan disebarkan oleh buzzer. Terpola karena pesanan, bisa pula karena egoisme dan fanatisme, bisa jadi juga karena kebencian yang memunculkan ketidaknetralan.

*****

Konflik antar dua pihak, misalnya. Kalau mau cari kebenaran, itu harus betul-betul dikulik faktanya. Apakah ada salah paham antar kedua belah pihak atau memang ada unsur kezaliman (zalim dan dizalimi) di dalamnya. 

Kalau cuma salah paham, bisa ditengahi. Tapi kalau sudah ada kezaliman, yang zalim harus dikritisi dan yang dizalimi harus dibela. 

Tapi kalau yang mau dicari kebenaran baru, persepsi juaranya dibandingkan fakta. Akan muncul para pendukung kezaliman karena fanatisme. Akan timbul para pencela yang terzalimi karena kebencian. 

Dampaknya: informasi perihal kebenaran menjadi tabola-bale. Kebenaran barulah yang muncul.

Minggu, 25 Januari 2026

Tentang AI

Ketika sistem informasi teknologi berkembang di awal 2000-an, para pakar langsung mengungkap satu kelemahan besarnya: GIGO, garbage in garbage out. Sehebat dan secepat apapun sistemnya, tapi kalau yang di-input sampah, output-nya sampah juga. 

Nah, AI (artificial intelligence) ternyata tidak. Beberapa aplikasi AI mampu mengolah sampah menjadi emas: apa yang di-input bisa dikoreksi, direferensi, bahkan sampai dibuatkan output-nya. Ini keren sih! Tinggal dinikmati dan dimanfaatkan saja dengan sebaik-baiknya. 

Pun harus diakui, AI belum bisa menggantikan beberapa hal terpenting dari otak manusia: analisa atau intuisi, misalnya. AI mungkin bisa mengolah data keuangan, tapi AI belum mampu menganalisa perilaku manusia di balik data itu: korupsi, kolusi, dll. 

AI mungkin mampu mengolah sajak jadi lagu dengan struktur intro, reffrain, melodi sampai ending, tapi AI sepertinya belum bisa bikin lagu serupa Bohemian Rhapsody atau Seven Days yang strukturnya lompat-lompat. Hanya intuisi seorang Freddy Mercury dan Sting yang mampu melakukannya. 


Jumat, 23 Januari 2026

TENTANG BROKEN STRINGS

Dulu, Yudishtira Masardi (Bapaknya Iga Masardi) pernah memperdatakan Ahmad Dhani karena memakai Arjuna Mencari Cinta sebagai judul lagunya. Yudhistira mengklaim itu judul Novelnya yang sudah dipatenkan. Tidak boleh lagi dipakai oleh orang lain.

Padahal, kalau dipikir-pikir, karya mereka berbeda: satu lagu, satu novel. Harusnya yang dipatenkan Yudhistira karya novelnya, bukan kata atau kalimat. Kan dunia sastra jadi ribet kalau pembuat KBBI mematenkan seluruh kata di kamusnya dan mengharuskan royalti bagi setiap yang memakainya.

Dan kalau didalami lagi, Arjuna Mencari Cinta jelas bukan pemikiran original Yudhistira. Kalimat itu sudah lebih dahulu terkenal di mahakarya epic Mahabarata. Apakah Yudhistira sudah minta izin kepada penulis Mahabarata untuk memakai nama Arjuna? Entahlah.

Makanya, ketika Dhani memendekkan judul lagunya menjadi Arjuna saja, semua aman-aman saja. Yudhistira jelas berat mengklaim diri sebagai penemu nama Arjuna.

Dalam perjalanannya, kejadian: sama judul beda karya, jelas sering terjadi. Kasih Tak Sampai, misalnya, ada lagunya Padi, ada novelnya Marah Roesli. Yang paling baru: Broken Strings. Ada lagunya James Morrison, ada bukunya Aurelie Moeremans. Semua aman-aman saja.

*****

Broken Strings-nya Aurelie sedang menjadi perbincangan hangat awal Januari ini. Sebabnya: Aurelie banyak mengungkit kejadian tidak mengenakkan di masa lalu yang melibatkan orang lain. Secara tersurat dan tersirat, dia juga menyinggung orang lain itu. 

Yah, namanya juga menulis kejadian masa lalu, Aurelie pasti mengandalkan ingatannya. Bisa jadi ingat, bisa jadi tidak. Bisa jadi salah, bisa jadi benar. Bisa jadi pas, bisa jadi kurang atau lebih. Subyektifitasnya jelas tinggi. 

Pun Aurelie punya catatan dalam bentuk diary atau apapun, subyektifitasnya tetap tinggi. Karena pasti dia memandang kejadian dari sudut pandangnya kala itu. Bisa jadi salah paham, bisa jadi tidak. Bisa jadi miskonsepsi, bisa jadi tidak. Tetap subyektif.

Makanya, kita yang membaca buku itu sekarang, tidak bisa langsung menilai kejadian secara lurus-lurus saja. Apalagi langsung menyerang pihak-pihak yang dilibatkan. Butuh informasi pembanding biar adil. Dalam istilah jurnalisme, ini disebut cover both sides. Buku itu harus dibaca secara rasional, jangan emosional.

Minggu, 11 Januari 2026

ESTETIKA DAN ETIKA

Setiap orang punya nilai estetikanya masing-masing. Mulai soal keindahan, kenyamanan, keamanan, hobi, passion, selera, talenta, kegemaran, sampai soal asmara. 

Estetika itu nilai yang sifatnya sangat subjektif. Indah bagi Saya, belum tentu indah bagi orang lain. Nyaman bagi dia, belum tentu nyaman bagi mereka.

Ada yang suka bersepeda; ada yang suka lari. Ada penggemar Real Madrid; ada penggemar Barcelona. Ada yang introvert; ada ekstrovert. Ada yang hobi mancing ikan; ada yang gemar mancing keributan. Macam-macam. 

Selain bersifat subjektif, setiap orang juga punya indepensensi dalam menjalankan estetikanya. 

Terserah orang mau bilang apa, bagi Saya: AC Milan adalah klub sepakbola terbaik. Terserah orang mau bilang talekang atau pamer, bagi dia: lari lalu memposting hasil stravanya di instagram adalah sebuah keharusan. 

Cuma yang menjadi masalah dari estetika adalah sikap egois dan egosentris. Merasa lebih baik dari orang lain dan ingin menjadi pusat perhatian. Parahnya lagi kalau sikap itu sudah mengarah ke mengganggu orang lain. 

Seorang teman, contohnya, dia pernah nongkrong santai di cafe. Lagi asyik-asyiknya, tiba-tiba klub hexom datang ramai-ramai. Mereka duduk, menggabungkan beberapa meja, lalu mengisap hexom bersamaan. Asapnya mengepul dan mengganggu pengunjung lain. Teman yang juga terganggu akhirnya pergi meninggalkan cafe. 

Contoh lain: klub motor yang menerobos lampu merah saat touring. Jelas itu tindakan egois; bahkan sudah egosentris. Betul mereka mengantongi izin touring dari polisi, tapi -yakinlah- mereka tidak punya izin menerobos lampu merah. 

Dan masih banyak contoh lain: pelari dan pesepeda yang mengambil setengah badan jalan padahal tidak sedang event, penggemar musik yang putar lagu keras-keras sampai mengganggu tetangga, pedagang yang jualan di trotoar tempat pejalan kaki. Masih banyak lagi lainnya. 

*****

Nah, karena masih banyak orang yang bablas dalam menjalankan nilai estetikanya, maka beberapa orang perlu berkumpul untuk berdiskusi guna membuat kesepakatan demi kebaikan. Dari hasil diskusi itu, muncullah nilai baru: etika. 

Di Indonesia, sudah banyak dibuat etika: mulai dari yang tidak tertulis sampai tertulis. Mulai dari aturan rumah tangga, kompleks hunian, sekolah, kampus, instansi, sampai negara. Lengkap. 

Mulai dari urusan kencing sembarangan, buang sampah, ugal-ugalan di jalanan, jam masuk kerja, upah kerja, kriminal kelas teri, sampai urusan kriminal kerah putih. Sangat lengkap. 

Cuma yang menjadi masalah dari etika itu satu: keadilan. Apakah bisa diterapkan secara egaliter? Apakah bisa tajam ke atas, bukan cuma ke bawah? Apakah pihak-pihak yang menerapkannya bisa berlaku adil? Itu semua, kalau dijawab, bisa menjadi jawaban atas kebaikan kita di masa depan.