Ketika sistem informasi teknologi berkembang di awal 2000-an, para pakar langsung mengungkap satu kelemahan besarnya: GIGO, garbage in garbage out. Sehebat dan secepat apapun sistemnya, tapi kalau yang di-input sampah, output-nya sampah juga.
Nah, AI (artificial intelligence) ternyata tidak. Beberapa aplikasi AI mampu mengolah sampah menjadi emas: apa yang di-input bisa dikoreksi, direferensi, bahkan sampai dibuatkan output-nya. Ini keren sih! Tinggal dinikmati dan dimanfaatkan saja dengan sebaik-baiknya.
Pun harus diakui, AI belum bisa menggantikan beberapa hal terpenting dari otak manusia: analisa atau intuisi, misalnya. AI mungkin bisa mengolah data keuangan, tapi AI belum mampu menganalisa perilaku manusia di balik data itu: korupsi, kolusi, dll.
AI mungkin mampu mengolah sajak jadi lagu dengan struktur intro, reffrain, melodi sampai ending, tapi AI sepertinya belum bisa bikin lagu serupa Bohemian Rhapsody atau Seven Days yang strukturnya lompat-lompat. Hanya intuisi seorang Freddy Mercury dan Sting yang mampu melakukannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar