Minggu, 14 Juli 2013

Kehidupan Nabi Muhammad (583 - 596): Ikut Perang, Keliling Berdagang, dan Menikah dengan Khadijah

Sejak berumur 12 tahun, Muhammad menetap di Mekkah bersama pamannya, Abu Thalib. Sehari-hari, dia mencari kehidupan dengan mengembala kambing, sesekali juga membantu pamannya itu berdagang.

Dalam berdagang, Muhammad menunjukkan etika yang baik. Dia cerdik dalam menjual tapi tidak licik. Jujur dan amanah sangat dipegang teguh oleh Muhammad. Etika baik Muhammad pun tersebar ke mana-mana.

Ikut Perang
Saat Muhammad berusia 15 tahun, meletus perang di Mekah. Perang itu bernama Perang Fijar yang melibatkan antara pihak Quraisy bersama Kinanah melawan pihak Qais Ailan. Muhammad ikut dalam perang itu. Dia membantu mengumpulkan busur (anak panah) untuk dipakai paman-pamannya berperang.

Pascaperang, terjadi perundingan antara kedua belah pihak yang juga dihadiri Muhammad. Perundingan berujung pada kesepakatan: tidak ada satu pun penduduk Mekkah yang dibiarkan teraniaya. Siapa yang teraniaya, harus dibela. Siapa yang menganiaya, harus dihukum.

Dua pengalaman tersebut di atas sangat berharga bagi Muhammad. Perang dan perundingan, dua pengalaman yang kelak mengasah jiwa kepemimpinan Muhammad.   

Keliling Berdagang
Etika baik Muhammad dalam berdagang sampai ke telinga Khadijah, seorang pedagang kaya, cantik dan terkenal. Muhammad pun dipercaya memperdagangkan barang-barang milik Khadijah dengan imbalan bagi hasil.

Maka kelilinglah berdagang anak muda Muhammad yang kala itu berumur 25 tahun. Dia berdagang ke Syam dengan didampingi seorang pembantu utusan Khadijah bernama Maisarah.

Hasilnya: Khadijah kagum dengan omzet dagang melimpah yang diperoleh Muhammad. Ditambah cerita-cerita Maisarah perihal etika Muhammad yang sangat baik, itu semakin menambah kekaguman Khadijah.

Menikah dengan Khadijah
Dalam perjalanannya, kekaguman Khadijah kepada Muhammad berubah menjadi cinta dan keinginan untuk menikah dengan Muhammad. Melalui perantara seorang perempuan bernama Nafisah, Khadijah menyampaikan keinginannya kepada Muhammad.

Muhammad sepakat. Dia pun menemui pamannya untuk mengutarakan perihal rencana pernikahannya dengan Khadijah itu.

Maka pernikahan pun dilangsungkan. Muhammad yang berusia 25 tahun menikahi Khadijah yang berusia 40 tahun dengan mahar 20 ekor onta muda.

Pernikahan keduanya berlangsung bahagia hingga membuahkan dua orang putra: Qasim dan Abdullah, dan empat orang putri: Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fatimah Az Zahra. 

Referensi: Sirah Nabawiyah, karya Syaikh Shafiyyurrahman Al Mubarakfury, hal. 51 – 53.

Sabtu, 13 Juli 2013

Kehidupan Nabi Muhammad (571 - 583): Lahir dengan Tanda-Tanda Kenabian

Kelahiran dan Penamaan
Senin pagi, 22 April 571, seorang bayi laki-laki lahir di Mekkah dari seorang ibu bernama Aminah. Bayi laki-laki itu lahir dalam keadaan yatim sebab ayahnya Abdullah telah wafat.

Aminah kemudian mengutus seseorang untuk menyampaikan kabar gembira kelahiran bayinya itu kepada Abdul Muththalib, ayah suaminya Abdullah. Ayahnya pun segera datang dengan perasaan suka cita untuk melihat cucunya.

Abdul Muththalib dengan rasa bahagia menggendong cucunya dan membawanya masuk ke dalam Ka’bah. Di dalam Ka’bah, dia memberi nama Muhammad kepada cucunya, sebuah nama yang belum pernah ada yang memiliki sebelumnya.

Nama Muhammad berasal dari kata Al hamdu: yang terpuji. Sering juga disebut Ahmad: yang paling terpuji.

Diasuh Halimah dan Peristiwa Pembelahan Dada
Wanita pertama yang mengasuh dan menyusui Muhammad adalah Tsuwaibah lalu kemudian Halimah. Halimah menceritakan bahwa banyak keberkahan yang diperolehnya saat mengasuh Muhammad.

Pada saat Halimah pertama kali menerima dan menggendong Muhammad, dia seperti tidak merasakan beban apa-apa. Dia pun menuju keledainya dan membawa pergi Muhammad. Keledainya yang telah berjalan cukup jauh terlihat sangat kuat dan perkasa, tanpa lelah sedikit pun.

Setiba di rumahnya, di daerah Bani Sa’d. Halimah melihat bahwa tanah di tempatnya tumbuh dengan sangat subur; domba-domba peliharaannya pun terlihat sangat kenyang dan sehat. Sangat berbeda dengan domba-domba peliharaan tetangganya.

Di bawah asuhan Halimah, Muhammad tumbuh dengan baik. Bahkan di umur dua tahun, pertumbuhannya sangat pesat dibandingkan anak-anak yang lain. Hingga pada saat berumur empat tahun, terjadilah peristiwa besar terhadap Muhammad.

Pada saat Muhammad sedang bermain bersama teman-temannya, Malaikat Jibril datang dan memegangnya. Jibril kemudian menelengtangkannya dan membelah dadanya. Hati (segumpal darah) dikeluarkan dari dadanya. Jibril mengatakan, “Ini adalah bagian setan yang ada pada dirimu.”

Jibril mencuci hati (gumpalan darah) itu dengan air zamzam dalam baskom emas. Setelah dicuci, Jibril memasukkan dan menatanya kembali ke tempat semula.

Teman-teman Muhammad berlarian dan berteriak, “Muhammad telah dibunuh!” Para ibu pun, dengan perasaan panik, datang menghampiri Muhammad. Mereka menemukan Muhammad dalam keadaan baik dan bahkan dengan wajah yang semakin berseri.

Kembali ke Ibu Hingga Menjadi Yatim-Piatu
Setelah peritiwa itu, Halimah menjadi takut. Dia pun mengambil keputusan untuk mengembalikan Muhammad ke pangkuan ibu kandungnya, Aminah. Muhammad pun hidup bersama Aminah.

Suatu ketika, Aminah merasa perlu mengenang suaminya, Abdullah. Dia pun pergi dari Mekkah untuk menziarahi kuburan suaminya di Madinah bersama Muhammad dan pembantu wanitanya, Ummu Aiman. Mereka menetap di Madinah selama satu bulan.

Dalam perjalanan pulang dari Madinah ke Mekkah, Aminah jatuh sakit dan kemudian wafat. Dia wafat di Abwa’, daerah antara Madinah dan Mekkah.

Diasuh Sang Kakek dan Paman
Sepeninggal ibunya, Muhammad diasuh oleh kakeknya, Abdul Muththalib. Muhammad diasuh dengan penuh kasih sayang oleh kakeknya. Bahkan, Abdul Muththalib lebih mengutamakan Muhammad daripada anak-anaknya sendiri.

Pada saat Muhammad berusia delapan tahun, Abdul Muththalib wafat. Sebelum wafat, dia menitipkan pesan bahwa pengasuhan Muhammad diserahkan kepada pamannya, Abu Thalib, yang merupakan saudara kandung dari ayah Muhammad, Abdullah.

Sama seperti Abdul Muththalib, Abu Thalib mengasuh Muhammad dengan penuh kasih sayang. Dia juga lebih mementingkan Muhammad dibandingkan anak-anaknya sendiri. Bahkan Abu Thalib rela menjalin permusuhan demi melindungi Muhammad.

Pekerjaan dan Tanda Kenabian
Masa remaja Muhammad banyak dihabiskan dengan bekerja sebagai pengembala kambing. Dari pekerjaan itu, dia memperoleh beberapa imbalan dinar.

Pada saat Muhammad berusia 12 tahun, Abu Thalib mengajaknya pergi berdagang ke Syam, hingga tiba di Bushra.

Di Bushra, keduanya bertemu dengan seorang rahib Yahudi bernama Bahira. Rahib Bahira menghampiri Muhammad dan memegang tangannya sambil berkata, “Anak ini adalah pemimpin semesta alam. Anak ini akan diutus Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam!”

Abu Thalib bertanya, “Dari mana engkau tahu hal itu?” Rahib Bahira menjawab, “Sebenarnya sejak kalian tiba di Aqabah, tak ada bebatuan dan pepohonan pun melainkan mereka tunduk bersujud. Mereka tidak sujud melainkan kepada seorang Nabi. Aku bisa mengetahui dari stempel nubuwah yang ada di bagian bawah tulang bahunya, yang menyerupai buah apel. Kami juga bisa mendapati tanda itu dalam kitab kami.”

Referensi: Sirah Nabawiyah, karya Syaikh Shafiyyurrahman Al Mubarakfury, hal. 45 – 51.

Jumat, 05 Juli 2013

Dalam Kenangan, Usman (Renungan Menjelang Ramadhan)

Ada yang tidak bisa penulis lupa saat kuliah dulu. Seorang sahabat, Usman namanya. Sahabat kuliah, sahabat diskusi, dan kalau ada tingkatan di atas sahabat, pasti dia akan menempatinya.

Usman telah wafat. Waktunya kapan, penulis sudah lupa. Sesaat menjelang subuh, sebuah truk menabraknya saat mengendarai motor di depan Pesantren Immim Makassar, sepulang dari membeli bekal untuk sahur.

Tubuh Usman terpental; kepalanya terbentur keras di aspal jalanan; motornya rusak parah. Tubuh Usman segera dilarikan ke RS Dr. Wahidin Sudirohusodo yang kebetulan dekat dengan lokasi kejadian.  

Siang hari saat penulis menjenguknya di rumah sakit, darah ‘tak berhenti mengalir keluar dari kepalanya. Sungguh miris melihatnya dalam keadaan seperti itu. Ditambah melihat pemandangan duka keluarganya yang jauh datang dari Takalar.

Hingga mendung menginjak senja, Usman ‘tak kuasa lagi. Dia akhirnya menghembuskan nafas terakhir, kembali kepada-Nya.

*****

Mati tidak mengenal usia! Penulis semakin menyadari itu saat kematian Usman. Badannya yang cukup kekar dan semangatnya yang menggebu-gebu 'tak cukup untuk menahan kemauan Sang Pemilik manusia untuk mencabut nyawanya. 

Sebab, hidup hanyalah pergulatan ruang dan waktu dimana kematian akan mengakhirinya, kapan pun itu! Dan kemudian, kita pun kembali kepada-Nya.

Untuk sahabatku Usman, semoga dosa-dosamu diampuni-Nya dan semoga amal-amalmu diterima di sisi-Nya!