Selasa, 28 Oktober 2014

Berlabuh di Paotere'

Jajaran perahu kayu di Paotere'

Apa yang tersisa dari kejayaan kerajaan Makassar di masa lalu di tengah modernisasi kota Makassar saat ini? Salah satu jawabannya adalah pelabuhan Paotere'.

Pelabuhan itu cukup usang memang. Menurut catatan sejarah, telah ada sejak abad ke-14. Menjadi saksi bisu berlayarnya perahu phinisi ke laut lepas; lalu mendunia.

Buruh dan cargo
Pelabuhan di tepi daratan sebuah daerah yang akrab disapa Galangan Kapal itu memang masih tradisional sampai sekarang. Sama sekali 'tak tersentuh modernisasi kota.

Sejauh mata memandang, Anda dapat melihat ragam pemandangan tradisional itu: jajaran perahu kayu yang bersandar, buruh kapal yang mengangkat cargo di punggungnya, dan kehidupan para pelaut dan keluarganya yang menganggap kapal sebagai rumahnya.

Di Paotere', semua tergambar begitu dekat. 'Tak ada pagar tinggi yang membatasi. Kita bisa berjalan ke tepi dermaga dan menyaksikan segala kehidupan.

'Tak perlu memutar waktu ke belakang untuk merenungkan kejayaan masa lalu. Cukup kongkow-kongkow di Paotere' sambil menikmati kopi hitam. Semua mengalir dengan sendirinya, tanpa batas.

Berlabuh di Paotere'
Penangkis ombak

Minggu, 26 Oktober 2014

Bersepeda ke Tompo Bulu

Hal terindah dari bersepeda adalah ketika jalanan yang kita lalui begitu lenggang dan mulusnya. 'Tak ada kepadatan kendaraan dengan segala kebisingan dan polusinya. 'Tak ada kerusakan jalanan dengan segala potensi celakanya.

Itulah yang penulis rasakan ketika bersepeda ke Tompo Bulu, sebuah daerah di pinggiran kota Makassar yang terselip di antara pebukitan. Semua jalanan menuju daerah itu teraspal dan terbeton dengan baiknya.

Selain itu, suasana sunyi di antara hijaunya pepohonan dan bisunya pebukitan menambah nikmat suasana. Sejenak penulis melupakan riuhnya kota dan menikmati desa yang bersahaja.

Jalanan menuju Tompo Bulu
Rambu tikungan yang dibuat mahasiswa KKN
Dua jempol kepada Pemerintah Kabupaten Maros yang telah mewujudkan itu semua. Pada prinsipnya, kata Anies Baswedan, ketika jalanan dibangun dengan baik maka tiga elemen dasar kehidupan warga juga akan turut membaik: transportasi, ekonomi, dan pendidikan.

SPBU mini di warung warga. Tanda transportasi maju
Ada dua jalur yang bisa kita lalui menuju Tompo Bulu: jalur pertama, lewat Maros melalui jalan Poros Kariango (Pasar Bulubulu); jalur kedua, lewat Makassar melalui jalan Paccerakkang (Pasar Daya). Penulis bersepeda melalui jalur pertama.

Berhubung sudah ada jalanan berkerikil melalui belakang Bandara Sultan Hasanuddin yang langsung tembus ke jalan Poros Kariango, penulis pun 'tak perlu repot-repot lewat Maros. Tinggal potong-kompas saja.

Jalanan berkerikil belakang bandara
Jalan terus pantang mundur
Pagar bandara
Semak belukar dan bunga di belakang bandara
Melalui jalanan berkerikil belakang bandara, penulis disuguhi suasana berbeda. Penulis merasa seperti berada di tengah padang tandus. Sejauh mata memandang, terhampar tanah lapang. Semak belukar dan bunga di tepi jalan berusaha untuk tumbuh. Tapi apa daya, petani 'tak menyukainya lalu membakarnya.

Jalanan berkerikil itu membelah pagar tinggi bandara dengan sawah-sawah milik warga. Menurut rencananya, sawah-sawah itu akan hilang di masa depan karena masuk dalam siteplan perluasan bandara. Penulis sendiri belum bisa membayangkan wujud dari bandara di masa depan. Penulis cuma bisa membatin: bandara kita luas juga nantinya. Hehe...

Melalui jalanan setapak yang membelah rumah dan sawah-sawah warga, penulis akhirnya tembus ke jalan Poros Kariango. Oleh masyarakat, jalan Poros Kariango diidentikkan dengan jalanan milik tentara. Wajar saja, di jalanan itulah TNI AD bermarkas dan bahkan berbisnis.

Di jalanan itu pula banyak berdiri desa-desa maju dalam lingkup Pemkab Maros: Batangase, Kurusumange, Sudirman, Pucak, Benteng Gajah, dan lainnya. Hal mengganjal ketika penulis melalui desa-desa tersebut adalah saat menyaksikan pemandangan kontras dimana rumah Kepala Desa lebih mewah daripada kantor desa.

Apakah itu pertanda penghasilan Kepala Desa lebih besar daripada desa yang dipimpinnya? Apakah memang yang diangkat menjadi Kepala Desa itu adalah orang terkaya di desa? Entahlah. Yang terpenting, warga desa sejahtera. Itu saja.

Rambu penunjuk arah
Setelah menempuh perjalanan sekira tiga jam, penulis akhirnya tiba di Tompo Bulu. Suasana desa kecamatan itu sama seperti suasana desa lainnya di Indonesia. Cuma bedanya, terdapat satu-dua rumah super mewah di situ.

Rumah H. Tahir, misalnya, begitu besar dan luas dengan jajaran mobil mewah di halamannya. Entah apa pekerjaan H. Tahir, saya 'tak mendapatkan informasinya. Tapi 'tak jauh dari rumah mewahnya, H. Tahir memiliki tanah lapang yang dijadikan arena aksi motor trail dan mobil off-road.

'Tak jauh juga dari rumah H. Tahir, berdiri sebuah bangunan villa besar berisikan cafe, live music, dan kolam renang di dalamnya. Bangunan yang terbuka untuk umum dengan karcis seharga Rp 5.000 per orang itu ternyata milik H. Zainal Basri Palaguna, mantan tentara dan Gubernur Sulawesi Selatan.  

Anda penasaran mengunjungi Tompo Bulu? Silahkan dicoba, terkhusus bagi para pesepeda. Dijamin merasakan suasana lain. Yah, sekalian jadi ajang wisata lintas desa.

Senin, 04 Agustus 2014

Museum Villa Yuliana di Kota Watansoppeng

Museum Villa Yuliana
Pada 1905, C. A. Krosen, Gubernur Pemerintah Hindia Belanda di Sulawesi Selatan, membangun Villa Yuliana di sebuah daerah puncak di kota Watansoppeng.

Tujuan pembangunan villa itu adalah sebagai tempat peristirahatan Ratu Yuliana dari Belanda yang hendak berkunjung ke Sulsel. Makanya diberi nama Villa Yuliana.

Villa dibangun dengan memadukan desain gaya gereja Eropa dan gaya lokal Bugis. Gaya gereja Eropa berupa dinding tebal dan menara tinggi dengan atap mengerucut; sedangkan gaya lokal Bugis berupa rumah panggung bertangga dari bahan kayu.

Kini, setelah 109 tahun, bangunan Villa Yuliana masih tampak kokoh. Namun fungsinya bukan lagi sebagai villa, tapi sebagai museum.

Museum yang diberi nama Latemmamala, nama Raja pertama Kerajaan Soppeng, oleh Pemerintah Kabupaten Soppeng itu berisi benda-benda pusaka, fosil-fosil binatang purba dan foto-foto kegiatan Pemkab Soppeng.

*****

‘Tak sulit menemukan lokasi Museum Villa Yuliana. Posisinya berada tepat di jantung kota Watansoppeng, ibukota Kabupaten Soppeng. Tepatnya di jalan Pengayoman nomor 1, di depan Masjid Raya Watansoppeng.

Untuk menarik kunjungan ke museum itu, Pemkab Soppeng menyulap lokasi depan museum menjadi taman kota yang dilengkapi tangga-tangga yang bisa diduduki dan gazebo-gazebo untuk berteduh.

Taman Kota Watansoppeng
Taman Kota Watansoppeng
Dari lokasi taman kota itu pula para pengunjung bisa menikmati pemandangan alam indah berupa jajaran gunung-gunung yang hijau di kejauhan. Kabupaten Soppeng memang merupakan daerah yang dibangun diantara jajaran gunung.

Bagi Anda yang punya waktu berkunjung ke kota Watansoppeng, jangan lewatkan kesempatan berkunjung ke Museum Villa Yuliana dan Taman Kota Watansoppeng. Lumayan nyamanlah, apalagi bagi Anda yang hobi selfie. Hehe….

Jumat, 02 Mei 2014

Catatan dari Bali

Dari balik kaca pesawat, saya melihat pulau Bali di bawah. Indah memang. Seperti kata orang-orang. ‘Tak salah jika pulau dengan luas sekira 5.636,66 km2 itu dijadikan tujuan utama wisata internasional.

Keinternasionalan Bali tampak jelas di bandara Ngurah Rai. Pesawat-pesawat milik maskapai asing parkir teratur: Virgin, Jetstar, Silk, dan lainnya. Setiap tahun, Bali dikunjungi hampir satu juta turis asing (bule). Bule dari Australia dan Jepang mendominasi.

Keinternasionalan Bali juga tampak di jalanan-jalanan kota. Bule ramai berwara-wiri. Mereka mengendarai motor, naik mobil, jalan kaki, dan kongkow-kongkow di cafe dan restoran. Rasa-rasanya seperti bukan di Indonesia saja.

Banyaknya bangunan hotel, toko, cafe, dan restoran yang didesain bergaya eropa juga semakin menghilangkan kesan Indonesia. Beruntung masih banyak bangunan yang didesain mirip Pura (tempat memuja umat Hindu) sehingga nuansa tradisional ‘tak hilang sama sekali. ‘Tak salah pula jika Bali dijuluki Pulau Seribu Pura, selain Pulau Dewata.

Pokoknya, kalau Anda keliling Bali, Anda tidak putus-putusnya melihat dua hal: bule dan bangunan Pura. Sampai bosan!

Pantai adalah surga
Bicara Bali, tidak sah rasanya kalau belum bicara pantai. Ya, di pulau berpenduduk sekira tiga juta jiwa itu, pantai adalah surga. Surga bagi para penikmat alam karena keindahannya dan surga bagi para peselancar karena ombak tingginya.

Empat hari berada di Bali, saya menyempatkan diri mengunjungi empat pantai: pertama, Uluwatu. Pantai yang tersembunyi dari keramaian di daerah Uluwatu itu memiliki ombak yang cukup tinggi dan deras. Pantai ini pun ramai dikunjungi para peselancar mahir.

Tebing tinggi nan curam juga menjadi ciri alam pantai ini. Banyak yang berfoto berlatarkan tebing tinggi itu. Beberapa hotel dan Pura Uluwatu juga menghiasi pantai ini.

Sunset pantai Uluwatu (foto: Muhardi)
Peselancar beraksi di Uluwatu (foto: Muhardi)
Vila di antara tebing curam Uluwatu (foto: Muhardi)
Kedua, Kuta. Pantai ini sangat terkenal sampai-sampai dijadikan judul lagu oleh penyanyi Andre Hehanusa. Pantai ini juga mudah dijangkau karena terletak di tengah keramaian daerah Kuta.

Pantai Kuta yang panjang membentang terbuka untuk umum 24 jam. Pada pagi hari biasanya banyak pengunjung yang lari-lari dan berselancar. Ombaknya yang tidak ekstrem membuat pantai ini banyak dimanfaatkan pengunjung untuk belajar berselancar dan berenang. Sebuah tim penyelamat siap menolong kalau ada pengunjung yang tenggelam.

Sore dan malam hari, pantai Kuta menjadi tempat nongkrong. Sisa dari nongkrong itu adalah sampah yang bertebaran di mana-mana. Namun jangan khawatir, tim sukarelawan siap membersihkan pantai Kuta setiap hari. Untuk menjamin keamanan, pantai Kuta juga dijaga oleh tim security.

Pantai Kuta (foto: Awilis)
Ketiga, Jimbaran. Kalau Anda ingin merasakan sensasi makan di tepi pantai dimana meja dan kursi makan Anda terletak di atas pasir pantai, datanglah ke Jimbaran. Jajaran restoran siap melayani Anda.

Makanannya dijamin enak dan berkelas dunia. ‘Tak heran, turis asing pun banyak nongkrong di Jimbaran. Pengamen-pengamen berpakaian khas adat Bali juga siap menghibur Anda. Uniknya, mereka bisa menyanyikan banyak lagu dari banyak negara.

Makan di Jimbaran (foto: Ivan)
Keempat, Tanah Lot. Kalau Jawa Barat punya Tangkuban Perahu dan Jogjakarta punya Candi Borobudur, maka Bali punya Tanah Lot. Tanah Lot adalah pantai yang sangat indah dan eksotis. Keindahannya susah dilukiskan dengan kata-kata. Lebih baik dilihat langsung daripada diceritakan.

Sama seperti Tangkuban Perahu dan Candi Borobudur, di sekitar Tanah Lot juga ramai pedagang yang menjual baju, celana, dan pelbagai barang dan souvenir bernuansa Bali.

Tanah Lot sisi kanan (foto: Muhardi)
Tanah Lot sisi kiri (foto: Muhardi)
Selain empat pantai di atas, masih banyak lagi pantai di Bali yang tidak kalah indahnya, seperti Nusa Dua, Bedugul, dan lainnya. Butuh waktu berhari-hari untuk menikmati semua pantai itu.

Rafting di sungai Ayun
‘Tak hanya pantai yang menjadi surga di Bali, sungai pun demikian. Pemandangannya indah dan arusnya bisa dipakai buat rafting (arung jeram).

Saya dan teman-teman menjajaki rafting di salah satu sungai, yaitu sungai Ayun. Sungai Ayun yang berarti cantik atau ayu memiliki arus yang bersahabat sehingga cukup aman bagi pemula, bahkan untuk anak 6 tahun.

Rafting di sungai Ayun menempuh jarak sekira 10 kilometer dalam waktu sekira 2 jam. Sepanjang perjalanan, kami disuguhkan aksi seru saat perahu karet melalui batu-batu sungai yang besar.

Pasukan siap rafting (foto: Muhardi)
Rafting sungai Ayun (foto: Muhardi)
Selain itu, pohon-pohon raksasa yang berjajar di tepi sungai memberikan kesejukan yang luar biasa. Pemandangan air terjun yang deras menambah seru suasana. Ditambah ukiran-ukiran cerita wayang yang menghiasi dinding di tepi sungai.

Meskipun biaya rafting mahal: Rp 240 ribu per orang, tapi itu terbalaskan dengan keseruan dan pengalaman yang didapatkan.

Senin, 31 Maret 2014

Apple itu menjual seni, bukan teknologi

Olivier Lefebvre
Harga IPhone5 masih kisaran Rp 7 juta. Mahal. Saya sebenarnya tidak punya masalah dengan harganya, cuma uangnya. Heh...

Benar kata teman, "Apple itu menjual seni, bukan teknologi." Tepatnya mungkin seni berteknologi. Seninya itu yang bikin mahal.

Tidak mungkin Steve Jobs mampu menciptakan IPod, IPhone, dan IPad jika dia tidak memiliki jiwa seni. Ah, hanya pikiran Jobs di antara lantunan tembang Bob Dylan yang bisa menjelaskannya.

Beda dengan harga IPhone5, harga langsat mulai turun drastis. Awalnya Rp 20 ribu per kilogram, kini sisa Rp 5 ribu. Begitu pula durian. Ah, apple, apel maksud saya, memang buah yang ekslusif, mahal, dan elegan. Heh...

Sebagai penutup tulisan tidak jelas ini, berikut kata-kata Steve Jobs di Ruang Meeting kantor Apple Corporation, dihadapan ratusan karyawan, yang saya ambil dari film Jobs keluaran 2013:

"Saya sangat senang berada di sini. Kami punya sesuatu yang sangat istimewa untuk ditunjukkan kepada kalian semua. 

Di seluruh lini, IMac dan Powerbook, kita telah menjual lebih dari tiga juta unit tahun ini. Baiklah itu saja.

Oh, masih ada satu lagi. Saya harus memberi tahu sesuatu yang luar biasa kepada kalian. Sesuatu yang belum pernah dilihat oleh orang lain di dunia ini.

Johnny (desainer Apple), saya sendiri, dan sebuah tim kecil, telah bekerja keras untuk sebuah proyek rahasia, seperti kebiasaanku selama ini.

Perangkat yang akan saya perkenalkan pada kalian ini, akan merevolusi keseluruhn industri. Ia adalah sebuah perangkat pemutar musik.

Apa yang ia (perangkat itu) representasikan sama pentingnya dengan fungsinya. Ia adalah sebuah alat, untuk hati. Dan saat kalian bisa menyentuh hati seseorang, itu 'tak terbatas. Jika saya bisa begitu pasti keren sekali.

Ia adalah alat pemutar musik. Ia adalah ribuan lagu di sakumu. Saya ingin memperkenalkan pada kalian pada IPod." 

Betul, gara-gara IPod, masa jaya walkman dan kaset habis. Industri musik pun berubah. IPod telah menjadi seni di atas seni.

Jobs, seni, dan Apple memang telah menjadi satu kesatuan. Hal itulah yang menginspirasi Olivier Lefebvre, senima Kanada, menyusun 3.500 buah apel untuk membentuk wajah Jobs. Dia begitu kagum dengan seni berteknologi ala Jobs.

Minggu, 30 Maret 2014

Flappy Bird dan Gravitasi Bumi

Menurut Ust. Bendri, penceramah yang sering meneliti keadaan masyarakat di lapangan, salah satu ciri anak alay itu boros usia. Maksudnya: secara biologis usianya sudah tua, tapi secara psikologis masih kayak anak-anak.

Contoh: usia sudah 30-an, mainnya Flappy Bird. Hehehe..., kayak penulis. Skor tertinggi pembaca berapa? Skor tertinggi penulis 94. Target ke depannya tembus 100. Heh...

Flappy Bird game biasa sebenarnya. Tampilannya juga jadul, mirip-mirip Mario Bros. Tapi penulis sangat suka pelajaran moral dari game itu: jika kita terus berusaha dan 'tak pernah berhenti mencoba, kita akan mendapatkan yang terbaik. Terbaik di sini tentunya skor tertinggi.

"Kenapa bisa?" Penulis paling benci dengan pertanyaan seperti ini. Apalagi kalau kejadiannya: jatuh dari motor. Ya, siapa juga yang mau jatuh dari motor?

Tapi kalau ke depannya Tuhan menakdirkan penulis jatuh dari motor, dan Tuhan juga menakdirkan ada orang yang bertanya, "kenapa bisa?", penulis akan menjawab: saya hanyalah manusia biasa yang 'tak mampu melawan gravitasi bumi. Sama kayak burung di Flappy Bird kalau jatuh, dia tidak mampu melawan gravitasi bumi. Hehehe....

Selasa, 07 Januari 2014

Mengenang Teman SMA yang Telah Wafat


Di pembuka 2014 ini, penulis ingin mengenang teman-teman SMA Negeri 1 Makassar (Smansa) yang telah wafat. Sekadar menyadarkan diri, tahu-tahu sebentar ikut menyusul juga.

Meike Kondana
Teman yang pertama namanya Meike Kondana. Dia wafat pada 15 April 2001 saat kelas 2 di usia 17 tahun. Saat kelas 1, penulis sekelas dengan wanita cantik kelahiran 29 Nopember 1983 itu, tepatnya di kelas 1-1, di ujung paling kiri lantai tiga gedung sekolah.

Biru, warna kuburan Meike

Mez, panggilan Meike
Kabar mengenai kematiannya cukup mengenaskan. Meike ditemukan 'tak bernyawa di dalam mobil yang terparkir di depan rumahnya, restoran Ayam Goreng Sulawesi, di jalan Gunung Lompo Battang. Keluarga, teman, semua berduka.

Meike dimakamkan di Taman Pemakaman Panaikang. Warna biru mendominasi kuburannya. Kata teman, "...sesuai warna favoritnya..."

Nahwan Nur
Delapan bulan selepas kematian Meike, kembali seorang teman wafat: Nahwan Nur. Dia wafat pada 29 Desember 2001 saat kelas 3 di usia 16 tahun. Nahwan adalah ketua Kelas penulis saat sama-sama duduk di kelas 2-6, kelas paling tengah di lantai dua gedung sekolah.

Kuburan Nahwan di Sudiang
Nahwan Nur (Menuju Cahaya)
Selamat Jalan Kawan!
Nahwan wafat akibat kecelakaan. Motor yang dikendarainya tertabrak truk, tubuhnya terseret jauh. Saat penulis melihat jenazahnya, perban membaluti kepala dan telinganya. Kata teman, "Habis telinganya dimakan aspal."

Dedengkot Pramuka dan Paskibraka Smansa kelahiran 13 Juni 1984 itu dimakamkan di Taman Pemakaman Sudiang. Di nisannya bertuliskan Nahwan Nur (Menuju Cahaya).

Teman Lain yang Telah Ikut Menyusul
Dalam perjalanannya, setamat SMA, beberapa teman turut menyusul menghadap Sang Ilahi. Di antaranya -yang kabarnya sampai ke telinga penulis- Muhammad Maramis, Mukhlis dan Ardan.

Kuburan Maramis
Mukhlis (kanan bawah). Selamat Jalan Teman!
Maramis wafat karena sakit komplikasi paru-paru dan liver, dia dimakamkan di Taman pemakaman Sudiang. Mukhlis juga -menurut kabar- wafat karena sakit keras. Dan Ardan entah wafat karena apa, penulis tidak mendapatkan kabar penyebabnya, cuma kabar kematiannya dari teman-temannya di Kedokteran.

Saya tutup tulisan ini dengan penggalan lagu In My Life dari The Beatles:

There are places I'll remember
All my life though some have changed
Some forever not for better
Some have gone and some remain
All these places had their moments
With lovers and friends I still can recall
Some are dead and some are living
In my life I've loved them all


Informasi dan Foto: Grup FB SMANSA 2002 MAKASSAR