Kamis, 09 Januari 2020

Mikroalga untuk Masa Depan

Bu Indriyani sedang presentase
Perempuan yang di foto adalah Bu Indriyani, PhD. Dosen Pertanian Universitas Haluoleo Kendari.

Beliau sedang meneliti manfaat industri mikroalga yang bisa menghasilkan produk komersial berupa makanan, kosmetik, obat, biofuel, dan lainnya

Makanya, beliau gencar mempromosikan proses penelitiannya ke ragam perusahaan yang berpotensi menjadi mitra. Salah satunya Bukaka Group.

*****

Mikroalga adalah bagian terkecil dari material rumput laut. Di Indonesia, kita bisa menemukannya di perairan laut dan danau.

Industri mikroalga sendiri masih sangat minim di dunia. Baru AS, Australia, dan Israel yang serius menggarapnya.

Industri ini bisa menjadi solusi di masa depan karena dampaknya terhadap lingkungan yang minim.

Selasa, 24 September 2019

Piala Dunia 1950-an: Lahirnya Puskas, Adidas, Puma, dan Pele

Setelah Piala Dunia 1938 dihelat, FIFA batal menggelar PD 1942 dan 1948 karena Perang Dunia II. PD kembali digelar pada 1950. Makanya, PD yang dilaksanakan di Brazil ini terbilang spesial karena mengobati penantian fans selama 12 tahun.

Logo PD 1950 (dok. FIFA)
Pun demikian, PD ini tampak timpang karena tim-tim eropa tidak full. Jerman dilarang tampil karena terlibat perang. Juara bertahan Italia banyak kehilangan pemainnya yang bermain di Torino akibat tragedi Superga: pesawat klub Torino menabrak bukit Superga di Lisbon. Makanya, meskipun tetap bermain, Italia tampil defensif yang kemudian melahirkan istilah catenacio.

Hal menarik lainnya: India batal jadi peserta karena tidak boleh bertanding tanpa mengenakan sepatu, nomor punggung untuk pertama kalinya dikenakan di baju pemain, dan sistem knockout dihilangkan dan diganti dengan sistem grup.

Dalam sistem grup, peserta dibagi empat grup. Juara masing-masing grup dibuatkan lagi grup dimana juara grup inilah yang menjadi juara PD. Dan dalam penentuan juara grup, tuan rumah Brazil bertemu Uruguay. Tak disangka, Brazil yang diunggulkan kalah 1-2. Uruguay juara.

Ketua FIFA, Jules Rimet, tak bisa berkata apa-apa dalam sambutannya karena yang dia siapkan adalah pidato kemenangan Brazil. Fans Brazil juga banyak yang depresi sampai-sampai pemerintah Brazil menyebar psikolog.

Brazil Vs Uruguay (dok. FIFA)
*****

Piala Dunia 1954 dilaksanakan di Swiss, markas FIFA. Hungaria menjadi tim favorit karena memiliki Ferenc Puskas, striker terbaik Eropa yang membawa Real Madrid juara Piala Champions tiga kali beruntun.

Logo PD Swiss 1954 (dok. FIFA)
Benar saja, Hungaria tampil trengginas sepanjang turnamen. Jerman Barat digilas 8-3 di babak grup; Brazil dan Uruguay dihabisi di babak gugur. Hungaria ke final dengan 25 gol dan hanya kebobolan 7 gol.

Di final, Hungaria kembali bertemu Jerman Barat, tim yang mereka gilas di penyisihan. Hungaria unggul cepat 2-0, tapi entah kenapa, Jerman Barat mampu membalikkan skor menjadi 2-3 dan juara.

Ferenc Puskas (dok. FIFA)
Banyak yang bertanya-tanya, apa rahasia kemenangan Jerman Barat? Salah satu rahasianya adalah sepatu modern yang disiapkan bagian perlengkapan tim, Adi Dasler. Sepatu itu dapat menyesuaikan dengan kondisi hujan saat laga final berlangsung.

Ferenc Puskas menjadi sejarah sebagai striker berkelas. Namanya diabadikan FIFA dalam ajang gol terbaik, Puskas Award. Sementara Adi Dasler, dalam perjalanannya, membuat perusahaan produsen alat olahraga berlabel AdiDas, singkatan dari namanya. Adiknya Rudolf Dasler juga mendirikan perusahaan yang sama berlabel Puma.

Adi & Rudolf Dasler (dok. adidassler.org)
*****

Piala Dunia 1958 awalnya menjadi tidak menarik karena tim kuat Hungaria banyak kehilangan pemainnya akibat revolusi di negaranya. Fans bola tak bisa lagi menonton aksi Ferenc Puskas.
Logo PD Swedia 1958 (dok. FIFA)
Namun, mata fans bola akhirnya tertuju pada sosok pemain muda berusia 17 tahun, Pele. Skillnya yang menari-nari membawa Brasil menjadi juara dengan mengalahkan tuan rumah Swedia 5-2. Julukan tim samba pun muncul untuk Brasil.

Pele mencetak rekor: pemain muda pertama yang mencetak gol dan hattrick di Piala Dunia, yaitu pada usia 17 tahun 29 hari. Sebaliknya, kapten Swedia Nils Liedholm menjadi pencetak gol tertua, yaitu pada usia 35 tahun 263 hari.
Pele (dok. FIFA)
Just Fontaine, striker Prancis, juga mencetak rekor. Bahkan belum terpecahkan sampai sekarang. Dia menjadi top skor dengan 13 gol.

Safawi

Safawi (dok. BolaSport.com)
Nama Muhammad Safawi Rasid mendadak terkenal. Permainannya yang elegan kala membawa Malaysia membungkam Indonesia 3-2 di Gelora Bung Karno menuai pujian.

Tapi tahukah Anda: ternyata bakat Safawi diasah oleh Rahmad Darmawan, pelatih asal Indonesia.

Itu terjadi pada tahun 2015, saat Rahmad dipercaya menjadi pelatih Trengganu Team (T-Team), tim yang bermain di Malaysian Premiere League (MPL), kasta kedua di bawah Malaysian Super League (MSL). Safawi yang kala itu berusia 16 tahun dan bermain di T-Team junior dipercaya Rahmad masuk skuat T-Team senior berkat skill-nya yang mumpuni.

Hasilnya luar biasa: untuk pertama kalinya T-Team finish di posisi tiga klasemen MPL dan naik kasta ke MSL. T-Team bersama Safawi pun menjadi pujaan supporter. Menggusur kepopuleran Trengganu FC sebagai Tim utama Kota Trengganu.

Rahmad dan Safawi akhirnya berpisah pada 2017. Rahmad 'tak mampu menahan keinginan Safawi bergabung dengan Johor Darul Takzim, Tim terbaik MSL. Rahmad sendiri memilih tidak memperpanjang kontrak di T-Team. Dia memilih kembali ke Indonesia menukangi Sriwijaya FC.

Bahlil Lahadalia

Bahlil Lahadalia (dok: Kemendikbud)
Lahir di Fakfak. Ayah tukang batu. Ibu pembantu. Bersaudara delapan orang. Kemiskinan jelas menjadi temannya. Pasti itu.

Tapi dia tidak menyerah. Dia berjuang. Dia bersyukur: berhasil lulus S1 di Sekolah Ekonomi di Jayapura sana.

Ijazah S1 itulah yang membawanya duduk di kursi kantor bank memelototi dokumen-dokumen transaksi.

Tapi dia bosan. Dia merasa menjadi pegawai bukan jiwanya. Akhirnya dia keluar dan memberanikan diri menjadi pengusaha.

Dia berpikir: menjadi pengusahalah yang akan membebaskan keluarganya dari kemiskinan.

Akhirnya dia berhasil! Usahanya berkembang di segala sektor. Diakui di kalangan pengusaha. Pengakuan yang membawanya menjadi pengusaha level nasional.

Ya, dialah Bahlil Lahadalia, Ketua PB Hipmi.

Selasa, 27 Agustus 2019

Piala Dunia 1930-an: Jules Rimet, Efek Mussolini, dan Keikutsertaan Indonesia

Pada 1930, Piala Dunia digelar untuk pertama kali. Uruguay diangkat menjadi tuan rumah pertama. Alasannya dua: mereka kuat secara tim karena menjuarai Olimpiade dan mereka siap secara infrastruktur.

FIFA, melalui Ketuanya Jules Rimet, berjuang keras melaksanakan PD pertama di Uruguay itu. Mulai menyebarkan undangan sampai membujuk beberapa negara. Tiga belas negara akhirnya bersedia. Sembilan dari benua Amerika; empat dari Eropa. Akomodasi kapal laut peserta, terkhusus tim eropa, sebagian besar ditanggung panitia.

Untuk menghargai perjuangan Jules Rimet, trofi Piala Dunia dinamai dengan namanya.

Jules Rimet (kiri) dan trofi Piala Dunia (dok. FIFA)
Logo Piala Dunia 1930 (dok. Wikipedia)
Uruguay akhirnya melenggang ke partai final bertemu Argentina. Menariknya, masing-masing tim membawa bola sendiri. Wasit memutuskan: babak pertama pakai bola Argentina; babak kedua pakai bola Uruguay. Mungkin pemakaian bola berpengaruh. Argentina unggul 2-1 di babak pertama, tapi kemudian dibaliki 2-4 di babak kedua. Uruguay juara.

Tim Uruguay (dok. FIFA)
*****

Piala Dunia 1934 yang digelar di Italia diwarnai beberapa kontroversi. Pertama, juara bertahan Uruguay menolak ikut sebagai balasan kepada Italia yang menolak ikut pada PD 1930 di Uruguay.

Poster Piala Dunia 1934 (dok. Wikipedia)
Kedua, pengaruh Benito Mussolini, pemimpin fasis Italia, sepanjang turnamen terasa sekali. Salah satunya, dia menunjuk langsung wasit yang memimpin partai semi final antara Italia lawan Austria.

Ketiga, belum ada metode penyelesaian untuk partai yang berakhir seri. Partai perempat final Italia lawan Spanyol yang berakhir seri pun harus diulang 2x45 menit di hari yang sama. Gol semata wayang Gioseppe Meazza memenangkan Italia.

Italia akhirnya menjadi juara setelah mengalahkan Cekoslowakia 2-1 di final. Meskipun ada efek Mussolini, Italia tetap diakui sebagai tim kuat.

Tim Italia bersama Mussolini (dok. FIFA)
*****

Piala Dunia 1938 digelar di Prancis, kampung Jules Rimet, sang Ketua FIFA. Ada beberapa hal menarik dalam even itu. Pertama, beberapa negara batal ikut karena ragam alasan: Spanyol dilanda perang sipil di negaranya; Austria mengalami aneksasi dengan Jerman.

Poster Piala Dunia 1938 (dok. FIFA)
Kedua, final dini terjadi di Semi Final. Sang juara bertahan Italia yang taktis bertemu Brazil yang aktraktif. Karena yakin menang, Brazil bahkan sudah memesan tiket pesawat ke Paris, tempat laga final dihelat. Namun akhirnya Italia yang menang. Sebagai sindiran, Italia nego ke Brazil untuk membeli tiket pesawat yang sudah dibeli, namun ditolak mentah-mentah.

Tim Italia akhirnya naik kereta ke Paris untuk bertemu Hungaria di final. Italia menang 4-2 dan juara untuk kedua kalinya beruntun.

Ketiga, pemain-pemain Indonesia turut bermain di Piala Dunia bersama tim Hindia Belanda. Mereka adalah Anwar Sutan, Achmad Nawir, Hans Taihitu, Tjaak Pattiwael, dan Suvarte Soedarmadji. Mereka gugur setelah dikalahkan Hungaria 6-0.

Tim Hindia Belanda di Piala Dunia 1938 (dok. FIFA)

Rabu, 14 Agustus 2019

As Sudais

Syaikh Abdurrahman As Sudais (dok. Okezone)
Dia sangat nakal saat masih kanak-kanak di Riyadh. Bersyukur ibunya lembut. Meskipun dia nakal, ibunya selalu menegur dengan kalimat doa: semoga engkau menjadi Imam Masjidil Haram!

Tak butuh waktu lama, dia perlahan punya ketertarikan yang luar biasa kepada Al Qur'an. Di usia 12 tahun, dia bahkan sudah menghapalnya.

Dan doa dari ibunya berujung nyata: dia diangkat menjadi Imam Masjidil Haram pada 1990-an. Lantunan ayat-ayat Al Qur'an yang keluar dari mulutnya melegenda ke telinga-telinga umat Muslim di seluruh dunia.

Ya, dialah Syaikh Abdurrahman Al Sudais.

Kaka

Kaka kecil (dok. Google Images)
Bakat sepakbola yang hendak dibangunnya nyaris habis di usia 18. Dia terjatuh di kolam renang. Tulang punggungnya bermasalah. Dia berpotensi lumpuh.

Namun Tuhan masih menolongnya. Dia sembuh dan menemukan lagi titik tertinggi dalam hidupnya. Titik yang 'tak disia-siakannya. Dia terus mengasah kemampuannya bersepak bola.

Akhirnya, dia berhasil meraih level tertinggi dalam karirnya saat bergabung dengan AC Milan. Ragam gelar diraihnya, secara tim maupun individu.

Selebrasi dua tangan menunjuk ke atas adalah bukti kesyukurannya kepada Tuhan atas pencapaiannya.

Ya, dialah Kaka, salah satu playmaker terbaik Brazil dan sepakbola dunia.