Senin, 21 Mei 2012

Libur Panjang di Bandung

KAMIS, 17 Mei 2012, saya dan rombongan teman kantor berjalan-jalan ke Bandung. Pagi-pagi sekali kami sudah berada di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar untuk terbang menuju Jakarta. Dari Jakarta, kami naik bis ke Bandung dengan jarak tempuh 140 kilometer dalam waktu sekira tiga jam lamanya. Bis yang kami tumpangi secara cepat menyusuri jalanan tol yang sangat panjang dan bercabang.

Jujur, baru kali ini penulis menyusuri dan melihat jalanan tol sepanjang itu. Di Makassar sendiri sudah ada jalanan tol, tapi pendek dan hanya digunakan pengendara sebagai akses cepat menuju bandara. Beda dengan yang penulis lalui menuju Bandung, jalanan tolnya benar-benar menghubungkan daerah satu dengan daerah-daerah lain yang jauh.

Jalanan tol menuju Bandung [foto: Muhardi]
Sepanjang perjalanan, kami dapat melihat pemandangan kota, desa, sawah, sungai dan gunung-gunung hijau yang menghampar. Sayang sebagian dari gunung-gunung itu telah hancur menganga karena dieksploitasi perusahaan tambang. Di sisi jalanan, banyak tersedia tempat singgah yang disebut Rest Area. Di situ tersedia toilet, check point kendaraan dan tempat makan-minum, dari yang sederhana sampai yang elit.    

Penulis benar-benar takjub melalui jalan tol itu dan bersyukur bisa menikmatinya. Perjalanan yang menyenangkan. Mengikuti istilah yang lagi tren, penulis menyebutnya joytour. Alhamdulillah tidak setragis joyflight. Turut berduka atas kejadian tragis itu.  

BANDUNG kota tujuan kami adalah ibukota Provinsi Jawa Barat. Kota yang dikelilingi pegunungan itu berdiri di atas tanah dengan kontur sebagian pebukitan dan sebagian dataran. Dua aliran sungai mengalir di tengah-tengahnya: sungai Cikapundung dan sungai Citarum.

Dengan kontur tersebut, Bandung ditumbuhi pohon-pohon dan bunga-bunga dengan sangat suburnya. Suhu juga cukup dingin, terlebih kalau turun hujan. Namun dengan semakin padatnya bangunan dan penduduk, suhu dingin pun perlahan semakin berkurang. Maklum saja, Bandung adalah kota Metropolitan yang penuh aktifitas dengan penduduk ketiga terpadat setelah Jakarta dan Surabaya.

Suasana kota Bandung dari atas [foto: Muhardi]
SAYA pernah memijaki tiga kota dengan kontur seperti Bandung: Parepare sama Soppeng di Sulawesi Selatan dan Baubau di Sulawesi Tenggara. Dugaan saya: tata letak kota Bandung tidak jauh beda dengan ketiga kota itu. Dan ternyata dugaan saya benar. Cuma bedanya, Bandung lebih rapi dan elit. Banyak bangunan yang desainnya unik dan cantik serta mengandung unsur sejarah yang kuat.

Satu lagi perbedaannya, kota Bandung jauh lebih hijau. Hampir di setiap sisi jalanan dan di halaman-halaman bangunan berdiri pohon-pohon besar berdaun rindang. Cukup memberikan kesejukan dan oksigen segar untuk dihirup. Pemerintah Kota Bandung juga membangun beberapa taman kota yang semakin menambah kehijauan dan kesejukan kota. Lingkungan hijau setidaknya mampu menyerap polusi dari kendaraan di jalanan-jalanan Bandung yang padat merayap, macet.

Suasana jalanan di Bandung
Persoalan macet memang menjadi lazim di kota, apalagi kota sekelas Bandung yang tiap akhir pekan menjadi sasaran invasi para wisatawan, dari dalam maupun luar kota. Terlebih beberapa jalanan di Bandung memang berukuran sempit. Sepertinya memang tidak ada solusi lain selain kendaraan harus dibatasi.

BANDUNG memang layak dijadikan kota tujuan wisata. Di kota yang dipimpin walikota Dada Rosada itu, segala bentuk wisata lengkap tersedia: wisata alam, wisata kuliner dan wisata belanja, bahkan wisata sejarah pun ada. Kami melakukan semua jenis wisata itu.

Untuk wisata alam, kami mengunjungi gunung Tangkuban Perahu pada Jumat, 18 Mei 2012. Gunung jenis stratovulcano ini merupakan gunung api aktif yang masuk dalam pengawasan Direktorat Vulkanologi Indonesia. Tanda keaktifan gunung ini adalah letusan lava dan sulfur yang dikeluarkannya, meskipun dalam skala kecil. Gunung ini juga mengeluarkan uap belerang yang baunya sangat menyengat.

Kawah gunung Tangkuban Perahu
Saat kami kunjungi, Tangkuban Perahu ramai dikunjungi wisatawan dari dalam maupun luar negeri. Kawah di tengah gunung memang memberikan pemandangan yang luar biasa. Di sekeliling kawah kehidupan ekonomi sangat bergairah. Jajaran kios-kios kecil menjajakan makanan dan barang-barang kerajinan khas Bandung.

Perusahaan swasta yang mengelola wisata Tangkuban Perahu juga memberikan fasilitas yang lengkap: toilet yang bersih dan tempat ibadah yang cukup luas. Namun satu hal yang setidaknya mengganggu kenyamanan kami adalah mobil-mobil yang dibiarkan naik sampai ke puncak. Menurut kami, seharusnya mobil-mobil itu ditaruh tidak di lokasi dekat dengan kawasan kawah karena menyebabkan kesemrawutan. Tapi secara keseluruhan, kawasan wisata Gunung Tangkuban Perahu memberikan kepada kami kesan yang mendalam.

Parkir semrawut di puncak Tangkuban Perahu
Untuk wisata kuliner, kami menikmati makanan khas Sunda di beberapa restoran: Wibisana, Praoe, Saung Balibu dan Warung Nasi. Yang khas dari makanan Sunda adalah rasa manisnya yang mendominasi. Sayur, ayam, ikan, semuanya disajikan manis, bahkan sambalnya pun manis. Tapi enak, dan kami menikmatinya.

Selain makanan khas, Bandung juga punya roti dan kue khas yang dijual di toko terkenal bernama Kartika Sari yang tersebar di beberapa titik di kota Bandung. Saya menyempatkan diri ke toko itu di kawasan Dago dan membeli roti molen pisang dan kue brownies.

Makanan khas lain asal Bandung adalah siomay, cimol, batagor, peuyeum dan 'peuyeumpuan'. Weits....untuk kue yang terakhir itu lain, hehehehe. Ya, bagi laki-laki normal, perempuan Bandung memang cukup berkesan. Kata teman: dari 10 perempuan Bandung, rata-rata cantik, beda dengan kota lain yang hanya satu-dua yang cantik. Teman yang lain berkata: kalau dua perempuan Bandung berjalan, empat yang cantik, karena bayangannya pun cantik. Ah lebay. Tapi memang, saya telah membuktikannya, neng gelis eui...  

Pasar Baru, kawasan belanja di Bandung yang termurah
Untuk wisata belanja, Bandung menyediakan banyak lokasi, diantaranya Pasar Baru, Cihampelas, dan Dago. Tidak salah Bandung disebut sebagai Paris van Java, maksudnya kota Paris yang ada di pulau Jawa. Apa hubungannya Bandung dengan Paris? Ya, keduanya sama-sama kota mode. Warga Bandung -terutama anak muda- sangat modis dan memerhatikan penampilan, terkhusus dalam hal pakaian. Makanya di Bandung sangat marak toko-toko pakaian.

Gedung Sate
Untuk wisata sejarah, Bandung memiliki banyak bangunan dan kawasan peninggalan Belanda yang didesain bergaya eropa, seperti gedung Bank Indonesia, gedung Sate, gedung Merdeka di jalan Asia-Afrika, kawasan Braga dan lainnya. Kesemua bangunan itu mengandung unsur sejarah yang kuat dan membuat pengunjungnya seakan-akan berada di sebuah tempat di luar Indonesia. 

SABTU siang, 19 Mei 2012, kami kembali ke Jakarta. Liburan panjang di Bandung yang cukup berkesan. Dan sepertinya kami tidak akan menolak jika ada ajakan lagi menuju ke sana.

Selasa, 15 Mei 2012

70 Tahun Jusuf Kalla: 15 Mei 1942 - 15 Mei 2012

JK bersama Direksi dan Staf PT Hadji Kalla [foto: Widi Anugrah]
15 Mei 1942: Muhammad Jusuf Kalla lahir di kota Watampone, Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan. Ayahnya bernama Kalla dan Ibunya bernama Athirah.

1942-1950: JK menghabiskan masa kecilnya di kota Watampone. Seperti anak kecil lainnya, JK bermain, belajar di sekolah dasar dan mengaji diajari oleh ibunya. JK juga sesekali membantu ayahnya berdagang di sebuah kios di Pasar Bajoe.

1952: JK dan keluarganya pindah ke kota Makassar dan mendirikan perusahaan dagang bernama NV Hadji Kalla Trading Company.

1952-1960: JK menjalani masa sekolah di Sekolah Islam Datumuseng Makassar dan melanjutkannya di SMA Negeri 3 Makassar. Saat menjadi siswa, JK aktif di organisasi Pemuda Pelajar Islam (PII) Sulawesi Selatan dan kemudian menjadi Ketua di organisasi itu. Di SMA pula, JK pertama kali bertemu dan jatuh hati kepada Mufidah.

1960-1967: JK menjadi mahasiswa di Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin (FE Unhas) Makassar. Saat menjadi mahasiswa, JK aktif di pelbagai organisasi, dari organisasi jurusan, fakultas, senat, sampai organisasi mahasiswa se-Sulawesi Selatan: Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). JK kemudian menjadi Ketua di organisasi-organisasi tersebut.

Pada masa kuliah pula, JK melakukan pendekatan kepada Mufidah. Contohnya: Saat Mufidah kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar sambil bekerja di bank sebagai teller, JK mendaftar sebagai asisten dosen di UMI dan menabung di bank tempat Mufidah bekerja. Usaha JK akhirnya berhasil. JK dan Mufidah bertunangan pada 1966.

1967: JK selesai menempuh pendidikan di FE Unhas dan memperoleh gelar Dokturandus. Selanjutnya, JK bekerja membantu ayahnya di NV Hadji Kalla Trading Company sebagai karyawan kemudian naik menjadi manajer. Di tahun ini juga, JK menikahi Mufidah.

1968: JK mewarisi penuh perusahaan ayahnya dengan menjadi Direktur Utama. Tugas JK cukup berat karena perusahaan yang diwariskan ayahnya saat itu sedang terimbas krisis ekonomi 1965. JK kemudian berhasil menyelamatkan perusahaan warisan ayahnya yang berbasis di makassar itu dari krisis menjadi kelompok usaha dinamis yang saat ini kita kenal dengan nama Kalla Group.

Kalla Group kini telah menjadi kelompok usaha mapan yang bergerak di ragam sektor bisnis: otomotif, properti, konstruksi, pembiayaan, pendidikan, dan energi. Gedung perkantoran Wisma Kalla di jalan Dr. Sam Ratulangi Makassar menjadi tanda kemapanan Kalla Group.

Pada tahun ini pula, JK dikaruniai anak pertama yang diberi nama Muchlisa Jusuf. Lisa kini adalah istri dari Susanto Supardjo dan ibu dari Ahmad Fikri, Masyitah dan Jumilah Saffanah. Bersama keluarganya, Lisa mengembangkan bisnis sendiri dan menjadi komisaris di beberapa perusahaan Kalla Group. Lisa sekeluarga menetap di London, Inggris.

1969: JK dikaruniai anak kedua yang diberi nama Musjwirah Jusuf. Ira kini adalah istri dari Langlang Wilangkoro dan ibu dari Emir Thaqib. Ira menduduki posisi komisaris di beberapa perusahaan Kalla Group, sedangkan suaminya menjadi direktur di perusahaan yang mengurusi pesawat pribadi Jusuf Kalla. Ira sekeluarga menetap di Jakarta.

1971: JK dikaruniai anak ketiga yang diberi nama Imelda Jusuf. Imelda kini adalah istri dari Zumadi Anwar dan ibu dari Rania Hamidah dan Aisha Kamilah. Imelda menduduki posisi Direktur Keuangan di beberapa perusahaan Kalla Group, sedangkan suaminya menjadi direktur Utama juga di beberapa perusahaan Kalla Group. Imelda sekeluarga menetap di Makassar.

1973: JK membantu Aksa Mahmud, suami adiknya Ramlah Kalla, mengembangkan CV Moneter. CV inilah yang kemudian berkembang menjadi kelompok usaha Bosowa Group yang kini telah sukses bergerak di ragam sektor bisnis: otomotif, properti, konstruksi, pembiayaan, energi, semen, agrobisnis, dan hotel. Gedung perkantoran Menara Bosowa di jalan Jend. Soedirman Makassar menjadi tanda kesuksesan Bosowa Group.

1975: JK dikaruniai anak keempat yang diberi nama Solichin Jusuf. Ihin adalah suami dari Pinkanova dan ayah dari Siti Shafiyah, Rasheed, Maliq Jibran dan Khalila Azeeza. Ihin menduduki posisi direktur dan komisaris di beberapa perusahaan Kalla Group dan Bukaka Group, dia juga adalah sosok yang membawa radio Prambors masuk ke Makassar, sedangkan istrinya adalah ibu rumah tangga. Ihin sekeluarga menetap di Jakarta.

1977: JK mengikuti sekolah bisnis di The European Institute of Business Administration Fountainebleu, Prancis, guna meningkatkan keilmuannya di bidang bisnis.

1979: JK bertemu Fadel Muhammad, lulusan terbaik Fakultas Teknik Institut Teknologi Bandung. Bersama Fadel, JK mendirikan PT Bukaka Teknik Utama, perusahaan yang kemudian menjadi penopang Bukaka Group, kelompok usaha milik keluarga Kalla yang berbasis di Jakarta. Bukaka Group kini telah menjadi kelompok usaha terkenal yang bergerak di ragam sektor bisnis: konstruksi, energi, dan agrobisnis.

1980: JK dikaruniai anak kelima yang diberi nama Chairani Jusuf. Wanita yang akrab disapa Ade ini belum berkeluarga dan sehari-hari beraktifitas di perusahaan periklanan. Ade menetap bersama ayah-ibunya di Jakarta.

1981: JK membantu Alwi Hamu menggarap bisnis koran berlabel Fajar. Koran itu kemudian bergabung bersama Jawa Pos Group milik Dahlan Iskan dan menjadi kelompok media terbesar di Indonesia Timur menyingkirkan Pedoman Rakyat. Gedung Fajar Graha Pena di jalan Perintis Kemerdekaan Makassar menjadi bukti kebesaran Fajar Group.

1982: Ibunda JK, Athirah, meninggal dunia karena sakit. Selang 86 hari kemudian, ayah JK Hadji Kalla juga menyusul menghadap Sang Ilahi.

1984: Untuk mengenang dan menghargai ibundanya Athirah, JK mendirikan Yayasan Pendidikan Athirah. Sekolah ini masih bertahan sampai sekarang dan berbasis di Makassar dan Bone; menyediakan layanan pendidikan dari TK sampai SMA.

1985: JK menjadi Ketua Kamar Dagang dan Industri Daerah Sulawesi Selatan (Kadinda Sulsel). Posisi ini turut membantu JK dalam melihat prospek bisnis yang kemudian dijalankan kelompok usahanya.

1988: JK menjadi Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) melalui Partai Golkar. JK setia dengan Partai Golkar, dari kader muda hingga menjadi Ketua pada periode 2004-2009.

1992: JK menjadi Ketua Ikatan Keluarga Alumni Universitas Hasanuddin (Ika Unhas) Makassar. Jabatan ini masih didudukinya sampai sekarang.

1997-1998: JK mengawal perusahaan-perusahaannya menghadapi krisis ekonomi Asia.

1999-2001: JK menjadi Menteri Perindustrian dan Perdagangan pada masa Presiden Abdurrahman Wahid.

2001-2004: JK menjadi Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat pada masa Presiden Megawati Soekarno Putri. Pada saat menjadi menko kesra, JK terkenal dengan program Sejuta Rumah, program rumah murah untuk rakyat dimana pendanaannya disubsidi oleh pemerintah.

2004-2009: JK menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia mendampingi Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono. JK kemudian dikenang sebagai Wapres yang proaktif dalam pengambilan kebijakan negara, bukan hanya ban serep sebagaimana Wapres-Wapres sebelumnya.

Kebijakan JK yang terkenal sebagai Wapres adalah konversi minyak tanah ke gas elpiji, program Bantuan Langsung Tunai (BLT), pemberian cuti bersama, produksi panser dalam negeri, program Bantuan Operasional Sekolah (BOS), dan pemberian gaji ke-13 kepada Pegawai Negeri Sipil (PNS).

2009-sekarang: JK menjadi Ketua Palang Merah Indonesia (PMI). JK berusaha menjadikan PMI mandiri secara finansial dan proaktif dalam penanggulangan bencana.

15 Mei 2012: JK genap berusia 70 tahun.

Kamis, 03 Mei 2012

70 Tahun Jusuf Kalla: Menjadi Legenda Dalam Dunia Bisnis (6)

JK [foto: Awaluddin Paliliran]
Sebagai pengusaha yang sebentar lagi berusia 70 tahun, Jusuf Kalla telah menjadi legenda dalam dunia bisnis. JK sejajar dengan Jacoeb Oetama (80 tahun) pendiri Kompas-Gramedia Group, Ciputra (80 tahun) pendiri Grup Ciputra, Boenyamin Setiawan (78 tahun) pendiri Grup Kalbe Farma, dan beberapa tokoh pengusaha lainnya.

Sama seperti legenda lainnya, meskipun sudah tua, JK masih aktif mengikuti perkembangan bisnisnya di Makassar (Kalla Group) dan di Jakarta (Bukaka Group) yang kini dikelola generasi ketiga.

Kalau dihitung sejak JK mewarisi bisnis ayahnya Hadji Kalla hingga sekarang, JK sudah berbisnis selama 45 tahun. Dari situ, JK hidup dan menghidupi banyak orang.

Senin, 30 April 2012

70 Tahun Jusuf Kalla: Aktif di Usia Senja (5)

JK [foto: Awaluddin Paliliran]
Ekspresi life start at seventy sepertinya cocok untuk Jusuf Kalla. Di umurnya yang sebentar lagi genap 70 tahun, JK masih terlihat sangat aktif. Wisnu Nugroho, wartawan koran Kompas, dalam tulisannya Tertawa Bersama Pak Kalla mengatakan: "Mengikuti aktifitas Pak Kalla adalah mengikuti dinamika yang seperti tidak ada habisnya."

Sebagai contoh: JK pernah berpanas-panas meninjau proyek pembangkit listrik di Poso, Sulawesi Tengah, yang dikelola PT Poso Energy miliknya. Setelahnya, JK langsung terbang menuju Sulawesi Tenggara untuk meninjau keadaan kapal laut Windu Karsa milik perusahaannya PT Bumi Lintas Tama yang tenggelam di Teluk Bone. JK juga menyantuni beberapa korban dari tenggelamnya kapal itu. 

Apa rahasia JK untuk tetap aktif? Makanan yang terjaga, tidur yang cukup, olahraga yang teratur atau apa? JK sendiri pernah mengatakan dalam pidatonya: "Saya begini karena bekerja keras tapi rileks, tentunya diiringi dengan keikhlasan."

Rabu, 25 April 2012

70 Tahun Jusuf Kalla: Menjadi Anak, Suami, Ayah dan Kakek yang Baik (4)

Menjadi Anak yang Baik
Sesungguhnya, Jusuf Kalla diproyeksikan ayahnya Hadji Kalla untuk menjadi ulama. Maklum, Hadji Kalla memang bercita-cita untuk memiliki anak tamatan Universitas Al Azhar Mesir. Untuk itu, JK kemudian disekolahkan di Perguruan Islam Datumuseng Makassar.

Namun, Tuhan menakdirkan lain, JK mengikuti hasratnya untuk menjadi pengusaha. JK kemudian menempuh jalur umum dengan bersekolah di SMA Negeri 3 Makassar kemudian melanjutkannya di Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin Makassar.

JK [foto: Widi Anugrah]
Setelah menjadi Sarjana Ekonomi bergelar Dokturandus, JK mewarisi bisnis dan perusahaan ayahnya. Motivasi ayahnya sederhana saja kala itu, dia berkata kepada JK: "Saya ini tidak tamat SD bisa sukses berbisnis, masa kamu Dokturandus tidak bisa."

Motivasi itu memacu JK. Dan hasilnya luar biasa: kalau kita ibaratkan kebesaran bisnis keluarga Kalla saat ini dengan persentase 100%, JK dulu hanya mewarisi 20% dari ayahnya, JK kemudian bekerja keras menumbuhkannya menjadi 100%.

Itu berarti, JK telah menjadi anak yang mewarisi bisnis dan perusahaan orangtuanya dengan baik. JK juga tidak serakah, karena dia kemudian berbagi dengan membantu kehidupan adik-adiknya, dari sekolah sampai bekerja, dan menopang kehidupan keluarga besarnya, serta teman-temannya.

Menjadi Suami yang Baik
JK melihat Mufidah pertama kali sejak SMA. Saat itu, JK duduk di kelas II dan Mufidah masuk sebagai siswa baru. Sejak saat itu, cinta bersemi di hati JK dan Mufidah.

JK dan Mufidah [foto: Awal Paliliran]
Saat kuliah, JK terus melakukan pendekatan dengan sering berkunjung ke rumah Mufidah. Bahkan, saat Mufidah kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Muslim Indonesia Makassar sambil bekerja sebagai teller di BNI 1946, JK mendaftar sebagai asisten dosen di UMI dan menabung di BNI46. Tujuannya jelas: agar dekat dengan Mufidah.

Pendekatan JK semakin serius saat mendengar kabar bahwa Mufidah akan dijodohkan dengan seorang yang tampan dan sedang menempuh pendidikan di Amerika Serikat. JK mengonfirmasi kabar itu langsung kepada mufidah dan Mufidah membenarkannya. Namun JK tidak putus asa.

Akhirnya, JK memberanikan diri melamar langsung Mufidah dan diterima oleh orangtua Mufidah, Mi'ad Sa'ad. Keduanya pun melakukan pertunangan pada 1966 dan pernikahan setahun kemudian.

Kini, umur pernikahan JK (70 tahun) dan Mufidah (69 tahun) telah genap 45 tahun. Keduanya sangat bahagia dan sepertinya hanya maut yang dapat memisahkan mereka.

JK telah menjadi suami yang baik bagi Mufidah; 'tak pernah sekali pun dia berbagi dengan wanita lain meskipun bergelimang tahta dan harta. Begitu pula Mufidah, juga telah menjadi istri yang baik bagi JK, dalam suka maupun duka. 
     
Menjadi Ayah yang Baik
Bersama Mufidah, JK dikaruniai lima orang anak: Muchlisa Jusuf, Muswira Jusuf, Imelda Jusuf, Solichin Jusuf dan Chairani Jusuf. Sebagai ayah, JK telah memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya: kehidupan yang layak, pendidikan, perhatian, dan kasih sayang.

Anak-anak JK [foto: Solichin Jusuf]
Hasilnya: anak-anak JK tumbuh menjadi anak-anak yang baik dan bahagia. 'Tak satu pun dari anak-anak JK yang memiliki masalah, baik kepada JK, orang lain, publik atau pun hukum negara. Empat diantaranya sudah berkeluarga dan bahagia bersama keluarganya masing-masing.

Semua anak-anak JK turut mengambil peran dalam bisnis keluarga, termasuk menantu-menantunya. Dan JK telah mengatur dengan baik peran dari anak dan menantunya itu. Hal ini membuktikan bahwa JK bukan hanya telah mewarisi dengan baik, tapi juga telah mewariskan dengan sama baiknya pula.

Menjadi Kakek yang Baik
Dari anak-anaknya, JK sementara dikaruniai sepuluh cucu: Ahmad Fikri, Masyitah, Jumilah Saffanah, Emir Thaqib, Rania Hamidah, Aisha Kamilah, Siti Shafiyah, Rasheed, Maliq Jibran dan Khalila Azeeza.
JK berenang bersama cucu [foto: Wisnu Nugroho, Kompas]
Sesibuk apapun, JK selalu memberikan perhatian kepada cucu-cucunya itu. Misalnya, JK dengan senang hati berenang bersama cucu-cucunya di waktu senggang. Maklum saja, cucu-cucu JK itulah yang nanti akan menjadi generasi keempat pewaris perusahaan keluarga.

Selasa, 24 April 2012

70 Tahun Jusuf Kalla: Mengubah Perusahaan yang Krisis Menjadi Kelompok Usaha yang Dinamis (3)

JK dan jajaran Direksi Kalla Group
Pada 1968, Jusuf Kalla mewarisi perusahaan ayahnya Hadji Kalla di bawah bendera NV Hadji Kalla Trading Company. JK menjadi Direktur Utama di perusahaan itu dan ayahnya menjadi Komisaris.

Tidak mudah bagi JK, karena perusahaan yang diwarisinya sedang mengalami krisis akibat gejolak ekonomi 1965. JK harus segera membenahi bisnis perdagangan hasil bumi (kopi, cengkeh, beras dan lainnya), perdagangan kain dan sarung sutra, angkutan daerah dan lainnya.

Selain itu, JK juga mencoba mengekspansi bisnis baru. Untuk itu, JK dibantu oleh dua sahabatnya di jaman aktifis mahasiswa dulu: Alwi Hamu dan Aksa Mahmud.

"Saya, Alwi, Aksa, kebersamaannya itu dalam hal aktifis mahasiswa. Aktifis mahasiswa itu selalu tidak puas ingin merubah sesuatu. Tapi kita ada batasnya. Begitu tamat, selesai sebagai mahasiswa, tidak ditambah-tambahi umur untuk jadi mahasiswa. Saatnya kita bekerja. Alwi sama Aksa tidak selesai kuliah, tapi ikut sama saya selesai," kenang JK, tersenyum.

Sebagai langkah awal, JK mengekspansi bisnis otomotif dengan berdagang mobil merek Toyota pada 1968. "Kami duluan jual mobil Toyota daripada Astra," kata JK, bangga.

Setahun kemudian, JK juga mengekspansi bisnis konstruksi sipil dengan mendirikan PT Bumi Karsa. Aksa Mahmud ditunjuk JK untuk menjadi Direktur di perusahaan ini.
           
Memasuki era 1970-an, ekspansi bisnis JK meluas. Itu membuat JK harus mengubah akta perusahaan agar pergerakannya bisa melingkupi ragam bisnis.

Pada 1973, NV Hadji Kalla resmi ditunjuk oleh PT Toyota Astra Motor menjadi maindealer mobil Toyota di wilayah Sulawesi Selatan, Tengah dan Tenggara (sekarang bertambah Barat).

Selain itu, NV Hadji Kalla juga resmi menjadi dealer penjualan alat-alat berat merek Sakai dan alat-alat pertanian merek Kubota.

Selain bisnis besar, JK juga ternyata mengekspansi bisnis-bisnis kecil. Contohnya: JK membeli sebuah toko buku dan percetakan. Alwi Hamu ditunjuk mengurusnya melalui PT Bhakti Centra Baru.

Selain itu, Alwi juga ditunjuk JK mengurusi usaha cukur. Pikiran JK kala itu ingin membuat tempat cukur yang nyaman dan ber-AC seperti yang didapatinya di Jakarta. JK dan Alwi kemudian bekerja sama dengan beberapa tukang cukur asal Madura.

Setahun berjalan, usaha cukur itu bangkrut dan akhirnya tutup. JK menceritakan: "Tutuplah itu usaha cukur. Bukan karena Alwi tidak bisa atur, tapi karena waktu itu tiba-tiba semua orang punya kebiasaan gondrong. Yang biasanya cukur sekali sebulan jadi sekali enam bulan...Itulah sejarah bisnis kita yang paling singkat."

Pada 1973 pula, Aksa Mahmud yang merupakan suami dari Ramlah Kalla, adik JK, memutuskan untuk berbisnis sendiri. Dengan bantuan JK, Aksa mengelola CV Moneter yang bergerak di bidang konstruksi.

CV Moneter inilah yang kemudian menjadi cikal-bakal Bosowa Group. Nama Bosowa merupakan singkatan dari Bone, Soppeng dan Wajo, tiga kerajaan besar suku Bugis.

Kini, Bosowa Group telah menjadi kelompok usaha mapan yang ekspansinya meliputi ragam bisnis: otomotif, konstruksi, semen, properti, energi, transportasi, asuransi, hotel dan lainnya.

Selama dekade 1970-an, JK membuka beberapa perusahaan diantaranya: PT EMKL Kalla Raya untuk mengurusi ekspedisi dan bongkar-muat kapal laut, terkhusus bongkar-muat mobil-mobil Toyota yang dikirim dari Jakarta; PT Bukaka Agro untuk mengolah pakan (makanan) ternak guna diekspor; PT Bukaka Meat untuk mengurusi bisnis pemotongan hewan dan ragam perusahaan lainnya.

Dalam berbisnis, JK juga mampu melihat potensi seseorang untuk diajak berbisnis. Pada 1979, contohnya, JK bertemu Fadel Muhammad, sarjana teknik jebolan terbaik Institut Teknologi Bandung. Bersama Fadel, JK kemudian mendirikan PT Bukaka Teknik Utama.

Bukaka Teknik Utama itulah yang menjadi bisnis utama Bukaka Group, kelompok usaha keluarga JK yang berbasis di Jakarta. Nama Bukaka merupakan nama kampung di Bone, Sulawesi Selatan, tempat kelahiran ibunda JK, Hadjah Athirah.

Bukaka Grup dinahkodai oleh JK sendiri bersama Fadel Muhammad dan dua adik JK: Achmad Kalla dan Suhaeli Kalla. Kini, Bukaka Group telah menjadi kelompok usaha besar yang memiliki ragam bisnis: elektrikal, konstruksi telekomunikasi, konstruksi sipil, energi dan agrobisnis.

Contoh lain, pada 1981, JK membantu Alwi Hamu menggarap bisnis koran. JK tahu betul kalau di kampus dulu Alwi adalah seorang jurnalis yang mengelola koran untuk organisasi KAMI dimana JK menjadi Ketuanya.

Bisnis koran pun digarap. Nama korannya adalah Fajar. Gedung toko buku dan percetakan Bhakti dijadikan sebagai kantor koran itu.

Dalam operasional awalnya, koran Fajar terus merugi hingga pada 1988 langkah strategis diambil: Fajar digabungkan dengan kelompok media Jawa Pos Group milik Dahlan Iskan. Kebetulan saat itu Dahlan sedang ingin membuat koran di Makassar.

Sebuah langkah strategis yang tepat. Kini, Fajar Group telah menjadi kelompok usaha media terbesar di Indonesia Timur yang memiliki stasiun televisi lokal, radio lokal, dan koran-koran lokal di Sulawesi, Nusa Tenggara dan Maluku. Fajar Group juga telah mengembangkan sayapnya di ragam bisnis: pendidikan, transportasi, travel dan hotel.  

Pada 1984, JK mendirikan PT Bumi Rama Nusantara, perusahaan yang mengurusi pengadaan batu kerikil. Dua tahun kemudian, JK juga mendirikan PT Makassar Raya Motor yang menjadi subdealer mobil merek Daihatsu.

Kedua perusahaan itu kini dipimpin oleh dua adik JK: Halim Kalla dan Natsir Kalla; bahkan telah membentuk kelompok usaha tersendiri di luar lingkup Kalla Group.

Pada 1990-an, ekspansi JK semakin dinamis. Posisinya sebagai Ketua organisasi Kamar Dagang dan Industri (Kadinda) Sulawesi Selatan membuatnya banyak mengetahui prospek-prospek bisnis ke depan. Dia pun memanfaatkan peluang itu.

Perusahaan-perusahaan yang didirikan JK pada dekade 1990-an diantaranya: PT Bumi Sarana Utama untuk mengurusi bisnis perdagangan aspal. PT BSU kemudian menelorkan PT Bumi Sarana Beton yang mengurusi produksi beton dan PT Bumi Barito Utama yang juga mengurusi bisnis perdagangan aspal.

Perusahaan lain yang didirikan JK adalah PT Kalla Inti Karsa untuk mengurusi bisnis properti kawasan bisnis (mall, ruko dan lainnya); PT Bumi Sarana Indah (sekarang PT Baruga Asrinusa Development) untuk mengurusi bisnis properti kawasan perumahan; PT Kalla Electrical System untuk mengurusi produksi trafo listrik; PT Bumi Jasa Utama untuk mengurusi rental mobil; PT Sahid Makassar Perkasa untuk mengurusi bisnis hotel dan ragam perusahaan lainnya.

Pada 1999, saat JK diangkat menjadi Menteri Perindustrian dan Perdagangan, dia melepas jabatan Direktur Utama dan mewariskannya kepada adiknya Fatimah Kalla. Selanjutnya, JK berposisi sebagai Komisaris Utama. Itu artinya, JK tidak lagi mengurusi bisnisnya secara teknis.

Sepeninggal JK, bisnis dan perusahaan keluarganya tetap dinamis, malah sedang proses merambah ke sektor baru, yaitu energi dan transportasi.

Itulah JK yang telah berhasil mengubah perusahaan yang krisis menjadi kelompok usaha yang dinamis. Kalla Group, Bukaka Group, Bosowa Group dan Fajar Group telah menjadi kelompok usaha dinamis yang memiliki omzet besar dan tersebar eksistensinya di seantero Indonesia.

JK menegaskan: "Kita ini bikin usaha agar banyak orang bekerja. Banyak teman organisasi yang menganggur, banyak teman yang tidak tamat sekolah, itu semua kita rangkul, bergabung bersama kami."

"Karena banyak, kita jadi berpikir apa saja, sehingga banyak usaha yang dibentuk: jualan mobil, konstruksi, semen, dan apa saja, termasuk tukang cukur."

"Kalau ada yang berkata bahwa Pak JK ini menguasai bisnis, saya bilang bukan menguasai, cuma banyak memang dan itu banyak mempekerjakan orang. Kalau ada yang mengritiki, ya, tutup saja dan semua orang akan menganggur."

Senin, 23 April 2012

70 Tahun Jusuf Kalla: Menjadi Pemimpin di Semua Model Organisasi (2)

Jusuf Kalla terlahir sebagai pemimpin. Tidak salah penulis berkata seperti itu. Di usia JK yang pada 15 Mei 2012 mendatang genap 70 tahun, JK telah menjadi pemimpin di semua model organisasi: kepelajaran, kemahasiswaan, bisnis, asosiasi, pemerintahan, politik dan sosial.

Untuk organisasi kepelajaran, JK menjadi Ketua Pelajar Islam Indonesia (PII) Sulawesi Selatan pada 1950-an. Jabatan itu diperoleh JK saat menjadi siswa di Sekolah Islam Datumuseng Makassar. Di organisasi PII inilah jiwa kepemimpinan JK mulai terasah.

Untuk organisasi kemahasiswaan, JK menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Makassar periode 1965-1966, Ketua Dewan Mahasiswa (Dema) Universitas Hasanuddin Makassar periode 1965-1966 dan Ketua Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) Sulawesi Selatan periode 1966-1967.

Dalam sebuah kesempatan, JK pernah menceritakan masa-masa aktifnya sebagai aktifis mahasiswa. “Mahasiswa itu tidak selalu harus marah. Kami juga dulu sering berdemonstrasi, tapi tidak pernah bakar ban.”

Untuk organisasi bisnis, JK menjadi Direktur Utama NV Hadji Kalla dari 1968 sampai 1999. Bagi JK, organisasi bisnis itu tidak hanya berorientasi pada profit, tapi juga pertumbuhan (growth). “Profit bukanlah yang utama dikejar. Ada nilai yang sebenarnya lebih arif untuk dikejar, yakni growth.” kata JK.

Untuk organisasi asosiasi, JK menjadi Ketua Ikatan Alumni Universitas Hasanuddin Makassar (Ika Unhas) dari 1992 sampai sekarang.  Sebuah cerita, entah benar atau tidak: seorang akademisi Unhas protes terkait kepemimpinan JK di Ika Unhas.

Akademisi itu protes karena JK bukanlah seorang Profesor, sedangkan banyak Profesor lain yang lebih pantas. Pernyataan orang itu dibantah oleh Prof. Halide (Guru Besar Fakultas Ekonomi Unhas) dengan mengatakan bahwa JK memang bukan Profesor, tapi dia lebih hebat dari Profesor.

Untuk organisasi pemerintahan, JK menjadi pemimpin di Departemen Perindustrian & Perdagangan dari 1999 sampai 2000 dan Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat dari 2001 sampai 2004.

Bagi JK, organisasi pemerintahan itu harus berorientasi pada proses. “Pemerintah harus memberikan pelayanan yang terbaik. Pandangan sinis bahwa kalau bisa dipersusah kenapa dipergampang harus dihindari,” kata JK.

Untuk organisasi politik, JK menjadi Ketua Umum Partai Golongan Karya. JK terbilang cukup setia dengan Partai Golkar meskipun banyak pandangan sinis terhadap partai binaan Soeharto itu. Di Golkar, JK memulai dengan menjadi kader muda di tahun 1980-an sampai menjadi Ketua Umum periode 2004 sampai 2009.

Untuk organisasi sosial, JK menjadi Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) dari 2009 sampai sekarang.

Banyak orang yang mengatakan bahwa JK tidak cocok memimpin di PMI karena bukan bidangnya, tapi JK mampu membuktikan bahwa dirinya bisa. JK telah membuat banyak terobosan baru di organisasi itu, terutama pastisipasi PMI dalam penanganan bencana.

Itulah JK yang telah menjadi pemimpin di semua model organisasi. Sayang, JK gagal menyempurnakannya dengan menjadi pemimpin negara. “Sekiranya jadi Presiden, lengkap betul hidup ini,” kata JK.

Terkait kepemimpinan, JK berujar di hadapan Direktur pelbagai perusahaan dalam sebuah acara yang diadakan majalah Warta Ekonomi: “Segala sesuatunya itu sebenarnya ditentukan oleh kepepimpinan, bukan organisasi. Organisasi itu penting, tapi organisasi baru bisa berjalan dengan kepemimpinan yang baik.”