Minggu, 27 November 2011

Kendari, Menuju Kota Maju

Kendari Beach
BANGUNAN di atas bukit itu tampak kumuh 'tak terawat. Kontras dengan pemandangan indah Kendari Beach di depannya. Bangunan itu, kata teman, milik pengusaha Tommy Winata. Rencananya mau dibangun hotel, tapi tidak jadi karena persoalan izin.

Lupakan bangunan yang merusak mata itu. Mari bicara tentang Kendari Beach di depannya, Sebuah pantai yang sekilas menyerupai keadaan Pantai Losari Makassar pada tahun 1990-an. Membentang panjang dan hanya dibatasi beton berbatu gunung di tepinya sebagai penahan hantaman air.

Pada malam hari, Kendari Beach sangat ramai. Puluhan cafe-cafe berjejer menawarkan makanan dan minuman ringan plus karaoke dengan layar besar. Pasangan muda-mudi juga tampak asyik berdua-duaan, menikmati kemesraan sambil melepas pandangan ke arah pantai. Sepanjang Kendari Beach keadaan gelap memang, 'tak ada lampu jalan yang merisihkan mereka yang dimabuk asmara.

Selain Kendari Beach, yang terkenal dari Kendari adalah nobul. Nobul bukan nama sebuah tempat, tapi singkatan dari no bulu atau tanpa bulu, sebutan bagi Pekerja Seks Komersial di Kendari yang menurut informasi berpenampilan mulus tanpa bulu.

Bisnis prostitusi memang selalu hidup di kota-kota, 'tak terkecuali Kendari. Sejalan dengan bisnis lain, seperti rumah makan, hotel, dealer kendaraan, mall, dan lainnya. Di Kendari, semua bisnis itu hidup.

Pagi hari, saat saya sedang menikmati secangkir kopi di sebuah hotel kecil di siku persimpangan lampu merah, saya membaca koran Kendari Pos, saudara kandung Kendari Ekspress yang keduanya memiliki hubungan afiliasi dengan Fajar (Jawa Pos) Group di Makassar.

Di koran itu saya membaca tulisan Dahlan Iskan perihal listrik. Intinya, Dahlan menulis bahwa ketersediaan listrik di Kendari dan Sulawesi Tenggara aman-aman saja dan diupayakan tidak ada lagi pemadaman bergilir. Dahlan juga menulis harapannya bahwa Kendari akan menjadi kota maju 10 tahun mendatang.

Lejja, Wisata Permandian di Tengah Hutan

Suasana asri di Lejja'
LEJJA' terletak di kecamatan Marioriawa, sekira 30 kilometer jaraknya dari Watansoppeng, ibukota Kabupaten Soppeng, Provinsi Sulawesi Selatan.

Lejja', bukan kata dari bahasa India, tapi kata dari bahasa Bugis yang berarti ‘pijak’. Merupakan nama sebuah tempat wisata permandian di tengah hutan dengan pohon-pohon yang tumbuh besar, lebat, dan ragam jenis: jati, palem, putat, dan lainnya.

Aliran air panas di sungai di antara pepohonan
Hutannya bukan sembarang hutan, tapi hutan yang dilindungi oleh pemerintah. Pelbagai peringatan dipasang, salah satunya berbunyi: Satu Batang Korek Api Dapat Memusnahkan Ribuan Pohon. Biaya Rp 1.500 per orang juga dipungut untuk biaya pemeliharaan hutan.

Peringatan untuk melestarikan pohon
Untuk berenang, pengunjung disediakan tiga kolam, satu untuk anak-anak dan dua untuk dewasa. Airnya bersumber dari mata air alami pegunungan yang mengalir terus-menerus, ‘tak pernah berhenti. Yang unik dari air itu adalah suhunya yang panas. Saking panasnya, kata orang-orang, telur bisa masak jika ditaruh di atasnya.

Kolam renang di Lejja'
Mata air panas dari pegunungan
Tiket masuk Lejja per 2011 hanya Rp 5.000 untuk orang dewasa dan Rp 2.500 untuk anak-anak. Fasilitasnya cukup lengkap: musholla, ban untuk berenang, tikar untuk duduk-duduk santai, toilet, tempat penginapan, dan ruang meeting. Kalau lapar, jajaran pedagang kaki lima siap melayani.

Lejja, dengan hutan alami dan mata air panasnya, merupakan tempat wisata permandian andalan Sulawesi Selatan.

Sabtu, 26 November 2011

Segesegeri, Desa Lumbung Padi di Kabupaten Maros

Sawah di Segesegeri
SEGESEGERI adalah desa lumbung padi di Sulawesi Selatan. Letaknya sekira tiga kilometer dari jalanan poros Bantimurung di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

Warga Segesegeri hidup dalam kesederhanaan. Para suami bertani di sawah, istri-istri menjahit di rumah, dan anak-anak bersekolah di kota.

Di Segesegeri, sawah olahan memang cukup luas, sejauh mata memandang. Mendominasi hampir separuh wilayah desa. Selebihnya, berdiri rumah-rumah panggung milik warga. Sawah dan rumah warga dibelah oleh jalanan bermaterial tanah dan batu-batu kecil. Kalau hujan, jalanan itu beceknya luar biasa.
Rumah penduduk di Segesegeri
Di belakang rumah warga, jajaran pohon tumbuh subur di atas bukit yang membentang jauh entah sampai di mana. Terlihat dari kejauhan, sebagian bukit telah hancur dieksploitasi PT Semen Bosowa, perusahaan semen milik pengusaha Aksa Mahmud yang bekerjasama dengan investor asing dari Korea Selatan.

Pattontongan, Daerah Pesisir Pantai di Kabupaten Jeneponto

Pantai di Pattontongan
MENAPAKI jalanan masuk Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, bukit tandus menyambut dengan kebisuannya. Pohon-pohon tumbuh sendiri-sendiri dengan jarak renggang, saling berjauhan. Jeneponto daerah kering memang. Hujan jarang terjadi.

Selanjutnya, area tambak garam tradisional menghampar luas sejauh mata memandang di sisi kanan jalanan. Menjadi mata pencarian penduduk pesisir. Tampak pula dari kejauhan di belakangnya, tower pembangkit listrik milik PLN. Asapnya memerahkan langit.

Warung-warung kecil berjejer di kanan-kiri jalanan. Menjajakan garam kemasan dan minuman keras asli Jeneponto, ballo’ tala’, yang terbuat dari buah tala’. Satu-dua pengendara terlihat singgah dan menikmatinya.

Jeneponto adalah daerah kabupaten berluas sekira 750 km2, diapit oleh Kabupaten Takalar dan Kabupaten Bantaeng. Daerahnya terdiri dari daerah ketinggian, daerah sedang, dan daerah pesisir pantai.

Kami mengunjungi Pattontongan yang berada di daerah pesisir pantai. Dari jalanan poros Takalar-Jeneponto, kami berbebelok arah ke kanan di lampu merah yang sisinya ditumbuhi pohon beringin besar. Kami kemudian masuk ke dalam hingga sekira 6 kilometer.

Pattontongan betul-betul daerah pesisir pantai. Rumah-rumah penduduk berdiri berjajar hingga ‘tak menyisakan lagi ruang kosong di tepi pantai. Pohon kelapa tampak tumbuh di belakang dan di sela-sela rumah penduduk.

Penduduk Pattontongan menghidupi diri dengan ragam pekerjaan. Ada yang menjadi nelayan, tukang kebun, supir, birokrat, dan bahkan ada yang mengadu nasib jauh ke kota Makassar. Jarak Pattontongan ke Makassar sekira dua jam perjalanan dengan berkendaraan mobil. Kalau supirnya hebat, waktu satu jam sudah cukup.

Rabu, 16 November 2011

Sejarah di Kompleks Makam Arung Palakka

Pintu gerbang makam
BANGUNAN kompleks Makam Arung Palakka yang terletak di Sungguminasa, Gowa, Sulawesi Selatan, memiliki nuansa sejarah yang kuat. Itu terlihat dari material bangunan yang menggunakan bata jaman dulu. Tampak kuat dan tahan lama.

Ada tujuh bangunan kuburan besar dan 40 kuburan kecil di dalam kompleks. Semuanya memanjang dari utara ke selatan. Berumur puluhan tahun. Masih terjaga dengan baik.

Kuburan Arung Palakka, Raja Bone, bersama istrinya Imangkawani Daeng Talele menjadi yang terbesar. Berjejer dengan ukuran serupa di dalam sebuah bagunan kubus berkubah. Taburan bunga dan siraman air tampak di atasnya, pertanda banyak pengunjung yang menziarahinya, bahkan ada yang datang dari negara tetangga: Malaysia dan Singapura.

Bangunan kubus berisi kuburan Aru Palakka dan istrinya
Kuburan Aru Palakka dan istrinya Imangkawani Daeng Talele
Di belakang bangunan kubus, terdapat kuburan Karaeng Botolempangan, orang paling terpercaya di Kerajaan Gowa. Bentuk kuburannya kecil. Nama Botolempangan diabadikan menjadi sebuah nama jalan di Makassar.

Kuburan Botolempangan
Di samping kuburan Botolempangan, berjajar dua kuburan besar dari barat ke timur yang sepintas bentuknya serupa. Kuburan sebelah kiri milik Sultan Ismail Karaeng Anak Moncongloe, laki-laki yang memecahkan rekor sebagai satu-satunya orang yang pernah memimpin tiga kerajaan, yaitu Gowa, Bone, dan Soppeng. Kuburan kedua milik Karaeng Pettabola, adik tiri dari Arung Palakka. Satu bapak tapi beda ibu.

Kuburan Karaeng Anak Moncongloe dan Karaeng Pettabola
Di sebelah kanan bangunan kubus, terdapat bangunan kuburan seorang Raja dari Manado. Entah siapa namanya. Penjaga makam juga ‘tak mengetahuinya.

Bangunan kubus berisi kuburan Raja Manado
Paling belakang kompleks makam, terdapat dua bangunan balok dengan kubah berbentuk kerucut. Di dalam dua bangunan itu berdiri makam milik Karaeng Patingalloang Imangadacina Dg. Sitaba bersama istri dan anak-anaknya.

Kuburan Karaeng Patingalloang, istri dan anak-anaknya
Sejarah harus dilestarikan
Selanjutnya, di halaman kompleks makam, sejauh mata memandang, terdapat kuburan-kuburan kecil. Pemilik kuburan itu adalah keturunan dan para pengikut Kerajaan Gowa.

Suasana di halaman kompleks makam

Wajah Baru Balla Lompoa

Rumah panggung dengan tangga bergaya eropa
BALLA Lompoa atau Rumah Besar adalah Istana Raja Gowa berbentuk rumah panggung yang terletak di jantung kota Sungguminasa, Gowa, Sulawesi Selatan.

Menurut catatan sejarah, Istana tersebut dibangun 75 tahun lalu, tepatnya tahun 1936. Dibangun dengan material utama kayu sappu' (kayu besi), dari tiang penyangga, dinding, lantai, hingga atap. Kepala kerbau yang tergantung di ujung atap menjadi penanda derajat kebangsawanan pemiliknya.

MENGUNJUNGI Istana Balla Lompoa sekarang sangat berbeda dengan dulu. 'Tak ada lagi pohon-pohon dan bunga-bunga yang tumbuh di halaman Istana. Semuanya berganti.

Halaman Balla Lompoa kini didesain elegan dengan bangunan tangga bergaya eropa. Huruf-huruf dari bahan fiber berdiri membentuk kata Balla Lompoa.

Rumah panggung yang merupakan bangunan inti juga telah diangkat dua meter ke atas. Dasarnya dibeton dengan material batu gunung.

Pemandangan Minus di Anjungan Pantai Losari

Sunset di Pantai Losari
INDAHNYA matahari terbenam di ufuk barat menjadi alasan bagi siapa pun untuk nongkrong di Anjungan Pantai Losari, Makassar, pada sore hari. 'Tak terkecuali penulis yang Jumat sore itu datang dengan harapan mendapat ketenangan dan pemandangan yang indah. Namun, ketenangan apa yang didapat jika hanya pemandangan minus yang terlihat.

Suasana Anjungan Pantai Losari
Setidaknya ada tiga pemandangan minus di Anjungan Pantai Losari: sampah yang betebaran di pantai, tegel anjungan yang pecah-pecah, dan pengaman besi di pinggir anjungan yang hilang entah ke mana.

Sampah yang menggenang
Dua turis asing sepertinya sepaham dengan saya perihal sampah. Tampak dari ekspresinya yang geleng-geleng kepala melihat tebaran sampah plastik yang menggenang di pantai. Padahal Pemerintah Kota Makassar, khususnya Dinas Kebersihan, sudah menyediakan banyak tempat sampah.

Tegel yang pecah
Perihal tegel yang pecah-pecah, sungguh sangat tidak sedap dipandang mata. Mengurangi kerapian lebih tepatnya. Entah apa penyebabnya, apakah karena memang konstruksinya yang lemah ataukah karena sudah terlalu banyak kaki yang menginjaknya.

Tiang pengaman yang hilang
Perihal besi pengaman pinggir anjungan yang hilang, itu juga sangat tidak sedap dipandang mata dan bisa membahayakan pengunjung, terutama anak-anak kecil.

Terlalu sinis menerka bahwa besi-besi itu digeregaji lalu diambil oleh penjual besi kiloan. Terlalu lucu juga mengira bahwa orang-orang yang pacaran di situ terlalu kuat berpegangan sehingga besi-besi itu terlepas.

Pemandangan yang betul-betul minus
Semoga saja pihak yang berwenang segera memerhatikan pemandangan minus yang tidak sedap dipandang mata tersebut, terlebih tahun ini masih dalam rangkaian Visit Makassar 2011 dan tahun depan memasuki Visit South Sulawesi 2012.