Selasa, 26 Maret 2013

Akhir

Lukisan: Vincent Van Gogh














Hidup telah meninggalkanku
Jauh hingga waktu pun 'tak tahu
Luka yang teramat pilu
Menarik nafasku perlahan berhembus

Hari bertemu Tuhanku telah tiba
Saatnya ruh meninggalkan raga
Ku coba mengetuk pagi yang sepi
Ternyata dunia yang indah itu telah pergi

Minggu, 17 Maret 2013

Daun Manusia

Foto: Paul Hansen













Daun itu jatuh
Tertiup angin nan riuh
Layu mengering dan tersapu
Itulah akhir cerita daun

Manusia itu gugur
Terbingkai episode nan teratur
Pucat melemah dan terkubur
Itulah akhir cerita manusia

Minggu, 10 Maret 2013

Cinta

Lukisan: Vincent Van Gogh












Cinta bukanlah daun yang mudah layu
Melainkan akar yang tertanam kuat
Kuat 'tak terjamah mimpi-mimpi
Dari para pemimpi yang 'tak pernah mengerti

Cinta bukanlah laut yang mudah surut
Melainkan karang yang berdiri kokoh
Kokoh 'tak terusik janji-janji
Dari para pejanji yang 'tak pernah menepati

Cinta 'tak seperih tajamnya duri
Melainkan seindah mawar bersemi
Merah mewarnai jiwa
Membawa berlabuh ke surga yang indah

Selasa, 22 Januari 2013

Banda Aceh

Masjid Baiturrahman, Banda Aceh
Ini pengalaman lama, tapi 'tak apa saya menuliskannnya. Biar menjadi sejarah.

Pertengahan 2008, saya mengunjungi Banda Aceh. Pesawat Sriwijaya Air yang saya tumpangi memutar di atas pantai kemudian mendarat di bandara yang memang dekat dengan pantai.

Melihat pantai dari balik kaca pesawat, terbayang dalam pikiran saya kejadian 2004 silam: air bah melaju cepat dari pantai lalu menyapu semua daratan yang dicapainya, termasuk bandara yang akan saya pijak.

Pascagempa dan tsunami, bandara Sultan Iskandar Muda memang rusak berat. Banyak karyawan yang bekerja di situ menjadi korban. Pun demikian di wilayah Aceh lainnya. Keadaan itu abadi dalam dokumentasi media.

Saya dijemput oleh seorang teman yang telah menunggu dengan mobilnya. Saya pun diajaknya berjalan-jalan melihat kota Banda Aceh.

Kesunyian, itulah yang saya rasakan sepanjang perjalanan. Entahlah, apakah itu suasana traumatik pascagempa dan tsunami atau apa. Yang jelas, suasana betul-betul sunyi. Kata teman: "Memang begini Aceh kalau masih jam delapan pagi."

Ya, jam delapan pagi di Aceh sama suasananya seperti jam enam pagi di Makassar, aktifitas belum terlalu menggeliat. Wajar saja, letak Aceh di posisi paling barat Indonesia membuatnya paling terakhir didatangi matahari.

Pagi-pagi, warga Aceh biasanya ramai berkumpul di warung kopi. Menikmati kopi Aceh yang terkenal, bercerita sambil lalu atau sekadar membaca koran. Saya sempat menikmati kopi Aceh secangkir. Nikmat memang.

*****

Wajar jika Aceh disebut serambi Mekkah. Di jalanan-jalanan yang saya lalui, banyak terlihat masjid-masjid berukuran besar. Satu yang paling terkenal adalah Masjid Baiturrahman. Saya sholat Maghrib di masjid itu. 

Masjid itu menjadi penopang banyak warga ketika bencana terjadi. Di televisi, pemandangan itu begitu mengharukannya. Warga berkumpul dan berteriak-teriak menyebut Allah.

Kontras dengan kata teman saya: "Bagaimana bencana tidak terjadi, di situ (sambil menunjuk halaman masjid Baiturrahman yang besar) banyak muda-mudi pacaran tiap malam."

*****

Malam menjelang, mata saya silau melihat pemandangan di jalanan kota Banda Aceh. Puluhan kendaraan lalu-lalang dengan kencangnya. Sebuah motor terlihat melaju dengan gilanya. Pengemudinya seorang wanita berjilbab dengan dua boncengan teman perempuan di belakangnya yang juga berjilbab. Ketiganya tidak memakai helm.

Saya dan teman makan malam di sebuah warung seafood sederhana di pinggiran jalan. Di dinding warung itu, terpampang poster tim sepakbola kebanggaan warga Banda Aceh: Persiraja. Pelayan warung berkata: "Semua pemain yang di gambar itu meninggal dunia saat tsunami terjadi."

Selasa, 01 Januari 2013

Kehidupan John Lennon (1970 - 1980): Kebahagiaan dan Kematian

Yoko, Sean, dan John
Setelah The Beatles bubar pada 1970, John Lennon bersolo karir. Pesonanya sebagai seorang jenius di bidang musik tidak hilang. Beberapa karya diciptakannya dan mewarnai dunia. Lagu Give Peace a Change dan Imagine, contohnya, menjadi lagu persatuan komunitas kemanusiaan dan perdamaian di seluruh dunia; lagu Working Class Heroes menjadi lagu kebanggaan kaum buruh.

Dalam berkeluarga, John juga meraih kebahagiaan bersama Yoko. Terlebih setelah kelahiran buah hati mereka, Sean Lennon, pada 1975. Boleh dikata, bersama Yoko, perilaku John berubah drastis. 'Tak ada lagi perilaku hippies, John malah menjadi aktifis kemanusiaan: menolak Perang Vietnam, menyerukan perdamaian dunia. John juga sangat perhatian terhadap keluarga. Waktunya selalu dihabiskan bersama Yoko dan Sean.

John dan Yoko berpose telanjang
Cara-cara unik dilakukan John untuk mengabadikan kebahagiaannya bersama Yoko. Salah satunya berfoto bersama Yoko dengan pose telanjang. Dia mengundang fotografer Anne Leibovitz ke apartemennya kemudian mengambil beberapa gambar dimana keduanya telanjang bersama. Foto itu menjadi abadi sekaligus kontroversi. Sebagian foto itu telah dilelang di Balai Lelang Duke.

Hingga pada 1980, kebahagiaan itu berganti kematian. John ditembak mati penggemarnya bernama Mark David Chapman. Di depan apartemennya di New York; di depan istrinya yang sangat mencintainya. John tersungkur berlumur darah. Berita kematiannya segera tersebar ke seluruh Amerika Serikat, Inggris, dan seluruh dunia.

*****

Mark David Chapman
Mark David Chapman adalah warga Hawaii, Amerika Serikat, yang sangat menggemari grup musik rock ‘n roll The Beatles. Dia kemudian belajar main gitar dan bercita-cita untuk menjadi musisi. Namun, hidupnya berubah ketika dia menjadi penganut Kristen Fundamentalis. Dari penggemar The Beatles, Chapman berbalik menjadi pembencinya. Dia beranggapan The Beatles memberikan pengaruh buruk bagi masyarakat dunia, terutama anak muda.

Terkhusus John Lennon, Chapman menganggap pemikirannya sangat berbahaya bagi agama dan negara, seperti yang dituliskan John dalam lagu Imagine. Chapman kemudian mencetuskan niat gila: membunuh John Lennon. Lirik lagu Imagine dirubahnya, “Imagine John Lennon Dead,” rubah Chapman.

Langkah awal, Chapman terbang dari Hawaii menuju New York pada Sabtu, 6 Desember 1980. Dia kemudian menginap di tempat penginapan murah YMCA, sekira sembilan blok dari apartemen The Dakota, tempat John tinggal bersama istrinya, Yoko Ono, dan anaknya, Sean Lennon.

Chapman memulai aksinya dengan sering modar-mandir di depan apartemen John menggunakan taksi. Dia bahkan membual kepada Mark Snyder, supir taksi yang membawanya, bahwa dia adalah seorang teknisi suara yang menangani album rekaman John.

Minggu, 7 Desember 1980, Chapman kembali mondar-mandir di depan apartemen John. Dia bahkan berpindah tempat inap ke hotel Sheraton Centre yang jaraknya lebih dekat.

Senin sore, 8 Desember 1980, hari ketiga Chapman modar-mandir di depan apartemen John. Kali ini, dia tidak sendiri, dia bersama seorang fotografer amatir, Paul Goresh, yang juga penggemar John. “Saya sudah tiga hari keluyuran disini dan berharap dapat menjumpai Lennon dan meminta tandatangannya,” kata Chapman kepada Goresh.

Sekira pukul 17.00, John dan Yoko keluar dari apartemennya untuk pergi rekaman di studio Record Plant. Chapman mendekati John sambil menyodorkan album baru John, Double Fantasy. John menerimanya dan mencoretkan tandatangannya di atas sampul album itu. Goresh mengabadikan moment itu.

Chapman sangat gembira. “John Lennon menandatangani album saya. Tak seorang pun di Hawaii yang akan percaya kepada saya,” kata Chapman.

John saat menandatangani album Double Fantasy milik Chapman
 Selepas John dan Yoko pergi, Chapman dan Goresh masih berdiri di tempatnya. Lalu Goresh kemudian memutuskan untuk pulang. Chapman berusaha menahannya dan berkata, “John Lennon akan segera kembali, kau bisa meminta tanda tangannya.” Goresh menjawab bahwa dia akan minta tanda tangan John di lain hari. “Akan saya tunggu. Kau takkan tahu kapan kau bisa menjumpainya lagi,” kata Chapman.

John dan Yoko melakukan rekaman untuk lagu baru berjudul Walkin on Thin Ice yang akan dirilis awal tahun baru 1981. Single itu dinyanyikan oleh Yoko; John hanya mengiringinya dengan gitar. Keduanya juga melakukan wawancara dengan RKO radio hingga pukul 22.30 malam.

Selepas rekaman dan wawancara, John dan Yoko berencana untuk makan malam, namun tidak jadi karena John ingin sekali melihat anaknya Sean sebelum tidur. “Jangan! Kita pulang saja, soalnya saya mau melihat Sean sebelum tidur,” kata John. Keduanya kemudian pulang.

Mobil limousine sewaan mereka kembali ke apartemen pada pukul 22.50 malam. Limousine menepi di pinggir jalan. Yoko keluar dari mobil diiringi John. Saat keduanya berjalan dan mendekati pintu gerbang apartemen yang dijaga oleh seorang penjaga, Chapman yang telah lama menunggu memanggil John dengan sopan, “Mr. Lennon!” John berbalik dan Chapman pun melaksanakan niatnya.

Ketika John berbalik ke arahnya, Chapman mengarahkan pistol dengan kedua tangannya ke arah John dan menembaknya lima kali dari jarak dekat. Empat peluru bersarang di pundak John, satu meleset. John sempoyongan dan sempat berjalan enam langkah sambil berteriak, “Saya tertembak!” sebelum dia terjatuh. Tubuh John tergeletak berlumur darah.

Yoko histeris dan menyandarkan kepala John di tangannya. Chapman membuang senjatanya ke tanah yang kemudian ditendang jauh oleh penjaga pintu. “Apakah kau menyadari apa yang kau lakukan?” Tanya penjaga pintu kepada Chapman. “Saya baru saja menembak John Lennon,” jawab Chapman, tenang tapi kebingungan.

Lama kemudian, polisi datang atas panggilan penjaga pintu. Chapman menunggu dengan tenang sambil membaca novel klasik karangan J. D. Silinger, The Catcther in The Rye. Dua orang polisi menggeledah dan memborgol Chapman; dua polisi lainnya memeriksa tubuh John. “Tubuhnya bermandikan darah, semuanya merah. Orang ini sedang sekarat, lekas angkat!” Seru seorang polisi.

John yang setengah sadar lalu diangkat ke jok belakang mobil patroli polisi milik James Moran. “Tahukah siapa Anda?” Tanya Moran hendak menguji kesadaran John. John mengerang sambil menganggukkan kepalanya. Ketika Moran melarikan John ke Roosevelt Hospital yang berjarak 15 blok dari lokasi kejadian, Palma membuntutinya bersama Yoko.

Meskipun John tiba di rumah sakit tanpa detak jantung, tim dokter tetap berusaha menyelamatkan nyawanya menggunakan berbagai prosedur medis. Transfusi darah dan pemijatan jantung diusahakan untuk menyelamatkan jiwanya. Namun semua itu terlambat. John Lennon diumumkan meninggal dunia.

Disaat John dinyatakan telah meninggal dunia di Roosevelt Hospital, Chapman langsung ditangkap oleh petugas dan dibawa ke kantor polisi untuk diinterogasi. Anehnya, saat disuruh menuliskan namanya, Chapman menuliskan John Lennon sebagai namanya. Dia bahkan mengaku membunuh John karena mendapatkan wahyu.

Atas tindakannya, Chapman dihukumi 25 tahun penjara. Sementara Yoko harus berjuang hidup bersama Sean tanpa John. Hingga kini, Yoko tidak pernah memaafkan tindakan Chapman.

Referensi dan foto diambil dari pelbagai sumber.

Minggu, 30 Desember 2012

Kehidupan John Lennon (1960 - 1970): Musik dan Keluarga

"Saya ini seorang seniman. Berikan saya tuba dan saya akan memanfaatkannya." (John Lennon)

Pada 1960, John Lennon memulai karir musik profesionalnya. Bersama Paul MacCartney dan George Harrison, dia mengguncang dunia musik melalui grup The Beatles. Ketiganya menjadi kombinasi yang sempurna. Tampan dan memesona. Belakangan, bergabungnya Ringgo Star menggantikan Pete Best semakin menyempurnakan semua.

The Beatles: George, John, Ringgo, dan Paul
The Beatles awalnya lahir sebagai band beraliran rock n' roll. Namun seiring perjalanan, musik band ini banyak bereksperimen. Kejeniusan personalnya, terkhusus John dan Paul, dalam meramu lagu dan ragam alat musik melahirkan banyak gaya musik yang unik: blues, country, balada, dan lainnnya. Musik The beatles pun dijuluki beraliran eksperimental dan diklaim oleh banyak musisi sebagai sumber dari segala jenis musik di dunia.

Kafe-kafe di Hamburg, Jerman, menjadi saksi awal eksistensi The Beatles. Dari situ, mereka mendapatkan banyak penggemar. Hingga pada 1962, The Beatles memperoleh kontrak dengan perusahaan rekaman EMI. Hal yang membuat mereka pulang kampung kembali ke Inggris dan mulai berkreasi di studio EMI's Abbey Road, London, Inggris.

Dalam perjalanannya, sejak 1962, lahirlah album-album The Beatles yang tersebar di Inggris, Amerika Serikat, dan seluruh dunia: Please Please Me, With The Beatles, Beatles For Sale, A Hard's Day Night, Rubber Soul, Help, Revolver, Sgt. Peppers Lonely Hearts Club Band, Magical Mystery Tour, White Album, Yellow Submarine, Abbey Road, dan Let It Be.

Lagu-lagu ciptaan John mendominasi album-album itu, selain juga lagu-lagu Paul. Lagu-lagu John sangat kuat dari sisi lirik karena beberapa menceritakan kehidupan masa lalunya. Menariknya, nada musik yang digunakan John pada lagunya terdengar nyeleneh, lompat-lompat 'tak berirama. John juga menggunakan ragam alat musik: harmonika, tuba, sitar, dan lainnya. Beberapa lagu John yang terdengar unik dan tidak ada duanya di dunia adalah Tomorow Never Knows, Fool on The Hill, Mother Nature Son, Julia, A Day in The Life, Strawberry Fields Forever, Penny Lane, Don't Let Me Down, dan lainnya. 

Cynthia, Julian, dan John
Pada 1962, John berkeluarga untuk pertama kali. Dari beberapa wanita yang disetubuhinya, dia memilih Cynthia Powell, teman kuliahnya di Liverpool College of Art, sebagai istrinya. Bukan tanpa alasan, Cynthia telah mengandung anak hasil hubungan intim mereka berdua. Anak itu akhirnya lahir dan diberi nama Julian Lennon.

Hubungan John dan Cynthia retak beberapa tahun kemudian. John ketahuan selingkuh dengan wanita Jepang bernama Yoko. Karena John lebih memilih Yoko, dia dengan Cynthia pun akhirnya bercerai pada 1968. Perceraian John dan Cynthia mendapat simpati dari Paul, terlebih terhadap anak mereka Julian yang masih kecil. Paul pun menciptakan lagu berjudul Hey Julian yang digubah menjadi Hey Jude untuk menghibur Cynthia dan Julian. Lagu itu merupakan satu dari banyak lagu The Beatles yang abadi.

John dan Yoko
Sementara itu, hubungan John dan Yoko terus berlangsung. Hubungan itu dititahkan John dalam sebuah lagu berjudul The Ballad of John and Yoko. Hubungan yang menurut perkiraan banyak pengamat musik menjadi salah satu penyebab bubarnya The Beatles pada 1970. "Saya membuat band ini dan saya membubarkannya. Ini sesederhana itu," kata John setelah The Beatles bubar.

Referensi dan foto: diambil dari pelbagai sumber.

Sabtu, 29 Desember 2012

Kehidupan John Lennon (Episode 1946 - 1960): Kehilangan dan Perpisahan

Mimi dan John Lennon
Pada 1946, setelah kedua orangtuanya berpisah, John Lennon kecil tinggal bersama paman dan bibinya: George Smith dan Mary Elizabeth Smith atau akrab disapa Mimi. Mereka bertiga tinggal di sebuah rumah sederhana di Mendips, 251 Menlove Avenue, Woolton, Liverpool. Walau pun tinggal bersama paman-bibinya, John 'tak kekurangan sesuatu apapun sebagai seorang anak. Kasih sayang, biaya hidup, biaya sekolah, semuanya terpenuhi.

Dovedale Primary School adalah sekolah pertama John. Di sekolah itu, John meluapkan kegembiraannya sebagai anak kecil: bermain, menggambar, dan berlari-lari di kebun stroberi (strawbery field). John juga menonjol di antara murid lain karena mampu menunjukkan bakat seninya: menggambar kartun.

Dalam perjalanannya, semakin hari semakin tahun, karakter John mulai kelihatan. Dia tumbuh menjadi remaja yang bengal. John nampaknya mewarisi perilaku bebas ibu kandungnya, Julia Stanley. Pada saat sekolah di Quarry Bank High School, misalnya, jam pelajaran dihabiskannya untuk menggambar kartun, termasuk gambar kartun gurunya yang menjelaskan di depan. Dalam pergaulan dengan temannya, John juga 'tak segan-segan menggunakan kata-kata kasar untuk menghina temannya. Yang paling parah, di hadapan murid wanita, John tanpa ragu mempertontonkan kemaluannya.

John Lennon (tengah atas) di Dovedale Primary School
John Lennon (tengah atas) di Quarry Bank High School
Perihal penampilan, sama seperti murid pria lain, John sangat menjaganya. Salah satunya: dia sangat tidak suka memakai kacamata meskipun matanya rabun. "Buddy holy," kata John menilai penampilannya ketika berkacamata. Mimi pun harus mengingatkan John setiap hari agar 'tak lupa membawa dan memakai kacamatanya.

Di rumah, John begitu dekat dengan pamannya, George. Bagi John, George lebih dari seorang paman dan telah menjadi ayah yang baik baginya. Terlebih George sangat mengerti perilaku bebas John. Tidak seperti Mimi yang senantiasa mendisiplinkannya dan mengharapkannya sukses dalam akademik. Kecintaan John kepada George semakin besar ketika George menghadiahkannya sebuah harmonika. Harmonika itu menjadi alat musik pertama yang dikuasai John.

George dan John
Roda hidup kadang berputar ke bawah. Itu pula yang dialami John saat dia kehilangan George. Paman yang sangat disayanginya itu meninggal dunia secara tiba-tiba karena serangan jantung. John bersedih atas hal itu dan memeluk Mimi dari belakang. Mimi kemudian berkata, "Jangan tampak bodoh. Kalau mau menangis di dalam kamar. Sekarang hanya kita berdua dan kita harus melanjutkan hidup."

Selepas kepergian George, Mimi semakin mendisiplinkan John dan tetap menginginkannya sukses dalam akademik. Salah satu caranya: Mimi menerima seorang mahasiswa biokimia bernama Michael Fishwick untuk tinggal di rumahnya. Namun John tidak terpengaruh. Dia tetap dengan perilaku bebasnya. John malah semakin malas ke sekolah. Puncaknya, John dan sahabatnya, Peter Shotton, dikeluarkan dari sekolah karena memperlihatkan majalah dewasa kepada wanita tua dalam bus.

John tidak membiarkan surat pemecatan dari sekolahnya diterima oleh Mimi. Dia menahan petugas pos di depan rumahnya, mengambil suratnya, lalu membakarnya. Selanjutnya, John mengunjungi ibunya Julia Stanley dan tinggal bersamanya setelah terlebih dahulu menjelaskan semua yang dialaminya di sekolah. Oleh Julia, John diajari main banjo sampai mahir dan sedikit piano. Julia juga memperkenalkan kepada John musik rock n' roll. Selain itu, John juga mengakrabkan diri dengan dua adiknya, Julia dan Jackie, serta ayah tirinya, Bobby.

Lama kemudian, Mimi mengetahui bahwa John dikeluarkan dari sekolah. Mimi pun segera tahu keberadaan John dan mendatanginya. Saat mendapati John bersama Julia, Mimi memarahi Julia dan berkata, "Tidak Julia. Mungkin ini hidupmu...kekacauan. Tapi ini bukan dia (John)." Julia marah dan mengusir Mimi.

Bobby, ayah tiri John, menasehati Julia untuk mengembalikan John kepada Mimi. Alasannya: Mimilah yang merawat John dari kecil. Terlebih Mimi sekarang hidup sendiri setelah ditinggal suaminya. Keberadaan John tentu akan menghiburnya. Hal itu kemudian disadari sendiri oleh John dan mengantarnya kembali kepada Mimi.

Bertemu Mimi kembali, John mengutarakan niatnya yang terpendam: membuat grup musik rock n' roll, "...seperti Elvis," kata John. Mimi mendukung niat John itu dan membelikannya sebuah gitar klasik seharga 7 poundsterling. John kemudian mengajak teman-temanya di Quarry Bank High School untuk bergabung dengan bandnya: Eric pada gitar, Len pada bass, Peter pada drum, dan Rodders pada banjo. Nama bandnya berubah-ubah, dari Skiffle Group, Blackjack, dan terakhir The Quarrymen, diambil dari nama sekolah mereka.

John dan The Quarrymen
The Quarrymen tampil perdana dalam sebuah pertunjukan di taman kota Liverpool. Lagu andalan mereka berjudul Maggie Mae. Dalam penampilan itu, John memakai gitar barunya dan berperan sebagai vokalis. Lucunya, John memainkan gitarnya dengan kunci banjo.

Paul MacCartney, pemuda 15 tahun, hadir dalam pertunjukan itu dan kagum dengan penampilan The Quarrymen. Setelahnya, Paul pun memperkenalkan dirinya kepada John dan teman-temannya. Paul juga mempertunjukkan kemampuannya bermain gitar dengan musik rock n' roll. Akhirnya, karena John kagum dengan kemampuan Paul. Paul pun bergabung menjadi personal The Quarrymen.

John mengajak Paul ke rumahnya dan meminta Paul mengajarinya main gitar. Dari situ, John menjadi mahir bermain gitar. Selain mengajari John bermain gitar, Paul juga mengajak John untuk menciptakan lagu. "Jika kita ingin bermain musik, kita harus menulis karya sendiri, dan kita tidak perlu khawatir dengan perusahaan rekaman," kata Paul.

Kebersamaan John dan Paul memulai persahabatan mereka. Meskipun keduanya bertolak belakang dari sisi perilaku. John jelas tercipta sebagai musisi rock n' roll dengan gaya rock n' roll, sementara Paul 'tak tampak sebagai musisi rock n' roll dengan gayanya yang kalem. "Rock n' roll itu hanya musik. Sederhana," alasan Paul. Paul kalem, John liar, itulah fakta keduanya. John bahkan punya kebiasaan hippies: menarik penggemarnya ke tempat sepi lalu menyetubuhinya. Tapi keduanya mampu bersatu dan bersahabat.

Selanjutnya, John dan Paul saling bekerja sama dalam band. Untuk memperkuat band, Paul mengajak sahabatnya, George Harrison, setelah terlebih dahulu memperkenalkannya kepada John. John tertarik dengan permainan gitar George dan George pun bergabung sebagai personal The Quarrymen.

Di belakang John, Mimi dan Julia menjalin hubungan baik. Keduanya sepakat berbaikan demi mendukung karir John. Hal tersebut membuat John sangat bahagia. Untuk memperkuat kemampuan musiknya, John kuliah di Liverpool Art College. Oleh Mimi, John juga dihadiahi sebuah biola.

Di tengah gairah John untuk bermusik, roda hidupnya kembali berputar ke bawah. Dia lagi-lagi kehilangan. Ibunya Julia meninggal dunia setelah tertabrak mobil seorang polisi mabuk. Hal yang kemudian membuat John memendam amarah yang teramat dalam, terlebih polisi yang menabrak ibunya terlepas dari segala tuntutan.

The Beatles First
Selanjutnya, John fokus pada musik. Bersama dua personal terakhir yang bertahan: Paul dan George, John mengubah nama bandnya menjadi The Silver Beatles kemudian menjadi The Beatles saja. Mereka masuk dapur rekaman dan mendapat kesempatan untuk tampil di sebuah klub di Hamburg, Jerman.

John mengutarakan kesempatan itu kepada Mimi. Sejenak, Mimi merasa John berbohong. Namun akhirnya dia menyadari bahwa dia akan berpisah dengan anak yang dicintainya itu dan telah bersamanya selama 20 tahun. John kemudian memberikan berkas adminitrasi keberangkatannya ke Hamburg kepada Mimi untuk ditandatangani. "Saya tandatangan sebagai apa? Orangtua atau Wali?" Tanya Mimi kepada John. John menjawab, "Dua-duanya." Jawaban itu membuat Mimi terharu dan memeluk John.

Pada 1960, keduanya pun berpisah setelah bersama sejak John kecil. Kepada Mimi, John berjanji akan meneleponnya setiap minggu selama di Hamburg. John memenuhi janjinya itu.

Referensi: A Biography of John Winston Ono Lennon oleh Jane Teester, film A Nowhere Boy. Foto: diambil dari pelbagai sumber.