Di satu sisi, bandara sama pelabuhan masih terbuka. Artinya, orang dan barang dari luar masih lalu lalang. Padahal dua itu yang ditakuti sebagai pembawa wabah. Okelah orang di-screening. Tapi barang? Apalagi itu barang yang di kontainer.
Di sisi lain, orang di dalam yang disuruh menjauh. Disuruh tinggal di rumah. Sekolah dan kampus diliburkan, karyawan kantoran dirumahkan, masjid dan gereja ditutup, dan lainnya. Okelah saya sepakat ini. Wabah di sana memang ganas. Diharapkan supaya tidak ke sini.
Tapi dengan kebijakan setengah-setengah ini, kita jadi bisa menebak: pemerintah tidak fokus pada virus yang mewabah. Seolah ada pesan tersirat: tinggal di rumahmu karena di jalanan ada orang dan barang dari luar mau lewat!
Jumat, 27 Maret 2020
Perawat
![]() |
| Perawat di Wuhan (dok. Redfishstrem) |
Saya pun memperoleh informasi yang butuh dikonfirmasi: banyak perawat RS Wahidin yang resign karena ketidakjelasan masa depan honorer di RS milik pemerintah itu.
Mendapat informasi itu, saya jadi teringat satu-dua keluarga yang kerja di RSUD Latemmamala Soppeng. Sudah lima tahun mereka kerja di sana. Tanpa digaji. Kalau lebaran, dijatahi sepasang botol Fanta dan Coca-Cola. Kabar terakhir, mereka sudah digaji Rp 700 ribu per tiga bulan. Nilai yang sangat rendah, bukan?
Saya juga jadi teringat sama pegawai RSUD Sultan Matahher Jambi yang dimarahi tengah malam sama Zumi Zola, Gubernur Jambi. Mereka dimarahi karena kedapatan tertidur. Kita tidak perlu bertanya mengapa mereka tertidur. Tentu karena lelah. Tidak perlu juga Kita bertanya berapa gaji mereka. Tentu...
*****
Di awal 2020 ini, tugas dokter, perawat, dan karyawan RS semakin berat. Tentu karena mewabahnya penyakit Covid-19. Mereka harus standby di RS. Sebagian tidak boleh pulang. Tidak bertemu keluarga.
Tidak perlu kita bertanya berapa gaji mereka!
Tidak perlu kita bertanya berapa insentif mereka dari Pemerintah!
Kita doakan saja semoga mereka kuat secara fisik dan mental!
Kamis, 26 Maret 2020
Rumah Sakit Virus Corona
Ketika Wuhan darurat virus corona, langkah pertama yang dilakukan Cina adalah me-lockdown kota itu dan mengisolasi warganya.
Cina kemudian dengan cepat menyiapkan kru kesehatan dari seluruh pelosok negara, termasuk tentara.
Alat kesehatan juga diadakan dengan cepat. Dari APD yang memadai, peralatan yang lengkap, dan lainnya.
Yang paling mencengangkan: Cina segera membangun rumah sakit khusus corona di Wuhan dalam waktu 10 hari.
Hasilnya: luar biasa. Sebagaimana yang Anda lihat di pemberitaan. Wuhan diamankan. Kota lain aman.
*****
Kini, corona mulai mewabah di Indonesia, di Jabodetabek dan beberapa kota lain. Per hari ini, sudah 48 korban wafat.
Indonesia enggan melakukan lockdown dan isolasi. Faktor ekonomi jelas menjadi alasannya. Indonesia lebih memilih kampanye social distancing.
Rumah sakit khusus corona juga segera diwujudkan. Indonesia menyulap Wisma Atlet, gedung yang dulunya dipakai para atlet Asian Games.
Bagaimana hasilnya? Kita berdoa semoga negara ini baik-baik saja!
*****
Pasien covid-19 di Jakarta banyak. Syukurlah sudah ada solusi: Wisma Atlet disulap menjadi rumah sakit. Bisa tampung sampai 3.000 pasien.
Bagaimana di daerah lain? Itu yang masalah. Di Makassar, misalnya. Kalau saya lihat kondisi Rumah Sakit Dr. Wahidin Sudirohusodo, pasti akan kelabakan kalau banyak pasien. Jangankan seribu, ratusan saja sudah berat. Tidak mungkin juga pasien dipindahkan ke Jakarta.
Solusinya, sebuah gerakan: isolasi mandiri!
Warga yang mengalami gejala ringan, misalnya batuk atau demam, diharapkan tidak buru-buru ke rumah sakit. Isolasi diri saja dulu di rumah, jauhi orang lain, jauhi keramaian, minum multivitamin, jaga pola makan, dan lainnya. Lima hari, tujuh hari, sampai 14 hari.
Kalau sembuh, alhamdulillah.
Kalau tidak, barulah bawa diri ke RS rujukan covid-19 untuk diperiksa lebih lanjut.
Cina kemudian dengan cepat menyiapkan kru kesehatan dari seluruh pelosok negara, termasuk tentara.
Alat kesehatan juga diadakan dengan cepat. Dari APD yang memadai, peralatan yang lengkap, dan lainnya.
Yang paling mencengangkan: Cina segera membangun rumah sakit khusus corona di Wuhan dalam waktu 10 hari.
Hasilnya: luar biasa. Sebagaimana yang Anda lihat di pemberitaan. Wuhan diamankan. Kota lain aman.
*****
Kini, corona mulai mewabah di Indonesia, di Jabodetabek dan beberapa kota lain. Per hari ini, sudah 48 korban wafat.
Indonesia enggan melakukan lockdown dan isolasi. Faktor ekonomi jelas menjadi alasannya. Indonesia lebih memilih kampanye social distancing.
Rumah sakit khusus corona juga segera diwujudkan. Indonesia menyulap Wisma Atlet, gedung yang dulunya dipakai para atlet Asian Games.
![]() |
| Wisma Atlet disulap (dok. Vitantina Harmini) |
*****
Pasien covid-19 di Jakarta banyak. Syukurlah sudah ada solusi: Wisma Atlet disulap menjadi rumah sakit. Bisa tampung sampai 3.000 pasien.
Bagaimana di daerah lain? Itu yang masalah. Di Makassar, misalnya. Kalau saya lihat kondisi Rumah Sakit Dr. Wahidin Sudirohusodo, pasti akan kelabakan kalau banyak pasien. Jangankan seribu, ratusan saja sudah berat. Tidak mungkin juga pasien dipindahkan ke Jakarta.
Solusinya, sebuah gerakan: isolasi mandiri!
Warga yang mengalami gejala ringan, misalnya batuk atau demam, diharapkan tidak buru-buru ke rumah sakit. Isolasi diri saja dulu di rumah, jauhi orang lain, jauhi keramaian, minum multivitamin, jaga pola makan, dan lainnya. Lima hari, tujuh hari, sampai 14 hari.
Kalau sembuh, alhamdulillah.
Kalau tidak, barulah bawa diri ke RS rujukan covid-19 untuk diperiksa lebih lanjut.
Minggu, 22 Maret 2020
Akibat Tidak Percaya Virus
Tidak semua virus bisa ditemukan obatnya atau vaksinnya. Salah satunya adalah virus HIV, penyebab penyakit AIDS. Azydothymidine yang ditemukan 1987 hanya mampu memperpanjang usia penderita AIDS. Tidak menyembuhkannya.
Beruntungnya, dunia medis berhasil mengidentifikasi penyebab virus itu: hubungan seks. Epidemolog pun bisa melakukan upaya pencegahan infeksi HIV melalui sosialisasi hubungan seks yang baik dan sterilisasi benda-benda yang bisa menyebabkan virus itu berjangkit, semisal jarum suntik.
Sayangnya, hal tersebut tidak dipercayai oleh Thabo Mbeki, Presiden Afrika Selatan sejak 1999. Saat AIDS marak di negaranya, dia yakin itu disebabkan karena kurang gizi dan gaya hidup yang buruk, bukan karena virus. Dia pun menolak ragam nasehat dan bantuan dari dunia medis.
Sampai pada titik dimana korban tewas sudah banyak, Pemerintahan Mbeki mulai melunak. Pertengahan 2000, sekira 300 ribu lebih warga Afsel tewas akibat AIDS dan lima ribu lebih anak lahir dengan HIV positif.
*****
Sekarang, dunia dihadapkan sama virus corona yang belum ditemukan obat dan vaksinnya secara efektif.
Beruntungnya, dunia medis mampu mengidentifikasi penyebab virus itu. Sosialisasi dan sterilisasi pun 'tak putus-putusnya dilakukan.
Sekarang, pilihan ada pada kita: apakah kita mau menjadi warga yang baik atau kita mau seperti Thabo Mbeki?
Beruntungnya, dunia medis berhasil mengidentifikasi penyebab virus itu: hubungan seks. Epidemolog pun bisa melakukan upaya pencegahan infeksi HIV melalui sosialisasi hubungan seks yang baik dan sterilisasi benda-benda yang bisa menyebabkan virus itu berjangkit, semisal jarum suntik.
Sayangnya, hal tersebut tidak dipercayai oleh Thabo Mbeki, Presiden Afrika Selatan sejak 1999. Saat AIDS marak di negaranya, dia yakin itu disebabkan karena kurang gizi dan gaya hidup yang buruk, bukan karena virus. Dia pun menolak ragam nasehat dan bantuan dari dunia medis.
Sampai pada titik dimana korban tewas sudah banyak, Pemerintahan Mbeki mulai melunak. Pertengahan 2000, sekira 300 ribu lebih warga Afsel tewas akibat AIDS dan lima ribu lebih anak lahir dengan HIV positif.
*****
Sekarang, dunia dihadapkan sama virus corona yang belum ditemukan obat dan vaksinnya secara efektif.
Beruntungnya, dunia medis mampu mengidentifikasi penyebab virus itu. Sosialisasi dan sterilisasi pun 'tak putus-putusnya dilakukan.
Sekarang, pilihan ada pada kita: apakah kita mau menjadi warga yang baik atau kita mau seperti Thabo Mbeki?
Sabtu, 21 Maret 2020
Massal
Ada 23 ribu orang tewas akibat kasus kecelakaan lalu lintas yang terjadi pada 2019. Itu menurut catatan Polri. Belum termasuk yang tidak tercatat.
Angka yang cukup besar, bukan? Sangat besar, bahkan. Tapi kita masih tenang-tenang saja. Di antara kita masih ada yang ugal-ugalan berkendaraan, lepas tangan naik motor, main ponsel sambil nyetir, dan lainnya.
Kenapa bisa demikian? Karena lakalantas tidak terjadi secara massal, sehingga tidak menarik perhatian. Bahasa Steve Jobs-nya: tidak menyentuh hati!
Bandingkan kalau pesawat terbang yang kecelakaan dan menewaskan seluruh penumpangnya. Semua langsung dibahas, mulai dari kondisi pesawat, kemampuan pilot, izin maskapai, dan lainnya.
*****
Virus corona pun demikian. Karena dampaknya yang massal, semua dibahas, mulai dari virusnya, cara penyebarannya, cara mencegahnya, dan lainnya. Bahkan kita menjadi tahu dengan beberapa singkatan: ADP, ODP, dan PDP.
Padahal, penyakit yang berhuhungan dengan paru-paru bukan virus corona saja. Ada kanker paru-paru, ada paru-paru basah, dan lainnya. Salah satu penyebabnya bahkan sangat dekat dengan kita: rokok.
WHO mencatat: sejak 1964, ada 2,5 juta orang tewas akibat rokok, aktifis maupun pasifis. Empat puluh persennya gara-gara kanker paru-paru.
*****
Yang ingin saya sampaikan adalah bukan cuma virus corona yang membunuhmu, tapi rokok dan asapnya juga membunuhmu. Bedanya, satu bersifat massal, satu tidak. Satu memberi efek kejut, satu tidak.
Jadi, tetap jaga keluarga Anda! Jangan sampai papanya sibuk home working sambil merokok, dia jadi abai asapnya kena ke anaknya yang lagi home schooling dan istrinya yang lagi home shopping.
Angka yang cukup besar, bukan? Sangat besar, bahkan. Tapi kita masih tenang-tenang saja. Di antara kita masih ada yang ugal-ugalan berkendaraan, lepas tangan naik motor, main ponsel sambil nyetir, dan lainnya.
Kenapa bisa demikian? Karena lakalantas tidak terjadi secara massal, sehingga tidak menarik perhatian. Bahasa Steve Jobs-nya: tidak menyentuh hati!
Bandingkan kalau pesawat terbang yang kecelakaan dan menewaskan seluruh penumpangnya. Semua langsung dibahas, mulai dari kondisi pesawat, kemampuan pilot, izin maskapai, dan lainnya.
*****
Virus corona pun demikian. Karena dampaknya yang massal, semua dibahas, mulai dari virusnya, cara penyebarannya, cara mencegahnya, dan lainnya. Bahkan kita menjadi tahu dengan beberapa singkatan: ADP, ODP, dan PDP.
Padahal, penyakit yang berhuhungan dengan paru-paru bukan virus corona saja. Ada kanker paru-paru, ada paru-paru basah, dan lainnya. Salah satu penyebabnya bahkan sangat dekat dengan kita: rokok.
WHO mencatat: sejak 1964, ada 2,5 juta orang tewas akibat rokok, aktifis maupun pasifis. Empat puluh persennya gara-gara kanker paru-paru.
*****
Yang ingin saya sampaikan adalah bukan cuma virus corona yang membunuhmu, tapi rokok dan asapnya juga membunuhmu. Bedanya, satu bersifat massal, satu tidak. Satu memberi efek kejut, satu tidak.
Jadi, tetap jaga keluarga Anda! Jangan sampai papanya sibuk home working sambil merokok, dia jadi abai asapnya kena ke anaknya yang lagi home schooling dan istrinya yang lagi home shopping.
Hati-hati
Batuk sedikit, dikira virus corona.
Demam sedikit dikira virus corona.
Lebay! Manja!
Virus corona itu punya banyak gejala: batuk, demam tinggi, sesak napas, sulit menelan, tenggorokan meradang, dll.
Nah, supaya enak, kita terapkan prinsip kehati-hatian pada diri kita.
Maksudnya?
Kita pakaikan skala 1 sampai 5 untuk gejala-gejala itu.
Skala 1 untuk yang mengalami salah satu dari banyak gejala itu.
Skala 2-3 untuk yang mengalami lebih dari satu dari gejala itu.
Skala 4-5 untuk yang mengalami semua gejala itu.
Hati-hati maksudnya ketika kita masih di skala 1, segera periksakan diri kita ke dokter. Apalagi kalau skala 1 itu sudah kita alami beberapa hari.
Itulah yang dialami Bapak Bima Arya, Walikota Bogor. Gejala beliau baru batuk-batuk. Tapi beliau sudah dianjurkan menjalankan prosedur selayaknya orang terinfeksi virus Corona.
Ini jelas sebagai bentuk kehati-hatian.
Begitu pula dengan Pemilik sebuah perusahaan distributor gas LPG di Kendari, rekanan Pertamina. Beliau tiba-tiba saja demam sampai 40 DC. Dicek riwayat perjalanannya, beliau baru saja dari Bali menghadiri acara Pertamina.
Akhirnya, beliau sekarang dengan cepat menjalankan prosedur selayaknya orang terinfeksi virus corona.
Ini jelas sebagai bentuk kehati-hatian.
Ini bukan lebay.
Ini bukan manja.
Ini adalah bentuk kehati-hatian.
Demam sedikit dikira virus corona.
Lebay! Manja!
Virus corona itu punya banyak gejala: batuk, demam tinggi, sesak napas, sulit menelan, tenggorokan meradang, dll.
Nah, supaya enak, kita terapkan prinsip kehati-hatian pada diri kita.
Maksudnya?
Kita pakaikan skala 1 sampai 5 untuk gejala-gejala itu.
Skala 1 untuk yang mengalami salah satu dari banyak gejala itu.
Skala 2-3 untuk yang mengalami lebih dari satu dari gejala itu.
Skala 4-5 untuk yang mengalami semua gejala itu.
Hati-hati maksudnya ketika kita masih di skala 1, segera periksakan diri kita ke dokter. Apalagi kalau skala 1 itu sudah kita alami beberapa hari.
Itulah yang dialami Bapak Bima Arya, Walikota Bogor. Gejala beliau baru batuk-batuk. Tapi beliau sudah dianjurkan menjalankan prosedur selayaknya orang terinfeksi virus Corona.
Ini jelas sebagai bentuk kehati-hatian.
Begitu pula dengan Pemilik sebuah perusahaan distributor gas LPG di Kendari, rekanan Pertamina. Beliau tiba-tiba saja demam sampai 40 DC. Dicek riwayat perjalanannya, beliau baru saja dari Bali menghadiri acara Pertamina.
Akhirnya, beliau sekarang dengan cepat menjalankan prosedur selayaknya orang terinfeksi virus corona.
Ini jelas sebagai bentuk kehati-hatian.
Ini bukan lebay.
Ini bukan manja.
Ini adalah bentuk kehati-hatian.
Kamis, 19 Maret 2020
Takut
Takut terhadap sesuatu yang membahayakan jiwa itu sangat manusiawi. Makanya, jauhi sesuatu itu! Jangan dekati! Itulah bentuk usaha manusia menjalankan salah satu nalurinya: mempertahankan jiwa. Dan bukankah agama pun menyeru kepada kita untuk menjaga jiwa?
Kecuali, kita punya senjata (benda atau pengetahuan) untuk menghadapi sesuatu itu. Dan kita yakin bisa mempertahankan jiwa dengan senjata itu. Maka usaha pun dilakukan.
Contoh: ketika buaya berkalung ban berkeliaran di Sungai Palu, seorang pejabat Palu menantang warga untuk melepaskan bannya. Semua warga menolak karena takut jiwanya terancam dan melayang.
Tidak lama, dua bule Australia menerima tantangan itu. Mereka datang dan menjalankan misinya. Akhirnya, dua bule Australia itu berhasil. Warga malah ramai-ramai melihat aksi mereka. Sebagian membantu.
Kenapa dua bule Australia itu berani dan berhasil? Karena keduanya punya senjata tentang buaya. Kenapa warga ramai-ramai membantu? Karena mereka merasa yakin, senjata dua bule Australia itu mampu menjaga jiwa mereka.
Kalau ternyata senjata itu tidak mampu menjaga jiwa, itulah takdir Allah. Yang penting manusia sudah berusaha dengan senjatanya, tidak pasrah seadanya. Tidak pula gagah-gagahan: sok berani tapi tidak punya senjata.
*****
Virus corona pun demikian. Para ahli bilang: virus itu berbahaya dan mewabah. Vaksinnya belum ditemukan secara pasti dan efektif. Maka apa tindakan manusia? Jauhi dan jangan dekati virus itu!
Dulu, waktu malaria mulai merajalela di Papua, orang-orang dilarang ke sana. Tapi setelah vaksin malaria ditemukan, orang bebas-bebas saja ke sana, tapi dengan anjuran: suntik vaksin dulu baru berangkat.
Pun vaksinnya sudah ada, yang wafat karena malaria ternyata masih banyak. Itulah takdir Allah. Yang terpenting, manusia sudah mengusahakan senjatanya. Tidak pasrah seadanya. Tidak pula gagah-gagahan: sok berani tapi tidak punya senjata.
*****
Apakah takut manusiawi bertentangan dengan takut kepada Allah?
Sama sekali tidak.
Ketika manusia takut jiwanya terancam akibat kecelakaan kendaraan, upaya yang dilakukannya adalah memakai helm, memakai safety belt, dan lainnya. Jelas salah kalau kemudian ada yang bertanya: kenapa harus pakai helm? Kenapa harus pakai safety belt? Kalian lebih takut sama kecelakaan kah daripada sama Allah?
Ketika manusia takut jiwanya terancam akibat virus corona, upaya yang dilakukannya adalah menjaga jarak dengan manusia lain, menjaga aktifitas, dan lainnya. Jelas salah kalau kemudian ada yang bertanya: kenapa harus jaga jarak? Kenapa harus jaga aktifitas? Kalian lebih takut sama virus corona kah daripada sama Allah?
Takut yang bertentangan dengan takut kepada Allah adalah takut yang mengandung unsur kesyirikan. Contohnya, takut melangkah di atas sebuah batu karena keyakinan: siapa yang melangkah di atas batu akan celaka. Takut duduk di bawah pohon karena keyakinan: siapa yang duduk di bawah pohon rejekinya kurang lancar. Dan ragam keyakinan syirik lainnya.
Kecuali, kita punya senjata (benda atau pengetahuan) untuk menghadapi sesuatu itu. Dan kita yakin bisa mempertahankan jiwa dengan senjata itu. Maka usaha pun dilakukan.
Contoh: ketika buaya berkalung ban berkeliaran di Sungai Palu, seorang pejabat Palu menantang warga untuk melepaskan bannya. Semua warga menolak karena takut jiwanya terancam dan melayang.
Tidak lama, dua bule Australia menerima tantangan itu. Mereka datang dan menjalankan misinya. Akhirnya, dua bule Australia itu berhasil. Warga malah ramai-ramai melihat aksi mereka. Sebagian membantu.
Kenapa dua bule Australia itu berani dan berhasil? Karena keduanya punya senjata tentang buaya. Kenapa warga ramai-ramai membantu? Karena mereka merasa yakin, senjata dua bule Australia itu mampu menjaga jiwa mereka.
Kalau ternyata senjata itu tidak mampu menjaga jiwa, itulah takdir Allah. Yang penting manusia sudah berusaha dengan senjatanya, tidak pasrah seadanya. Tidak pula gagah-gagahan: sok berani tapi tidak punya senjata.
*****
Virus corona pun demikian. Para ahli bilang: virus itu berbahaya dan mewabah. Vaksinnya belum ditemukan secara pasti dan efektif. Maka apa tindakan manusia? Jauhi dan jangan dekati virus itu!
Dulu, waktu malaria mulai merajalela di Papua, orang-orang dilarang ke sana. Tapi setelah vaksin malaria ditemukan, orang bebas-bebas saja ke sana, tapi dengan anjuran: suntik vaksin dulu baru berangkat.
Pun vaksinnya sudah ada, yang wafat karena malaria ternyata masih banyak. Itulah takdir Allah. Yang terpenting, manusia sudah mengusahakan senjatanya. Tidak pasrah seadanya. Tidak pula gagah-gagahan: sok berani tapi tidak punya senjata.
*****
Apakah takut manusiawi bertentangan dengan takut kepada Allah?
Sama sekali tidak.
Ketika manusia takut jiwanya terancam akibat kecelakaan kendaraan, upaya yang dilakukannya adalah memakai helm, memakai safety belt, dan lainnya. Jelas salah kalau kemudian ada yang bertanya: kenapa harus pakai helm? Kenapa harus pakai safety belt? Kalian lebih takut sama kecelakaan kah daripada sama Allah?
Ketika manusia takut jiwanya terancam akibat virus corona, upaya yang dilakukannya adalah menjaga jarak dengan manusia lain, menjaga aktifitas, dan lainnya. Jelas salah kalau kemudian ada yang bertanya: kenapa harus jaga jarak? Kenapa harus jaga aktifitas? Kalian lebih takut sama virus corona kah daripada sama Allah?
Takut yang bertentangan dengan takut kepada Allah adalah takut yang mengandung unsur kesyirikan. Contohnya, takut melangkah di atas sebuah batu karena keyakinan: siapa yang melangkah di atas batu akan celaka. Takut duduk di bawah pohon karena keyakinan: siapa yang duduk di bawah pohon rejekinya kurang lancar. Dan ragam keyakinan syirik lainnya.
Langganan:
Postingan (Atom)

