Selasa, 24 Juli 2012

Kehidupan Pramoedya Ananta Toer (Episode 1942-1947): Sekolah di Taman Siswa, Masuk Militer dan Dipenjara

Pram (foto: koleksi keluarga Pram)
Pada 1942, Pramoedyo (Moek) bersama adiknya Prawito (Pra) meninggalkan kampungnya Blora menuju Jakarta. Moek dan Pra tinggal di rumah pamannya Moedigdo (Om Dig) dan istrinya di daerah Gang Sawo, Kemayoran. Di rumah Om Dig, Moek dan Pra hidup pas-pasan dengan hanya makan sekali sehari, itu pun cuma bubur. Maklum, keadaan waktu itu memang sangat susah sekali. Moek juga melakukan banyak pekerjaan rumah membantu tantenya: ngepel, nyuci, nyetrika, termasuk belanja.

Dalam keadaan seperti itu, Moek tetap bersyukur karena bisa hidup, makan dan bersekolah. Oleh Om Dig, Moek dimasukkan ke sekolah Taman Siswa yang berjarak dekat dari rumah, hanya sekira 100 meter. Hal yang kemudian membuat Moek sangat menghormati Om Dig atas jasanya tersebut. Taman Siswa adalah sekolah yang didirikan Ki Hadjar Dewantara dan cukup besar kala itu, memiliki sekira ratusan cabang di seluruh Indonesia.

Di Taman Siswa, jiwa menulis Moek berkembang. Moek kemudian berteman dengan tiga orang yang juga penulis: AK Hadi, Asrul Sani dan Sandjaja. Keempatnya dikenal sebagai Empat Serangkai Taman Siswa yang sering ikut lomba menulis. Dalam perlombaan, AK Hadi selalu menjadi yang nomor satu, disusul Moek, Asrul Sani dan Sandjaja. Oleh teman-temannya, Pramoedyo akrab dipanggil Pram, bukan Moek.

Suatu ketika, Pram menulis surat kepada Bapaknya di Blora. Dalam surat itu, Pram menyampaikan bahwa dia sudah bersekolah setingkat SMA. Pram juga meminta uang kepada bapaknya untuk membeli sebuah buku. Namun, surat Pram 'tak pernah dibalas oleh bapaknya; uang pun 'tak pernah dikirimkan, padahal seminggu lalu bapaknya mengirimkan uang kepada Pra. Pram kembali sakit hati kepada bapaknya dan berjanji tidak akan lagi meminta uang kepada bapaknya. Pram lalu memutuskan untuk mencari kerja.

Sambil bersekolah, Pram akhirnya bekerja di kantor berita Domei (sekarang kantor berita Antara) sebagai juru ketik. Pram bersekolah di pagi hari dan bekerja di sore hari. Uang hasil kerja dipakai Pram membiayai sekolah Pra, sebagian dikirim ke Blora. Di tempat kerjanya, Pram banyak belajar sastra dan pers, termasuk banyak membaca buku-buku untuk menambah wawasannya. Saat libur di hari Ahad, Pram juga meluangkan waktunya membaca buku di perpustakaan Gedung Gajah.

Pada 1945, Pram membantu Om Dig mengurusi penerbitan majalah The Voice of Free Indonesia. Setelah itu, Pram diajak AK Hadi bersama puluhan pemuda bergabung dengan tentara Siliwangi (Militer) di Cikampek. Pram pun menjalani kehidupan baru di Militer. Awalnya, Pram bertugas di bagian perhubungan dimana AK Hadi sebagai Komandannya, tapi kemudian Pram pindah ke bagian perkabaran (korespondensi).

AK Hadi menceritakan kenangan di Militer saat Pram menjadi anakbuahya, "Pram pernah ngawal saya mbongkar gudang bahan makanan punya Belanda.... Pram pernah bertengkar dengan yang namanya Durahman. Entah masalah apa mereka bertengkar, saya ndak tahu. Tapi waktu itu Durahman sempat menodongkan pistolnya pada Pram. Anehnya, Pram bukan angkat tangan, malah berteriak sambil nudingkan telunjuknya pada pistol Durahman, 'Masukkan! Masukkan!' Katanya. Tapi Pram kemudian menjadi koresponden militer. Jadi kami berpisah."  

Saat menjadi koresponden Militer, Pram belajar banyak perihal ilmu pengarsipan dan pers karena tugasnya memang mendokumentasikan kejadian lalu memberitakannya kepada beberapa media, di antaranya koran Merdeka milik BM Diah, majalah Pantja Raja, majalah Siasat dan lainnya. Selain itu, Pram juga banyak mengunjungi daerah-daerah seperti Kranji, Bekasi, Cibubur dan salah satunya Purwakarta tempat dimana dia bertemu dengan istri pertamanya. Setiap hari, dia menuliskan pengalamannya di beberapa daerah itu, muncullah artikel Pram berjudul Kemana, Tanpa Kemudian, Sepuluh Kepala Nica dan lainnya yang juga dimuat di media.

Dua tahun di Militer, Pram mengundurkan diri pada 1947. Pram kecewa melihat praktik korupsi yang terjadi di tubuh Militer. Menurut Pram, praktik tersebut tidak ada bedanya dengan kekejian penjajah. "Kalau menghadapi musuh mereka lari. Tapi kalau menghadapi bangsa sendiri, kejamnya bukan main," ujar Pram. Pram keluar dari Militer dengan keputusan resmi, ada suratnya. Di surat itu tertulis bahwa Pram berhak atas gaji selama enam bulan dan biaya pulang ke tempat tujuan asal. Tapi setelah dua bulan menunggu, Pram tidak memperoleh hak-haknya. Pram pun pulang ke Jakarta dengan menumpang gratis kereta api.             

Di Jakarta, Pram bekerja di majalah The Voice of Free Indonesia yang didirikannya bersama Om Dig. Pram juga menerbitkan novel pertamanya hasil pengalamannya di Militer: Kranji Bekasi Jatuh. Atas tulisan-tulisannya, Pram menjadi buronan penjajah. Puncaknya, ketika markas The Voice of Free Indonesia di Kemayoran dikepung tentara penjajah (Inggris dan belanda). Pram akhirnya ditangkap dan ditahan di Penjara Bukitduri, Jatinegara. Naskah asli beberapa tulisannya dirampas dan hilang entah di mana.

Referensi: Pramoedya Ananta Toer dari Dekat Sekali, oleh Koesalah Soebagyo Toer; Pramoedya Ananta Toer Individualis Tulen, oleh Ajip Rosidi.

Rabu, 18 Juli 2012

Kehidupan Pramoedya Ananta Toer (Episode 1925-1942): Dari Blora Menuju Jakarta

Pram (foto: Indo Progress)
5 Februari 1925, di Blora, Jawa Tengah, seorang lelaki bernama Pramoedyo terlahir ke dunia. Bapaknya Mastoer adalah guru di sekolah Boedi Oetomo; ibunya Oemi Saidah adalah petani. Mastoer dan Oemi Saidah juga memiliki darah sastra dalam bentuk tulisan dan dongeng. Pramoedyo yang oleh bapak-ibunya dipanggil Moek dan oleh saudara-saudarinya dipanggil Mas Moek adalah sulung dari delapan bersaudara, lima lelaki dan tiga perempuan: Pramoedyo, Prawito (Waloejadi), Koenmarjatoen, Oemi Safaatoen, Koesaisah, Koesalah, Soesilo dan Soesetyo. 

Moek menjalani masa kecil sebagaimana anak-anak desa pada umumnya: bermain, mengaji dan bersekolah. Dalam bermain, Moek selalu menjadi anak kalahan. Permainan apapun: gaplek, gundu atau apapun, dia selalu kalah. Dalam mengaji, Moek diajari Pak Kanapi di rumahnya. Dia mengaji bersama saudara-saudaranya dan anak-anak yang ditampung dan menumpang di rumahnya.  

Dalam bersekolah, Moek 'tak berprestasi sama sekali, dia malah tiga kali tidak naik kelas. Walhasil, SD pun diselesaikannya dalam waktu 10 tahun pada umur 15 tahun. Ketika Moek menyampaikan kepada bapaknya bahwa dia sudah lulus SD dan ingin melanjutkan ke SMP, bapaknya lantas berkata, "Anak goblok! Sana kembali!"

Mendengar bapaknya bicara seperti itu, Moek sakit hati dan menangis. Dia lalu pergi membawa air mata dan buku-buku yang digenggamnya. Lalu kemudian, ibunya datang menghibur, "Sini Nang, ayo ikut ibu!" Moek diajak ibunya memanen padi. Hasil panen lalu dijual untuk mendapatkan uang. Moek lalu diberi uang oleh ibunya untuk melanjutkan sekolah. 

Beda dengan bapaknya, ibunya justru sangat mengerti Moek. Berkat uang dari ibunya itu, Moek melanjutkan pendidikan di Sekolah Teknik Radio di Surabaya pada 1940. Alasan Moek memilih sekolah itu sederhana saja: murah dan cepat selesai, hanya satu setengah tahun. Maklum, uang dari ibunya sangat pas-pasan. Moek pun selesai tepat waktu pada 1942, tapi tidak sempat mengambil ijazah karena di saat yang sama Jepang telah menduduki Surabaya. Moek kemudian kembali ke Blora karena tidak mau ikut wajib militer.

Sekembali di Blora, Moek menceritakan kepada bapaknya semua hal yang diketahuinya di Surabaya. Namun bapaknya berkomentar pedis, "Ah, kamu tahu apa!" Moek lagi-lagi sakit hati kepada bapaknya. Rasa sakit hati itu dijadikan Moek sebagai pembakar semangat bahwa dia harus lebih berhasil dari bapaknya. Selain terkenal sebagai guru, Mastoer juga terkenal sebagai tokoh masyarakat berpengaruh di Blora karena jasa-jasanya menampung banyak anak dan menyekolahkannya.

Untuk lebih berhasil dari bapaknya, Moek memulai hidup mandiri dengan bekerja. Terlebih pada masa Jepang, keadaan ekonomi keluarga memburuk. Moek bekerja dengan berjualan barang-barang apa saja untuk membantu kehidupan keluarganya: tembakau, benang, piring, cangkir dan lainnya. Kondisi saat itu memang serba apa adanya, setiap orang butuh apa saja, sehingga jual apa saja pasti laku. Moek membeli barang-barang dari orang-orang yang menjarah toko-toko Cina. Selain menjualnya, Moek juga memberikan sebagian barang-barangnya kepada ibunya. 

Di tahun 1942 pula, Ibu Moek wafat di usia yang masih sangat muda, 34 tahun. Keadaan pun berubah. 'Tak lama kemudian, Moek dan adiknya Prawito (Pra) dibelikan karcis oleh bapaknya menuju Jakarta. Entah apa penyebabnya, Moek menduga bapaknya melakukan itu untuk mengurangi beban keluarga; atau kemungkinan lain, bapaknya punya keinginan untuk menikah lagi. Entahlah, yang jelas kala itu Moek merasa terusir dari rumah.

Referensi: Riwayat Hidup Singkat, oleh Pramoedya Ananta Toer; Pramoedya Ananta Toer dari Dekat Sekali, oleh Koesalah Soebagyo Toer.

Senin, 09 Juli 2012

Misteri Kematian Djaniba, Karyawati Bank Indonesia Cabang Makassar

JUMAT sore, 4 Juli 2008, ruangan lantai 2 gedung Bank Indonesia Cabang Makassar di jalan Jend. Soedirman kosong melompong. Semua karyawan berkumpul di ruangan di lantai lain untuk mengikuti sebuah acara.

Di ruangan lantai 2 yang kosong melompong itulah terjadi tindakan penganiayaan. Akuntan BI, Hj. Djaniba Werang (52 tahun), dianiaya oleh beberapa orang yang juga merupakan karyawan BI.

Tubuh Djaniba yang sudah dipenuhi lebam dan memar kemudian dibuang ke bawah kotak lift melalui pintu lift yang dibuka dengan kunci. Djaniba sempat memberontak, tapi dia 'tak berdaya. Alat CCTV merekam semua kejadian tersebut.

DI LUAR gedung BI, Djasmin menunggu. Dia memang biasa menjemput kakaknya Djaniba saat jam pulang kerja. Namun, penungguannya kali ini berujung resah, sebab sang kakak yang ditunggu-tunggu 'tak jua muncul. Djasmin khawatir.

Hingga malam telah larut, Djaniba 'tak jua muncul, Djasmin pun memutuskan untuk mencari kakaknya ke dalam gedung BI. Ditemani pihak keamanan, Djasmin menyusuri setiap sudut ruangan, termasuk di lantai 2 di ruangan kerja kakaknya.

Di tengah pencarian itu, Djasmin mendengar suara rintihan yang sumbernya berasal dari dalam pintu lift. Pintu lift pun dibuka untuk membenarkan sumber suara rintihan itu. Akhirnya, tubuh Djaniba ditemukan terbaring lemah di bawah kotak lift sekira pukul 02.00 dini hari. Tubuh Djaniba kemudian diangkat lalu dilarikan ke rumah sakit terdekat, RS Akademis. Djaniba langsung dirawat intensif di ruangan ICCU.

SABTU pagi pascakejadian, Subadi Gaffa (karyawan Logistik BI) menelepon Bayu Aji (teknisi lift Otis) untuk datang. Subadi menginformasikan kepada Bayu tentang kejadian adanya karyawan yang terjatuh ke dalam lift.

Saat Bayu datang, Subadi langsung menyerahkan kunci pintu lift kepada Bayu dan menyuruh Bayu untuk segera memeriksa lift. Bayu merasa heran karena kebiasaan selama ini -jika ingin memeriksa lift- dia yang meminta kunci, tapi kali ini justru Subadi-lah yang langsung memberinya kunci.    

Karena heran, Bayu tidak langsung mengikuti suruhan Subadi. Bayu hanya melihat slide lift untuk memeriksa kondisi lift. Hasilnya: lift berfungsi normal. Bayu lalu menginformasikan kejadian tersebut kepada kantor perwakilan Otis di Makassar yang lalu diteruskan ke Jakarta, Singapura, bahkan sampai ke Amerika Serikat. Oleh pihak Otis, Bayu diperintahkan untuk tidak menyentuh lift kecuali bersama Polisi.

Bagi pihak Otis, produsen lift yang terpasang di BI, kejadian tersebut merupakan kejadian luar biasa karena baru pertama kalinya terjadi di dunia dimana pintu lift terbuka secara otomatis dan orang terjatuh ke dalamnya. Bayu menjelaskan, pintu lift tidak mungkin terbuka kecuali dibuka dengan kunci atau dibuka oleh roll yang melekat pada kotak lift yang artinya kotak lift ada saat pintu terbuka.

DI RS Akademis, kondisi Djaniba berangsur baik. Dia bahkan sempat menyebutkan satu nama, Subadi Gaffa, karyawan Logistik BI yang memegang kunci lift. Namun, setelah dua hari dirawat di ruangan ICCU, Djaniba tiba-tiba dipindahkan ke ruangan lain oleh tim medis tanpa sepengetahuan keluarganya. Saat keluarga mempertanyakan kepindahan tersebut kepada tim medis, mereka hanya mengatakan bahwa hal tersebut atas permintaan pihak BI.

Beberapa jam kemudian, setelah dipindahkan, Djaniba ternyata meninggal dunia. Tidak terima dengan kematian Djaniba yang tidak wajar, keluarga melaporkan peristiwa tersebut kepada Polisi.

Polisi kemudian membentuk Tim Penyidik yang melakukan autopsy atas mayat Djaniba dan juga rekontruksi kejadian di gedung BI. Hasil autopsy menemukan bahwa sekujur tubuh Djaniba dipenuhi luka lebam dan memar; kaki kirinya patah dan terdapat bekas suntikan di belakang lehernya, serta bekas cakaran di kedua lengannya. Setelah di-autopsy, jenazah Djaniba di bawah keluarganya ke rumahnya di jalan Muhammad Yamin lalu kemudian dikuburkan di Pemakaman Islam Sudiang Makassar.

Untuk rekonstruksi kejadian, Pihak BI dalam Berita Acara Pemeriksaannya menyatakan kejadian tersebut sebagai kecelakaan kerja. Pihak BI menganggap lift bermasalah sehingga menyebabkan Djaniba terjatuh ke dalamnya.

Bayu (Teknisi Otis), membantah BAP pihak BI tersebut. Bayu tetap bersikukuh bahwa lift tidak bisa terbuka kecuali oleh dua: kunci dan roll pada kotak lift. Pihak Otis sendiri sudah menyiapkan pengacara jika barang produksinya dianggap bermasalah.

Polisi bersama Bayu (teknisi Otis) melakukan pemeriksaan terhadap pintu lift, apakah bisa terbuka secara otomatis atau tidak. Hasilnya: setelah diperiksa puluhan kali, pintu lift tidak bisa terbuka.     

Bagaimana dengan rekaman alat CCTV? Teknisi BI mengaku alat CCTV tidak berfungsi saat kejadian karena kondisi mati lampu.


DALAM perjalanan kasus ini, polisi menetapkan Subadi Gaffa sebagai tersangka, bukan dengan dakwaan membunuh, tapi karena tindakan lalai dalam melakukan pekerjaan sehingga menghilangkan nyawa seseorang (pasal 359 KUHP). Artinya, polisi menganggap kematian Djaniba sebagai kecelakaan, bukan pembunuhan. Polisi beralasan tidak mau gegabah dalam menetapkan keputusan tanpa saksi dan bukti yang kuat. 

Saat ini Subadi Gaffa telah pensiun dari BI dan menetap tenang di rumah besarnya di Kompleks Hartaco Indah Makassar.

Melihat ketidakjelasan penanganan kasus ini, pihak keluarga Djaniba kemudian meminta bantuan ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH). Tujuannya, agar kasus ini dikawal sampai tuntas.

Sekarang, sejak 4 Juli 2008, empat tahun lebih kasus kematian Djaniba tersebut terbengkalai. Belum ada keputusan pasti dari para penegak hukum, apakah Djaniba dibunuh atau kecelakaan. Keluarga Djaniba sendiri saat ini tidak pernah lagi terdengar geliatnya dalam menindaklanjuti kasus kematian Djaniba. Menurut informasi, mereka mendapat santunan yang cukup besar dari pihak BI.

Jumat, 25 Mei 2012

Hutan Universitas Hasanuddin

Danau Unhas yang indah
Bagi yang pernah berkuliah atau berkunjung ke Universitas Hasanuddin Makassar (Unhas), pasti sepakat bahwa Unhas masuk kategori hutan.

Menurut UU RI No. 41 tahun 1999, hutan berarti: "kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan."

Jalanan Unhas yang dipenuhi pepohonan
Unhas masuk dalam arti tersebut, bukan? Ya, lingkungan Unhas didominasi pepohonan lebat beragam jenis: jati, cempaka, palem dan lainnya.

Bagi yang penat dengan emisi karbondioksida kota Makassar, silahkan mampir ke Unhas. Dijamin akan merasakan oksigen segar yang berkualitas ditambah pemandangan danau Unhas yang indah.

Senin, 21 Mei 2012

Libur Panjang di Bandung

KAMIS, 17 Mei 2012, saya dan rombongan teman kantor berjalan-jalan ke Bandung. Pagi-pagi sekali kami sudah berada di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar untuk terbang menuju Jakarta. Dari Jakarta, kami naik bis ke Bandung dengan jarak tempuh 140 kilometer dalam waktu sekira tiga jam lamanya. Bis yang kami tumpangi secara cepat menyusuri jalanan tol yang sangat panjang dan bercabang.

Jujur, baru kali ini penulis menyusuri dan melihat jalanan tol sepanjang itu. Di Makassar sendiri sudah ada jalanan tol, tapi pendek dan hanya digunakan pengendara sebagai akses cepat menuju bandara. Beda dengan yang penulis lalui menuju Bandung, jalanan tolnya benar-benar menghubungkan daerah satu dengan daerah-daerah lain yang jauh.

Jalanan tol menuju Bandung [foto: Muhardi]
Sepanjang perjalanan, kami dapat melihat pemandangan kota, desa, sawah, sungai dan gunung-gunung hijau yang menghampar. Sayang sebagian dari gunung-gunung itu telah hancur menganga karena dieksploitasi perusahaan tambang. Di sisi jalanan, banyak tersedia tempat singgah yang disebut Rest Area. Di situ tersedia toilet, check point kendaraan dan tempat makan-minum, dari yang sederhana sampai yang elit.    

Penulis benar-benar takjub melalui jalan tol itu dan bersyukur bisa menikmatinya. Perjalanan yang menyenangkan. Mengikuti istilah yang lagi tren, penulis menyebutnya joytour. Alhamdulillah tidak setragis joyflight. Turut berduka atas kejadian tragis itu.  

BANDUNG kota tujuan kami adalah ibukota Provinsi Jawa Barat. Kota yang dikelilingi pegunungan itu berdiri di atas tanah dengan kontur sebagian pebukitan dan sebagian dataran. Dua aliran sungai mengalir di tengah-tengahnya: sungai Cikapundung dan sungai Citarum.

Dengan kontur tersebut, Bandung ditumbuhi pohon-pohon dan bunga-bunga dengan sangat suburnya. Suhu juga cukup dingin, terlebih kalau turun hujan. Namun dengan semakin padatnya bangunan dan penduduk, suhu dingin pun perlahan semakin berkurang. Maklum saja, Bandung adalah kota Metropolitan yang penuh aktifitas dengan penduduk ketiga terpadat setelah Jakarta dan Surabaya.

Suasana kota Bandung dari atas [foto: Muhardi]
SAYA pernah memijaki tiga kota dengan kontur seperti Bandung: Parepare sama Soppeng di Sulawesi Selatan dan Baubau di Sulawesi Tenggara. Dugaan saya: tata letak kota Bandung tidak jauh beda dengan ketiga kota itu. Dan ternyata dugaan saya benar. Cuma bedanya, Bandung lebih rapi dan elit. Banyak bangunan yang desainnya unik dan cantik serta mengandung unsur sejarah yang kuat.

Satu lagi perbedaannya, kota Bandung jauh lebih hijau. Hampir di setiap sisi jalanan dan di halaman-halaman bangunan berdiri pohon-pohon besar berdaun rindang. Cukup memberikan kesejukan dan oksigen segar untuk dihirup. Pemerintah Kota Bandung juga membangun beberapa taman kota yang semakin menambah kehijauan dan kesejukan kota. Lingkungan hijau setidaknya mampu menyerap polusi dari kendaraan di jalanan-jalanan Bandung yang padat merayap, macet.

Suasana jalanan di Bandung
Persoalan macet memang menjadi lazim di kota, apalagi kota sekelas Bandung yang tiap akhir pekan menjadi sasaran invasi para wisatawan, dari dalam maupun luar kota. Terlebih beberapa jalanan di Bandung memang berukuran sempit. Sepertinya memang tidak ada solusi lain selain kendaraan harus dibatasi.

BANDUNG memang layak dijadikan kota tujuan wisata. Di kota yang dipimpin walikota Dada Rosada itu, segala bentuk wisata lengkap tersedia: wisata alam, wisata kuliner dan wisata belanja, bahkan wisata sejarah pun ada. Kami melakukan semua jenis wisata itu.

Untuk wisata alam, kami mengunjungi gunung Tangkuban Perahu pada Jumat, 18 Mei 2012. Gunung jenis stratovulcano ini merupakan gunung api aktif yang masuk dalam pengawasan Direktorat Vulkanologi Indonesia. Tanda keaktifan gunung ini adalah letusan lava dan sulfur yang dikeluarkannya, meskipun dalam skala kecil. Gunung ini juga mengeluarkan uap belerang yang baunya sangat menyengat.

Kawah gunung Tangkuban Perahu
Saat kami kunjungi, Tangkuban Perahu ramai dikunjungi wisatawan dari dalam maupun luar negeri. Kawah di tengah gunung memang memberikan pemandangan yang luar biasa. Di sekeliling kawah kehidupan ekonomi sangat bergairah. Jajaran kios-kios kecil menjajakan makanan dan barang-barang kerajinan khas Bandung.

Perusahaan swasta yang mengelola wisata Tangkuban Perahu juga memberikan fasilitas yang lengkap: toilet yang bersih dan tempat ibadah yang cukup luas. Namun satu hal yang setidaknya mengganggu kenyamanan kami adalah mobil-mobil yang dibiarkan naik sampai ke puncak. Menurut kami, seharusnya mobil-mobil itu ditaruh tidak di lokasi dekat dengan kawasan kawah karena menyebabkan kesemrawutan. Tapi secara keseluruhan, kawasan wisata Gunung Tangkuban Perahu memberikan kepada kami kesan yang mendalam.

Parkir semrawut di puncak Tangkuban Perahu
Untuk wisata kuliner, kami menikmati makanan khas Sunda di beberapa restoran: Wibisana, Praoe, Saung Balibu dan Warung Nasi. Yang khas dari makanan Sunda adalah rasa manisnya yang mendominasi. Sayur, ayam, ikan, semuanya disajikan manis, bahkan sambalnya pun manis. Tapi enak, dan kami menikmatinya.

Selain makanan khas, Bandung juga punya roti dan kue khas yang dijual di toko terkenal bernama Kartika Sari yang tersebar di beberapa titik di kota Bandung. Saya menyempatkan diri ke toko itu di kawasan Dago dan membeli roti molen pisang dan kue brownies.

Makanan khas lain asal Bandung adalah siomay, cimol, batagor, peuyeum dan 'peuyeumpuan'. Weits....untuk kue yang terakhir itu lain, hehehehe. Ya, bagi laki-laki normal, perempuan Bandung memang cukup berkesan. Kata teman: dari 10 perempuan Bandung, rata-rata cantik, beda dengan kota lain yang hanya satu-dua yang cantik. Teman yang lain berkata: kalau dua perempuan Bandung berjalan, empat yang cantik, karena bayangannya pun cantik. Ah lebay. Tapi memang, saya telah membuktikannya, neng gelis eui...  

Pasar Baru, kawasan belanja di Bandung yang termurah
Untuk wisata belanja, Bandung menyediakan banyak lokasi, diantaranya Pasar Baru, Cihampelas, dan Dago. Tidak salah Bandung disebut sebagai Paris van Java, maksudnya kota Paris yang ada di pulau Jawa. Apa hubungannya Bandung dengan Paris? Ya, keduanya sama-sama kota mode. Warga Bandung -terutama anak muda- sangat modis dan memerhatikan penampilan, terkhusus dalam hal pakaian. Makanya di Bandung sangat marak toko-toko pakaian.

Gedung Sate
Untuk wisata sejarah, Bandung memiliki banyak bangunan dan kawasan peninggalan Belanda yang didesain bergaya eropa, seperti gedung Bank Indonesia, gedung Sate, gedung Merdeka di jalan Asia-Afrika, kawasan Braga dan lainnya. Kesemua bangunan itu mengandung unsur sejarah yang kuat dan membuat pengunjungnya seakan-akan berada di sebuah tempat di luar Indonesia. 

SABTU siang, 19 Mei 2012, kami kembali ke Jakarta. Liburan panjang di Bandung yang cukup berkesan. Dan sepertinya kami tidak akan menolak jika ada ajakan lagi menuju ke sana.

Selasa, 15 Mei 2012

70 Tahun Jusuf Kalla: 15 Mei 1942 - 15 Mei 2012

JK bersama Direksi dan Staf PT Hadji Kalla [foto: Widi Anugrah]
15 Mei 1942: Muhammad Jusuf Kalla lahir di kota Watampone, Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan. Ayahnya bernama Kalla dan Ibunya bernama Athirah.

1942-1950: JK menghabiskan masa kecilnya di kota Watampone. Seperti anak kecil lainnya, JK bermain, belajar di sekolah dasar dan mengaji diajari oleh ibunya. JK juga sesekali membantu ayahnya berdagang di sebuah kios di Pasar Bajoe.

1952: JK dan keluarganya pindah ke kota Makassar dan mendirikan perusahaan dagang bernama NV Hadji Kalla Trading Company.

1952-1960: JK menjalani masa sekolah di Sekolah Islam Datumuseng Makassar dan melanjutkannya di SMA Negeri 3 Makassar. Saat menjadi siswa, JK aktif di organisasi Pemuda Pelajar Islam (PII) Sulawesi Selatan dan kemudian menjadi Ketua di organisasi itu. Di SMA pula, JK pertama kali bertemu dan jatuh hati kepada Mufidah.

1960-1967: JK menjadi mahasiswa di Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin (FE Unhas) Makassar. Saat menjadi mahasiswa, JK aktif di pelbagai organisasi, dari organisasi jurusan, fakultas, senat, sampai organisasi mahasiswa se-Sulawesi Selatan: Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). JK kemudian menjadi Ketua di organisasi-organisasi tersebut.

Pada masa kuliah pula, JK melakukan pendekatan kepada Mufidah. Contohnya: Saat Mufidah kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar sambil bekerja di bank sebagai teller, JK mendaftar sebagai asisten dosen di UMI dan menabung di bank tempat Mufidah bekerja. Usaha JK akhirnya berhasil. JK dan Mufidah bertunangan pada 1966.

1967: JK selesai menempuh pendidikan di FE Unhas dan memperoleh gelar Dokturandus. Selanjutnya, JK bekerja membantu ayahnya di NV Hadji Kalla Trading Company sebagai karyawan kemudian naik menjadi manajer. Di tahun ini juga, JK menikahi Mufidah.

1968: JK mewarisi penuh perusahaan ayahnya dengan menjadi Direktur Utama. Tugas JK cukup berat karena perusahaan yang diwariskan ayahnya saat itu sedang terimbas krisis ekonomi 1965. JK kemudian berhasil menyelamatkan perusahaan warisan ayahnya yang berbasis di makassar itu dari krisis menjadi kelompok usaha dinamis yang saat ini kita kenal dengan nama Kalla Group.

Kalla Group kini telah menjadi kelompok usaha mapan yang bergerak di ragam sektor bisnis: otomotif, properti, konstruksi, pembiayaan, pendidikan, dan energi. Gedung perkantoran Wisma Kalla di jalan Dr. Sam Ratulangi Makassar menjadi tanda kemapanan Kalla Group.

Pada tahun ini pula, JK dikaruniai anak pertama yang diberi nama Muchlisa Jusuf. Lisa kini adalah istri dari Susanto Supardjo dan ibu dari Ahmad Fikri, Masyitah dan Jumilah Saffanah. Bersama keluarganya, Lisa mengembangkan bisnis sendiri dan menjadi komisaris di beberapa perusahaan Kalla Group. Lisa sekeluarga menetap di London, Inggris.

1969: JK dikaruniai anak kedua yang diberi nama Musjwirah Jusuf. Ira kini adalah istri dari Langlang Wilangkoro dan ibu dari Emir Thaqib. Ira menduduki posisi komisaris di beberapa perusahaan Kalla Group, sedangkan suaminya menjadi direktur di perusahaan yang mengurusi pesawat pribadi Jusuf Kalla. Ira sekeluarga menetap di Jakarta.

1971: JK dikaruniai anak ketiga yang diberi nama Imelda Jusuf. Imelda kini adalah istri dari Zumadi Anwar dan ibu dari Rania Hamidah dan Aisha Kamilah. Imelda menduduki posisi Direktur Keuangan di beberapa perusahaan Kalla Group, sedangkan suaminya menjadi direktur Utama juga di beberapa perusahaan Kalla Group. Imelda sekeluarga menetap di Makassar.

1973: JK membantu Aksa Mahmud, suami adiknya Ramlah Kalla, mengembangkan CV Moneter. CV inilah yang kemudian berkembang menjadi kelompok usaha Bosowa Group yang kini telah sukses bergerak di ragam sektor bisnis: otomotif, properti, konstruksi, pembiayaan, energi, semen, agrobisnis, dan hotel. Gedung perkantoran Menara Bosowa di jalan Jend. Soedirman Makassar menjadi tanda kesuksesan Bosowa Group.

1975: JK dikaruniai anak keempat yang diberi nama Solichin Jusuf. Ihin adalah suami dari Pinkanova dan ayah dari Siti Shafiyah, Rasheed, Maliq Jibran dan Khalila Azeeza. Ihin menduduki posisi direktur dan komisaris di beberapa perusahaan Kalla Group dan Bukaka Group, dia juga adalah sosok yang membawa radio Prambors masuk ke Makassar, sedangkan istrinya adalah ibu rumah tangga. Ihin sekeluarga menetap di Jakarta.

1977: JK mengikuti sekolah bisnis di The European Institute of Business Administration Fountainebleu, Prancis, guna meningkatkan keilmuannya di bidang bisnis.

1979: JK bertemu Fadel Muhammad, lulusan terbaik Fakultas Teknik Institut Teknologi Bandung. Bersama Fadel, JK mendirikan PT Bukaka Teknik Utama, perusahaan yang kemudian menjadi penopang Bukaka Group, kelompok usaha milik keluarga Kalla yang berbasis di Jakarta. Bukaka Group kini telah menjadi kelompok usaha terkenal yang bergerak di ragam sektor bisnis: konstruksi, energi, dan agrobisnis.

1980: JK dikaruniai anak kelima yang diberi nama Chairani Jusuf. Wanita yang akrab disapa Ade ini belum berkeluarga dan sehari-hari beraktifitas di perusahaan periklanan. Ade menetap bersama ayah-ibunya di Jakarta.

1981: JK membantu Alwi Hamu menggarap bisnis koran berlabel Fajar. Koran itu kemudian bergabung bersama Jawa Pos Group milik Dahlan Iskan dan menjadi kelompok media terbesar di Indonesia Timur menyingkirkan Pedoman Rakyat. Gedung Fajar Graha Pena di jalan Perintis Kemerdekaan Makassar menjadi bukti kebesaran Fajar Group.

1982: Ibunda JK, Athirah, meninggal dunia karena sakit. Selang 86 hari kemudian, ayah JK Hadji Kalla juga menyusul menghadap Sang Ilahi.

1984: Untuk mengenang dan menghargai ibundanya Athirah, JK mendirikan Yayasan Pendidikan Athirah. Sekolah ini masih bertahan sampai sekarang dan berbasis di Makassar dan Bone; menyediakan layanan pendidikan dari TK sampai SMA.

1985: JK menjadi Ketua Kamar Dagang dan Industri Daerah Sulawesi Selatan (Kadinda Sulsel). Posisi ini turut membantu JK dalam melihat prospek bisnis yang kemudian dijalankan kelompok usahanya.

1988: JK menjadi Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) melalui Partai Golkar. JK setia dengan Partai Golkar, dari kader muda hingga menjadi Ketua pada periode 2004-2009.

1992: JK menjadi Ketua Ikatan Keluarga Alumni Universitas Hasanuddin (Ika Unhas) Makassar. Jabatan ini masih didudukinya sampai sekarang.

1997-1998: JK mengawal perusahaan-perusahaannya menghadapi krisis ekonomi Asia.

1999-2001: JK menjadi Menteri Perindustrian dan Perdagangan pada masa Presiden Abdurrahman Wahid.

2001-2004: JK menjadi Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat pada masa Presiden Megawati Soekarno Putri. Pada saat menjadi menko kesra, JK terkenal dengan program Sejuta Rumah, program rumah murah untuk rakyat dimana pendanaannya disubsidi oleh pemerintah.

2004-2009: JK menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia mendampingi Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono. JK kemudian dikenang sebagai Wapres yang proaktif dalam pengambilan kebijakan negara, bukan hanya ban serep sebagaimana Wapres-Wapres sebelumnya.

Kebijakan JK yang terkenal sebagai Wapres adalah konversi minyak tanah ke gas elpiji, program Bantuan Langsung Tunai (BLT), pemberian cuti bersama, produksi panser dalam negeri, program Bantuan Operasional Sekolah (BOS), dan pemberian gaji ke-13 kepada Pegawai Negeri Sipil (PNS).

2009-sekarang: JK menjadi Ketua Palang Merah Indonesia (PMI). JK berusaha menjadikan PMI mandiri secara finansial dan proaktif dalam penanggulangan bencana.

15 Mei 2012: JK genap berusia 70 tahun.

Kamis, 03 Mei 2012

70 Tahun Jusuf Kalla: Menjadi Legenda Dalam Dunia Bisnis (6)

JK [foto: Awaluddin Paliliran]
Sebagai pengusaha yang sebentar lagi berusia 70 tahun, Jusuf Kalla telah menjadi legenda dalam dunia bisnis. JK sejajar dengan Jacoeb Oetama (80 tahun) pendiri Kompas-Gramedia Group, Ciputra (80 tahun) pendiri Grup Ciputra, Boenyamin Setiawan (78 tahun) pendiri Grup Kalbe Farma, dan beberapa tokoh pengusaha lainnya.

Sama seperti legenda lainnya, meskipun sudah tua, JK masih aktif mengikuti perkembangan bisnisnya di Makassar (Kalla Group) dan di Jakarta (Bukaka Group) yang kini dikelola generasi ketiga.

Kalau dihitung sejak JK mewarisi bisnis ayahnya Hadji Kalla hingga sekarang, JK sudah berbisnis selama 45 tahun. Dari situ, JK hidup dan menghidupi banyak orang.