Minggu, 25 Januari 2026

Tentang AI

Ketika sistem informasi teknologi berkembang di awal 2000-an, para pakar langsung mengungkap satu kelemahan besarnya: GIGO, garbage in garbage out. Sehebat dan secepat apapun sistemnya, tapi kalau yang di-input sampah, output-nya sampah juga. 

Nah, AI (artificial intelligence) ternyata tidak. Beberapa aplikasi AI mampu mengolah sampah menjadi emas: apa yang di-input bisa dikoreksi, direferensi, bahkan sampai dibuatkan output-nya. Ini keren sih! Tinggal dinikmati dan dimanfaatkan saja dengan sebaik-baiknya. 

Pun harus diakui, AI belum bisa menggantikan beberapa hal terpenting dari otak manusia: analisa atau intuisi, misalnya. AI mungkin bisa mengolah data keuangan, tapi AI belum mampu menganalisa perilaku manusia di balik data itu: korupsi, kolusi, dll. 

AI mungkin mampu mengolah sajak jadi lagu dengan struktur intro, reffrain, melodi sampai ending, tapi AI sepertinya belum bisa bikin lagu serupa Bohemian Rhapsody atau Seven Days yang strukturnya lompat-lompat. Hanya intuisi seorang Freddy Mercury dan Sting yang mampu melakukannya. 


Jumat, 23 Januari 2026

TENTANG BROKEN STRINGS

Dulu, Yudishtira Masardi (Bapaknya Iga Masardi) pernah memperdatakan Ahmad Dhani karena memakai Arjuna Mencari Cinta sebagai judul lagunya. Yudhistira mengklaim itu judul Novelnya yang sudah dipatenkan. Tidak boleh lagi dipakai oleh orang lain.

Padahal, kalau dipikir-pikir, karya mereka berbeda: satu lagu, satu novel. Harusnya yang dipatenkan Yudhistira karya novelnya, bukan kata atau kalimat. Kan dunia sastra jadi ribet kalau pembuat KBBI mematenkan seluruh kata di kamusnya dan mengharuskan royalti bagi setiap yang memakainya.

Dan kalau didalami lagi, Arjuna Mencari Cinta jelas bukan pemikiran original Yudhistira. Kalimat itu sudah lebih dahulu terkenal di mahakarya epic Mahabarata. Apakah Yudhistira sudah minta izin kepada penulis Mahabarata untuk memakai nama Arjuna? Entahlah.

Makanya, ketika Dhani memendekkan judul lagunya menjadi Arjuna saja, semua aman-aman saja. Yudhistira jelas berat mengklaim diri sebagai penemu nama Arjuna.

Dalam perjalanannya, kejadian: sama judul beda karya, jelas sering terjadi. Kasih Tak Sampai, misalnya, ada lagunya Padi, ada novelnya Marah Roesli. Yang paling baru: Broken Strings. Ada lagunya James Morrison, ada bukunya Aurelie Moeremans. Semua aman-aman saja.

*****

Broken Strings-nya Aurelie sedang menjadi perbincangan hangat awal Januari ini. Sebabnya: Aurelie banyak mengungkit kejadian tidak mengenakkan di masa lalu yang melibatkan orang lain. Secara tersurat dan tersirat, dia juga menyinggung orang lain itu. 

Yah, namanya juga menulis kejadian masa lalu, Aurelie pasti mengandalkan ingatannya. Bisa jadi ingat, bisa jadi tidak. Bisa jadi salah, bisa jadi benar. Bisa jadi pas, bisa jadi kurang atau lebih. Subyektifitasnya jelas tinggi. 

Pun Aurelie punya catatan dalam bentuk diary atau apapun, subyektifitasnya tetap tinggi. Karena pasti dia memandang kejadian dari sudut pandangnya kala itu. Bisa jadi salah paham, bisa jadi tidak. Bisa jadi miskonsepsi, bisa jadi tidak. Tetap subyektif.

Makanya, kita yang membaca buku itu sekarang, tidak bisa langsung menilai kejadian secara lurus-lurus saja. Apalagi langsung menyerang pihak-pihak yang dilibatkan. Butuh informasi pembanding biar adil. Dalam istilah jurnalisme, ini disebut cover both sides. Buku itu harus dibaca secara rasional, jangan emosional.

Minggu, 11 Januari 2026

ESTETIKA DAN ETIKA

Setiap orang punya nilai estetikanya masing-masing. Mulai soal keindahan, kenyamanan, keamanan, hobi, passion, selera, talenta, kegemaran, sampai soal asmara. 

Estetika itu nilai yang sifatnya sangat subjektif. Indah bagi Saya, belum tentu indah bagi orang lain. Nyaman bagi dia, belum tentu nyaman bagi mereka.

Ada yang suka bersepeda; ada yang suka lari. Ada penggemar Real Madrid; ada penggemar Barcelona. Ada yang introvert; ada ekstrovert. Ada yang hobi mancing ikan; ada yang gemar mancing keributan. Macam-macam. 

Selain bersifat subjektif, setiap orang juga punya indepensensi dalam menjalankan estetikanya. 

Terserah orang mau bilang apa, bagi Saya: AC Milan adalah klub sepakbola terbaik. Terserah orang mau bilang talekang atau pamer, bagi dia: lari lalu memposting hasil stravanya di instagram adalah sebuah keharusan. 

Cuma yang menjadi masalah dari estetika adalah sikap egois dan egosentris. Merasa lebih baik dari orang lain dan ingin menjadi pusat perhatian. Parahnya lagi kalau sikap itu sudah mengarah ke mengganggu orang lain. 

Seorang teman, contohnya, dia pernah nongkrong santai di cafe. Lagi asyik-asyiknya, tiba-tiba klub hexom datang ramai-ramai. Mereka duduk, menggabungkan beberapa meja, lalu mengisap hexom bersamaan. Asapnya mengepul dan mengganggu pengunjung lain. Teman yang juga terganggu akhirnya pergi meninggalkan cafe. 

Contoh lain: klub motor yang menerobos lampu merah saat touring. Jelas itu tindakan egois; bahkan sudah egosentris. Betul mereka mengantongi izin touring dari polisi, tapi -yakinlah- mereka tidak punya izin menerobos lampu merah. 

Dan masih banyak contoh lain: pelari dan pesepeda yang mengambil setengah badan jalan padahal tidak sedang event, penggemar musik yang putar lagu keras-keras sampai mengganggu tetangga, pedagang yang jualan di trotoar tempat pejalan kaki. Masih banyak lagi lainnya. 

*****

Nah, karena masih banyak orang yang bablas dalam menjalankan nilai estetikanya, maka beberapa orang perlu berkumpul untuk berdiskusi guna membuat kesepakatan demi kebaikan. Dari hasil diskusi itu, muncullah nilai baru: etika. 

Di Indonesia, sudah banyak dibuat etika: mulai dari yang tidak tertulis sampai tertulis. Mulai dari aturan rumah tangga, kompleks hunian, sekolah, kampus, instansi, sampai negara. Lengkap. 

Mulai dari urusan kencing sembarangan, buang sampah, ugal-ugalan di jalanan, jam masuk kerja, upah kerja, kriminal kelas teri, sampai urusan kriminal kerah putih. Sangat lengkap. 

Cuma yang menjadi masalah dari etika itu satu: keadilan. Apakah bisa diterapkan secara egaliter? Apakah bisa tajam ke atas, bukan cuma ke bawah? Apakah pihak-pihak yang menerapkannya bisa berlaku adil? Itu semua, kalau dijawab, bisa menjadi jawaban atas kebaikan kita di masa depan.

Senin, 05 Januari 2026

ROASTING ALA PANDJI

Roasting -secara etika- memang menjadi teknik stand-up comedian yang paling dark grey. Hitam, gelap, tapi masih ada abu-abunya. Jadi, masih sering dipakai sama kebanyakan komika. 

Supaya tidak bermasalah, biasanya ditempuh jalan tengah: sebelum manggung, komika minta izin dulu sama orang yang mau di-roasting. Atau sekalian, orang yang di-roasting dihadirkan ke atas panggung. 

Yang masalah memang roasting tanpa izin. Terlebih yang di-roasting fisik. Karena reaksi orang yang di-roasting juga abu-abu: bisa menerima, bisa tidak. Mungkin menerima, tapi dipendam sambil menunggu momen balas dendam. Bisa juga seketika marah dan langsung menyerang balik. 

Saya jadi ingat momen saat Will Smith menampar komedian Chris Rock di atas panggung Oscar 2022 karena me-roasting rambut Jada Smith yang plontos akibat alopecia. Aktor utama Pursuit of Happiness itu marah besar karena istrinya dijadikan bahan bercandaan. 

Yang paling dekat: Pandji Pragiwaksono me-roasting fisik mata dari Wapres Gibran Rakabuming. Roasting-an yang mendapat banyak komentar negatif dari netizen dan kritikan tajam dari pakar oplas dan psikologi. Pun masih ada juga netizen yang pro Pandji. 

Saya rasa, Pandji sudah menerima semua komentar dan kritikan itu dengan lapang dada dan mengajinya. Ke depan, semoga komika tetap bisa berkarya dengan lebih memperhatikan etika tanpa mengurangi estetika dan tanpa menciderai logika.

*****

Saya juga termasuk penggemar Pandji sebagai komika. Meskipun briging-nya lama sampai ke punchline. Sebagai podcaster, saya tidak terlalu suka Pandji karena porsi bicaranya lebih banyak dari narasumbernya. 

Saya juga suka sama lagu Masih Hujan yang dinyanyikan Gamila Arif dan nangkring di spotify. Pun lagu itu underrated dan pendengarnya cuma ratusan ribu, tapi kualitasnya tidak kalah sama lagu-lagu dari penyanyi hits. Bagi yang belum ngeh: Gamila itu istrinya Pandji 😁.

Jumat, 02 Januari 2026

Sumur Bor

Setahu saya, mengebor air tanah itu -idealnya- ndak sampai 100 mtr. Karena kalau pas 100 mtr atau lebih, musti ada Amdalnya. Demi mencegah megabencana Lumpur Lapindo terulang kembali.

Biayanya juga murah. Untuk satu titik: jasa tukang bor Rp 10-20 juta itu sudah mewahlah. Plus tambah sedikit biaya instalasi sampai ke tandon dan kran. 

Jadi kalau Presiden Prabowo bertanya kepada BNPB: berapa biaya pengeboran untuk satu titik? Terus dijawab: Rp 150 jt, itu butuh jawaban yang lebih detail. Bisa jadi BNPB salah jawab. Atau bisa jadi setiap mengebor, BNPB beli dulu mesin bornya. 

Tapi kalau semuanya berjalan ideal, Rp 150 jt itu -harus diakui- memang kemahalan dari harga normal. Mahalnya luar biasa: antara langit dengan sumur bor!