Kamis, 19 Juli 2018

Misteri Kematian Aldi di Rumah Ria Irawan


Kasus kematian Raden Mas Rivaldi Soekarno Putro alias Aldi di rumah artis Ria Irawan pada 1993 masih menjadi misteri sampai sekarang. Tidak ada tersangka yang ditetapkan dalam kasus yang superheboh tersebut. Kepolisian bahkan telah menerbitkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) atas kasus tersebut. Pengecualian: Kepolisian akan melanjutkan proses hukum kasus tersebut apabila ditemukan bukti-bukti baru.

Kronologi Kejadian
Malam itu Ria pulang ke rumahnya di Lebak Bulus, Jakarta, bersama kekasihnya Rizal Mantovani. Di dalam rumah ternyata sudah ada Aldi bertamu. Aldi adalah kenalan Ria. Aldi bertamu malam itu karena ingin cari tempat pelarian dan curhat atas masalah pribadi yang menimpanya. Karena tidak enak dan ada perasaan risih, Ria pun menyuruh Rizal tinggal dan nginap menemani Aldi.

Untuk menghangatkan suasana, Ria membuat pisang goreng yang ditaburi bubuk putih gula dan menyajikannya. Aldi pun mulai bercerita sampai semuanya merasa lelah dan kantuk. Ria masuk ke kamarnya untuk tidur, Aldi dan Rizal juga tidur.

Rizal bangun pagi-pagi sekali; bergegas ke kantornya. Dia sempat melihat Aldi seperti orang teler. Sementara itu, Ria juga bangun pagi-pagi untuk persiapan shooting. Lalu kemudian, saat hendak melangkah keluar rumah, alangkah kagetnyaRia melihat tubuh Aldi tergeletak dengan mulut berbusa.

Ria yang panik kemudian memanggil ibunya Ade Irawan dan menelepon kekasinya Rizal. ‘Tak lama, polisi dan dokter datang ke rumah Ria memeriksa kejadian tewasnya Aldi. Penyidikan atas kematian Aldi pun bergulir. Ria dan Rizal harus bolak-balik ke Kepolisian Metro Cilandak untuk pemeriksaan. Para jurnalis juga mencari-cari mereka untuk meminta keterangan.

Akhirnya, kesimpulan atas kematian Aldi ditetapkan karena overdosis narkoba. ‘Tak ada tersangka, disimpulkan Aldi tewas karena kesalahannya sendiri dalam pemakaian narkoba. Rizal kembali bekerja seperti biasa, sementara Ria -atas kesepakatan dengan Kejaksaan- disuruh meninggalkan Indonesia beberapa tahun demi menenangkan suasana. Karir artis cantik pemeran Juminten dalam sinetron Lika Liku Laki-Laki itu pun sedikit-banyak terganggu. Pun dia pulang dua tahun kemudian dan kembali berartis.

Narkoba dan Kematian Aldi        
Bagaimana narkoba membunuh Aldi? Sering para pengguna narkoba tidak mengetahui dosis narkoba yang digunakannya. Sering pula dia tidak tahu kualitas narkoba yang dikonsumsinya, apakah telah di-oplos oleh pengedar dengan bahan-bahan lain atau tidak. Para pengguna langsung saja memakainya dengan cara disuntik, dihisap pakai hidung (sniffing), dihisap bersama rokok (ack-ack) dan dibakar lalu dihisap uapnya (chasing the dragon).

Ketidaktahuan tersebut bisa menyebabkan kematian. Kenapa? Ahli forensik, Dr. Mun’im Idris rahimahullah, menjelaskan bahwa narkoba (berdosis tinggi dan/atau oplosan) yang dikonsumsi, terutama dengan cara dihisap, bisa mengganggu pernapasan; bahkan sampai menyebabkan pembengkakan paruparu. Hal tersebut bisa dicegah dengan memberikan obat naloxone kepada pengguna, namun itu menjadi sia-sia apabila ada zat lain yang bersama narkoba, misalnya alkohol atau bahan-bahan hasil oplosan.

Mengingat Ryan, Lelaki Romantis Berperilaku Sadis

Ryan di balik jeruji (dok. Liputan 6)
“…Suamiku, kuatkan dan bantu aku dalam menghadapi persoalan ini. Suamiku, sakit hatiku kau tinggalkan aku. Suamiku, aku sendiri di sini, semua orang takut padaku dan tidak ada yang menjengukku. Suamiku, aku sangat mencintaimu dan tidak akan mengkhianatimu…,” tulis Verry Idham Henyansyah alias Ryan (30) dalam surat cintanya kepada Noval Andreas (20-an), pasangan gay-nya. Ryan menyuratkan romantismenya dari balik penjara. Dia ditangkap pada 2008 karena kasus pembunuhan berantai terhadap 11 orang.

Cinta Berujung Perilaku Sadis
Cinta Ryan kepada Noval bukanlah cinta biasa. Itu terbukti saat Ryan marah kepada Heri Santoso (40), pengusaha dan juga seorang gay, yang menawarkan uang kepadanya demi bisa tidur dengan Noval. Kemarahan Ryan berujung sadis: dia membunuh Heri, memutilasi tubuhnya, memasukkannya ke dalam tas, dan membuangnya di dekat Kebun Binatang Ragunan, Jakarta Selatan.

Polisi yang memeriksa potongan tubuh itu mengidentifikasinya sebagai Heri. Keterkaitan dengan Ryan berhasil ditelusuri lewat transaksi kartu kredit milik Heri. Ryan ternyata memakai kartu kredit Heri untuk berfoya-foya. Ryan pun ditangkap dan dia mengakui perbuatannya.

Setelah berita Ryan sampai ke kampungnya di Jombang, beberapa laporan warga muncul. Mereka melaporkan kehilangan anggota keluarganya setelah diketahui terakhir bersama Ryan. Polisi bergerak melacaknya. Dan terungkaplah fakta mencengangkan: Ryan ternyata telah membunuh 10 orang di kampungnya dalam rentang waktu 2007 hingga 2008.

Ke-10 orang itu dibunuh Ryan di rumahnya sendiri saat kedua orangtuanya keluar rumah. Ryan yang luwes dan pintar bergaul mengajak korbannya jalan-jalan ke kebun belakang rumahnya. Dia dan korban lalu bercerita tentang apa saja seperti dua orang yang akrab. Saat korban lengah, Ryan memukulnya pakai benda keras. Tubuh korban yang tergeletak langsung dikubur di tempat.

Ke-10 orang itu adalah Vincent Yudi Priyono (31), Ariel Somba (34), Grady Gland Alam Tumbuan (30-an), Guruh Setyo Pramono (27), Agustinus Fitri Setiawan (28), Nanik Hidayati (31), Sylvia Ramadani Putri (3, anak Nanik), Muhammad Aksoni (29), Zainal Abidin (21), dan Muhammad “Aldo” Asrori (20-an). Motifnya? Kuat dugaan ketersinggungan sebagaimana motif Ryan saat menghabisi Heri.

Cerdas Tapi Bersikap Labil
Ryan lahir di desa Jatiwates, Jombang, 1 Februari 1978. Seorang janda bernama Kasiyatun telah mengandung Ryan empat bulan saat Akhmad Maskur, satpam perusahaan gula, menikahinya. Ryan memiliki kakak dari pernikahan ibunya terdahulu bernama Mulyo Wasis.

Saat bersekolah di SDN 2 Jatiwates, Ryan diakui oleh guru-gurunya memiliki kecerdasan di atas rata-rata dan berprestasi. Namun perilaku Ryan berubah saat bersekolah di SMPN 1 Tambelang. Ryan menjadi lebih feminin, memilih bergaul dengan perempuan, dan hobi menari. Sempat masuk SMAN 1 Jombang, Ryan akhirnya berpindah-pindah SMA karena sikapnya yang labil. Hingga takdir pun membawanya ke Jakarta.

Di Jakarta, Ryan ngekost. Untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari, Ryan bekerja di Marcella Gymnastic. Ryan akhirnya dipecat karena kedapatan mencuri ponsel milik anggota gym. Entah bagaimana jalannya, Ryan pun bergaul dengan komunitas gay dan memiliki Noval Andreas sebagai kekasihnya.

Kini, pada 2018, Ryan murung di balik jeruji. Peninjauan Kembali yang diajukannya ditolak. Di usianya yang ke-40, dia pun menanti vonis matinya. Kematian itu memang pasti, tapi jelas berbeda bagi orang yang telah mengetahuinya. Dan kita hanya bisa berempati dan berdoa: semoga di sisa kehidupannya, Ryan lebih bermanfaat bagi dirinya dan orang lain!

Mengenang Freddy Budiman, Sang Bandar Narkoba

Freddy Budiman dan anggota BNN (dok. Tempo)
Ketika Freddy Budiman ditangkap Polda Metro Jaya pada 2009 karena Sabu 200 kilogram, masyarakat belum terpana dengannya. Padahal, turut ditangkap bersamanya dua aparat: Aibda Sugito dan Bripka Bahri. Ketiganya dibui sembilan tahun. Freddy ditempatkan di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang.

Ketika pada 2012 Freddy diketahui menjadi salah satu dalang penyelundupan 1,4 juta butir ekstasi asal Cina ke Indonesia, mata masyarakat dan sorotan jurnalis mulai tertuju kepadanya. Terlebih, pria asal Surabaya itu mengendalikan penyelundupan dari balik jeruji melalui telepon, meskipun larangan komunikasi masuk dalam salah satu larangan Freddy selama dalam Lapas.

Atas penyelundupan itu, Freddy divonis mati Pengadilan. Enam teman yang membantunya sebagian divonis mati; sebagian lain divonis seumur hidup. Satu aparat yang terlibat, Serma Supriadi, divonis tujuh tahun penjara plus pemecatan.

Yang paling mencengangkan, pada 2013, Freddy terciduk memiliki pabrik sabu di dalam Lapas. Freddy bahkan bebas didatangi teman perempuannya; bahkan sampai ngeseks. Wakil Kepala Lapas Cipinang, Gunawan Wibisono, yang terbukti membantunya divonis delapan tahun penjara.

Terakhir, pada 2015, Freddy diketahui juga menjadi dedengkot impor sabu dari Belanda. Empat peluncurnya dihukum seumur hidup dan 20 tahun penjara, termasuk Johni Suhendra, adik kandung Freddy. Johni diketahui menjadi pengendali pabrik sabu Freddy di Cengkareng, Jakarta Barat.

Pada Jumat, 29 Juli 2016, eksistensi Freddy akhirnya berakhir. Dia dieksekusi mati. Ada hal yang menarik: Polisi mencatat nilai transaksi narkoba Freddy selama menjadi bandar mencapai puluhan milliar rupiah. PPATK bahkan menemukan transaksi ratusan milliar yang diduga berafiliasi dengan Freddy. Namun, fakta-fakta tersebut ‘tak pernah terungkap. Tenggelam seiring wafatnya Freddy.

Padahal, sebelum wafat, Freddy sempat bilang kepada Haris Azhar (Koordinator Kontras) yang kemudian diposting di dinding Facebook Kontras, “Kalau saya ingin menyelundupkan narkoba, saya tentu acarain (atur) itu. Saya telpon Polisi, BNN, Bea Cukai. Dan orang-orang yang saya telpon itu semuanya nitip (menitip harga).”

Rabu, 23 Mei 2018

Habibie dan Mimpi Pesawat Nasional

Pak Habibie dan replika R80 (dok. Tribun)
Dulu, Indonesia hampir mewujudkan mimpi punya pesawat sendiri. Habibie yang berusia 50-an tahun kala itu menjadi dedengkot. Melalui program Industri Pesawat Terbang Nasional (IPTN) yang diinisiasi pemerintah, pesawat N250 bermesin baling-baling dengan kapasitas 50-70 penumpang disiapkan. Pesawat itu bahkan telah uji-coba terbang lebih dari 1.000 jam. Artinya apa, N250 sudah layak dapat sertifikasi FAA untuk kemudian diproduksi massal dan dipasarkan.

Namun apa daya, semuanya buyar. Saat krisis ekonomi 1998 menerpa Indonesia, keuangan negara terganggu. IMF yang turun tangan membantu, memberi syarat yang tidak berpihak: hentikan semua program industri nasional, termasuk IPTN. Pesawat N250 yang dirancang sepuluh tahun oleh insinyur-insinyur lokal itu pun menjadi arsip.

Kini, di usia Habibie yang menginjak 80-an tahun, mimpi membuat pesawat nasional masih menggelora. Rancangan pesawatnya pun sudah ada: R80. Pesawat model ATR bermesin baling-baling itu diproyeksikan melayani rute jarak pendek yang sekarang permintaannya sedang meningkat di pelbagai provinsi di Indonesia.

Ilham Habibie, anak Habibie, menjelaskan beberapa keunggulan R80 dibandingkan pesawat sejenis merk lain: kapasitas penumpang lebih besar, bahan bakar lebih irit, dan bisa mendarat di landasan pacu yang pendek.

Namun tantangan terberat ada pada biaya. Proyek pengadaan R80 butuh dana yang tidak sedikit: sekira Rp 20 trilliun. Pemerintah hanya mampu menyiapkan fasilitas, belum sepakat menyiapkan dana. Warga yang ribut-ribut saweran melalui Kitabisa.com pun baru mampu mengumpulkan Rp 6 milliar, jauh dari yang dibutuhkan.

Apakah mimpi pesawat nasional akan terwujud? Kita lihat saja nanti. Doakan!

Atlet Lari yang Menjadi Raja Bisnis Properti

Ciputra (dok. SWA)
Tjie Tjin Hoan lahir di Parigi, Sulawesi Tengah, 24 Agustus 1931. Bersama tujuh saudaranya, hidup Tjie cukup bahagia. Hingga ayahnya ditangkap Jepang, hidup keluarganya pun mengalami kesusahan. Sampai-sampai Tjie berjuang mencari binatang di hutan untuk makanan keluarganya.

Meskipun hidup susah, Tjie mampu melanjutkan sekolahnya di SMP dan SMA Don Bosco Manado. Di sekolah itu, Tjie berprestasi dalam bidang olahraga lari. Dia bahkan mewakili Sulawesi Utara pada Pekan Olahraga Nasional 1951 di Jakarta. Prestasi dan kerja keras jugalah yang membuat Tjie mampu melanjutkan sekolahnya di Jurusan Arsitektur di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Selesai kuliah, Tjie bersama dua temannya sepakat membuat CV di Bandung yang menawarkan jasa arsitektur. Tjie berpromosi dari pintu ke pintu, mencari orang yang mau memakai jasanya. Namun usahanya berjalan di tempat, hingga Tjie sudah beristri dan punya anak, CV-nya masih begitu-begitu saja. Tjie pun memutuskan memboyong keluarganya ke Jakarta.

Tjie yang kemudian dikenal dengan nama Ciputra sepertinya berada di tempat yang tepat pada saat yang tepat. Saat dia di Jakarta, Gubernur Soemarsono ternyata punya program untuk membenahi Jakarta. Ciputra pun mencium sebuah peluang. Berkat bantuan orang dalam Gubernuran, Ciputra berhasil menemui Gubernur Soemarsono dan mempresentasikan programnya untuk membenahi Jakarta. Sang Gubenur kagum dan kemudian memberikan tanggung jawab kepada Ciputra untuk membenahi Kawasan Senen. Ciputra setuju.

Pada 3 September 1961, perusahaan pun didirikan dengan nama PT Pembangunan Ibukota Jakarta Raya (Pembangunan Jaya). Proyek pertamanya membenahi Kawasan Senen. Ciputra dan timnya berdarah-darah mengelola proyek Senen. Mereka harus dipusingi oleh pedagang kaki lima yang ‘tak mau digusur dan para makelar tanah. Beruntung dukungan datang dari Gubernur baru Ali Sadikin, proyek Senen pun berjalan lancar tampa hambatan.

Selanjutnya, proyek pembangunan Jakarta dipercayakan oleh Gubernur Ali kepada Pembangunan Jaya tanpa tender, diantaranya proyek lima terminal: Blok M, Grogol, Tanjung Priok, Cililitan, dan Kramat Jati, pembangunan kompleks Balaikota setinggi 24 lantai, dan pembangunan Kawasan Ancol (Dufan). ‘Tak hanya proyek properti, Gubernur Ali juga mempercayakan hal-hal lain kepada Ciputra melalui Pembangunan Jaya, seperti pengembangan olahraga dan pendirian Majalah Tempo.

Selanjutnya, Ciputra banyak menggandeng pengusaha besar untuk membuat perusahaan properti dan menggarap proyek-proyek. Salah satunya pengusaha Sudono Salim (Liem Sioe Liong) dari Salim Group melalui perusahaan PT Metropolitan Development dan pengusaha Eka Tjipta Widjaya dari Sinar Mas. Mereka menggarap proyek perumahan elit di Jakarta: Pondok Indah, Bumi Serpong Damai, Bintaro, Pantai Indah Kapuk, dan lainnya.

Pada 1996, Ciputra mengundurkan diri dari Pembangunan Jaya. Dia konsen membangun perusahaannya sendiri, Grup Ciputra. Grup yang kemudian dibesarkannya setelah mampu melewati badai krisis ekonomi 1998. Kini, Grup Ciputra punya ratusan rekanan untuk menggarap properti di seluruh kawasan Indonesia, bahkan sampai ke luar negeri. “Dengan menjadi pengusaha, kamu memiliki kemerdekaan menciptakan keinginanmua sendiri,” kata Ciputra yang juga akrab disapa Pak Ci’.

Referensi: The Passion of My Life, Biografi Ciputra; Ciputra, From Hero to Zero, oleh Maskur Anhari; Wikipedia.

Raja Agrobisnis Ini Cuma Tamatan SD di Makassar

Eka Tjipta (dok. Sinar Mas Group)
Pada 1932, Oei Ek Tjhong kecil berlabuh di kota Makassar bersama ibunya setelah berlayar tujuh hari tujuh malam dari Cina. Di Makassar, Oei menyusul ayahnya yang telah lebih duluan tiba dan telah membuka sebuah toko kecil.

Toko ayahnya maju; Oei pun minta disekolahkan. Sayangnya, keadaan ekonomi dan politik Indonesia yang labil karena keberadaan penjajah membuat Oei menyelesaikan sekolahnya hanya sampai SD. Oei kemudian membantu ayahnya berdagang. Dia juga menjadi pejuang kemerdekaan Indonesia.

Oei berdagang apa saja yang bisa dijual: gula-gula, kue, dan hal-hal kecil lainnya. Bahkan, perlahan-lahan, dia naik tingkat dari penjual ke pemasok. Jualannya pun semakin berkembang. Karena besarnya, Oei membeli becak untuk mobilisasi barang.

Dari gula-gula dan kue, Oei kemudian menjadi penjual terigu, beras, bahkan semen. Kesuksesan usaha Oei terjadi ketika dia menjadi pengusaha minyak kelapa dengan menguasai lini dagang dari bahan baku kopra di Selayar sampai diolah menjadi minyak. Namun semua bisnisnya habis ketika pemberontakan Permesta terjadi di Makassar dan daerah Sulawesi Selatan lainnya. Eka pun harus memutar otak menafkahi keluarganya.

Setelah bisnisnya hancur di Makassar, Eka dan keluarganya memutuskan merantau ke Surabaya. Dia mencoba terjun ke bisnis agro. Kerja keras Eka menuai hasil hingga akhirnya memiliki kebun kopi dan karet di daerah Jember. Bisnisnya kemudian maju dan berkembang.

Di tengah kesuksesan, Eka melakukan ekspansi besar-besaran: membeli kebun dan pabrik teh, kebun dan pabrik kelapa sawit, pabrik kertas, dan lainnya. Pabrik-pabrik itu dinaungi perusahaan bernama PT Tjiwi Kimia, PT Asia Pulp & Paper, dan PT Indah Kiat Pulp & Paper. Produk kertasnya sangat terkenal: Sinar Dunia.

Perusahaan-perusahaan tersebutlah yang menjadi cikal-bakal terbentuknya grup usaha besar bernama Sinar Mas Group. ‘Tak hanya eksis di agrobisnis, kini Sinar Mas Group telah melebarkan sayap ke semua sektor usaha: keuangan (Bank Sinar Mas, Asuransi Sinar Mas, dll.), telekomunikasi (smartfren), media (Orange TV), properti (BSD City, Damai Indah Golf, dll.), dan lainnya.

Kini, Sinar Mas Group telah dikelola oleh anak-cucu Eka Tjipta Widjaja. Perjuangan Eka kini dinikmati oleh keturunannya. “Apapun kesulitan yang dihadapi, asalkan memiliki keinginan untuk berjuang, pasti semua kesulitan dapat diatasi.” (Eka Tjipta Widjaja)

Referensi: Wikipedia.com, Biografiku.com, viva.co.id.

Mengenal Maestro Bisnis Perbankan Indonesia

Mochtar Ryadi (dok. Imam Jawa Pos)
Sejak duduk di Sekolah Dasar, Lie Moe Tie selalu terkesima dan heran melihat sebuah gedung megah berisi orang-orang berpenampilan rapi sedang sibuk bekerja. Anehnya, di dalam gedung itu ‘tak terlihat barang dagangan yang dijual. Lie pun menanyakan hal tersebut kepada Kepala Sekolahnya, Pak Loe kemudian menjawab, “Itu adalah bank milik Belanda.” Untuk menjawab rasa herannya, dalam diri lelaki kelahiran Malang, 12 Mei 1929 itu pun terpatri cita-cita untuk menjadi bankir.     
 
Cita-cita Lie yang kemudian mengganti namanya menjadi Mochtar Riady tersebut kesampaian pada usia 30, tepatnya pada 1959. Dia diperkenalkan oleh temannya dengan saudagar asal Bugis, Andi Gappa, yang juga saudara kandung Jend. M. Jusuf. Andi Gappa memiliki sebuah Bank bernama Bank Kemakmuran dan dia ingin Mochtar membeli saham Bank tersebut dan mengendalikannya. Mochtar sepakat membeli 66 persen saham dan menjadi Presiden Direktur Bank Kemakmuran.

Di tangan Mochtar, Bank Kemakmuran mengalami progress yang cukup baik. Namun unsur nepotisme yang melibatkan Komisaris Bank dalam penyaluran kredit mulai terjadi. Walhasil, kredit macet Bank Kemakmuran meningkat; Mochtar mundur dari jabatannya dan menjual sahamnya karena ‘tak mampu mengendalikan pihak-pihak dalam bank yang nakal.

Pada 1963, Mochtar berkenalan dengan Oey Guan Chang, Ketua Asosiasi Pengusaha Tekstil. Setelah dibujuk Mochtar, Oey tertarik membuat bank. Keduanya pun sepakat membeli Bank Buana yang tengah dibelit krisis. Di tangan Mochtar, Bank Buana menjadi empat besar bank terbaik dan mampu bertahan ketika terjadi krisis ekonomi 1965.

Saat krisis terjadi dalam kurun waktu 1965-1966, banyak bank-bank yang mengalami masalah. Sebagian besar bangkrut; sebagian lagi selamat karena dibeli bank yang sehat. Bank Buana yang sehat ‘tak ketinggalan melakukan pembelian bank krisis. Bank Kemakmuran (bank pertama Mochtar) dan Bank Industri dan Dagang Indonesia (BIDI) menjadi pilihan. Walhasil, ada tiga bank yang dikelola langsung oleh Mochtar. Semuanya dikelola Mochtar dengan baik dan sehat.

Pada 1971, Bank Indonesia mengeluarkan kebijakan untuk mengurangi jumlah bank yang dianggap terlalu banyak. Salah satu caranya adalah bank-bank disuruh merger (bersatu). Mochtar sepakat untuk melakukan hal tersebut. Setelah bicara dengan para pemegang saham, dua bank (Bank Kemakmuran dan BIDI) sepakat bergabung; Bank Buana memilih jalan sendiri.

Penggabungan Bank Kemakmuran dan BIDI melahirkan bank baru bernama Pan Indonesia Bank atau dikenal dengan Panin Bank. Panin Bank menjadi bank merger pertama di Indonesia. Kantor barunya didesain sangat modern. Panin Bank pun menjelma menjadi bank swasta terbesar di Indonesia mengalahkan Bank Buana.

Kejayaan Panin Bank berlangsung singkat; masalah besar terjadi. Orang dalam Panin Bank melakukan kegiatan bank dalam bank. Kalau ada untung, orang itu mengambilnya; tapi kalau rugi, Panin Bank yang dikorbankan. Kredit macet dalam jumlah besar pun terjadi. Kepercayaan masyarakat menurun; bahkan sampai pada tindakan rush (ramai-ramai menarik tabungan dari bank). Panin Bank disoroti; Mochtar pasang badan dan menjelaskannya kepada Bank Indonesia. Kasus ini berujung pada mundurnya Mochtar dari Panin Bank.

Keluar dari Panin Bank, jiwa bankir Mochtar masih bergelora. Geloranya bahkan makin menggila: Mochtar ingin membuat bank kliring yang mewadahi transaksi internasional, serupa Bank of England di Inggris atau Federal Reserve Bank di Amerika Serikat. Dan gelora itu terwujud pada 1975 ketika Mochtar bertemu dengan Liem Sioe Liong, pengusaha yang dekat dengan Presiden Soeharto. Mochtar mengutarakan maksudnya kepada Liem. Liem paham dan menawarkan satu dari tiga bank milik Liem untuk dikelola Mochtar: Bank Windu Kencana, Bank Dewa Ruci, dan Bank Central Asia. Mochtar memilih BCA yang sahamnya juga atas nama putra-putri Soeharto.

Di tangan Mochtar, BCA mengalami reformasi manajemen. Konsultan asing bahkan didatangkan untuk mewujudkannya. Akhirnya, management by system terwujud; BCA siap melaju. “Masalah besar harus diatasi dengan tekun dan bijak agar menjadi kecil dan mudah diselesaikan dengan baik,” prinsip Mochtar mengutip perkataan Laozi.

Dalam perjalanannya, BCA menjadi bank swasta terbesar di Indonesia. Gudang Garam dan Unilever menjadi nasabah prioritasnya. Beberapa keputusan besar juga dilakukan: membeli Bank Gemari untuk mendapatkan izin sebagai bank kliring dan bank devisa, merilis BCA Card (kartu kredit pertama di Indonesia), membeli saham Union Planters dan bersama-sama membuka perusahaan keuangan di Hongkong, membuka cabang di New York, dan lainnya.

Lima belas tahun bersama BCA dan berhasil menyukseskannya, Mochtar akhirnya mengundurkan diri pada 1991. BCA yang awalnya beraset Rp 998 juta telah dikembangkannya menjadi Rp 7,5 trilliun. Sekeluar dari BCA, Mochtar selanjutnya mendirikan bank sendiri bernama Lippo Bank. Meskipun berpisah, BCA dan Lippo Bank jalan seiring bersama dalam bisnis perbankan Indonesia.
Lippo Bank adalah cikal bakal dari bisnis Lippo Group yang besar. Saat ini mereka telah memiliki ragam bisnis di segala sektor: keuangan (Lippo Bank, Asuransi Lippo Life, dll.), properti (Lippo Cikarang, Lippo Karawaci, Sentul City, dll.), sekolah (Pelita Harapan, Dian Harapan, dll.), rumah sakit (Siloam Hospital), pemakaman (San Diego Hills), industri (Lippo Industrie) dan lainnya. Anak-anak Mochtar menjadi pewarisnya: Rosy Riady, Andrew Riady, Stephen Riady, dan James Riady.

BCA kini menjadi salah satu anak usaha dari Salim Group, milik Liem Sioe Liong (berganti nama menjadi Sudono Salim) dan anak-anaknya: Albert Salim, Andre Salim, Anthony Salim, dan Mira Salim. Salim Group juga mempunyai ragam usaha di segala sektor. Selain BCA, beberapa yang terkenal adalah Indofood (produsen Indomie), Bogasari (produsen terigu yang berafiliasi dengan Sari Roti), Indosiar (media televisi, tapi telah dijual), Indomaret (minimarket), Indomobil (dealer Suzuki), dan lainnya.

Bank Buana dan Panin Bank masih eksis sampai sekarang. Bank Buana telah dibeli oleh investor perbankan asal Singapura dan berubah nama menjadi Bank UOB. Panin Bank, meskipun tenggelam namanya di Jakarta, tapi mereka kokoh di kawasan Indonesia timur, kawasan tempat lahir leluhurnya Andi Gappa. Ony Gappa rahimahullah, keturunan Andi Gappa, adalah sosok yang membesarkan Panin Bank di Indonesia timur.

Demikianlah, Mochtar telah menjadi maestro bisnis perbankan di Indonesia, terkhusus bank-bak swasta. Terkait bisnis perbankan, Mochtar punya kalimat bijak, “Modal utama bisnis perbankan adalah kepercayaan yang tidak terbatas. Kualitas pelayanan harus dapat ditingkatkan setiap saat. Prinsip dan keyakinan inilah yang menentukan keberhasilan saya di dunia perbankan.”
Bisnis perbankan adalah jual-beli kepercayaan, bukan jual-beli uang!

Referensi: Buku Manusia Ide: Otobiografi, oleh Mochtar Riady.