Kalau kita membaca sejarahnya: Arab Saudi dari dulu memang membagi dua urusannya. Urusan politik, ekonomi, dan sosial diurus sama kerajaan; agama diurus sama ulama.
Salah satu ulama awal yang disuruh memegang urusan agama: Muhammad bin Abdul Wahab. Dalam pengurusannya, dia banyak melakukan gerakan-gerakan. Gerakan yang kemudian disebut orang-orang sebagai Wahabi atau wahabisme.
Apakah gerakan itu buruk? Dalam perspektif agama, jelas tidak. Karena Wahabi mengembalikan tauhid sebagai pondasi agama.
Contoh: dalam urusan kuburan. Sebelum Wahabi ada, banyak kuburan di Arab Saudi yang dikeramatkan. Mulai dari kuburan Nabi Muhammad, istrinya Aisyah, sampai para sahabat Nabi: Abu Bakar, Umar, dll. Bahkan kuburan-kuburan itu lebih ramai daripada Masjidil Haram.
Wahabi tidak menyukai itu. Apalagi, sejak dulu, Nabi Muhammad sendiri sudah mewanti-wanti: ratakan kuburan! Jangan buat bangunan di atas kuburan! Jangan jadikan kuburanku sebagai berhala!
Wahabi pun mulai bergerak membereskan kuburan-kuburan keramat. Mereka menghancurkan bangunan di atasnya dan meratakannya dengan tanah. Mereka juga menyosialisasikan kepada warga agar tidak menyucikan dan menyembah kuburan.
Kecuali kuburan Nabi Muhammad, Wahabi tidak berhasil mengganggunya. Sebab ada ancaman dari Kekhilafahan Turki Utsmani: kalau bangunan di atas kuburan Nabi Muhammad dihancurkan, Arab Saudi akan diserang habis-habisan.
Tapi Wahabi tidak kehabisan akal. Dia mendesain agar makam Nabi Muhammad tidak mencolok dan kelihatan, sehingga warga bingung mencarinya. Wahabi bahkan menempatkan satpam untuk menjaganya.
Dr. Nurcholis Madjid rahimahullah memuji gerakan Wahabi dalam urusan kuburan itu. Kalau tidak, katanya, sekarang Arab Saudi sudah dipenuhi kuburan keramat.
Yang menarik, Cak Nur sampai bilang: "Kalau diukur dari segi kuburan, orang Protestan itu lebih tauhid daripada orang Islam, sebab orang Protestan tidak terpikir untuk menyembah kuburan. Sebaliknya, orang Islam itu senangnya ke kuburan. Mau jadi pejabat, misalnya, mesti ke kuburan dulu."
*****
Contoh lain: dalam urusan pendidikan agama Islam. Wahabi berusaha agar orang-orang sekarang memahami Al Qur'an dan Hadits sebagaimana pemahaman ulama-ulama terdahulu: ulama mahdzab, ulama hadits sampai ulama pengkaji. Usaha inilah yang dijuluki oleh orang-orang sekarang dengan nama Salafi.
Mereka mewujudkan itu dalam kurikulum dan menyebarkannya melalui sekolah-sekolah mereka. Dalam perjalanannya, kurikulum itu tidak cuma diwujudkan di Arab Saudi, tapi disebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Dalam penyebaran inilah pro-kontra muncul. Ada yang suka dan ada yang tidak. Itu hal yang biasa. Apalagi kalau ulama salafi sudah bicara tentang syirik dan bid'ah, ribut sudah.
*****
Ber-Islamlah sesuai Al Qur'an dan Hadits. Tidak usah ikuti kelompok atau organisasi tertentu. Pun sudah ikut organisasi tertentu, tetaplah berpegang pada Al Qur'an dan hadits. Organisasi hanyalah wadah untuk berdakwah secara lebih solid.
Nahdlatul Ulama, misalnya, sangatlah berbeda jika kita lihat NU di Sulawesi Selatan sama NU di Jawa Timur. Kenapa? NU di Sulsel banyak dipegang sama alumni-alumni Mesir yang jelas sangat berbeda dengan alumni-alumni Tebu Ireng. Tapi mereka tetap jalan dengan wadah NU.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar