Selasa, 09 April 2019

Hail Lewandowski!

Lewandowski Young
Dia beruntung. Lahir pada 1988 tatkala Jerman dan dunia telah melupakan kejahatan Adolf Hitler. Padahal dia adalah cucu dari Paula Hitler, adik bungsu Adolf Hitler.

Dengan kondisi itu, dia pun bisa hidup normal tanpa gejolak sama sekali di Warsawa, Polandia. Dia juga bisa bersekolah dan mengejar cita-citanya menjadi pesepakbola.

Ya, dia adalah Robert Lewandowski, pemain nomor 9 terbaik Eropa saat ini.

Mongol

Mongol Stress (dok. PGI)

Dari Manado, dia ke Jakarta hendak pergi sekolah pendeta. Sayangnya, sponsornya kabur.
Tak punya dana lagi buat balik ke Manado, dia akhirnya hidup luntang-lantung di jalanan. Tidur di emperan restoran; tak punya keluarga.

Untuk menyambung hidup, dia kerja di Rumah Makan Padang sebagai pelayan dengan gaji Rp 420 ribu per bulan. Dia juga sempat menjadi tenaga honor di LP Cipinang.

Dalam perjalanannya, dia menjalani banyak profesi sederhana sebelum akhirnya Tuhan menakdirkannya menjadi pelawak terkenal.

Ya, dialah Rony Immanuel alias Mongol.

Bambang Tolak Antasari Azhar

Bambang Harymurti (dok. Tempo)
Waktu Antasari Azhar dicalonkan menjadi pejabat KPK, panitia seleksi minta kepada Majalah Tempo untuk memeriksa sejarah karirnya. Kabar beredar: Antasari punya banyak harta dari hasil deal-deal perkara selama karirnya di Kejaksaan.

Tempo mengiyakan dan memulai investigasi. Antasari punya rumah, apartemen, dll. Menariknya, saat hendak dimintai konfirmasi oleh dua wartawan Tempo di dua waktu yang berbeda, dua-duanya hendak disuap. Pake uang dollar lagi.

Bambang Harymurti, Pemred Tempo sekaligus salah satu pembentuk UU Tipikor dan Pendiri KPK, bilang ke Panitia Seleksi, "Antasari harus di-cut." Dua wartawan Tempo bahkan memberikan kesaksian.

Tapi apa lacur, Panitia Seleksi meloloskan Antasari Azhar. Bambang Harymurti pun berteriak kepada Panitia Seleksi, "Kalian Brengsek!

KTP Ernest

Ernest (dok. Gadis)
Ernest Prakasa bahagia. Di baris pekerjaan di KTP-nya tertulis Seniman. Bukan lagi wiraswasta, profesi kebanyakan orang keturunan Cina di Indonesia. "Wiraswasta itu umum," katanya, bangga.

Meskipun sudah banyak keturunan Cina yang menjadi Seniman, tapi yang menjadi pelawak masih bisa dihitung jari. Selain Ernest, nama lain yang terkenal adalah Ateng dan Teguh, pendiri Srimulat.

Kamis, 21 Maret 2019

Zaitun Rasmin

Zaitun Rasmin
Zaitun Rasmin pada tahun 80-an adalah mahasiswa Teknik Unhas. Namun keadaan dakwah Islam yang kekurangan pendakwah berkualitas kala itu membuatnya berubah tekad: pergi ke Arab Saudi dan belajar Islam.

Sepulang dari Saudi, Zaitun menghimpun teman-temannya dan mulai berdakwah. Agar dakwah terencana dan efektif, Zaitun mendirikan Yayasan Fathul Muin. Dalam perjalanannya, Fathul Muin berevolusi menjadi Wahdah Islamiyah, dari yayasan kecil berubah menjadi ormas besar.

Dana dari para donatur dimanfaatkan Wahdah Islamiyah untuk dakwah dan kesejahteraan ummat. Mereka mendirikan sekolah dari TK sampai Sekolah Tinggi, rumah sakit bersalin, Yayasan Amil Zakat, Baitul Mall, dan lainnya. Beberapa pendakwah berkualitas juga berhasil mereka didik. Mereka bahkan aktif di MUI. Zaitun sendiri kini aktif di MUI pusat.

Khalid

Khalid Basalamah
Awal tahun 2000, Khalid Basalamah menjadi dedengkot berkembangnya Ahad Net (MLM Syariah) di Makassar dengan Wardah sebagai produk andalannya. Selain itu, beliau juga aktif di yayasan dakwah Islam, Al Irsyad.

Ponakan Prof. Abdurrahman Basalamah (Akademisi UMI) itu mengembangkan usahanya melalui stockist-nya yang terletak di rumah keluarganya yang cukup luas di depan Terminal Malengkeri.

Sembilan tahun kemud
ian, Khalid merasa 'tak mendapat berkah dari MLM. Beliau kemudian beralih ke usaha ekspor kayu gaharu dan rumah makan dengan mengumpulkan modal awal dari keluarga dan teman-temannya, tanpa modal bank sepeser pun.


Usaha beliau berkembang dan telah dijalankan dengan sistem yang baik. Di tengah usahanya, beliau juga berhasil menyelesaikan studi doktornya. Beliau pun kini aktif keliling Indonesia menyampaikan dakwah Islam.

Rojali

Rojali (dok. Kedubes RI di India)
Sebagai diplomat, Rojali 'tak seterkenal Tantowi Yahya atau Dino Pati Jalal. Saat terpilih menjadi Dubes RI untuk India, semua biasa-biasa saja. Angkatan pertama Hubungan Internasional UI itu 'tak disorot.

Sebagai musisi, Rojali juga 'tak seterkenal Joni Iskandar. Padahal, sebelum Joni eksis bersama Orkes Moral Pengantar Minum Racun (OM PMR), Rojali lebih duluan hits bersama Orkes Moral Pancaran Sinar Petromaks (OM PSP), lewat lagu dan film.

OM PSP bahkan menjadi pelopor awal dangdut genre humor. Lewat hits Fatime, Drakula, dan My Bonnie. Sebagai penghargaan, film maker jaman sekarang bahkan me-remake film mereka. Serupa Warkop DKI Reborn.

Ya, beliaulah Rizali Wilmar Inderakusuma. Atau akrab disapa Rojali.