Dari balik kaca pesawat, saya melihat pulau Bali di bawah. Indah
memang. Seperti kata orang-orang. ‘Tak salah jika pulau dengan luas
sekira 5.636,66 km2 itu dijadikan tujuan utama wisata internasional.
Keinternasionalan Bali tampak jelas di bandara Ngurah Rai.
Pesawat-pesawat milik maskapai asing parkir teratur: Virgin, Jetstar,
Silk, dan lainnya. Setiap tahun, Bali dikunjungi hampir satu juta turis
asing (bule). Bule dari Australia dan Jepang mendominasi.
Keinternasionalan Bali juga
tampak di jalanan-jalanan kota. Bule ramai berwara-wiri. Mereka
mengendarai motor, naik mobil, jalan kaki, dan
kongkow-kongkow di cafe
dan restoran. Rasa-rasanya seperti bukan di Indonesia saja.
Banyaknya bangunan hotel, toko, cafe, dan restoran yang didesain
bergaya eropa juga semakin menghilangkan kesan Indonesia. Beruntung
masih banyak bangunan yang didesain mirip Pura (tempat memuja umat Hindu) sehingga nuansa
tradisional ‘tak hilang sama sekali. ‘Tak salah pula jika Bali
dijuluki Pulau Seribu Pura, selain Pulau Dewata.
Pokoknya, kalau Anda keliling Bali, Anda tidak putus-putusnya melihat
dua hal: bule dan bangunan Pura. Sampai bosan!
Pantai adalah surga
Bicara Bali, tidak sah rasanya kalau belum bicara pantai. Ya, di
pulau berpenduduk sekira tiga juta jiwa itu, pantai adalah surga. Surga
bagi para penikmat alam karena keindahannya dan surga bagi para
peselancar karena ombak tingginya.
Empat hari berada di Bali, saya menyempatkan diri mengunjungi empat
pantai:
pertama, Uluwatu. Pantai yang tersembunyi dari keramaian di
daerah Uluwatu itu memiliki ombak yang cukup tinggi dan deras. Pantai
ini pun ramai dikunjungi para peselancar mahir.
Tebing tinggi nan curam juga menjadi ciri alam pantai ini. Banyak
yang berfoto berlatarkan tebing tinggi itu. Beberapa hotel dan Pura
Uluwatu juga menghiasi pantai ini.
 |
| Sunset pantai Uluwatu (foto: Muhardi) |
 |
| Peselancar beraksi di Uluwatu (foto: Muhardi) |
 |
| Vila di antara tebing curam Uluwatu (foto: Muhardi) |
Kedua, Kuta. Pantai ini sangat terkenal sampai-sampai dijadikan judul
lagu oleh penyanyi Andre Hehanusa. Pantai ini juga mudah dijangkau
karena terletak di tengah keramaian daerah Kuta.
Pantai Kuta yang panjang membentang terbuka untuk umum 24 jam. Pada
pagi hari biasanya banyak pengunjung yang lari-lari dan berselancar.
Ombaknya yang tidak ekstrem membuat pantai ini banyak dimanfaatkan
pengunjung untuk belajar berselancar dan berenang. Sebuah tim penyelamat
siap menolong kalau ada pengunjung yang tenggelam.
Sore dan malam hari, pantai Kuta menjadi tempat nongkrong. Sisa dari
nongkrong itu adalah sampah yang bertebaran di mana-mana. Namun jangan
khawatir, tim sukarelawan siap membersihkan pantai Kuta setiap hari.
Untuk menjamin keamanan, pantai Kuta juga dijaga oleh tim security.
 |
| Pantai Kuta (foto: Awilis) |
Ketiga, Jimbaran. Kalau Anda ingin merasakan sensasi makan di tepi
pantai dimana meja dan kursi makan Anda terletak di atas pasir pantai,
datanglah ke Jimbaran. Jajaran restoran siap melayani Anda.
Makanannya dijamin enak dan berkelas dunia. ‘Tak heran, turis asing
pun banyak nongkrong di Jimbaran. Pengamen-pengamen berpakaian khas adat
Bali juga siap menghibur Anda. Uniknya, mereka bisa menyanyikan banyak
lagu dari banyak negara.
 |
| Makan di Jimbaran (foto: Ivan) |
Keempat, Tanah Lot. Kalau Jawa Barat punya Tangkuban Perahu dan Jogjakarta punya Candi Borobudur, maka Bali punya Tanah Lot. Tanah Lot adalah pantai yang sangat indah dan eksotis. Keindahannya
susah dilukiskan dengan kata-kata. Lebih baik dilihat langsung daripada
diceritakan.
Sama seperti Tangkuban Perahu dan Candi Borobudur, di sekitar Tanah
Lot juga ramai pedagang yang menjual baju, celana, dan pelbagai barang
dan souvenir bernuansa Bali.
 |
| Tanah Lot sisi kanan (foto: Muhardi) |
 |
| Tanah Lot sisi kiri (foto: Muhardi) |
Selain empat pantai di atas, masih banyak lagi pantai di Bali yang
tidak kalah indahnya, seperti Nusa Dua, Bedugul, dan lainnya. Butuh
waktu berhari-hari untuk menikmati semua pantai itu.
Rafting di sungai Ayun
‘Tak hanya pantai yang menjadi surga di Bali, sungai pun demikian.
Pemandangannya indah dan arusnya bisa dipakai buat
rafting (arung
jeram).
Saya dan teman-teman menjajaki
rafting di salah satu sungai, yaitu
sungai Ayun. Sungai Ayun yang berarti cantik atau ayu memiliki arus yang
bersahabat sehingga cukup aman bagi pemula, bahkan untuk anak 6 tahun.
Rafting di sungai Ayun menempuh jarak sekira 10 kilometer dalam waktu
sekira 2 jam. Sepanjang perjalanan, kami disuguhkan aksi seru saat
perahu karet melalui batu-batu sungai yang besar.
 |
| Pasukan siap rafting (foto: Muhardi) |
 |
| Rafting sungai Ayun (foto: Muhardi) |
Selain itu, pohon-pohon raksasa yang berjajar di tepi sungai
memberikan kesejukan yang luar biasa. Pemandangan air terjun yang deras
menambah seru suasana. Ditambah ukiran-ukiran cerita wayang yang
menghiasi dinding di tepi sungai.
Meskipun biaya
rafting mahal: Rp 240 ribu per orang, tapi itu terbalaskan dengan keseruan dan pengalaman yang didapatkan.