Senin, 06 April 2026

Kebenaran Baru

Harus diakui, sejak media sosial mengemuka, muncul kebenaran baru di atas kebenaran.

Apa bedanya? Kebenaran itu berbasis fakta, logika, dan data valid yang terverifikasi (ada metode untuk membuktikannya). Kebenaran itu sifatnya universal: diterima oleh semua orang. Tanpa kecuali. Pun ada yang malu-malu menerimanya atau lama baru mengakuinya.

Adapun kebenaran baru: berbasis persepsi, dipoles dengan framming, dan disebarkan oleh buzzer. Terpola karena pesanan, bisa pula karena egoisme dan fanatisme, bisa jadi juga karena kebencian yang memunculkan ketidaknetralan.

*****

Konflik antar dua pihak, misalnya. Kalau mau cari kebenaran, itu harus betul-betul dikulik faktanya. Apakah ada salah paham antar kedua belah pihak atau memang ada unsur kezaliman (zalim dan dizalimi) di dalamnya. 

Kalau cuma salah paham, bisa ditengahi. Tapi kalau sudah ada kezaliman, yang zalim harus dikritisi dan yang dizalimi harus dibela. 

Tapi kalau yang mau dicari kebenaran baru, persepsi juaranya dibandingkan fakta. Akan muncul para pendukung kezaliman karena fanatisme. Akan timbul para pencela yang terzalimi karena kebencian. 

Dampaknya: informasi perihal kebenaran menjadi tabola-bale. Kebenaran barulah yang muncul.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar