Setiap orang punya nilai estetikanya masing-masing. Mulai soal keindahan, kenyamanan, keamanan, hobi, passion, selera, talenta, kegemaran, sampai soal asmara.
Estetika itu nilai yang sifatnya sangat subjektif. Indah bagi Saya, belum tentu indah bagi orang lain. Nyaman bagi dia, belum tentu nyaman bagi mereka.
Ada yang suka bersepeda; ada yang suka lari. Ada penggemar Real Madrid; ada penggemar Barcelona. Ada yang introvert; ada ekstrovert. Ada yang hobi mancing ikan; ada yang gemar mancing keributan. Macam-macam.
Selain bersifat subjektif, setiap orang juga punya indepensensi dalam menjalankan estetikanya.
Terserah orang mau bilang apa, bagi Saya: AC Milan adalah klub sepakbola terbaik. Terserah orang mau bilang talekang atau pamer, bagi dia: lari lalu memposting hasil stravanya di instagram adalah sebuah keharusan.
Cuma yang menjadi masalah dari estetika adalah sikap egois dan egosentris. Merasa lebih baik dari orang lain dan ingin menjadi pusat perhatian. Parahnya lagi kalau sikap itu sudah mengarah ke mengganggu orang lain.
Seorang teman, contohnya, dia pernah nongkrong santai di cafe. Lagi asyik-asyiknya, tiba-tiba klub hexom datang ramai-ramai. Mereka duduk, menggabungkan beberapa meja, lalu mengisap hexom bersamaan. Asapnya mengepul dan mengganggu pengunjung lain. Teman yang juga terganggu akhirnya pergi meninggalkan cafe.
Contoh lain: klub motor yang menerobos lampu merah saat touring. Jelas itu tindakan egois; bahkan sudah egosentris. Betul mereka mengantongi izin touring dari polisi, tapi -yakinlah- mereka tidak punya izin menerobos lampu merah.
Dan masih banyak contoh lain: pelari dan pesepeda yang mengambil setengah badan jalan padahal tidak sedang event, penggemar musik yang putar lagu keras-keras sampai mengganggu tetangga, pedagang yang jualan di trotoar tempat pejalan kaki. Masih banyak lagi lainnya.
*****
Nah, karena masih banyak orang yang bablas dalam menjalankan nilai estetikanya, maka beberapa orang perlu berkumpul untuk berdiskusi guna membuat kesepakatan demi kebaikan. Dari hasil diskusi itu, muncullah nilai baru: etika.
Di Indonesia, sudah banyak dibuat etika: mulai dari yang tidak tertulis sampai tertulis. Mulai dari aturan rumah tangga, kompleks hunian, sekolah, kampus, instansi, sampai negara. Lengkap.
Mulai dari urusan kencing sembarangan, buang sampah, ugal-ugalan di jalanan, jam masuk kerja, upah kerja, kriminal kelas teri, sampai urusan kriminal kerah putih. Sangat lengkap.
Cuma yang menjadi masalah dari etika itu satu: keadilan. Apakah bisa diterapkan secara egaliter? Apakah bisa tajam ke atas, bukan cuma ke bawah? Apakah pihak-pihak yang menerapkannya bisa berlaku adil? Itu semua, kalau dijawab, bisa menjadi jawaban atas kebaikan kita di masa depan.